
Rangga menghela napas kasar, melihat aktivitas dua orang aneh di hadapannya. Tiga porsi mie ayam, cilok, dan es teh berada di atas meja. Bukan merupakan gaya hidup orang yang tinggal di luar negeri bertahun-tahun, bukan?
Namun itulah kenyataannya, ibu kandung Farel berasal dari Indonesia, bahkan tinggal di desa. Pemilik JH Corporation itu pernah menjadi anak jalanan selama beberapa bulan, setelah terpisah dengan ibunya. Sebelum akhirnya mengalami berbagai hal pahit, hidupnya berubah ketika diadopsi oleh seorang investor asal Singapura.
Benar-benar tiga orang anak malang yang duduk satu meja. Namun ajaibnya mereka masih hidup...
"Rangga, ambilkan dokumen yang ada diatas meja..." ucap Farel, menghela napas kasar.
Pemuda itu mengenyitkan keningnya, mengalihkan pandangannya, kembali menatap ke arah Tomy dan Farel. Copy-an dokumen penting perusahaan W&G Company miliknya berada disana? Bagaimana bisa?
"Ini, ada tugas lain lagi?" tanyanya berusaha untuk tersenyum.
"Ambilkan cemilan kacang di pantry, omong-ngomong carilah pasangan, disini hanya kamu yang belum menikah," ucap Farel tertawa kecil.
"Permisi..." Rangga masih setia tersenyum, tertunduk sejenak, berjalan keluar.
Bug...
Suara pintu tertutup terdengar, bersamaan dengan senyuman di wajah Farel yang memudar.
"Tidak apa menyatakan perang secara terang-terangan seperti ini?" Tomy menghentikan kegiatannya sejenak, memakan mie ayam yang hampir dingin.
"Dia pemilik W&G Company, bukan orang yang bodoh. Kita berbaik hati memberikannya peringatan, jika masih berusaha bergerak juga. Terpaksa kita harus menginjaknya..." Farel menghela napas kasar, kembali membaca beberapa dokumen.
"Bisa kita lebih berbaik hati padanya? Ini kesalahan keluargaku. Terutama kakekku..." Tomy menghentikan aktivitas makannya sejenak, memberikan data-data yang didapatkannya, pada dokumen dalam ranselnya.
Kenzo, itulah nama aslinya. Tomy mengetahuinya dari awal, pemuda yang pandai bersandiwara itu, pemuda yang hanya ingin mengenalnya. Dengan sengaja Tomy meletakkan kartu namanya, saat Kenzo berpura-pura menjadi seorang gelandangan.
Tidak menyangka, orang yang seharusnya membenci keluarganya, menyelamatkan nyawanya, setelahnya. Ketika hendak ditikam oleh salah seorang pegawai yang baru dipecatnya. Meletakkan Kenzo menjadi pelayan pribadi, disampingnya menjadi pilihannya.
Hingga menggali lebih banyak informasi lagi, mendapati semua kenyataan pahit yang terjadi pada Kenzo akibat ulah keluarganya.
"Salah seorang pengawalnya, aku berhasil menyuapnya. Saat di luar negeri, Kenzo beberapa kali mendatangi psikiater akibat mengidap bipolar. Kemungkinan besar akibat rasa kehilangan, dan kekerasan fisik yang dialaminya ketika kecil," Tomy mulai meminum teh dinginnya, menatap ke arah Farel.
"Keluargamu lumayan keji..." Farel tersenyum, melempar dokumen yang diberikan Tomy ke atas sofa, disamping sahabatnya.
__ADS_1
"Jadi apa yang akan kita lakukan? Bisa kita lebih berbelas kasih padanya?" tanya Tomy.
Namun, Tomy dan Farel menghela napas bersamaan, bingung harus berbuat apa.
Tidak dapat mengambil keputusan setelah mengetahui informasi tentang kehidupan Kenzo sebelumnya. Mungkin serupa dengan kelamnya hidup mereka dahulu. Namun, mereka lebih beruntung, karena menerima uluran tangan seorang, serta memiliki orang tua yang masih hidup.
Sedangkan Kenzo harus memulai semuanya seorang diri, bahkan kedua orang tuanya sudah meninggal...
Hingga pintu itu kembali terbuka, sosok Kenzo yang memakai nama Rangga kembali terlihat. Tersenyum membawa se-toples kacang.
"Rangga..." Farel mengenyitkan keningnya menatap dengan serius.
Apa dia akan mengancam Kenzo secara terang-terangan... Tomy membulatkan matanya, menatap ke arah dua orang pemuda di hadapannya dengan mulut penuh, masih memakan mie ayam.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Farel dengan wajah tanpa dosa.
