Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Sepotong Kue


__ADS_3

Pujian? Apa anak yang mengancam saudaranya sendiri akan mendapatkan pujian? Tentunya tidak, Adrian memilih diam menatap sinis ke arah putranya. Anak yang tidak terlihat seperti seorang siswa, lebih seperti gelandangan.


Bahkan mungkin anak jalanan berpakaian lebih bagus dari pada seragam merah putihnya, yang menguning. Seragam bekas, pemberian tetangganya, compang-camping dengan kain yang rapuh akibat terlalu sering dicuci.


Matanya mungkin telah buta oleh kata-kata Mike. Tidak menatap darah dagingnya sendiri dengan hatinya. Seorang ayah seharusnya iba bukan, mengetahui betapa kurus dan tidak terawatnya tubuh salah satu putranya?


Tapi hal yang dilihatnya dari sudut yang berbeda. Seorang benalu yang membully saudaranya sendiri, pakaiannya melambangkan pemukiman kumuh tempatnya tinggal. Tempat yang keras, dimana wanita itu menjajakan tubuhnya.


Mengingat wanita itu lagi? Ingin rasanya Adrian menghapus wanita murahan itu dari ingatannya. Wanita yang kembali menjual tubuhnya tanpa memikirkan perasaannya sama sekali. Bodoh bukan? Tidak dapat memiliki, tidak dapat menjaga, namun dapat menghina wanita yang dicintainya karena rasa cemburu.


"Kamu memiliki begitu banyak ayah, sebaiknya minta salah satu dari mereka untuk mengambilnya," ucapnya menatap mata anak berwajah kusam di hadapannya.


Jemari tangan kecil Tomy yang memegang kemeja Adrian lemas. Jemari tangannya gemetaran, diturunkannya tidak ingin mencegah kepergian ayahnya lagi.


"Mike terlalu lugu untuk kamu ganggu. Aku akan memindahkannya ke sekolah lain. Jangan menemui atau mengancamnya lagi. Kesulitan bicara (gagap) mungkin hukuman Tuhan untukmu, yang kasar dan iri pada saudaramu sendiri. Mungkin kamu akan lancar bicara, jika berprilaku baik," ucapnya menasehati putra yang tidak pernah didiknya. Bahkan mendapatkan kasih sayangnya pun tidak pernah.


Hukuman Tuhan? Sungguh konyol, kalianlah yang menghukum anak kecil yang gagap. Gagap bukan karena anugerah atau hukuman Tuhan padanya. Namun, karena mental dan fisiknya yang kalian sakiti terlalu dalam.


Adrian melangkah, meninggalkan putranya. Berat, mungkin begitulah langkahnya terasa, namun rasa sakit dalam hatinya ketika mengetahui Merlin kembali menjual tubuhnya, serta kata-kata Mike, putra polosnya yang bertubuh lemah, menutup mata hatinya. Seakan tidak lagi ingin mempedulikan anak yang hanya dapat tertunduk tanpa berkeinginan untuk menangis.


Mobil ayahnya melaju meninggalkan area depan sekolah dasar. Tidak menangis? Tentu saja hampir semua yang dikatakan ayahnya adalah kebenaran.


Ibunya datang dengan berbagai macam pria. Ayah? Apa mereka ayahnya? Ayah yang selalu pergi setelah menikmati tubuh ibunya. Mengacuhkannya, bahkan ada beberapa yang sempat memukulnya. Hanya karena geram dengan mulutnya yang tidak lancar berbicara.


"Tomy, tinggal kamu yang belum mengambil rapor. Apa ayahmu sudah datang?" tanya wali kelasnya yang belum pernah sekalipun bertemu orang tua anak gagap yang terpintar di kelasnya itu.


"Ti...ti... tidak a... ayah ti...ti... tidak da... datang," Tomy berusaha tersenyum.


"Apa seperti semester lalu?" tanya sang wali kelas, menghela napas kasar. Dijawab dengan anggukan oleh Tomy.


"Ya sudah, ibu yang akan menandatangani rapormu, seperti semester sebelumnya," ucapnya, mengetahui hanya sedikit tentang anak di hadapannya. Anak yang bagaikan tidak memiliki wali untuk hanya sekedar menandatangani rapornya.


***


Iba? Begitulah dirinya menatap Mike yang berbaring di tempat tidur seharian. Di hari pengambilan rapor, anak itu tiba-tiba kembali sakit.


Adrian menghela napas kasar, mungkin jika memindahkan putranya yang bertubuh lemah ke sekolah yang berada dengan putranya yang kasar akan dapat menyelesaikan mulut Lia yang mengadu tiada henti pada keluarga besar Adrian.


