
Tidak ada lagi yang tersisa, balas dendam? Hanya itulah tujuan hidupnya. Namun menatap tangisan Gilang hari ini, seorang Kenzo dapat bercermin. Orang yang paling peduli padanya, disakiti oleh tangannya sendiri.
Apa dengan mengakhiri hidup rasa sakit ini akan turut berakhir juga? Mungkin itulah isi benaknya, kala pelatuk senjata api ditariknya.
Matanya terpejam, menanti detik-detik terakhir hidupnya. Senyuman mengembang di bibirnya...
Pada akhirnya aku kalah, menjadi putra yang tidak berbakti, sekaligus, kakak yang keji...
Jemari tangannya hendak menekan pemicu.
Dor...
Suara tembakan terdengar, seiring suara pecahan kaca.
"Tuan, apa yang anda lakukan!!" untuk pertama kalinya, Frans membentak majikannya, setelah merebut senjata api di tangan Kenzo. Menatap betapa kacau keadaan pemuda itu. Pemuda yang hanya masih mengenakan jubah mandinya. Dengan bau minuman beralkohol yang menyengat.
Air matanya masih mengalir dalam keputusasaan. Tidak ada jawaban darinya, mata itu hanya terpaku dalam tatapan kosong.
Senjata api segera disingkirkan Frans, meletakkannya kembali dalam laci. Menghubungi psikiater yang terbiasa menangani Kenzo.
Pertama kalinya? Tidak, bukan hanya kali ini Kenzo berusaha mengakhiri hidupnya. Semuanya terasa sama baginya, hidup seorang diri hanya berselimutkan dendam. Tanpa sedikitpun kebahagiaan. Keluarga? Teman? Tidak satupun dimilikinya. Frans? Pria itu hanya iba padanya, setelah mengetahui semua yang dilakukan Suki menghancurkan hidup seorang Kenzo.
"Tuan..." Frans berjalan mendekatinya."Anda sebaiknya..."
"Aku tau ..." tubuh itu berusaha bangkit dari lantai tempatnya duduk, menggambil pakaian dalam lemarinya. Menggati jubah mandi dengan pakaian santai.
Wajahnya terlihat dingin, matanya memerah menahan derai air mata yang ingin terus mengalir. Tidak, ada yang diinginkannya lagi, tujuan hidup? Itupun hanyalah omong kosong.
***
Mery (sang psikiater) menghela napas kasar, setelah memasuki kamar pemuda itu. "Kali ini kenapa melukai diri sendiri lagi?" tanyanya, pada sang pemuda.
"Hanya ingin, tujuan hidup? Aku tidak memilikinya lagi. Satu-satunya orang yang peduli padaku, tanganku sendiri yang melukainya..." jawab Kenzo, atau kita dapat menyebutnya dengan nama Rangga. Berbaring di atas sofa, menatap langit-langit ruangan.
"Tujuan, perlindungan, itulah yang kamu butuhkan. Obat tidak dapat selalu mengendalikan suasana hatimu. Jika belum memiliki tujuan, bagaimana jika satu-satunya orang yang peduli padamu(Gilang). Menjadikannya motifasi hidup untuk melindungi, dan membuatnya bahagia?" Mery tersenyum, menatap ke arah pasiennya.
__ADS_1
"Aku yang melukainya, aku yang..." kata-kata Kenzo disela.
"Ubah sedikit jalan fikiranmu. Semua orang berhak bahagia dan menginginkan untuk bahagia, termasuk juga kamu, kamu berhak bahagia..." wanita itu masih setia tersenyum, melanjutkan konselingnya. Mendengarkan dengan sabar, hal-hal yang mengganjal dalam diri pemuda pengidap bipolar disorder itu.
***
Seorang pemuda menghela napas kasar, baru menyadari ada sesuatu yang aneh. Beberapa petinggi Bold Company juga tiba-tiba meninggal. Orang-orang suruhan Frans atau Kenzo? Tidak, pembunuhnya melakukan secara acak, bahkan salah salah satu pegawai yang berpihak pada Frans juga dilenyapkannya.
Foto-foto berserta profil para korban berada di laci kamar Tomy. Waktu masih menunjukkan pukul 5 dini hari, foto-foto itu masih ditatapnya.
"Foto siapa?" Frea yang baru terbangun mengenyitkan keningnya, melihat dua diantaranya belasan foto orang-orang berpakaian resmi itu adalah wanita cantik yang terlihat masih muda.
Cemburu? Entah kenapa belakangan ini, ibu muda itu menjadi posesif. Mengingat suaminya yang jarang berada di rumah, bahkan saat jam pulang kantor.
