
Seorang pemuda menatap mobil yang mulai memasuki pekarangan luas, dari jendela lantai tiga. Jemari tangannya meraba kaca di hadapannya.
"Orang bodoh yang mengantar kematiannya," gumamnya, menghela napas kasar.
Beberapa pelayan datang menyambut tuan muda mereka. Terlihat Tomy menuruni mobil, dengan penuh kharisma? Tidak, pemuda itu memakai sweater dengan harga murah, terlihat canggung.
Tersenyum pada beberapa pelayan yang hendak mengambil koper, dan membukakan pintu untuknya. "Biar aku saja," ucapnya canggung, merebut kopernya dari pelayan.
Matanya menelisik mengamati kediaman yang megah. Kediaman dengan banyak lorong dan kamar. Jemari tangannya, meraba guci yang terlihat mahal, bagaikan kagum.
"Kamu Tomy?" Leon tersenyum berjalan cepat menuruni tangga. Mengulurkan tangannya di hadapan keponakannya,"Perkenalkan, aku Leon, pamanmu..."
"To... Tomy," Tomy tersenyum canggung menjabat tangan Leon, kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku dengar kediamanmu mengalami kebakaran. Aku turut berduka atas kematian istrimu," Leon menghela napas kasar.
"Dia pergi, karena Tuhan lebih menyayanginya," ucapnya berusaha tersenyum, sedikit tertunduk bagaikan berduka.
"Omong-ngomong paman dengar kamu lulusan National University Of Singapore, kamu lumayan hebat. Mungkin kamu tidak ingat, paman sempat hadir saat pembukaan kantor cabang JH Corporation," Leon tersenyum, merangkul bahu keponakannya, membimbingnya, berjalan menapaki tangga.
"Iya, aku menjadi pembawa acara, lumayan tegang. Aku sampai meminum obat penenang, saat akan menaiki tangga menuju podium," pemuda itu tertawa kecil, mengikuti kemanapun Leon membimbingnya.
"Rumah kakek sangat bagus ya...?" Tomy terlihat kagum, meraba beberapa pajangan di lorong. Kemudian tersenyum, berfoto bersama pajangan tersebut, mengunggahnya di media sosial.
"Paman, ayo kita berfoto!!" lanjutnya, merangkul bahu Leon, sembari mengangkat handphonenya, mengambil beberapa gambar.
Leon menghela napas kasar menatap jenuh. Mungkin kecemasannya, tentang sosok asisten pemilik JH Corporation, pemuda yang dalam bayangannya akan mengambil alih segalanya, berubah.
Orang konyol yang bodoh... gumamnya dalam hati berusaha tersenyum, memendam rasa jengkelnya.
Tomy merogoh kopernya,"Paman mau? Ini bagus untuk mata," tanyanya menyodorkan tomat cherry dalam kotak bekal.
"Tidak..." Leon menghela napas kasar,"Tomy, apa kakekmu memberikan dokumen padamu?" tanyanya.
Tomy mengangguk, tersenyum, kembali merogoh kopernya,"Dia menginginkanku untuk menjadi komisaris," jawabnya dengan mulut penuh."Ini dokumennya,"
Jemari tangan Leon gemetar mengepalkan tangannya, memendam kekesalannya. Tetap tersenyum di hadapan keponakannya yang terlihat lugu. "Simpanlah baik-baik!! Dengar tidak semua orang di rumah ini sebaik paman. Kamu harus pandai menjaga diri..." ucapnya.
Tomy mengangguk, terlihat ketakutan, memasukkan dokumennya ke dalam koper. "Jika terjadi sesuatu, boleh aku meminta pendapat paman? Aku tidak memiliki siapapun disini..."
__ADS_1
Leon mengangguk, menghela napas kasar, "Komisaris jabatan yang sulit, paman akan membantumu..." ucapnya memegang bahu Tomy meyakinkannya.
Pemuda itu mengangguk, bagaikan lega mendapatkan perlindungan dari pamannya.
"Ini kamarmu dan kuncinya. Beristirahatlah..." Leon masih tersenyum hangat, berjalan pergi menelusuri lorong.
"Terimakasih paman..." Tomy menunduk, berucap dengan keras, bagaikan bersyukur. Hingga Leon mulai tidak terlihat lagi.
Senyuman di wajahnya menghilang sejenak, perlahan senyuman dingin menjijikan terlihat di wajah putih pucatnya. Pemuda itu, menghela napas kasar, tertawa kecil, mengejek. Mengejek? Mengejek wajah iri sang paman.
***
Hari semakin sore, seorang pemuda tetap tersenyum, bagaikan sebuah manekin. Menyiram tanaman dalam rumah kaca, lengkap mengenakan sarung tangan, satu persatu tanaman mulai diberinya pupuk.
"Kamu siapa?" seorang gadis cantik, mengenyitkan keningnya.
