
Villa yang indah, berada di area pinggir kota, udara masih terasa bersih, angin pagi yang dingin menyapu kulit. Tapi entah kenapa betapapun dinginnya seorang wanita tetap saja berkeringat.
"Kalian bekerja disini?" tanya seorang pemuda, dengan ekspresi yang benar-benar tidak bisa terbaca.
"Benar tuan..." ucap mereka serentak, termasuk Frea yang hanya mengeluarkan suara kecil.
Dia tidak mengenaliku...dia tidak mengenaliku... ucapnya kumat-kamit dalam hati.
"Bagus, aku adalah pemilik baru villa ini, jadi kalian adalah karyawanku," Tomy menghela napas kasar berusaha tersenyum.
Kenapa aku selalu berakhir menjadi bawahannya... kesal Frea dalam hati, mengepalkan tangannya.
"Tomy boleh aku membawa satu atau dua pengurus villa? Villaku yang baru, pasti..." kata-katanya terhenti, untuk pertama kalinya orang udik pecandu game itu mengeluarkan aura mafianya.
"Bawa saja salah seorang dari mereka satu langkah keluar dari villa, dua orang sniper (penembak jitu) sudah bersiaga di tempatnya," pemuda itu tersenyum, mencurigai hubungan sepupu dan istrinya yang terasa janggal.
Gilang tertawa dengan kencang, orang baik hati seperti Tomy sekejam ayahnya? 'Tidak mungkin', itulah kata-kata yang difikirkannya.
"Kamu bercanda kan?" tanyanya.
Senyuman tulus nan lugu itu terlihat lagi,"Iya, aku hanya bercanda..." jawabnya tersenyum, tertawa kecil.
Tidak ada yang menyadari di bagian atap villa dua orang sniper Tomy memang sudah berjaga disana membawa senapan laras panjang, berikut peredam suara. Kali ini dirinya lebih protektif lagi, menjaga istri dan putra kecilnya.
"Perkenalkan nama kalian satu persatu," ucapnya pada para pengurus villa.
"Saya Mariah, yang bertugas memasak..."
"Nama saya Ben, supir disini..."
Semua orang menyebutkan nama dan tugasnya. Hingga tiba giliran Frea, wanita paling canggung yang berada di sana.
"Namaku Inem, tugasku bercocok tanam..." ucapnya memikirkan nama orang dari desa.
__ADS_1
Tomy menipiskan bibirnya sejenak, dengan wajah datar berusaha mati-matian menahan tawanya.
"Inem ya? Aku memiliki hoby baru, mau membantuku bercocok tanam?" tanyanya, sedikit membungkuk menatap mata di balik topi jerami.
Bercocok tanam, kata yang wajar kan? Tapi kenapa aku malu begini menjawabnya... gumam Frea dalam hatinya, bingung dengan kata bercocok tanam yang ambigu. Kata-kata yang tidak sengaja diucapkannya.
Hanya anggukan yang dilakukannya, menjawab pertanyaan Tomy. Memikirkan cara melarikan diri, mungkin itulah yang dilakukannya. Bersembunyi dengan status orang mati, keluar suatu saat nanti sebagai orang hidup, saat keadaan sudah kondusif baginya dan putranya.
Gilang menghela nafas kasar, merasa Tomy tidak akan mengenali Frea. "Aku harus ke kantor, perjalanannya lumayan jauh..." ucapnya.
Tomy tidak menggubris, kembali duduk di sofa, menatap Frea dari atas sampai bawah. Dari bawah sampai atas.
"Gilang, ibu mertuaku menyarankan agar aku turun ranjang (menikahi saudari Frea). Menurutmu apa harus...?" tanyanya.
Frea tersenyum lebar, lebih tepatnya berusaha menjaga bibirnya agar tetap tersenyum. Setelah kembali nanti memiliki seorang madu? Dan itu merupakan Fani yang sering mencercanya sebagai perawan tua? Kesabarannya benar-benar diuji oleh bocah kurang ajar ini.
Gilang terdiam, berpikir sejenak,"Sebaiknya jangan turuti keinginan ibu mertuamu. Turun ranjang itu, tradisi lama. Kamu mau mengalami kemunduran evolusi?" gagasnya melirik ke arah Frea.
"Sudah, aku harus ke kantor, paman Agra akan berangkat ke Filipina hari ini, mengurus proyek disana..." lanjutnya memberi alasan untuk segera kabur, berlari kembali naik menuju kamarnya di lantai empat.
