
Malam semakin larut, Tomy masih konsentrasi pada pekerjaannya. Memijit pelipisnya sendiri, menghilangkan penat menyusun beberapa dokumen, mempersiapkan dirinya untuk mulai serius membantu perusahaan.
Pandangan matanya beralih, wanita itu nampak tertidur kelelahan. Mungkin karena putra pertama mereka yang rewel akibat belum beradaptasi pada tempat yang baru.
Tomy merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sejenak kemudian, melangkah mendekati istrinya, memijat tangan Frea.
"Emmgghhh..." Frea membuka matanya, "Kenapa memijatku? Seharusnya sebagai istri, aku yang melayanimu," ucapnya mulai duduk.
"Pekerjaanku hanya duduk, menelfon dan mengetik. Pekerjaan berat, paling berolahraga 30 menit. Sedangkan kakak, harus seharian menggendong Kira. Terkadang waktu untuk menyisir rambut saja kurang..." tangannya masih telaten memijat lengan Frea.
"Jangan begini, ada pengasuh yang menggantikanku sesekali, aku tidak kelelahan. Sedangkan kamu harus mencari uang untuk kami..." Frea menghentikan tangan Tomy, menggenggamnya erat.
"Aku akan berhenti memijatmu, tapi aku butuh dorongan energi untuk bekerja lembur," pemuda itu tersenyum, memangut bibir istrinya yang telah menjadi candu baginya. Hanya pangutan pelan, tidak lebih dari itu.
Hingga suara ketukan pintu terdengar mengehentikan ciuman panas mereka."Biar aku yang buka..." Tomy menghela napas kasar.
Seorang pelayan berdiri di sana menunduk memberi hormat setelah pintu dibukakan. "Maaf, ada tamu yang mencari anda ..." ucapnya.
"Siapa?"
***
Mendengar kabar menantunya masih hidup, merupakan sebuah kabar baik bagi Merlin. Mendatangi kediaman utama dilakukannya, walau sudah hampir tengah malam seusai kegiatan syutingnya.
Seorang wanita cantik turun, mengenakan gaun tidur yang lumayan terbuka. Hendak mengambil beberapa cemilan, hingga langkahnya terhenti.
Selebriti senior terkenal ada disini? Bertamu tengah malam? Jiwa elitenya meronta-ronta, mungkin lebih tepatnya ingin menjalin hubungan bak sosialita kelas atas dengan Merlin. Memiliki kenalan seorang selebriti, mungkin merupakan suatu keberuntungan baginya.
"Maaf, anda Merlin kan?" Dugong, maaf salah, maksudnya wanita berkulit putih, cantik, mulus, tanpa celah memancarkan aura penuh kemanisan dan keseksian mengulurkan tangannya.
"Iya? Kamu penghuni rumah ini?" tanya Merlin, tidak mengenal dengan jelas, siapa saja anggota keluarga besar Adrian.
"Perkenalkan nama saya Keyla, sebenarnya saya..." Keyla mengulurkan tangannya.
"Ibu..." Tomy berjalan cepat menuruni tangga, masih mengenakan piyamanya yang berbentuk kimono, menampakkan tubuh atletisnya. Menggoda mata wanita manapun yang melihatnya.
Merlin berdiri, berjalan cepat mendekati putranya, seolah tidak menganggap Keyla ada."Dimana cucu ibu? Ibu membelikan pakaian untuk Frea dan Kira, namanya Kira kan?" tanyanya tanpa henti, merangkul putranya. Berjalan menapaki tangga menuju lantai dua.
__ADS_1
Keyla menghela napas kasar, entah dari mana tiba-tiba Gilang berada di sampingnya. "Kamu penggemar Merlin?" tanyanya tersenyum, sesekali menguap, membawa segelas susu hangat, sebagai bekalnya tidur. Dengan memakai piyama bermotif Pikachu.
"Apa hubungan mereka?" Keyla bertanya balik mendengar kata 'Ibu' dan 'Cucu'
"Aku ceritakan dari mana ya?" Gilang berfikir sejenak,"Sepupuku Tomy tidak seperti kami yang semenjak lahir memiliki status tinggi. Dia terlahir sebagai anak di luar nikah paman Adrian dengan Merlin yang saat itu belum masuk ke dunia hiburan,"
"Ayahnya tidak mengakuinya sebagai anak, ibunya menelantarkannya ketika berusia 11 tahun. Entah bagaimana, dia bisa tumbuh dewasa seorang diri, bahkan meraih gelar master di usia muda. Benar-benar sebuah keberuntungan, si anak gagap..." mulut pedas yang diwarisi sang kakek kembali berkicau di bagian akhir.
Keyla melirik kekasihnya dari bagian atas ke bawah, dari bawah ke atas... Tomy tumbuh karena kedewasaannya, penampilannya seorang pria yang dapat menjaga dan membahagiakan wanita. Terutama di ranjang...Apa benar kalian sepupu? Kenapa tidak mirip? Perbandingan seperti anak manja dan pria idaman... gumamannya dalam hati membandingkan Tomy dengan Gilang.
"Kenapa memperhatikanku? Aku tampan ya?" tanya Gilang dengan anggapan setinggi langit.
Memang tampan, tapi kurang menggoda... cibir Keyla dalam hati berusaha tersenyum.
