
šššš Believe me!! Novel ini tidak akan sad ending šššš
Angin malam yang dingin menerpa rambutnya, Frea menatap ke arah balkon kamarnya, hanya berbalut selimut tanpa sehelai benangpun melekat pada tubuhnya. Pandangannya tidak hentinya menatap berbagai macam permainan anak yang sudah disiapkan suaminya di halaman belakang. Seakan dari sebelum pernikahan mereka, itulah harapan terbesar Tomy.
Tomy bangkit, menyadari ketidak beradaan Frea, mulai kembali mengenakan piyama yang berbentuk kimono. Wajah teduh wanita itu terlihat lagi, dagu Tomy menyender pada pundak Frea, memeluknya dari belakang,"Tidak bisa tidur?" tanyanya.
Frea menggelengkan kepalanya, pandangan matanya tidak beralih dari arena permainan anak-anak tersebut,"Tomy, bisa kamu melindungiku dan anak kita nanti?" tanyanya, terdiam dengan banyak fikiran yang mengganjal.
"Tentu saja, kita hanya perlu menghindari masalah. Hidup tenang bersama, jangan pedulikan apapun..." Tomy membalik tubuh Frea, telah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Sebuah impiannya yang menjadi kenyataan.
Senyuman terlihat di wajahnya, meyakinkan istrinya. Mengecup kening itu pelan, beralih ke bibirnya, menautnya perlahan tanpa menuntut, hanya saling menikmati dan memberi. Selimut, serta piama kembali teronggok di lantai. Dua pasang kaki tanpa alas berdiri diantara dua kain yang teronggok, benar-benar mendekat bagaikan hendak kembali menyatukan tubuh mereka.
Perlahan dua pasang kaki itu berjalan mundur, menjatuhkan tubuh sang pemilik. Gesekan tubuh semakin terpacu, bergerak perlahan kembali menghangatkan malam yang dingin.
"Aku hanya mencintaimu..." kata-kata yang terucap dari bibir suaminya, berbisik di telinganya. Ditengah guncangan tubuh yang mereka rasakan.
Frea memeluknya merasakan tubuh mereka menyatu sepenuhnya.
Aku juga, aku dan anak dalam rahimku akan hanya mencintaimu...
Beberapa hari ini wanita itu sudah menanti siklus bulanannya yang tidak kunjung tiba. Alat tes dibelinya hingga hasil dua garis melintang didapatkannya. Bahagia? Tentu saja, namun dirinya tidak ingin terlalu berharap sebelum memeriksanya langsung pada dokter kandungan.
***
Pagi menjelang, Frea mulai membuka matanya, menyadari ketidak beradaan suaminya, "Sarapan..." ucap seorang pemuda tersenyum, sudah lengkap memakai pakaian kantornya.
"Aku terlambat bangun," Frea menghela napas kasar, tersenyum pada suaminya.
"Tidak apa-apa, jangan memaksakan diri ke kantor. Jika kelelahan..." ucapnya, pada wanita yang duduk di atas tempat tidur.
"Iya..." Frea menghela napas kasar, jemari tangannya nampak ragu, membuka sebuah laci di samping tempat tidur.
"Bisa kamu menjagaku dan anak kita?" tanyanya lagi, menunjukkan testpack dengan dua garis merah yang disimpannya.
"Kamu hamil?" tanya Tomy tidak percaya, menarik Frea dalam pelukannya,"Jangan bekerja!! Aku masih dapat menghidupi kalian!! Nanti kita akan ke rumah sakit!!" ucapnya penuh kegembiraan.
Malaikat kecil akan hadir diantara mereka. Malaikat yang tidak akan dibiarkannya hidup dalam penderitaan, seperti ayahnya dulu.
Frea membalas pelukannya, raut wajahnya terlihat cemas. Cemas? Tentu saja, wanita itu sudah mengetahui sesuatu yang tidak pernah dibicarakan atau diketahui suaminya.