Mengadu seolah kedua putra sahnya tidak diperhatikan. Hanya membela anak diluar nikah yang bahkan tidak pernah mendapatkan sepeserpun uang darinya.


Hingga saat Adrian mulai meninggalkan ruangan, barulah Irgi masuk.


"Tidak lelah tidur seharian?" tanyanya pada Mike.


"Kakak," Mike mulai duduk di atas tempat tidurnya, tersenyum ke arah Irgi.


"Aku tau kapan saat kamu benar-benar sakit, dan kapan hanya berpura-pura. Kenapa berbohong?" Irgi kembali bertanya menghela napas kasar.


"Aku tidak berbohong, perutku memang sempat..." kata-katanya terhenti, Irgi berbicara lebih cepat darinya.


"Apa yang kamu lakukan pada si gagap? Pekerjaan rumahmu, tulisan tangannya kan?" ucapnya sinis.


"Kakak, kakak salah paham dia..." kata yang keluar dari mulutnya kembali dipotong.


"Apapun yang kamu lakukan, aku tidak akan mengadu pada ayah. Karena kamu juga adikku..." ucapnya dengan raut wajah tidak suka, berjalan meninggalkan kamar Mike.


Mike mengepalkan tangannya yang gemetar. Air matanya mengalir, "Kalian yang anak kandungnya tau apa..." gumamnya.


Mengetahui segalanya? Mike mengetahui siapa jati dirinya.


Mike memiliki fisik yang lemah ketika kecil, sehingga sering absen. Tinggal dirumah selama kakaknya bersekolah.


Seorang tamu ibunya sering datang ketika ayahnya (Adrian) bekerja. Tamu yang awalnya dipanggilnya paman, orang ramah yang menyayanginya, membelikannya banyak mainan.


Hingga saat dirinya terbangun dalam keadaan demam. Berjalan dengan langkah gontai hendak mengambil segelas air. Sekamar? Tidak, entah kenapa Adrian dan Lia sudah lama tidur di kamar yang berbeda.


Pintu kamar ibunya setengah terbuka, paman Jimy berada disana, tepatnya di atas tempat tidur Lia, mengenakan pakaiannya, yang sepertinya, sebelumnya terlihat sudah sempat tertanggal. Suara pembicaraan yang saat itu didengarnya dengan jelas.

__ADS_1


"Berikan ini pada putra kandungku..." ucapnya memberikan sebuah kalung pada Lia.


Lia mengangguk, setelah menunjukkan berkas entah apa isinya pada kekasihnya. Hubungan terlarang yang mereka jalani semenjak Lia melahirkan Irgi.


Mike tidak begitu peduli, kembali melanjutkan perjalanannya menuju dapur.


Tapi ketidak pedulian yang bodoh, tepat pada ulang tahunnya. Lia memberikan kalung itu padanya. Mike hanya terdiam, Lia saat itu memang tidak menceritakan segalanya.


Namun Mike cukup mengetahui, arti kalung yang selalu berada di lehernya. Dirinya berbeda dengan Irgi atau Tomy anak kandung dari ayah yang selalu memanjakannya.


Perlahan hatinya berubah semakin kejam, menangis seorang diri. Ketakutan akan kehilangan kasih sayang Adrian jika identitasnya diketahui.


Ayah hanya boleh menyayangiku... bagaikan mantra yang selalu ada dalam hatinya. Menjadi pisau tajam berlapis rasa iri dan takut kehilangan.


***


Hari mulai sore...


Adrian pulang dari kantornya, berjalan dengan langkahnya dihadang Irgi. "Ayah, tim ku masuk ke babak final. Bantu aku berlatih ya!?" ucapnya tersenyum, membawa bola sepak.


Mike melangkah menuruni tangga, setelah menunggu beberapa lama dari saat mobil Adrian terparkir. Kebiasaan sang ayah yang selalu melangkah pertama kali menuju kamarnya. Namun, hari ini tidak.


Perlahan mencari keberadaan ayahnya, hingga terlihat sesuatu yang membuatnya kecewa. Adrian tersenyum dan tertawa kecil menendang bola, dengan Irgi sebagai kipernya.


Jemari tangannya mengepal, menjadi anak yang paling diperhatikan adalah keinginannya. Kenapa tiba-tiba harus ada Irgi?


***


Egois mungkin itulah sosok seorang anak yang terlalu dimanjakan. Didikan yang salah dari ibunya, membuatnya melihat dunia dengan cara yang berbeda.


