Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Bersama


__ADS_3

2 tahun kemudian...


"Cut, nice!!" ucap seorang sutradara tersenyum, menatap hasil dari balik kamera.


"Maaf..." Merlin menunduk, setelah berekting menampar seorang wanita muda yang menjadi pemeran utama.


"Tidak apa-apa," sang selebriti junior membalas senyumannya berjalan ke arah kru lainnya.


"Ini," manager Merlin menyodorkan sebotol air mineral, "Keringatmu banyak sekali," keluhnya memberikan handuk kecil.


Merlin hanya tersenyum, menyimpan rasa lelah dan sakitnya seorang diri. Duduk di salah satu kursi lipat meminum beberapa butir obat. Beberapa menit membaca naskah, senyuman menyungging di bibirnya, menerima kiriman rekaman sebuah video dari Frea.


Cucu kecilnya sudah lancar bicara, bahkan mulai memegang pensil. Mungkin memang karena keturunan Tomy, cucu kecil yang benar-benar nakal. Jemari tangan kecil itu bahkan mewarnai buku bergambar.


Merlin tersenyum bahagia, namun setetes air matanya mengalir entah kenapa. Perlahan diusapnya, kembali membaca naskah.


"Kita lanjutkan syuting!! Agar bisa pulang lebih awal!!" ucap sang sutradara.


Kru-kru lainnya tersenyum, bahkan ada yang berkata setuju. Tanda hampir mereka semua ingin pulang lebih awal.


Merlin berusaha bangkit menahan rasa sakit di dada kirinya. Berjalan menuju tempat adegan berikutnya.


"Action..." suara sang sutradara terdengar.


"Tidak perlu basa basi, jauhi putraku atau..." kata-kata Merlin terhenti, artis muda di hadapannya malah tertawa tanpa sebab, berbuat kesalahan.


"Magy!! Yang serius!! Ok kita ulang adegannya, action!!" perintah sang sutradara.


Keringat dinginnya semakin deras, meremas pakaiannya. Berusaha bersikap stabil,"Tidak perlu basa basi, jauhi putraku atau aku akan menghancurkan keluargamu!!" bentaknya mengulang adegan.


"Saya mencintainya dia..." kali ini kata-kata lawan main Merlin yang terhenti. Artis senior itu roboh di hadapannya.


Mata Merlin masih terbuka terjatuh di atas lantai, semua orang riuh berusaha menolongnya. Namun, wanita paruh baya itu menatap ke arah kru lain. Seorang pemuda rupawan berdiri tersenyum dari jauh, mata yang dikenalnya.


Kamu memamerkan wajah mudamu disaat aku hampir keriput...


Tubuhnya diangkat salah satu kru ke dalam mobil, suasana benar-benar dalam kepanikan. Kursi penumpang kosong di sebelah kursi pengemudi menjadi tempat pemuda aneh itu kini duduk. Cincin pernikahan masih melingkar di jari manisnya.

__ADS_1


Merlin hanya terdiam, dalam pangkuan managernya yang tengah menangis. "Merlin!! Merlin!! Merlin!!" panggilnya tidak mendapatkan respon.


Wanita itu tidak dapat bicara, dada kirinya benar-benar terasa sakit. Matanya tidak beralih menatap punggung pemuda yang duduk di kursi penumpang bagian depan. Pemuda yang mungkin hanya dapat dilihat oleh dirinya.


Kamu menepati janji untuk menjemputku. Terimakasih...


Perawat keluar membawa tempat tidur dorong, mengangkat tubuhnya menuju UGD. Salah satu perawat, menaiki tubuhnya melakukan RJP guna menstabilkan detak jantungnya.


Namun pemuda itu tersenyum padanya berdiri di ruang UGD tanpa ada yang menyadarinya, di tengah situasi yang kacau balau. Mengulurkan tangannya, "Kita pulang..." ucapnya.


Merlin telah dipasangi alat bantu pernapasan, entah kenapa bulir air mata mengalir di sudut pelupuk matanya. Kita akan pulang...


Alarm penanda detak jantung yang tidak stabil berbunyi, menambah keruh suasana. Hingga monitor menunjukkan, detak jantung pasien terhenti. Alat pacu jantung yang baru dikeluarkan urung digunakan. Sang dokter memeriksa mata pasien menggunakan senter kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya. Segera setelahnya, kain putih digunakan menutupi tubuh yang telah ditinggalkan jiwanya itu.


Wajah yang terlihat pergi dengan damai.