"Rekan kerja yang sudah meninggal..." Tomy menghela napas kasar menemukan jalan buntu untuk menemukan alasan Leon menghilang dan siapa pelaku sebenarnya serta apa motifnya.
"Yang mana lebih cantik wanita ini atau aku?" tanya Frea penuh harap, merebut salah satu foto gadis muda, membuyarkan semua fikiran Tomy.
"Kamu..." jawabnya.
"Ok... cantik dia..." Tomy enggan menanggapi, karena fikirannya yang tengah kacau.
"Benarkan? Setelah melahirkan, aku tidak begitu cantik lagi, bentuk badanku tidak begitu bagus lagi. Kamu jadi berpaling..." wajah Frea mulai murung.
Aku bilang cantik dikira berbohong, aku bilang orang lain lebih cantik...Malah tambah marah... inilah kenapa, aku enggan menanggapi pertanyaan, lebih cantik siapa, atau apa aku bertambah gemuk...pria memang makhluk serba salah... gerutu Tomy dalam hatinya.
Pemuda itu menghela napas kasar, menangkup wajah Frea, sembari tersenyum. "Bukan hanya kali ini, aku sudah sering mengatakannya. Kamu yang tercantik, jika aku mengatakan orang lain lebih cantik berarti aku berbohong,"
"Fikirkan baik-baik, Frea-ku yang cantik ini, membuatku rela melepas keperjakaanku. Aku rugi banyak untuk memilikimu..." ucapnya mencubit hidung mancung istrinya.
"Aku juga rugi, aku sudah tidak perawan, bahkan memiliki anak..." wanita itu bersungut-sungut.
"Berarti, kita sama-sama rugi dan untung..." Tomy tersenyum, mengecup singkat bibir istrinya.
"Itu data-data tentang apa?" Frea mulai tertarik, menatap banyaknya profil orang termasuk Leon.
__ADS_1
"Kecelakaan, keracunan, bunuh diri. Mereka semua sudah meninggal..." jawabnya.
"Lalu kenapa kamu menyimpan profilnya?' tanya Frea kembali.
"Mungkin kematian mereka terkait, tapi tidak ada tersangka atau hubungan yang pasti diantara mereka. Jika ini perbuatan Frans, bawahan setianya juga salah satu korban..." Tomy menghela napas kasar kembali berpikir.
"Mudah, kamu berfikir terlalu keras karena masih memikirkan nama Frans dan keterkaitannya. Bagaimana jika berfikir, Frans tidak pernah ada tapi pembunuhan ini ada. Maka fikiranmu akan lebih jernih," Frea tersenyum, mulai bangkit guna membersihkan dirinya, mengingat ini hari pertamanya mengurus toko miliknya kembali. Guna mempersiapkan keperluan putranya, hendak membawa Kira bersamanya.
Tomy mengenyitkan keningnya, berfikir dari sudut yang berbeda. Laptop segera dibukanya, mencari kasus yang ada keterkaitannya dengan para korban.
Beberapa belas menit berlalu, ada beberapa kasus. Namun, hanya satu yang memiliki keterkaitan dengan semua korban. Kasus penggelapan dana perusahaan yang dilakukan Simon.
Namun, dari segi perekonomian Simon tidak memiliki sumber dana.
Buntu? Itulah yang kembali terjadi. Tapi setidaknya, masih ada dua orang yang hidup. Dua orang yang seharusnya menjadi target, pembunuhan berikutnya.
"Agra dan Gilang..." gumamnya.
Namun, kecurigaan tanpa adanya bukti nyata, tidak dapat membuat kesimpulan apapun. Kembali buntu, tidak dapat menemukan lebih banyak informasi lagi.
Hingga, suara ketukan pintu terdengar, perlahan Tomy membukanya...
Seorang pria tua duduk di kursi rodanya, menonggakkan kepala menatap wajah cucunya. Kemudian kembali menunduk, memejamkan matanya, memberanikan diri mengepalkan tangannya.
"Tomy, bisa ke ruangan lain? Kakek ingin bicara denganmu..." ucapnya.
Pemuda itu mengangguk, meraih kursi roda Suki dari tangan Miko. Meninggalkan sang bawahan, untuk bicara berdua dengan sang kakek.
***
Area rumah kaca sepi menjadi tempat pilihan mereka. Tomy mulai duduk di kursi kayu, dihadapannya telah tersaji dua cangkir teh hangat yang dihidangkan pelayan.
Sedangkan Suki duduk berhadapan dengannya. Jemari tangannya mengepal, memberanikan diri untuk bicara,"Tomy, tolong pecat Rangga..."
Bersambung
__ADS_1