Hari ini, tepat perayaan ulang tahun ayahnya. Tamu dari kalangan menengah keatas banyak yang hadir.


Begitu pula dengan Tomy memakai pakaian terbaiknya. Hanya celana kain pendek dengan kaos lusuh, namun tidak berlubang sama sekali, sandal jepit murah terlihat di kakinya yang sedikit lecet. Menunggu di depan gerbang yang dijaga dua orang security.


Sebuah kue kecil dibelinya dari hasil menjual es lilin yang ditabung selama beberapa hari. Kue kecil yang mungkin hanya seharga 20.000 rupiah. Tidak diijinkan masuk? Tentu saja, semua atas perintah Adrian yang terlalu keras pada putranya.


"Sabar setelah pesta selesai, tuan akan mengijinkanmu masuk. Sekarang masih ada banyak tamu penting di dalam," ucapnya. Tomy mengangguk tanda mengerti, melihat deretan mobil mewah, serta orang-orang yang masuk dengan pakaian yang terlihat mahal. Menunggu sembari duduk di dekat gerbang, tersenyum pada kue di tangannya. Security hanya dapat terdiam, menatap iba pada salah satu tuan mudanya.


***


Mike terdiam menatap tanpa ekspresi, menginginkan segala hal hanya akan menjadi miliknya.


Grieet...


Pintu gerbang besar terbuka,"Berilah hadiah pada tuan Adrian..." ucap sang security penuh harap, agar tuan muda ketiganya (Tomy) juga mendapatkan kasih sayang yang sama.


Tomy memasukinya berjalan masih dengan harapan mendapatkan senyuman dari Adrian.


Hanya sebuah senyuman kebahagiaan dari ayahnya, sudah cukup membuatnya bahagia.


Matanya menelisik tidak menemukan siapapun. Hingga kegaduhan terdengar, anak itu berjalan dengan cepat. Kedua saudaranya bertengkar di halaman belakang, Mike mulai berkata-kata kasar, membentak Irgi.


Irgi yang kesal, mendorong Mike hingga terjatuh. Kemudian hendak berlalu pergi beberapa langkah. Tangan Mike memegang sebuah batu berukuran sedang, bersiap melempar tepat pada kepala saudaranya.


Tomy yang berada di dekat sana, menarik Irgi, agar kepalanya tidak terkena lemparan batu. Hingga kehilangan keseimbangan terjatuh bersamaan. Tubuh Irgi mendarat tepat di atas tubuh kecil adiknya. Hingga dirinya tidak terluka sama sekali. Namun tidak dengan Tomy sikunya mengeluarkan darah segar.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Irgi, matanya menelisik mengamati tubuh adiknya. Tomy menggelengkan kepalanya, tanda dirinya baik-baik saja, memegang sikunya hendak menyembunyikan lukanya.


"Bodoh!! Sikumu berdarah!!" bentaknya menarik tangan Tomy menuju kamarnya.


Mike hanya terdiam, hal yang difikirkannya? Bagaimana jika Irgi mengadu pada Adrian. Tidak, dirinyalah yang harus terlebih dahulu mengadu.


***


Kotak P3K sudah tertutup sempurna. Irgi menatap iba pada adiknya yang duduk masih memegangi kotak kue yang hancur.


"Itu hadiah untuk ayah?" tanyanya.

__ADS_1


Tomy tersenyum kecewa,"I...i... iya," jawabnya.


"Gagap, ayah tidak akan menerima pemberianmu!! Sebaiknya pulang saja, kehadiranmu hanya akan menyakiti dirimu sendiri," ucap Irgi yang 4 tahun lebih dewasa darinya.


"Ka...ka... kamu bo... bodoh," Tomy tersenyum menghela napas kasar.


"Bodoh!? Dasar anak sial!! Pantas saja ayah membencimu!!" bentak Irgi menarik kerah kaos adiknya.


"Ha...ha...hari ini, A...a...aku akan me...mememban....membantumu, te...te...teri...terimakasih su...su...sudah me...mego...memgoba...mengobatiku," ucap Tomy ambigu, seakan mengetahui hal yang akan terjadi.


"Kamu hanya menolong sekali, tapi sesombong itu!!" bentaknya, melepaskan cengkraman tangannya pada kaos lusuh yang dipakai saudaranya.


"A...aku su...su...sudah ter...terbiasa di...di...diben...dibenci a...ayah. Kor...korban...korbankan a...aku ha...hari ini," Tomy hanya tersenyum, sudah pernah sekali terkena perangkap Mike. Mungkin pada Irgi juga akan terjadi hal yang sama.


