Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Mencari Mad Hatter Bagian 1


__ADS_3

...Pernahkah kalian menonton film Alice in Wonderland (2010)? Seorang gadis tersesat di negeri asing, bertemu banyak keajaiban. Hingga bertemu dengan sosok seorang pemuda yang memakai topi besar....


...Hatter itulah namanya, bagaikan keajaiban menemani dan melindunginya. Namun Alice harus tetap kembali ke dunia nyata. Meninggalkan Hatter tersenyum padanya....


...Jika aku menjadi Alice, aku ingin kembali dan tinggal dengan Hatter, tersenyum dan meminum teh bersamanya. Namun, kenyataannya aku adalah Alice terburuk, membuat Hatter milikku meninggalkanku dalam senyuman palsunya....


Frea...


Matahari memasuki celah tirai, Frea mengerjapkan matanya. Tidak menemukan keberadaan pemuda yang selalu membangunkannya.


Matanya masih sedikit berkunang-kunang, menatap ke arah jam dinding. "Sial, aku terlambat!!" ucapnya berlari menuju kamar mandi, membersihkan dirinya secepat kilat.


Memakai seragam dan lotion, serta krim perawatan wajah yang dibelikan suaminya. Tidak lupa, lip blam menghiasi bibirnya, menampakkan kecantikan alaminya bagaikan berusia di awal 20-an. Sejenak mengamati penampilannya, melirik ke arah tempat tidur yang kosong. Tanpa terlihat keberadaan Tomy.


Dengan cepat berjalan keluar, berharap dapat melihat wajah suaminya yang tersenyum menata meja makan. Namun tidak ada seorangpun disana, hanya makanan hangat terhidang diatas meja.


"Apa dia keluar duluan?" gumamnya, berjalan cepat keluar dari apartemen memesan taksi online.


Ada yang mengganjal dalam hatinya, aneh rasanya tidak menatap senyuman yang biasanya terlihat disaat matanya mulai terbuka mengawali hari. Frea menghela napas kasar, mengingat permintaan suaminya, agar tidak menemui Vincent.


Namun, bukankah Tomy masih terlihat tersenyum saat tadi malam bergurau dengannya? Tidak mungkin Tomy marah padanya. Frea meraih handphonenya mengirim pesan pada suaminya, berniat memperbaiki segalanya.


'Tomy maaf, aku harus buru-buru ke toko. Jadi tidak sempat sarapan, nanti aku berjanji akan pulang lebih awal,'


"Tidak akan terjadi apa-apa," gumamnya dengan perasaan aneh yang masih mengganjal. Tidak menyadari hal yang terjadi. Dan kesempatan yang dilewatinya.


***


Hari sudah mulai siang, beberapa kali Frea menatap layar handphonenya. Namun, tidak ada pesan balasan yang masuk dari suaminya. Hingga dirinya mulai bangkit dari kursi ruangannya, berjalan beberapa langkah akhirnya suara panggilan terdengar.


Frea meraihnya, menghela napas kecewa, bukan nama Tomy-lah yang tertera menghubunginya.


"Bunda..." terdengar suara ceria dari Gea, menelfon Frea menggunakan phonecell milik Vincent.


"Anak bunda sayang sudah makan?" tanyanya, mulai tersenyum.


"Sudah, hari ini Gea pulang ke rumah, bunda ikut antar Gea pulang ya!?" jawab Gea dari seberang sana terdengar ceria.


Frea kembali menghela napas kasar. Harus mengingkari janjinya lagi, pada Tomy.


"Iya, nanti sore bunda ke rumah sakit. Bunda kerja dulu ya? Jangan nakal..." ucap Frea mematikan panggilan.


Membohongi Tomy? Tomy tidak akan tahu, jika tahupun dia akan mengerti. Tidak ingin kembali pada Vincent, lebih mencintai pemuda yang bersumpah setia padanya. Namun, rasa kasihnya pada Gea-lah yang membuatnya berbohong.


Ada rasa tertekan dalam hatinya, mengirim pesan pada suaminya, penuh rasa bersalah.


'Sayang, maaf hari ini aku harus melatih murid yang akan bertanding lagi. Aku akan pulang terlambat, aku janji ini untuk yang terakhir kalinya, aku pulang terlambat. Besok aku akan mentraktirmu di restauran Itali dekat apartemen. Aku janji...'


