
Hati wanita mana yang tidak meleleh, pemuda rupawan, merintis bisnis sendiri, memiliki perusahaan besar. Pemuda itu terlihat makan dengan tenang, berwajah dingin, memuji, namun memberi kesan sulit didekati.
Simpanan? Dengan kecantikannya, mungkin dengan cepat dirinya dapat naik ke ranjang Farel. Perlahan menggantikan posisi istrinya, mungkin begitulah isi fikiran Keyla, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.
Istri Farel yang pernah terlihat di media, tidak secantik dirinya. Mungkin sosok Jeny (istri Farel) juga dari kalangan atas. Tapi, tetap saja, jangan salahkan suami berpaling jika istri tidak pintar merawat diri. Otaknya benar-benar lancar membenarkan semua tindakan yang akan diambilnya.
Satu istilah lagi moto seorang pelakor sejati. Orang ketiga adalah orang yang tidak dicintai.
Tangannya mulai mendekati jemari tangan Farel. Namun, diluar dugaan, pemuda itu menggenggam tangannya.
"Mau minum bersama? Aku sedang ingin menghilangkan penat..." tawaran dari mulutnya, tersenyum mematikan.
"Boleh dimana?" tanya Keyla antusias.
"Club'malam atau restauran terlalu ramai, aku cemas jika ada wartawan. Bagaimana jika di hotel, tenang kita hanya berbincang sebagai teman..." jawabnya.
Keyla membulatkan matanya, spontan mengangguk.
"Bill..." panggil Farel pada pelayan, kemudian membayarnya.
Farel berjalan pergi diikuti Keyla, sembari mengirim pesan pada Tomy.
'166.000, suruh sepupumu ganti uangku. Bill hotel juga kalian yang bayar,'
Mungkin begitulah isi pesan yang dikirimkan pemilik perusahaan besar tersebut.
***
Tomy mengenyitkan keningnya, "Ini!! Tagihan untuk menguji pacar br*ngsekmu tersayang. Kamu sendiri yang harus bayar..." ucap Tomy menunjukkan isi pesan dari Farel.
Jemari tangan Gilang mengepal, pemuda itu hanya mengangguk, tidak terasa setetes air matanya mengalir. Menangisi Keyla? Tidak, dirinya menangisi Amel.
Sahabatnya sempat menjadi asisten Keyla, pernah mengadu padanya mendapatkan kekerasan fisik, kala Keyla mengadakan pesta pribadi di rumah yang dibelikan Gilang.
Amel juga sempat mengatakan Keyla membawa pria lain ke dalam kamarnya. Namun, Gilang saat itu membentak Amel untuk pertama kalinya. Menuduhnya sebagai orang suruhan Leon yang dibayar dengan uang, guna menjauhkannya dari Keyla.
__ADS_1
Begitulah cikal bakal persahabatan yang mereka jalin mulai renggang. Amel semenjak saat itu jarang bicara padanya, diantar pulang pun, hanya menggelengkan kepalanya. Lebih memilih pulang menggunakan ojek online.
Pertanyaan yang dipendamnya, apakah benar saat itu Amel mengalami kekerasan fisik. Jika iya, dirinya memang terlalu kejam pada sahabat yang selalu khawatir padanya.
Gilang terdiam sejenak...
"Apa belum cukup untuk membuktikan dia wanita br*ngsek? Dia pernah beberapa kali menggodaku. Tapi, karena kamu mengganggapnya dewi baik hati aku hanya dapat diam, tidak ingin mencari masalah..." Tomy menghela napas kasar.
"Aku ingin melanjutkannya..." ucap Gilang menghapus air matanya. Berusaha untuk tersenyum, memendam rasa bersalahnya.
Meraih kunci mobilnya, guna mengikuti Farel.
***
Salah satu hotel bintang lima terbesar di kota tersebut dimasuki Farel. Memesan sebuah kamar, serta layanan pengantar minuman beralkohol.
Sedang Tomy dan Gilang memesan kamar di sebelahnya.
Pemuda rupawan itu, membuka sebotol anggur, menuangkannya seperempat gelas. Tersenyum pada Keyla, "Apa kamu masih singgel? Maaf, maksudku tidak punya pacar. Aku tidak ingin ada masalah jika pacarmu tipikal orang yang cemburuan..."
Itulah sebabnya, bantuan dari Tomy sangat diperlukannya. Walaupun hanya pada malam hari.
"Aku masih sendiri, pacar? Aku tidak punya..." ucapnya tersenyum meminum seteguk wine di gelasnya.
Kamu dengar sendiri kan? Dia bilang tidak punya pacar!! Keluar dari tempat persembunyian kalian!! Tampar dia, agar aku bisa segera pulang!! Jika tidak istriku akan menjambak rambutku lagi... Farel masih terlihat angkuh, bergumam dalam hatinya.
Sedangkan di ruangan samping, Gilang dan Tomy mendengar semua percakapan mereka, dari alat penyadap.