Saudara yang tidak dekat dengannya? Itulah sosok Irgi yang keras, emosional, sama sekali tidak rasional hanya mengandalkan emosinya saja, tidak menggunakan otaknya ketika bertidak dalam emosi yang meluap-luap. Namun, berhati tulus, dan terlihat menyayangi Adrian.


"Apa maksudmu?" tanya Irgi mengenyitkan keningnya, tidak mengerti dengan kata-kata adik beda ibunya.


"Irgi!!" suara panggilan Adrian mulai terdengar, mencari keberadaan putra sulungnya. Dengan Mike yang memakai pakaian sedikit kotor berjalan mengikuti ayahnya. Mengadu? Itulah yang dia lakukan, seolah hanya dirinya yang terluka, akibat dorongan Irgi.


"Ko...ko...korbankan A...aku," ucap Tomy, memegang jemari tangan saudaranya. Setidaknya, Irgi peduli untuk mengobatinya, itu sudah cukup untuknya.


Adrian terlihat kesal, memasuki kamar putra sulungnya,"Irgi!! Apa yang kamu lakukan pada adikmu!!" ucapnya membentak.


Irgi gemetaran, menatap senyuman yang menyungging dibibir Mike. Senyuman yang bagaikan mengisyaratkan segalanya.


"A...aku yang me....memen...mendorongnya. Kak i...irgi, ha...hanya ke...kebe...kebetulan le...lewat," kata-kata yang keluar dari anak bertumbuh kurus.


Jemari tangannya memegang erat tangan Irgi. Berharap Irgi akan membenarkan kata-katanya.


Irgi hanya terdiam menatap Tomy. Adrian lebih cepat menarik putra bungsunya.


"Kenapa kelakuanmu sama liarnya dengan ibumu!!" bentaknya, menarik tangan Tomy dengan kasar.


Berjalan cepat, Tomy yang tidak dapat mengimbangi langkah ayahnya bagaikan terseret.


Brak...


Anak gagap itu kembali didorong keluar gerbang. "Kenapa kamu kemari jika hanya membuat masalah saja!?" bentaknya.


"Se...sela...selamat u...ulang ta...ta...tahun a...ayah," ucapnya, menunjukkan kotak kuenya yang telah hancur tertindih tubuhnya saat menyelamatkan Irgi dari batu yang dilempar Mike.


Adrian hanya menatap sinis, memberi perintah pada kedua security untuk menutup gerbang. Tidak menyadari kedua putranya yang berada di dalam rumah bahkan tidak memberikannya hadiah apa-apa. Kue yang hancur? Hanya itu hadiah yang didapatnya dari salah satu antara ketiga putranya.


Kasih sayang yang tidak dihargainya. Membiarkan sang anak berjalan pulang membawa kembali kotak kue murah yang hancur.


***


Irgi masih duduk di tepi tempat tidur penuh rasa bersalah. "Si gagap bodoh!!" umpatnya sembari menitikkan air matanya. Terlalu pengecut untuk menerima bentakan atau hukuman ayahnya. Membiarkan adiknya yang terluka karenanya, menerima kebencian dari ayahnya. Kebencian yang telah menumpuk, entah karena apa penyebabnya.


***


Suap demi suap kue kecil murah yang hancur masuk kedalam mulutnya. Enak... gumamnya dalam hati duduk di toko yang telah tutup. Untuk pertama kalinya memakan kue berlumuran krim manis.


Menitikan air matanya dalam kebahagiaan. Setidaknya hari ini perutnya diisi dengan makanan mahal seharga 20.000 rupiah. Mengganggapnya sebagai hadiah ulang tahun yang dikembalikan Adrian, agar dirinya dapat makan. Anggapan yang bodoh, namun dengan begitu setidaknya dirinya memiliki fatamorgana ayah yang menyayanginya.


Bersambung


...Pernahkah kita melihat dari mata orang lain? Jika aku menjadi dirinya apa yang akan terjadi? Bagaimana rasa sakit yang dialaminya......


...Tidak dapat melihat dari mata orang lain, egois, tidak peduli, bahkan membenci. Begitulah perasaan yang akan terukir, perlahan melumuri hati dengan persepsi buruk....


...Dia bukan orang baik, karena tumbuh di atas lumpur kotor....


...Tapi taukah kalian, lotus yang indah hanya akan tumbuh dan mekar dalam tanah berlumpur yang kotor......


Author...

__ADS_1




__ADS_2