Wajahnya menatap jendela kecil, hanya untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, menghabiskan seluruh waktunya dengan suaminya. Mungkin begitulah fikirnya.


***


Seperti biasa, Vincent datang menjemputnya di area depan toko. Tersenyum menatap ke arah Frea, melajukan mobilnya menuju area rumah sakit.


Tidak ada pembicaraan, Frea lebih banyak diam menatap ke arah jalan raya, memikirkan apa yang sedang dilakukan suaminya? Apa dia kecewa, karena dirinya pulang terlambat lagi? Banyak hal yang berkutat di fikirannya.


Hingga area rumah sakit terlihat, Vincent segera keluar dari dalam mobil bersama Frea. Mengurus administrasi, menjemput Gea di kamar rawat.


Sementara untuk pertama kalinya Frea tidak bersemangat melakukan apapun. Duduk di ruang tunggu rumah sakit. Satu persatu nama orang yang menunggu untuk berobat jalan, terlihat dipanggil.


Seorang wanita dengan wajah pucat duduk di sampingnya. Menghela napasnya berkali-kali, kemudian tersenyum padanya.


"Kamu sakit apa?" tanyanya pada Frea dengan nada lemah.

__ADS_1


"Aku? Aku tidak sakit, aku kemari menjemput anak temanku," jawab Frea menatap wanita botak dengan topi rajutan menutupi kepalanya.


"Rambutmu bagus," ucap sang wanita tersenyum. Mengingat dirinya yang tidak memiliki rambut sama sekali.


"Rambutmu cepat atau lambat juga akan tumbuh," Frea tersenyum padanya, namun sang wanita menggelengkan kepalanya.


"Tidak akan tumbuh, aku menderita kanker lambung. Pengobatan yang cukup lama, membuat kepalaku botak seperti biksu di biara tempat Boboho," ucapnya tertawa kecil, menertawakan kekurangannya.


Tapi tidak dengan Frea wanita itu tidak tertawa sama sekali. Mengingat tawa dan senyuman palsu suaminya, benar-benar mirip dan serupa dengan wanita di hadapannya. Apa Tomy juga pura-pura tersenyum?


Seorang pemuda tiba-tiba datang membawa bubur dalam wadah stereo foam.


"Maaf, antriannya terlalu lama, makan dulu ya? Anak kita juga sudah lapar," ucap sang pemuda membuka bubur yang dibawanya, mengelus perut rata istrinya.


Perlahan sang pemuda kembali meletakkan buburnya, baru mengingat sesuatu,"Aku lupa membeli air," ucapnya berlari dengan cepat, hingga tidak sengaja membentur pintu kaca yang terlihat transparan. Mengusap-usap hidungnya kemudian kembali berlari, keluar dari ruang tunggu.


Sang wanita tertawa kecil, menertawakan suaminya.


"Kamu hamil?" tanya Frea pada sang wanita.


Wanita itu mengangguk, tersenyum mengelus perutnya yang rata."Pengobatan kanker sementara waktu tidak akan aku jalani. Memiliki anggota keluarga baru lebih penting. Jika aku pergi nanti setidaknya akan ada bayi mungil yang menemani dan menjaga suamiku. Menjadi semangat hidup untuknya, jika aku tidak dapat disembuhkan,"


"Kamu sudah punya anak?" tanyanya pada Frea, melirik cincin di jari manisnya.


Frea menggelengkan kepalanya, menunduk memikirkan sesuatu,"Untuk memiliki anak, aku tidak yakin padanya. Aku takut suatu hari nanti kami akan berpisah. Jika memiliki anak, anak kami satu-satunya makhluk kecil yang akan tersakiti karena kata perpisahan," ucapnya mengingat perceraian kedua orang tuanya.


Sang wanita menghela napas kasar, menatap Frea,"Kamu takut memiliki anak karena takut akan menyakitinya, ketika nanti berpisah dengan suamimu?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Frea.


"Apa kamu berencana akan bercerai? Atau suamimu kasar dan berselingkuh?" sang wanita kembali bertanya.