Salah seorang pelayan yang cukup jeli, mengenyitkan keningnya. Memperhatikan wajah Tomy lebih dalam, mulai berbisik pada tukang masak."Wajahnya jika diperhatikan mirip Kira,"
Tukang masak mengangguk, ikut mengenyitkan keningnya memandang curiga pada Frea yang tiba-tiba merubah penampilan, berpura-pura menjadi tukang kebun.
Sang pelayan yang sering membaca novel mengungkapkan deduksi tanpa buktinya, pada sang tukang masak,"Jangan-jangan seperti di novel, nona Frea pembantu muda dari desa gadis polos tidak bersalah. Tiba-tiba terjerat dengan majikannya yang tengah mabuk atau terkena obat perangsang,"
"Menjadi pelampiasan napsu tuan muda Tomy satu malam. Karena trauma dia dibantu pergi menyembunyikan diri oleh tuan muda Gilang. Hingga terpisah sekian lama, kembali bertemu dipertemukan lima tahun kemudian oleh anak mereka yang jenius..." deduksi ambigunya, mendapat pukulan kepala pelan dari sang tukang masak.
"Lima tahun apanya!? Kira masih beberapa bulan..." ucapnya kesal, saling bertengkar di deretan paling pojok.
"Tidak, ini berbeda," tukang masak yang kecanduan sinetron berucap mengungkapkan deduksi lainnya,"Mungkin ibu mertuanya tidak menyetujui hubungan mereka, tuan muda Tomy menurut pada ibunya untuk menikah lagi. Bercerai dari istrinya yang tengah hamil,"
"Istri yang tersakiti, diusir di tengah hujan deras. Hingga akhirnya kemudian kebusukan si istri ke dua terbongkar..." kata-kata sang tukang masak disela.
__ADS_1
"Si pelakor alias istri kedua berakhir mati karena kecelakaan ditabrak mobil," sang pelayan menghela napas kasar, menatap jenuh, menebak alur sinetron yang sering di tonton tukang masak.
"Jangan banyak berpikir, jangan bergosip, mungkin cuma kebetulan..." sang supir menghela napas, menatap jenuh melihat dua wanita bergosip.
***
Bagaikan pemuda pengangguran tanpa kegiatan, Tomy selalu membuntuti Frea, salah, maksudnya Inem yang tengah bercocok tanam.
"Tanaman itu daunnya berdebu..." ucap Tomy membawa semangkuk besar sop buah, menyuapi mulutnya sendiri.
Bocah kekanak-kanakan yang benar-benar menguji kesabaran Frea. "Haruskah saya membersihkan satu-persatu dengan kemoceng?" tanyanya, sedikit merubah suara, berharap tidak ketahuan, memendam rasa kesalnya.
"Boleh juga," jawab Tomy dengan mulut dipenuhi minuman menyegarkan.
Frea menyerah, sejak kapan kemoceng menjadi alat pertanian. Wanita itu hanya terdiam kembali memberikan pupuk dengan sarung tangan karetnya.
Tomy segera meraihnya, "Memberi pupuk dengan benar saja tidak bisa. Sebagai hukumannya habiskan minuman sisaku!! Kamu di skors tidak boleh bekerja hari ini..." ucapnya menggantikan Frea memberi pupuk pada tanaman, tidak tega menatap istrinya kelelahan karena ulahnya.
Frea meraih sop buah yang hanya di makan seperempat itu tanpa ragu. Meredakan dahaganya, membawa ke kamarnya, hendak menemui Kira yang kini tengah di jaga sang tukang masak, yang pekerjaannya tidak terlalu banyak.
"Susui anak kita, dia mungkin sudah lapar..." gumam Tomy tersenyum, menatap Frea yang telah jauh pergi.
Tidak mengetahui alasan istrinya menyembunyikan diri. Namun, jika itu membuat Frea bahagia, Tomy akan melakukannya, berpura-pura tidak mengetahui apapun. Melihat istri dan putranya masih hidup sudah cukup untuknya. Sudah cukup untuk membuatnya bahagia.
"Terimakasih..." ucapnya tersenyum menatap cahaya matahari yang menembus rimbunnya pepohonan, dengan air mata yang mengalir. Mensyukuri keberuntungan yang diberikan Tuhan padanya.
***
Anak *njing ras Chihuahua berada di ikatan tangannya. Mengenakan pakaian olahraga berwarna pink lengkap dengan topi caddy putih menambah kesan wanita polos, nan mandirinya. Berlari kecil di dekat villa milik Gilang, hingga wajah rupawan itu terlihat. Pria dingin yang mungkin akan sulit tergoda, memotong tanaman di area depan villa.
"Aww..." ucap Keyla meringis, terjatuh.
Tomy berjalan cepat menghampiri sang wanita berwajah rupawan,"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya, terlihat cemas.
__ADS_1
Bersambung