Tangan Gilang gemetar, dirinya berucap dengan ragu, "Bisa kamu mengirim pesan pada Farel untuk bertanya, apa dia sering mengadakan pesta pribadi, semacam mabuk dengan beberapa orang di rumahnya,"
Tomy menghela napas kasar, meskipun sulit untuk mengalihkan pembicaraan, namun dirinya tetap mengirim pesan pada Farel.
'Budak cinta yang sudah buta ini ingin kamu bertanya. Apa *njing Chihuahua sering mengadakan pesta pribadi di rumahnya. Semacam pesta ala barat dengan jumlah orang sedikit serta minuman keras...'
Farel merogoh sakunya merasa ada pesan yang masuk. Pemuda itu menghela napas kasar, seharusnya misinya sudah selesai bukan? Tidak mengakui pacar, bersedia dibawa ke hotel oleh pria asing, apalagi namanya jika bukan wanita bekas sisa daur ulang.
__ADS_1
Akhirnya Firaun kejam, masih menekan emosinya, penuh senyuman,"Keyla, aku sering tinggal di luar negeri, jadi terbiasa mengadakan pesta dengan minuman keras, with free ****. Tapi orang tua dan istriku tidak menyukainya, apa kita bisa mengadakan party di rumahmu. Aku akan membiayainya..." dustanya, bahkan dirinya hanya pernah disentuh oleh istrinya. With free ****? Mungkin dirinya sudah gila saat mengatakannya. Namun, ini demi pulang lebih awal tanpa harus dijambak sang nona istri.
Keyla semakin tertarik, kehidupan bebas, mapan, bersikap dewasa pada saat tertentu. Akhirnya dirinya melepaskan imagenya sebagai gadis baik-baik,"Benarkah? Aku sering mengadakannya, dengan teman-temanku. Bahkan koleksi minuman beralkoholku cukup banyak..." ucapnya.
Gilang mendengar semuanya dari ruangan lain, "Hentikan, kita berhenti disini..." gumamannya sudah cukup mengetahui. Amel dahulu saat menjadi asisten Keyla memang pernah dipukuli. Dan dengan bodohnya dirinya tidak mempercayai sahabatnya.
Sahabat? Amel ternyata lebih dari itu, dirinya baru mengetahui, perasaan terdalam di hatinya. Tidak menyakitkan ketika mengetahui keburukan Keyla, namun bagaikan ditikam pisau saat Amel memalingkan wajah meninggalkan dirinya. Baru menyadari setelah beberapa minggu kepergian gadis gemuk itu.
Bukan Amel yang berada diantara dirinya dan Keyla. Namun, Keyla lah yang tiba-tiba hadir membuat Amel tertunduk, menjauhi dirinya.
"Aku mengacuhkan Amel untuk p*lacur!!" amarahnya tidak tertahan lagi. Gilang meninggalkan kamar diikuti Tomy.
Suara ketukan pintu terdengar, Farel mulai tersenyum membukanya, sudah mengetahui siapa yang akan datang. Sedang, Keyla yang tidak mengetahui keberadaan Gilang merapikan penampilannya. Lebih tepatnya, membuka beberapa kancing kemejanya, agar lebih menonjolkan belahan dadanya.
Rambut diikatnya, hingga leher jenjang putih itu terlihat. Leher yang mungkin pria maupun menginginkan untuk mencetak bekas keunguan di atasnya.
Sejenak, Keyla mengalihkan pandangannya, menatap siapa saja yang datang. Senyuman di wajahnya menghilang.
"Hand sanitizer, tissue basah..." Farel menadahkan tangannya pada Tomy.
Tomy segera memberikan hal yang diminta sang Firaun. Entah jijik, atau bagaimana, Farel membersihkan tangannya. Kemudian menunduk meminta maaf pada Keyla.
"Kakekku mengajarkan untuk tidak menyusahkan hidup orang lain. Karena itu aku minta maaf sudah menyusahkan hidupmu..." ucap Farel, membuat Keyla tertegun diam mencerna semuanya.
"Tomy ini hari minggu, Jeny akan mengamuk jika aku pergi terlalu lama. Selanjutnya, terserah kalian..." lanjutnya, segera berjalan cepat meninggalkan ruangan.
Hati-hati tidak mendapatkan jatah... gumam Tomy menahan tawanya.
"Gi... Gilang aku bisa jelaskan semuanya, kami hanya teman biasa, yang baru kenal. Kamu percaya bukan?" ucapnya gelagapan menggenggam tangan Gilang.
Untuk pertama kalinya, mungkin kucing kecil itu telah beranjak dewasa. Menampakan aura bagaikan sang ayah, seorang kaisar yang berkharisma.
Tangannya mencengkram pipi Keyla,"Bajingan yang menjual diri sepertimu. Berani-beraninya memukuli Amel..." ucapnya tersenyum dingin.
Bersambung
__ADS_1