Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Orang Kaya


__ADS_3

Matahari pagi memasuki celah tirai jendela kamar. Seorang pemuda sudah lengkap menggunakan setelan kemejanya, dasi digunakannya, bau parfum yang terkesan maskulin tercium dari tubuhnya. Jas diraihnya, terakhir mengenakan jam tangannya.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama memakai pakaian resmi.


Terdengar suara ketukan pintu, seorang pelayan mengantarkan sarapan. Berupa potongan buah segar, secangkir teh, serta secangkir kopi, dan tentunya dua porsi roti isi sebagai pelengkapnya.


"Kakak... bangun..." ucapnya tersenyum mengecup kening Frea.


"Jangan memanggilku kakak lagi, memalukan," Frea merenggangkan otot-ototnya menguap beberapa kali. Akibat bergadang semalaman mengurus putra mereka yang rewel.


Bayi mungil yang tidur saat siang hari, terbangun di malam hari.


"Aku akan memanggil sayang, saat berada di atasmu. Kenapa? Mau aku melepaskan pakaianku kemudian saling memuaskan, memanggil sayang berkali-kali?" tanyanya, berbisik di leher Frea.


"Tidak..." wajah Frea seketika memerah. Ingin? Tapi hari sudah pagi, sudah waktunya beraktivitas.


Tomy tersenyum, mengacak-acak rambut istrinya."Kita sarapan dulu..." ucapnya.


"Aku belum mandi," Frea hendak bangkit dari tempat tidur, namun jemari tangan Tomy menariknya. Mengantarkan wanita itu dalam pangkuannya.


"Makan dulu, atau aku tidak jadi berangkat bekerja hanya untuk memakanmu seharian?" bisiknya dengan nada sensual.


"Aku makan..." akhirnya Frea menyerah, memakan roti isi dengan tubuhnya yang masih terasa lengket. Wanita itu bergerak, hendak turun dari pangkuan suaminya, namun Tomy menahannya.


"Aku ingin turun, badanku bau..." ucap Frea dengan mulut dipenuhi roti isi.


Tomy menggelengkan kepalanya, "Baumu enak," pemuda itu meraih cangkir kopinya, menyesapnya perlahan.


"Aku belum mandi!!" Frea mengenyitkan keningnya.


"Tetap cantik dimataku," sanggah Tomy mulai memakan roti isinya.


"Mulutku bau..." Frea masih berusaha melepaskan diri.


Tidak dipungkiri dirinya benar-benar merasa dongkol, risih, dan malu. Pada suami sendiri? Tentunya, mengingat penampilan suaminya yang telah rapi, wajah rupawan yang menawan, parfum yang tidak begitu menyengat namun menyegarkan tercium dari tubuhnya. Memangku Frea yang masih bau, dengan rambut acak-acakan, hanya mengenakan daster.


"Mulutmu bau? Tapi sayangnya aku tetap ketagihan menciummu..." ucapnya, menghentikan aktivitas makannya. Mengecup bibir Frea, hanya kecupan singkat."Sekarang percaya?" tanya Tomy tersenyum.


Hatinya berdebar cepat, setelah setahun mengenal lebih dekat pemuda tidak tau malu ini. Rasa berdebar itu semakin kuat, bahkan tidak memudar sama sekali.


"A...aku..." kata-kata Frea disela.

__ADS_1


Tomy tersenyum padanya,"Dimata orang lain bukan kamu yang tercantik. Tapi dimataku, kamu tidak hanya cantik, tapi memiliki hati yang sempurna..."


Mata itu menatap tajam padanya, saling memandang beberapa saat, napas Frea tidak teratur. Memejamkan matanya dalam dekapan suaminya.


Namun, bukanlah ciuman, tidak ada yang terjadi setelahnya. Frea membuka mata kecewa. Pemuda itu terlihat mengunyah sandwichnya, bagaikan tidak berdosa, tidak menyadari Frea yang menyangka Tomy akan kembali menciumnya.


Malu tapi mau, ingin tapi tidak bisa. Frea hanya dapat menghela nafas kembali memakan sandwich miliknya dengan perasaan lebih dongkol lagi.


"Kamu akan ke kantor hari ini?" tanyanya.


Tomy mengangguk, tersenyum, menatap istrinya dengan mulut penuh.


"Jangan seperti di JH Corporation, ini Bold Company!! Kamu komisaris utamanya!! Jangan coba-coba menebar pesona!!" peringatan keras dari Frea.


Tomy meminum secangkir kopinya kemudian tersenyum,"Iya..." hanya itu jawabannya.


Frea menghela napas kasar, rasanya percuma memperingatkan suaminya. Hanya dengan tersenyum, hati wanita akan meleleh. Dengan wajah dinginnya juga sama, wanita akan penasaran untuk mendapatkannya.


Wajah arogan yang ketika dingin terlihat menarik, ketika tersenyum secerah matahari.


***


Tidak ada mata yang tidak melirik padanya, bahkan resepsionis yang tertegun mulai bertanya pada security.


"Itu siapa? Karyawan baru?" tanyanya.


