Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Air Mata Darah (Rahasia Pemilik W&G Company)


__ADS_3

Jasad Arman dibawa pulang, suaminya meninggal akibat terkena serangan jantung. Bekerja selama sebulan tanpa istirahat, bahkan tidur pun hanya 3 sampai 5 jam sehari, serta beban fikiran yang ditanggungnya seorang diri. Mungkin itulah penyebabnya...


Ayu menitikkan air matanya, menatap wajah tenang suaminya untuk terakhir kalinya. Wajah pria yang senang bergurau, wajah pria pemalu itu, kini terlihat tenang bagaikan tertidur, lelah akan segalanya.


"Kami mencintaimu..." ucapnya pada anak dalam kandungannya. Tiba-tiba perutnya terasa sakit, seharusnya tanggal persalinan 15 hari lagi. Entah apa yang terjadi, namun sakit tidak tertahankan, benar-benar terasa.


Pelayat yang panik membawanya ke rumah sakit, termasuk seorang pria paruh baya yang tidak dikenalnya.


Rasa sakit menjalar di bagian bawah perutnya, apapun tidak dipedulikannya saat ini. Hanya menahan rasa sakit, hingga beberapa jam berlalu. Putra kecilnya terlahir di dunia ini, dengan bantuan seorang bidan yang tinggal di dekat rumahnya...


Bayi mungil yang begitu dikasihinya, rupa yang mirip dengan almarhum suaminya. "Kenzo, jadilah anak yang penyayang seperti ayahmu. Cintailah keluargamu, jangan terlalu pemilih jika menemukan orang yang kamu cintai nantinya, tidak ada manusia yang sempurna..." ucapnya kala bayi mungil itu diletakkan disampingnya.


Kata-kata konyol dari seorang ibu pada bayi mungil yang baru dilahirkannya bukan? Namun tidak akan terasa konyol lagi kala tangan itu melemas, pendarahan hebat pasca melahirkan terjadi, tidak dapat dihentikan sang bidan.


"Bantu saya bawa ke rumah sakit!!" ucap bidan pada asistennya, serata beberapa orang yang berada di luar. Orang-orang yang mengantar Ayu ke tempat persalinan tersebut...


Mobil milik Suki yang dipergunakan, satu-satunya orang yang memiliki mobil di pemukiman kalangan menengah ke bawah. Wajah itu semakin pucat saja, pendarahan tidak kunjung terhenti.


Maafkan ibu, ibu merindukan ayahmu yang bodoh... Tubuh ibu tidak sanggup bertahan lagi... Ketahuilah, kami mencintaimu...


Tubuh itu dibawa ke IGD rumah sakit, mendapatkan penanganan. Sebelum pada akhirnya satu jam kemudian, menghembuskan napas terakhirnya. Menyusul suami yang mencintainya...


***


"Tuan?" supir Suki, menatap tangan pria itu gemetaran. Berlutut di hadapan makam suami istri yang berdampingan.


"Ini kesalahanku..." gumamannya, setelah mengetahui dari tetangga Arman yang berbisik-bisik membicarakan kehidupan pasangan suami-istri itu, ketika pemakaman Ayu.


Menjadi kuli bangunan setelah dipecat, bekerja siang dan malam hanya karena tuduhan tidak berdasar. Benar, dirinyalah yang membunuh Arman sang kepala keluarga.


Rasa bersalah menghujam dalam diri Suki, "Dimana putra mereka?" tanyanya.


"Masih dititipkan pada bidan..." sang supir menjawab.


"Aku akan merawatnya, selayaknya cucuku sendiri. Maafkan aku..." janji omong kosong yang diucapkan, hanya karena rasa bersalah kala itu.

__ADS_1


"Pendidikan, kehidupannya, aku akan menjaminnya. Hingga dia menikah dan dapat hidup mandiri nantinya, menggantikan peran kalian..."


***


Apa benar Suki menepati janjinya?


Bayi mungil itu dibawanya pulang, didampingi pengasuh hingga berusia lima tahun. Namun, setelah pengasuh yang dapat berkicau apa saja di depan Suki mengundurkan diri karena akan menikah, kehidupan Kenzo berubah.


Kenzo, setidaknya itulah nama anak itu saat menempati rumah Suki. Nama yang dapat berganti kapan saja.


Saat itu, istri Leon sudah meninggal, Gilang masih berusia 7 tahun. Sedangkan Nila (istri Agra) belum bercerai, masih tinggal di kediaman utama. Menyayangi dan memanjakan Mona, putri tunggalnya.


Bagaikan pelayan? Itulah status yang disandang Kenzo ketika Suki sibuk dengan bisnisnya, di usianya yang menginjak 8 tahun. Sedang Leon dan Agra bekerja di kantor. Tapi memang tidak ada yang peduli kemanapun anak itu mengadu.


Mengadu pada Suki, pria yang tidak memiliki hubungan darah dengannya itu malah memilih acuh. Leon dan Agra? Sama saja, malah sering membentaknya kala Gilang atau Mona terjatuh saat bermain dengannya.


Hidup makmur setelah diadopsi oleh keluarga kaya? Itu tidak pernah terjadi, hanya sang pengasuh yang telah berhenti bekerja yang menyayanginya.