Kali ini Frea menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau dia berselingkuh atau tidak, dia tipikal pria yang baik hati, tidak kasar sama sekali. Tapi, apapun yang dilakukannya, bagaimanapun sifatnya, aku tidak ingin berpisah dengannya, anggap saja aku tidak memakai logika, jika bisa aku ingin terus bersamanya,"


"Ikat dia, dengan kehadiran anak. Semakin kamu menolak memiliki anak, semakin dia akan meragukanmu. Semakin terluka pula hatinya, selepas nanti anak akan hadir atau tidak, setidaknya kalian sudah berusaha. Itu cukup untuk membuktikan kamu ingin menghabiskan masa tuamu bersamanya," sang wanita menggenggam jemari tangan Frea.


"Tapi dia tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Dia bilang akan menungguku siap..." ucap Frea dengan jemari tangan gemetar.


"Apa dia benar-benar tersenyum bahagia? Atau tersenyum karena ingin membahagiakanmu?" tanyanya.


Frea menunduk, mengingat wajah Tomy yang terdiam tanpa ekspresi di beranda. Wajah yang seakan menyiratkan kesepian.


Senyuman palsu itu tiba-tiba terbayang, apa benar Tomy tetap bahagia?


"Aku menderita kanker, entah dapat hidup hingga kapan. Tapi aku ingin tetap memilikinya," sang wanita tersenyum mengelus perut ratanya,"Selepas aku dapat atau tidak menjaganya. Aku ingin berusaha, memiliki senyuman dari anak yang ceroboh seperti pria yang tadi menabrak kaca transparan," ucapnya tertawa kecil, mengingat tingkah konyol suaminya.


Frea mulai tersenyum, "Mungkin aku akan mencoba memilikinya, agar apartemenku lebih ramai dengan dua orang yang berisik," ucapnya, jemari tangannya mulai mengelus perut sang wanita botak,"Hai, namaku Frea..." lanjut Frea seolah tersenyum dan bicara pada janin dalam kandungan sang wanita.


***


Hari inipun sama, Frea pulang lewat tengah malam, menunggu Gea yang telah pulang ke rumahnya, tertidur.


Malam ini angin dingin menerpa rambutnya, menatap jalanan sepi dalam taksi online yang melaju. Tidak ingin diantar Vincent lagi, tidak ingin diketahui menemui Vincent. Tidak ingin menyakiti hati suaminya. Tidak ingin menatap wajah tanpa ekspresi itu, terdiam di balkon, hanya ingin melihat senyumannya.


Frea menonggakkan kepalanya, turun dari taksi menatap ke arah balkon apartemennya. Lampu kamarnya tidak menyala,"Apa dia sudah tidur?" ucapnya.


Perlahan dirinya melangkah penuh rasa bersalah, harus kembali melanggar janji pulang lebih awal. Kode akses ditekannya, jemari tangannya memegang hendel pintu dengan ragu. Berharap Tomy tidak akan marah, tersenyum seperti biasanya.


Pintu mulai terbuka, hanya ruangan gelap yang terlihat dengan deru mesin AC dan lemari pendingin yang bersahutan. Sakelar lampu ditekankannya, ruangan itu terlihat kosong.


Ada yang mengganjal di hatinya sejak pagi, namun entah apa. Hingga pintu kamar dibukanya, menekan saklar lampu. Sosok pemuda yang tertidur menggunakan piyamanya tidak terlihat."Tomy," panggilnya, berjalan menuju kamar mandi.


"Tomy..." panggilannya kembali, mengetuk pintu, tanpa mendapatkan jawaban. Dengan ragu, Frea membukanya, tidak seorangpun yang berada didalam.


"Apa dia belum pulang?" gumamnya, melangkah ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


Banyak pertanyaan berkutat dalam fikirannya, tidak terdengar sedikitpun suara dalam kamar yang hening. Mulut cerewet yang membuatnya tertawa, suara hangat itu tidak terdengar dalam ruangan sunyi.


"Kenapa belum pulang...?" ucapnya dengan mata tidak dapat terpejam. Berbaring rasanya percuma, jemari tangan yang memeluknya, menenangkan tidurnya, bagaikan menghilang.


Beberapa jam Frea hanya terdiam duduk di tepi tempat tidur. Menunggu? Apa selama ini Tomy juga tidak dapat tidur menunggunya pulang?


Hingga pagi menjelang, sosok pemuda itu belum terlihat juga. Langkah Frea lemas, tidak dapat tidur sama sekali. Pintu kamar dibukanya.


'Sayang, ayo sarapan...' wajah rupawan yang terkena sinar matahari tipis, tersenyum padanya, menata meja makan. Frea tersenyum ke arahnya, bersamaan dengan menghilangnya fatamorgana suaminya.