"Tomy, apa kamu mau mengambil posisi yang lebih tinggi dari posisimu saat ini?" tanyanya, menghela napas kasar.
***
Beberapa hari yang lalu...
Gretel berdiri di depan salah satu toko milik Frea dengan sabar, menunggu nyonya-nya keluar. Sedang Frea tengah memeriksa catatan stok barang yang masuk.
Tidak menyadari seorang pelanggan, mungkin tepatnya seorang tamu istimewa hadir menemuinya.
Tok...tok...tok...
"Masuk..." ucap Frea dari dalam ruangannya.
Kakek yang duduk di kursi rodanya itu didorong masuk perlahan oleh sang bawahan.
"Kakek..." Frea tersenyum menyambutnya.
***
__ADS_1
Minuman kemasan disuguhkan salah satu karyawannya. Wajah kakek itu nampak cemas untuk bicara. Hingga akhirnya mulut tua itu mulai memberanikan dirinya.
"Frea, apa kamu mengetahui tentang keluarga suamimu?" tanyanya.
"Tidak semua, Tomy hanya memperkenalkan ibunya. Kenapa?" Frea masih tersenyum tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.
Suki menghela napas kasar, "Ayah kandung yang dulu tidak memperhatikannya bernama Adrian, anak ke dua-ku,"
"Tomy cucu kakek!? Tu...tuan Adrian, apa orang itu memiliki anak bernama Irgi?" tanyanya tidak mengerti sama sekali.
"Iya, aku mengawasi Tomy dari jauh membiarkannya hidup dengan seorang ibu yang berprofesi menjadi wanita penghibur. Berharap dia dapat menjadi anak yang tangguh, mempersiapkannya untuk menjadi penengah, di tengah keluargaku yang kacau balau. Tapi saat berusia 11 tahun dia menghilang dari pengawasanku. Tidak disangka, dia dapat berkembang dengan lebih baik seorang diri,"
"Adrian masih mencarinya berniat menjadikannya penerus Pratama Group. Tapi aku memiliki rencana yang lebih besar," ucapnya tersenyum. Memperlihatkan sebuah dokumen, yang menyatakan Tomy akan ditunjuknya sebagai komisaris Bold Company, mengingat dirinya yang memiliki lebih dari 60% saham, membuatnya memiliki keputusan mutlak menentukan komisaris perusahaan tersebut.
Frea membulatkan matanya, menatap tidak percaya pada kakek tua renta di hadapannya. Seakan menunggu penjelasan lebih banyak lagi.
"Aku kemari ingin menawarkan pedang untuk melindunginya dan keluarga kalian. Cepat atau lambat, Adrian akan membongkar identitas putranya. Mike, dan mantan istri Adrian tidak akan tinggal diam. Begitu pula dengan paman dan sepupunya yang lain," Suki menghela napas kasar, melanjutkan kata-katanya.
"Mantan istri Adrian sudah mulai bertindak, memasuki kamar di kediaman kalian sebagai pelayan. Berniat membunuh Tomy. Tapi cucuku lebih pintar untuk menghentikan tindakan mereka,"
"Tolong fikirkan, jika kamu merasa memiliki kekuasaan kecil sudah aman, bagaimana jika kalian memiliki anak nanti? Aku hanya memperingatkan, mantan istri Adrian tidak cukup pintar. Tapi putraku Leon cukup pintar untuk dapat menghancurkan hidup saudaranya sendiri..." ucapnya memperingatkan cucu menantunya.
"Berikan dokumen ini pada Tomy, aku menunggu pilihan kalian..." lanjutnya.
***
Hidup tenang itulah yang diinginkan Frea, memiliki suami yang mencintai dan melindunginya. Tidak perlu rupawan, tidak perlu kaya, hanya hidup sederhana dengan keluarga kecilnya, tanpa sedikitpun gangguan.
Namun, memiliki suami dengan wajah rupawan, dan kekuasaan serta kekayaan? Ini semua bukanlah impiannya.