"Bukan komisaris utama, menggantikan Tuan Suki ..." jawab sang security, kembali berjalan menuju tempatnya bertugas.


"Komisaris!? Komisarisnya masih muda dan high quality..." ucapnya dengan jemari tangan mulai menyebarkan informasi, melalui media sosial.


Dengan cepat pesan tersebar ke seluruh kantor. Tidak menyadari, komisaris yang baru bagaikan dewa kematian yang memakai jubah hitam membawa senjata berupa tombak dengan ujung cerurit yang tajam.


***


Departemen yang pertama didatanginya adalah HRD. "Print semua data dalam flashdisk ini!!" perintahnya, berdiri menunggu disana.


Dalam waktu tiga puluh menit, menggunakan beberapa printer. Tumpukan dokumen tersusun rapi terlihat, diangkut menggunakan troli oleh dua orang karyawan HRD, menggunakan dua troli yang berbeda mengikuti langkah Tomy.


"Kita harus bekerja lembur..." gumam kepala HRD, mengingat banyaknya daftar lowongan kerja yang akan dibuka dan karyawan yang diberhentikan sepihak. Setelah membaca sekilas isi flashdisk yang diberikan sang komisaris muda.


***

__ADS_1


Seorang pria menampakkan wajah dinginnya, benar-benar banyak pegawai yang tidak disiplin. Keluar ruangan, mengobrol di depan toilet saat jam kerja. Sedikit melirik, menghapal nama pada name tag mereka, memendam kekesalannya.


Hingga langkahnya terhenti di departemen pertama. Bagian terbawah dan paling berbahaya baginya, Cleaning Service.


"P...pak," orang-orang di sana terlihat gelagapan, menatap atasan tertinggi, mendatangi mereka, diikuti sekertaris, dua orang pegawai HRD, serta dua orang security.


"Bawa orang yang bernama Joko, Wira, Elisha, ke kantor polisi, atas tuduhan pencurian data perusahaan. Atur surat pemecatannya tanpa pesangon, serta tuntutan atas kerugian perusahaan," ucapnya dingin, dua orang security yang mengikutinya. Mulai menarik paksa ketiga orang yang disebutkan Tomy.


"Kami tidak bersalah!! Komisaris muda tidak becus!! Tidak pernah ke kantor tau apa!? Seenaknya!!" ucap Wira berteriak-teriak.


"Tuan Tomy punya bukti, ini foto rekaman CCTV. Rekaman aslinya sudah di kantor polisi..." ucap seorang pegawai HRD, melempar tepat di wajah Wira, wajah pria paruh baya itu seketika pucat pasi. Tidak dapat berkata-kata.


Ketiga orang yang namanya disebutkan, tertunduk pasrah diseret, keluar dari ruangan.


Tomy menghela napas kasar,"Kakekku terlalu baik hati, perusahaan besar bobrok dengan pegawai yang pemalas!! Tapi aku tidak sebaik kakekku, setiap bulan akan diadakan evaluasi kinerja!!" bentaknya kesal, menendang sebuah meja.


"Pegawai dengan royalitas tinggi mendapatkan bonus, tapi jika sedikit saja lalai tidak akan ada pemanjangan kontrak kerja..." ucapnya menatap tajam, mengambil alih dari tempat yang paling remeh.


Kembali melanjutkan langkahnya pergi ke departemen lain. Para pegawai office boy tertunduk gemetaran. "A...aku harus ke lantai 5..." ucap salah seorang dari mereka mengambil troli pembersih, berjalan dengan cepat.


Komisaris yang sudah berbulan-bulan tidak kemari, ternyata mengerikan. Aku berharap dia terkurung di rumah selamanya... gumamnya dalam hati ketakutan, jika kontrak kerjanya tidak diperpanjang.


Beberapa office boy, juga segera bergerak dengan cepat ketakutan pada ancaman dari atasan mereka.


***


Pria dengan wajah rupawan itu, berjalan dari lantai ke lantai. Memasuki satu-persatu departemen.


Mulutnya kumat-kamit, menyebutkan namanya orang-orang yang didepak dengan paksa. Penghianat? Pemalas? Penjilat? Tidak ada yang selamat. Mungkin pemalas dapat selamat, hingga kontrak kerjanya berakhir.


Satu persatu, bukti penyelewengan dilemparkannya, di hadapan orang-orang yang berada di perusahaan.


Benar, burung itu mulai mengepakkan sayapnya, menyingkirkan karyawan yang tidak pantas berada disana. Bagaikan burung elang mencabik-cabik mangsanya, tidak kenal ampun.


Hingga tiba di divisi keuangan, satu persatu nama disebutkannya. Dua orang pegawai HRD, sekertaris Suki, serta security tetap setia berdiri di belakangnya. Menunggu instruksi.


Namun, tiba-tiba seseorang menerobos masuk, menarik kerah kemeja Tomy,"Br*ngsek!! Memang kamu siapa!? Apa yang kamu lakukan!?" bentaknya.


"Aku? Orang kaya..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2