Br*sek, aku kira mereka akan mulai bertengkar... gumamnya dalam hati terbatuk-batuk, ketika menakan seporsi mie ayam miliknya.
Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya, "Wanita terlalu lemah, sangat merepotkan menjaganya..." jawabnya tertawa kecil.
Tomy menghentikan aktivitas makannya, mendekati Rangga dengan pandangan menyelidik,"Tipemu wanita seperti apa?" tanyanya.
Farel mengenyitkan keningnya, menatap jenuh,"Sudahlah, jika dia bertekuk lutut di hadapan wanita suatu hari nanti dia akan mengetahui. Bagaimana rasanya terbang ke surga saat menyentuh wanita yang disukainya dan jatuh ke neraka saat wanita yang disukainya memalingkan wajah darinya..."
Tomy menghela napas kasar,"Saat itu terjadi satu kata 'Mampus!!'..." ucapnya penuh penekanan.
"Aku? Tidak berdaya karena wanita? Jangan konyol..." Rangga tertawa kencang, mendapatkan tatapan aneh dari Farel dan Tomy.
"Setinggi-tingginya dia terbang dengan ucapan remehnya. Sejauh itu juga dia akan terjatuh, ketika menemukan kenyataan pahit ternyata dia juga manusia normal seperti kita..." Farel membuka toples kacang, memakannya tanpa dosa.
Tomy mengangguk, "Kamu akan merasa lebih baik, jika ada yang menemani..." sarannya.
"Tidak... lebih baik hidup sendiri, bebas tanpa ikatan," ucap Rangga tersenyum ke arah dua orang di hadapannya.
"Terserah saja, omong-ngomong kita akan melakukan apa hari ini?" Farel mengenyitkan keningnya berucap pada Tomy. Namun, melirik ke arah Rangga.
__ADS_1
"Jatuhkan harga saham mereka (W&G Company)!!" ucap Tomy penuh semangat, seolah memberi peringatan pada Rangga.
Rangga hanya tersenyum, semudah itu ditaklukkan? Tidak, W&G Company didirikannya, dan dibelinya dari perusahaan yang hampir pailit. Menciptakan etos kerja pada karyawannya, merekrut para profesional, hingga dapat menandingi Bold Company kini.
***
Malam mulai menjelang tepat pukul dua dini hari. Pemuda duduk di balkon kamar, meminum minuman bersodanya. Melempar kaleng yang kosong dalam tempat sampah.
Earphone masih terpasang di telinganya, menghubungi seseorang di negara lain, sambil mengetikan sesuatu pada laptop yang disembunyikan.
"Right, good job..." ucapnya menutup panggilan setelah mengatasi masalah yang dibuat Tomy dan Farel pada W&G Company.
Tok...tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Rangga segera membukanya. Mengenyitkan keningnya menatap seorang pria tua duduk di kursi roda bersama Miko yang mengantarnya.
"Tuan besar, ada keperluan apa?" tanyanya, mempersilahkan masuk.
Miko mendorong kursi roda Suki, memasuki kamar Rangga, kemudian menutupnya berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan diantara mereka.
"Kenzo..." Suki memulai pembicaraannya.
"Maaf, mungkin anda salah mengenali orang. Saya bukan Kenzo," ucapnya tersenyum.
"Aku memang sudah tua, tapi wajahmu terlalu mirip dengan Arman. Luka di dahimu juga, kamu masih memilikinya bukan?" kakek yang duduk di kursi rodanya itu menatap tajam.
Rangga mulai tersenyum, meraba bagian dahinya sendiri,"Ini? Ini adalah karya yang dibuat anggota keluarga kalian..."
"Itu kesalahanmu, mencuri perhiasan Nila," Suki meninggikan intonasi suaranya.
"Aku yang mencuri? Kenapa tidak bertanya pada Mona saja!! Bagaimana dia ingin meniru pengantin India yang terlihat di telivisi!? Bagaimana dia bermain di kamarku hingga salah satu cincin ibunya terjatuh!? Bagaimana Nila menyembunyikan kenyataan, putrinya seorang pencuri sesungguhnya!!" teriak Kenzo, wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.
"Ayahku, kamu sendiri yang membunuhnya!! Bagaimana seharusnya merawat anaknya? Jika tidak dapat menjaganya, biarkan dia membusuk di panti asuhan!!"
Prang...
__ADS_1
Sebuah gelas dilemparkan Rangga membentur dinding hingga pecah berkeping-keping,"Aku akan membalaskan dendam kedua orang tuaku, mengambil kebahagiaanmu satu persatu..."
Bersambung