Jemari tangan sang pemuda di sambut, jemari seorang wanita cantik. "Tuan suami..." ucapnya.


"Istriku yang nakal..." pasangan yang tersenyum, berjalan bergandengan tangan melewati lorong rumah sakit. Perlahan menghilang, pergi ke sisi-Nya.


***


Jantung koroner? Merlin tidak pernah mengeluh pada putranya. Menginginkan tinggal seorang diri. Banyak penyesalan dalam dirinya, sang ibu yang terlihat ceria, menyembunyikan segalanya. Meninggalkan putranya menjalani hidup yang tidak diketahuinya akan seberapa panjang.


Frea berdiri di belakangnya, memeluk Tomy erat bersama Kira. Tangan kecil itu, menghapus air mata ayahnya.


Pemuda yang baru kehilangan ibunya, masih tidak dapat menahan air matanya, namun bibirnya berusaha tersenyum.


Ibu, setidaknya aku tidak seorang diri sekarang. Aku tidak ingin ibu pergi, walaupun aku tau hidupmu melelahkan. Berenang di kubangan lumpur hanya demi sesuap nasi untuk kita makan...


Hingga akhirnya dapat, keluar dari jurang kotor itu... Putramu yang tidak berbakti ini, menginginkan kebahagiaanmu dimanapun dirimu berada saat ini...


Pergilah jika itu yang terbaik, walaupun hati putramu ini tidak pernah dapat rela...


Aku mencintaimu...


***

__ADS_1


Acara penguburan yang sensasional, mungkin karena pemakaman seorang selebriti ternama. Makam Merlin berada di samping makam suaminya. Hingga pada akhirnya makam itu sudah lebih lenggang, oleh pelayat.


Seorang wanita paruh baya datang, meletakkan buket bunga Lily putih di makam ayah dan ibu sambungnya.


Lena tersenyum, walaupun air matanya mengalir tiada henti. "Ibu yang seumuran denganku, aku fikir kamu hanya wanita materialistis pada awalnya, yang akan menyakiti ayahku,"


"Tapi ternyata hanya kamu yang mencintainya hingga akhir..."


Lena mulai berjongkok, mengetahui isi surat wasiat Merlin. Setengah harta milik almarhum suaminya di kembalikan pada Lena, sedangkan setengahnya lagi, diberikan pada yayasan amal.


Harta pribadi Merlin tidak luput juga, diberikan pada sebuah balai yang memberikan pendidikan gratis untuk anak jalanan.


Berharap mendapatkan surga? Tidak, dirinya tidak seserakah itu. Mungkin hanya Damar menjadi tujuannya.


Lena mulai duduk diantara dua makam yang berdampingan,"Aku jadi yatim-piatu sekarang..." ucapnya seolah bercanda pada kedua makam.


"Tomy sudah cukup kaya, walaupun aku tidak sekaya putramu. Tapi asetku di Jerman juga lumayan banyak. Aku tidak perlu uang warisan, mungkin aku akan ikut menyumbangkannya..." gumamnya bicara seorang diri, menatap ke arah langit.


***


Di tempat lain, Mona menghela napas kasar. Melihat kondisi psikologis Nila, dirinya baru dua tahun terakhir mengetahui tentang gangguan kejiwaan sang ibu yang meninggalkannya untuk hidup bahagia dengan selingkuhannya. Bahkan melepaskan hak asuh Mona, dengan syarat Agra memberikan beberapa asetnya, dahulu.


Baru mengetahui? Tentunya dari sang kakek yang sempat di beritahukan Kenzo sebelum insiden penembakan terjadi.


Mona memindahkannya ke rumah sakit lain. Tidak ada perubahan sama sekali, ibunya masih saja memanggil nama pria muda yang sempat menjadi selingkuhannya. Pria muda yang pada akhirnya melarikan seluruh hartanya.


Memungut daun kering bagaikan uang, menyodorkan pada dokter rumah sakit jiwa tersebut. "Sayang, aku sudah mendapatkan uang dari Agra dan Mona, kita bisa pergi bersama," tawanya terdengar.


"Emm, sekarang minum obat dulu ya..." sang dokter tersenyum, menghela napas kasar.


"Tapi jangan tinggalkan aku..." ucap Nila dengan nada manja.


Mona menitikkan air matanya, memeluk tubuh Nila dari belakang,"Ibu!!" lirihnya.


Nila menepisnya, tertawa, terkadang menangis seorang diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2