"Tentu saja, kamu yang tertampan," Keyla mengalungkan tangannya pada leher Gilang. Mencoba menggoda kekasihnya, pipi pemuda itu diciumnya perlahan. Hingga menjalar pada bibirnya, namun bibir itu tetap tertutup tidak mendapatkan balasan. Jemari tangan indah dengan kukunya yang terawat, merayap hendak membuka kancing piyama motif Pikachu.
Keringat dingin bercucuran di pelipis Gilang, "Berhenti..." ucapnya mendorong tubuh Keyla.
"Ayah bilang, kita boleh pacaran. Tapi, tidak boleh... tidak boleh..." kata-katanya terhenti, menghela napas kasar,"Keyla, aku mohon bersabarlah. Ayahku mengatakan hanya p*lacur tidak tau diri yang menggoda pria baik-baik meminta untuk berhubungan,"
Mungkin sebuah tamparan dari tangan tidak terlihat bagi Keyla, Leon mengsugeseti putranya lagi, untuk menjaga jarak. Putra kesayangan yang terlalu dicintai sang ayah.
"Benar, sebaiknya kamu tidur, minum susu, jaga kesehatanmu..." ucapnya meraih segelas susu yang sebelumnya di letakkan Gilang di atas meja saat bicara dengannya, memberikan padanya. Mendorongnya pergi, penuh senyuman.
Gilang membalas senyuman kekasihnya. Membentuk tanda hati dengan jari tangannya, sebelum pintu kamarnya yang terletak di lantai satu tertutup sempurna.
"Aku seperti pacaran dengan anak SMU. Apa benar dia anak Leon, benar-benar perbedaan besar..." gumamnya tertegun.
***
Sementara itu, Merlin mulai menimang cucunya yang baru saja terbangun. Duduk di tepi tempat tidur, menggenggam jemari tangan Frea.
"Bagaimana persalinannya? Apa menyakitkan?" tanyanya iba, mengingat masa lalunya yang penuh keputusasaan. Melahirkan tanpa suami, bahkan hanya di rumah sempit berpenerangan minim.
Frea mengangguk, mencium pipi bayi mungil yang terbangun.
Merlin tiba-tiba terisak, menatap wajah menantunya, tidak dapat menahan harunya lagi,"Terimakasih, sudah melahirkannya. Terimakasih..."
__ADS_1
Wanita itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya, hanya berlinang air mata, mengecup wajah mungil yang berusaha menyentuhnya berkali-kali.
Menyesali kehadiran Tomy? Itulah yang dahulu terjadi hingga Merlin menjadi ibu yang tega hampir membunuh janin dalam perutnya. Melahirkan bayi prematur, bayi yang mungkin menyelamatkan diri dari ibunya yang meminum jamu penggugur kandungan.
Janin yang sudah tumbuh dewasa, menghadirkan seorang cucu mengisi hari tuanya. Hari-hari yang dijalaninya bahkan tanpa kehadiran suaminya yang sudah lama pergi.
Putranya tersenyum, diikuti seorang pelayan membawa minuman. Serta potongan buah, menyuapi istrinya penuh tawa. Sesuatu yang membuat Merlin bahagia.
Putra dari seorang pria yang terlalu takut jatuh miskin. Putra dari seorang pria yang tidak dapat menjadi ayah yang baik. Putra dari seorang pria yang tidak menjaga ibu dari anaknya.
Kini putra dari pria itu, menyayangi istrinya, memperlakukannya dengan baik. Tomy tidak tumbuh seperti Adrian, sesuatu yang membuat Merlin tersenyum dengan air mata yang mengalir.
"Ibu?" Tomy menggengam jemari tangan Merlin yang tengah duduk masih dengan Kira dalam dekapannya.
"Ibu bahagia, berusahalah menjadi suami yang baik. Bahagiakan istri dan anakmu, jangan pernah mencoba menebar rasa kasihmu pada wanita lain,"
"Apapun, bagaimanapun kelemahan Frea, kamu juga bukan orang yang sempurna. Berusahalah melengkapi, jangan memalingkan wajah darinya..." ucapnya, menatap putranya yang kini telah menjadi seorang ayah. Mungkin akan tumbuh menjadi ayah dan suami yang baik.
Tomy mengangguk, menatap mata ibunya. Memiliki pemikiran yang serupa, "Aku hanya akan mencintai Frea..." janjinya, hanya menginginkan cahaya pertama yang dilihatnya dalam jalan kehidupannya yang berkerikil.
Bersambung
...Ibu yang kejam karena ingin menggugurkan anaknya? Benar itulah aku......
...Namun, taukah kalian, cibiran dari mulut orang-oranglah yang membuatku tega melakukannya......
...Andai semua manusia di dunia ini bagaikan malaikat, tidak banyak bicara, membimbing wanita kotor sepertiku ini, untuk menjadi lebih baik. Aku tidak mungkin tega mencoba membunuh janin dalam perutku......
...Mulut mereka hanya dapat bicara dan mencibir, tidak memberi makan pada sang wanita hamil tanpa perlindungan. Makan? Pekerjaan saja mereka akan enggan untuk memberikannya......
...Menyesal... Bagaimanapun hanya itu yang tersisa......
...Janin yang hampir mati tumbuh menjadi tangan mungil bagaikan malaikat yang tidak membenci siapapun. Lambat laun, menjadi pria yang dapat diandalkan... ...
...Hingga kini janin kecil yang hampir mati itu menjadi seorang ayah yang mengasihi anak dan istrinya......
Merlin
__ADS_1