Bangun di pagi hari, membantu pelayan atas suruhan Nila. Pelayan di rumah besar itu cukup banyak. Kenapa Kenzo harus membantu? Tentu saja karena bagi Nila, atau anggota keluarga lainnya, anak itu hanya orang luar yang tidak memiliki hubungan darah. Ingin makan maka harus bekerja? Jangan harap.


Hingga tiba hari yang terburuk dalam hidup anak itu. Kenzo tengah bermain dengan Gilang saat Nila mendatanginya. "Dimana kotak perhiasanku!?" bentaknya pada Kenzo.


"Pelayan!! Cari di kamarnya!!" Nila kembali membentak, di depan seluruh anggota keluarga yang tengah berada di ruang keluarga, menikmati hari libur mereka. Hanya Mona yang tidak ada disana, gadis kecil itu masih berada di kamarnya.


Kenzo terdiam mengepalkan tangannya, dirinya tidak pernah mengambil apapun dari kamar Nila. Namun, kenapa hanya dirinya yang tertuduh?


Satu buah cincin ditemukan di atas tempat tidur kamar Kenzo.


Wajah Nila nampak murka,"Ayah!! Inikah yang ayah ajarkan pada cucu angkat ayah!?" tanyanya pada ayah mertuanya (Suki).


"Kenzo kemari!!" kata-kata itu bagaikan pisau yang menghujam dada sang anak. Tidak ada seorangpun di rumah itu yang membela layaknya keluarga.


"Kakek, aku tidak..." kata-katanya terpotong.


"Anak tidak tau diri!! Apa begini aku mengajarimu!? Sebaiknya, kembalikan sisa perhiasan pada menantuku!!" kata-kata dingin yang menusuk, pipinya dicengkeram kuat menggunakan satu tangan. Menghempaskan tubuhnya hingga tersungkur ke lantai.

__ADS_1


Suki segera pergi tanpa berbalik sedikitpun, seolah tidak peduli apa yang akan terjadi setelah sang anak dituduh mencuri.


Dan benar saja, "Anak angkat sialan!! Berapa biaya makan dan sekolahmu!? Apa kamu tau?" bentak Nila, memukuli sang anak. Menendang tubuh kecilnya, bahkan jemari tangannya sempat diinjak.


"Dimana sisa perhiasanku!?" suara memekik wanita itu membengkakan telinga.


Anak itu hanya dapat tertunduk menangis, menatap semua anggota keluarga lainnya yang berada di ruangan acuh. Beraktivitas seperti biasanya, seakan tidak ada yang terjadi, dirinya hanya keset yang mudah diinjak.


Brug....


Salah satu dorongan membuatnya membentur sudut meja kaca yang tajam. Beberapa luka gores, akibat pecahan kaca terlihat di tubuhnya. Luka yang paling dalam berada di bagian dahinya. Luka memanjang yang tidak akan pernah dilupakannya.


Tidak ada yang menyadari, pelaku sebenarnya, Mona yang tengah tertidur di kamarnya, dengan perhiasan berukuran besar melekat di sekujur tubuhnya. Setelah berkeliling rumah memainkan perhiasan ibunya. Cincin di kamar Kenzo? Itu semua karena Mona sempat bermain di sana.


***


Malam semakin gelap, Kenzo menitikan air matanya, meringis mengobati lukanya seorang diri.


Dimana ibu dan ayahnya? Dirinya sama sekali tidak mengetahui. Apa kedua orang tuanya membuangnya? Mungkin dengan mengabdi pada keluarga Suki, menjadi jalannya untuk berterimakasih karena telah dibesarkan.


Semua pandangannya berubah pada malam itu, ketika darah masih mengucur di dahinya, setelah mencoba mengobati seorang diri berkali-kali.


Menghentikan pendarahan sementara dengan sapu tangan. Setidaknya meminta tolong pada pelayan untuk membantu mengobati luka menganga pada dahinya.


Berjalan keluar kamar melewati kamar Suki menuju tempat tinggal para pelayan, samar-samar suara itu terdengar dari pintu kamar besar yang sedikit terbuka.


"Hari ini anak itu mencuri, aku tidak bisa mendidiknya. Wajah itu, aku tidak bisa melihatnya lagi..." ucapnya pada bawahannya.


"Tuan, sebaiknya bawalah ke panti asuhan. Berikan beberapa aset padanya, untuk hidupnya setelah keluar dari panti. Jika anda tidak sanggup melihat wajahnya lagi..." usul sang bawahan.


"Tapi aku sudah salah menuduh ayahnya. Arman meninggal di penjara karena aku...dia..." kata-kata Suki terhenti.


Kilatan petir menampakan cahaya, menerangi ruangan kamarnya yang gelap. Hanya sekilas, cahaya yang hanya sekilas. Membuat Suki melihat dengan jelas wajah anak itu pucat pasi.


Menatap ke arahnya dengan pandangan kosong, darah mengalir dari dahi Kenzo, menuju area matanya. Darah yang bercampur dengan air mata menetes.

__ADS_1


"Kenzo..."


Bersambung


__ADS_2