Wajah pemuda itu terlihat antusias, menatap monitor. Titik kecil terlihat berdenyut, senyuman menyungging di wajahnya. "Anak perempuan..." ucapnya menyimpulkan kemudian tertawa seorang diri.
"Perempuan, kamu tidak lihat dia berdenyut aktif!! Seperti ibunya yang dapat menumbangkan lawan-lawannya!!" bentak Tomy pada sang dokter kandungan.
"Laki-laki, dia berdenyut lembut sepertimu yang tidak pernah terburu-buru," Frea tersenyum menatap suaminya dari tempat tidur pasien.
"Baik, laki-laki..." Tomy tersenyum hangat, duduk mengamati monitor, seakan tidak sabar janin itu akan tumbuh sedikit demi sedikit meramaikan hari-harinya.
Tomy kecil yang manis mengatakan 'papa' pada dirinya. Anak yang tidak akan dibiarkannya kekurangan apapun.
Bukankah sebuah perbedaan yang besar? Saat Merlin mengandung putranya, tidak seorangpun memperhatikan ibu dengan janin kecil dalam perutnya itu. Mencibir, mengusir, mendorong, bahkan sang ibu sempat putus asa akan menggugurkannya. Bukan terlahir di rumah sakit, di rumah kumuh berlumuran darah, bayi prematur itu menangis untuk pertama kalinya.
Namun kini, bayi prematur itu telah tumbuh menjadi pemuda dewasa, yang ingin membahagiakan janin kecil yang berdenyut dalam rahim Istrinya.
Pasangan suami-istri itu kembali melangkah saling bergandengan tangan, menuju mobil. Tidak akan membiarkan istrinya terluka sedikitpun, itulah keinginannya. Dalam ketidak tegasan yang membuatnya terbuai dalam hidup yang nyaman.
***
Frea tidak diperbolehkannya bekerja, hanya sesekali memeriksa keadaan toko. Hari ini pemuda itu kembali mendatangi sebuah warung kumuh, membawa dua buah termos es kosong beserta sebuah dokumen.
Perlahan memasuki tempat tersebut dengan ragu.
"Uang hasil penjualannya?" tanya sang kakek menadahkan tangan.
"Ini," Tomy tersenyum, menyodorkan uang,"Dan juga ini..." ucapnya, memberikan dokumen yang ditawarkan Suki pada Frea.
"Kamu menolaknya?" tanyanya tidak mengerti.
Tomy mengangguk,"Terimakasih, kakek..." pemuda itu berlutut memeluk Suki, menangis sesenggukan, tidak menyadari memiliki seorang kerabat yang menyayanginya, melebihi kasih sayang ayahnya sendiri. Ayah yang dulu selalu diharapkan untuk mencintainya. Namun memalingkan wajah darinya.
__ADS_1
"Maaf, aku dulu selalu memaki kakek dalam hati..." lanjut dengan air mata terurai, mengingat fikiran busuknya saat kecil, hanya dapat memaki kakek yang memberinya makan dalam hati.
"Cucu busuk!! Kamu memaki ku apa saja dalam fikiranmu?" tanya Suki mengeratkan pelukannya, menepuk pundak kokoh cucunya yang telah tumbuh dewasa.
"Kakek bermulut cabai! Penjaga warung psikopat!! Br*ngsek!!" jawab Tomy jujur dengan suara bergetar, masih menitikkan air matanya.
"Dasar gagap!! Hatimu lumayan busuk pada orang yang memberimu makan..." ucap sang kakek tersenyum dalam tangisannya.
"Maaf, tidak menanyakan hari ulang tahun kakek, maaf tidak pernah ingin memeluk kakek terlebih dahulu, maaf aku malah hanya mengejar cinta ayah. Tidak pernah memperhatikan kakek..." ucapnya.