"Maaf tanganku kotor. Namaku Tomy, kakek Suki yang memintaku tinggal disini," ucapnya tertunduk sungkan, tidak dapat berjabat tangan, mengingat sarung tangannya yang kotor.
"Namaku Mona, tanaman disini milikku," Mona menghela napas kasar, menatap curiga.
"Aku tidak tau, aku hanya mencari kesibukan. Maaf..." senyuman ramah yang terlihat tulus itu menyungging lagi, memudarkan kecurigaan Mona.
Pemuda itu tertunduk nampak ragu,"Maaf, aku kurang mengerti, apa kakak sepupu punya kandidat untuk menggantikannya?" tanyanya.
Gerakan tangan Mona terhenti, berpendidikan? Namun terlihat polos? Apa karena kepolosannya sang kakek lebih memilihnya?
Pandangannya beralih pada Tomy yang tersenyum, menatapnya penuh harap akan mendapatkan jawaban.
"Aku mempercayai kakak sepupu, keluarga harus saling mempercayai bukan? Aku hidup seorang diri selama bertahun-tahun jadi..." kata-kata sungkan keluar dari mulut Tomy.
"Aku kakak sepupumu, dengarkan kata-kataku. Di rumah ini tidak ada yang dapat dipercayai, kamu terlalu polos, aku akan melindungimu," Mona tersenyum, memeluk adik sepupunya, mungkin Suki digantikan dengan Tomy lebih baik. Sepupu yang hanya akan menyayangi dan mendengarkan kata-katanya.
Tomy membalas pelukannya, bagaikan terharu memiliki anggota keluarga. "Terimakasih sudah menjadi keluargaku..." ucapnya, tersenyum di belakang Mona. Melirik ke arah kepala sepupunya, senyuman menjijikkan itu terlihat kembali.
Bagaikan laba-laba yang terdiam dengan sabar, membiarkan serangga memasuki sarangnya. Melawan berusaha keluar hingga kehabisan tenaga. Menunggu saat yang tepat untuk memangsanya.
***
Pemuda itu melangkah menelusuri lorong panjang menuju kamarnya, sembari melepaskan sarung tangannya yang kotor, setelah memberi pupuk pada beberapa tanaman.
__ADS_1
"Namamu Tomy bukan?" tanya seorang pemuda yang menyender di salah satu sudut lorong.
"Namaku Gilang, sebaiknya kamu pergi dari rumah ini..." lanjutnya.
"Maaf, aku tidak memiliki tempat lagi untuk pulang. Aku tidak tau harus kemana," Tomy tersenyum ramah padanya.
"Aku tidak menyukaimu!! Aku..." kata-kata Gilang terhenti.
"Maaf, jika aku membuatmu tersinggung, tolong jangan mengadu pada paman..." Tomy tertunduk, berucap cepat penuh penyesalan.
Gilang mengenyitkan keningnya, memilih pergi berjalan menelusuri lorong. Hanya seorang pengecut yang lemah? Itulah pendapatnya tentang sosok sepupunya. Orang yang akan menjabat sebagai komisaris.
Tomy menatap ke arah jendela, muak dengan tempat yang dipijaknya. Merindukan rumah impiannya yang telah terbakar, rata dengan tanah. Wajahnya terdiam tanpa ekspresi, tidak dapat kembali lagi. Telah menentukan tujuan hidup terakhirnya sebelum menyusul istrinya, sebagai Antagonis yang hancur seorang diri.
***
Beberapa hari sebelumnya, kantor JH Corporation...
"Mengundurkan diri?" Farel mengenyitkan keningnya.
Tomy mengangguk, berusaha tersenyum,"Aku tidak memiliki apa-apa lagi..." ucapnya.
"Apa rencanamu? Tetaplah disini, aku akan membantumu untuk..." kata-kata Farel terhenti.
Tomy menggeleng-gelengkan kepalanya,"Aku akan menjadi komisaris, Bold Company. Perusahaan keluarga ayah kandungku,"
"Aku akan menghasilkan lebih banyak uang lagi," lanjutnya.
"Berhentilah!! Tapi dalam dua hari kirimkan penggantimu sementara! Aku akan masih menunggumu kembali," ucapnya yang menyayangi Tomy bagaikan adik kandungnya.
"Firaun..." umpat Tomy masih tersenyum.
"Jika ingin menangis, menangislah!! Jangan tersenyum dipaksakan," Farel menghela napas kasar.
"Dia (Frea) ingin aku terus tersenyum..." jawabnya, hendak berlalu pergi.
"Tomy, tunggu!!" Farel mengejarnya, memberikan uang 20.000 rupiah. "Aku pesan es lilin rasa rujak lima buah, rasanya lumayan enak. Lima lagi Zion yang memesannya, katanya untuk Clarissa (istri Zion),"
"Ambil di cafetaria, aku menitipkannya disana," Tomy menghela napas kasar.
__ADS_1
Bersambung