Dia tidak pulang, apa dia bosan denganku? Menemukan wanita yang lebih cantik, dan kaya...


Wanita itu berjalan menuju meja makan, menatap origami bangau, tanpa menyentuhnya mengambil roti dan selai, memakannya perlahan. Perhatiannya sedikit teralih, pada kursi kosong di sebelahnya.


Air matanya mengalir tidak dapat dikendalikan, penyebabnya? Dirinya pun tidak tahu. Sudah menduga suatu saat nanti Tomy akan jenuh padanya, pergi meninggalkannya ke tempat lain.


Namun, kenapa secepat ini? Jemari tangannya gemetaran, berharap kali ini pesannya akan dibalas.


'Tomy, sesuai janji kali ini aku tidak akan membatalkannya. Aku akan mentraktirmu makan di restauran Itali dekat apartemen. Aku mencintaimu...'


Untuk pertama kalinya, kata cinta diketiknya, berharap kali ini mendapat balasan. Memandang handphone, berusaha menelan roti yang masuk ke dalam mulutnya.


***


Hingga matahari meninggi Frea menyenderkan dagunya di atas meja, di dalam ruangan salah satu toko miliknya. Handphone itu tidak berbunyi sama sekali. Beberapa pesan memang masuk, pesan yang membuatnya antusias. Namun sesaat kemudian menelan kekecewaan. Mulai dari pesan operator, hingga promosi pinjaman online, tidak ada satupun balasan dari suaminya. Bahkan bagaikan tidak terkirim.


Hingga sore menjelang, pesan agar menjemputnya kembali dikirimkan. Kembali tidak mendapatkan balasan.


Bahkan ketika mencoba menghubunginya, nomor tersebut sudah tidak aktif. Bagaikan buih yang menghilang dalam kehidupannya. Pemuda yang sepertinya tidak pernah ada.


Merindukan senyuman hangat, sesuatu yang membuat hatinya terasa terisi. Frea, menitikkan air matanya tertunduk diam.


Tempat latihan Judo menjadi tujuannya, menaiki bis. Hingga turun di salah satu halte, berharap suaminya menunggunya disana, mengingat jadwal mengajarnya.


Frea mulai mengajar, sesekali melirik kursi penonton yang lebih tinggi. Namun, sosok pemuda itu tidak terlihat juga.


Kehilangan? Rasanya menyakitkan, berjalan dengan langkah kecewa seusai jam mengajar menuju tempat parkiran.


"Frea..." panggil seorang cleaning service.


Langkah Frea terhenti, menatap cleaning service di hadapannya.


"Sudah ketemu dengan suaminya?" tanyanya.


"Tomy mencariku?" tanya Frea kembali, antusias.


"Beberapa hari yang lalu, malam-malam suami Frea kesini, seperti kebingungan," jawabnya.


"Kapan?" Frea mengenyitkan keningnya berharap dugaannya salah.


Sang cleaning service, terlihat berfikir,"Sekitar empat atau lima hari yang lalu,"


Frea terdiam jemari tangannya lemas, menjatuhkan handphonenya. Tomy mengetahui kebohongannya, tapi tetap tersenyum dan diam? Apa dirinya benar-benar ditinggalkan? Dicampakkan?


***


Apartemen yang kembali kosong, hanya suara mesin AC dan lemari pendingin yang memenuhinya. Air mata Frea tidak hentinya mengalir, menghela napas kasar duduk di kursi meja makan.


"Aku pulang lebih awal, kita akan makan ke restauran Itali. Uangku tidak cukup banyak, jadi pulanglah, sebelum aku mengurungkan niatku mentraktirmu..." ucapnya pada kursi kosong di sebelahnya.


Menangis sesenggukan bagaikan anak kecil yang ditinggalkan. Dirinya tertunduk, tanpa ada niatan sedikitpun untuk makan."Maaf, sudah membohongimu, kalau kamu pulang kita akan punya anak sebanyak-banyaknya. Tim kesebelasan sepakbola berikut cadangannya. Aku berjanji, akan mengumpulkan banyak tenaga untuk melahirkan banyak anak,"


Pandangan matanya sedikit teralih pada origami bangau di atas meja. Dengan sedikit coretan kertas yang terlihat. Lipatan kertas dibukanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2