Suki melepaskan pelukannya, perlahan mengusap air mata yang mengalir di pipi cucunya."Maaf, seharusnya 17 tahun yang lalu kakek langsung menyeka air matamu dan membawamu pulang..."
***
Dua cangkir teh hangat disuguhkan bawahan sang kakek. Pasangan kakek dan cucunya itu duduk di dalam warung dengan wajah serius, suasana haru yang tadi tercipta hilang entah kemana.
"Kenapa dikembalikan? Kamu berhutang seumur hidup padaku..." ucapnya menatap tajam.
"Aku akan membayar hutang dengan menjual es lilin. Menjadi komisaris perusahaan? Itu bukan gayaku. Bermain golf, hidup tenang tapi mendapatkan gaji, mengatur strategi untuk berteman dengan para pemegang saham, memecat pimpinan perusahaan (CEO) hanya karena tidak suka. Aku tidak gila, menjual es lilin sudah pasti menghasilkan 20.000 rupiah, tanpa memiliki tanggung jawab besar," jawab Tomy tegas, menepuk termos kosong es dalam pangkuannya penuh kebanggaan.
"Aku akan memberikanmu rumah besar," sang kakek menawarkan.
"Sudah punya..." ucapnya tersenyum.
"Villa pribadi," sang kakek masih mencoba bernegosiasi.
"Dalam proses pembangunan," Tomy kembali menolak tawarannya.
"Mobil mewah? Kapal Ferry mewah?" tawar sang kakek kembali.
"Keduanya sudah..." jawabnya masih memasang senyuman manis.
"Jet pribadi?" sang kakek mengenyitkan keningnya.
"Tidak tertarik..." Tomy menghela napas kasar.
"Kamu menolak tahta, harta, kalau wanita? Kakek bisa mendatangkan model, selebriti dari manapun, menjadikan istri simpanan untukmu..." tawarnya.
"Aku pertimbangkan, kalau bisa mengirim Merlin ke rumahku," jawab Tomy tersenyum tidak bersalah.
"Merlin? Dasar penggemar ibu sendiri!!" bentak Suki, tidak mungkin bicara langsung pada wanita itu.
Tomy menghela napas kasar, menatap kendaraan yang lalu lalang di depan warung,"Kenapa kakek tidak meminta cucu atau paman yang lain saja? Walaupun tidak bertemu secara langsung, aku dengar-dengar ayah memiliki dua saudara lainnya," tanyanya tidak mengerti.
Suki tertawa lepas, menertawakan dirinya sendiri,"Kamu tau hal yang paling menyakitkan? Menyaksikan saudara membunuh saudaranya sendiri, demi uang..." jawabnya, bagaikan dapat menebak hal yang akan terjadi. Jika, memberikan kekuasaan pada orang yang salah.
"Apa pun itu, aku akan membayar hutang budiku sedikit demi sedikit, dengan menjual es lilin..." Tomy mulai bangkit, meletakkan termos es yang kosong."Besok aku akan datang kembali, mengambil es lilin..." ucapnya, hendak keluar dari warung.
"Tunggu! Bawa ini, letakkan di brankas kantormu. Suatu saat kamu akan berubah fikiran, ketika kehilangan segalanya..." ucap Suki melempar dokumen pada Tomy.
Pemuda itu menangkapnya, sembari tersenyum,"Kehilangan? Aku bahkan tidak memiliki perusahaan sendiri. Jika dipecat dari JH Corporation tinggal melamar pekerjaan di tempat yang baru. Atau hidup dari beberapa saham yang aku miliki..." jawabnya enteng.
"Simpanlah!!" Suki tetap memperingatkan.
"Baik..." Tomy yang menganggap sepele kata-kata Suki menyimpannya tanpa ada niatan mempergunakannya.
Harta? Semua dapat dicari kembali. Namun, satu hal yang dilupakannya. Orang mati tidak akan dapat dihidupkan kembali. Hidup kesepian dalam dendam? Apa itu akan menjadi takdir hidupnya...
Bersambung
__ADS_1