
Wanita itu tersenyum pahit, menunduk sejenak menghela napas kasar, menatap ke arah jendela."Ayahmu akan menemuiku, jika aku menjalani kehidupanku dengan baik..." ucapnya.
Jemari tangannya mulai terangkat menyesap cangkir tehnya.
Lena mengenyitkan keningnya, dengan senyuman menyeringai, "Manager ibu bilang, beberapa bulan yang lalu ibu tidur dengan pria lain..."
Pyur...
Kata-kata yang sanggup membuat Merlin menyemburkan tehnya akibat terkejut. Wanita itu terbatuk-batuk, menghela napas kasar. "Aku tidak sengaja, aku sudah berlutut di makam ayahmu, menyesali tindakan gilaku ketika mabuk,"
"Dia Adrian, duda kaya, ayah kandung dari saudara tiriku. Wajahnya lumayan, ibu tidak tertarik? Atau lebih menyukai ala Eropa? Akan aku carikan," goda Lena.
Plak...
"Aku mewakili Damar memukul kepalamu..." ucapnya kesal. Menjodohkan Merlin? Sudah sering berusaha dilakukan Lena. Ibu tiri? Tidak, mereka lebih terlihat bagaikan sahabat.
"Omong-omong kenapa ibu bisa tidur dengannya?" tanya Lena mengusap-usap kepalanya yang kebas.
"Ilusi, aku seperti kembali ke masa lalu, menjadi wanita yang rapuh. Wanita yang mengejar cinta dari seorang pria bodoh. Pria yang sudah aku lupakan, alkohol penyebabnya," jawab Merlin tersenyum pada putri sambungnya.
"Ibu benar-benar hanya mencintai ayah?" tanyanya kembali, mungkin kesekian ribu kalinya, dari Damar masih hidup, hingga kini. Mengingat sosok ayahnya yang sudah menua ketika mereka bertemu.
Merlin menunduk, kemudian mengangguk, "Aku mencintainya. Jika bisa, aku ingin segera mati untuk dijemput olehnya. Tapi dia ingin aku menjalani hidupku dengan baik..."
"Lagi pula, neraka adalah tempat bagi orang yang bunuh diri. Aku ingin bersama dengan ayahmu di surga sana, walaupun aku tidak tau, adakah surga untuk mantan wanita malam..." ucapnya, menghela napas kasar.
Cincin pernikahan masih tersemat di jemari tangannya. Pasangannya? Tentu saja berada di peti mati suaminya. Peti mati yang mungkin sudah tidak ada, karena lapuk termakan usia. Namun tulang belulang itu mungkin masih mengenakannya, terkubur di dalam tanah.
Lena menghela napas kasar, mengenyitkan keningnya. "Lalu apa pria yang tidak sengaja ibu tiduri beranggapan sama...?"
"Dia heaters ibu, jadi dia tidak akan beranggapan spesial. Ibu tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya, selain ingatan yang menyakitkan..." ucapnya, kembali meminum tehnya.
__ADS_1
Apa benar Merlin sudah tidak memiliki perasaan pada Adrian lagi? Benar, saat mabuk kewarasan seseorang mungkin menghilang. Merlin mengalaminya setiap kali mabuk, bagaikan menjadi remaja yang berusia 17 tahun. Remaja yang mengharapkan cinta dari seorang pria pengecut, pria yang telah beristri.
Tidak ada perasaan yang tersisa, hanya menatap langit telah merelakan segalanya. Lena dan Tomy, hanya dua orang itu yang ada di kehidupannya saat ini.
Menunggu ketika jemari tangannya tidak bergerak lagi. Berusaha hidup dengan baik, hingga tiba saatnya, bertemu kembali dengan suaminya. Meminta maaf atas prilaku buruknya, ketika mereka berpisah.
Prilaku buruk? Apa bukan cuma ini? Alkohol menjadi biang masalah, kehidupan hingar-bingar dunia hiburan menyebabkannya mau tidak mau harus mengkonsumsinya. Pernah di suatu ketika, Merlin terpaksa harus minum. Wanita itu bicara dengan seekor kucing, menimangnya seolah sang kucing adalah Tomy ketika bayi.
Pernah pula suatu ketika, alkohol menyebabkanya hampir memandikan managernya, yang notabene seorang Gay, menyangka sang manager adalah almarhum suaminya. Hal yang benar-benar gila, Merlin harus diikat saat itu. Sedangkan, sang manager benar-benar ketakutan, mengalami trauma mendalam.
***
Seorang pemuda menghela napas kasar, menatap villa mewah di hadapannya. Berjalan cepat memasukinya. Posisi yang diincarnya? Bold Company? Sesuatu yang bahkan tidak pernah dimimpikannya dulu. Mengingat kemampuan dan kekuasaan Leon dan Agra.
Mungkin Leon lah yang paling dicemaskannya kala itu. Namun, saudara tanpa ikatan darahnya (Tomy) lebih berani mengambil tindakan dari pada yang diduganya, menjadi komisaris pengganti.
Langkahnya diikuti Lia, memasuki villa yang ditempati Tomy kini.
Namun, yang terlihat lebih dahulu orang-orang tidak terduga. Suara sebuah mobil terdengar.
Mona, yang dikenalnya bermuka dua, turun membawa sebuah paperbag besar. Berjalan dengan cepat hendak menuju lantai dua.
Sejenak langkahnya terhenti, mengenyitkan keningnya,"Kenapa kamu kemari?" tanyanya.
"Kakak sepupu, aku..." kata-kata Mike terhenti.
"Kakak sepupu? Kita tidak memiliki hubungan darah. Sudahlah aku kemari untuk menemui adik sepupuku yang manis," ucapnya tersenyum kembali berjalan, membawa paperbag besar berisikan perangkat game yang baru.
Bersamaan dengan seorang pemuda yang turun dari lantai dua menuju lantai satu, melonggarkan dasinya. Duduk di hadapan Mike.
"Tomy sedang mandi, ada apa mencarinya?" tanyanya, menghela napas kasar.
__ADS_1
"Ada hal pribadi yang ingin kami bicarakan dengannya..." Lia berucap penuh senyuman, bagaimanapun juga status Gilang tidak dapat dianggap remeh.
"Hal pribadi apa? Jangan bilang kalian ingin mempengaruhi sepupuku yang polos untuk memberikan kalian keuntungan!?" tanyanya menatap curiga, pada sosok Mike dan Lia.
Gilang mengenal Mike sebagai pribadi yang ambisius dan sulit dihadapi. Mungkin bagaikan iblis dimatanya, hingga harus diwaspadai. Sedang, sosok Tomy dimatanya adalah pemuda lugu, kekanak-kanakan, yang memiliki keberuntungan gila-gilaan. Hingga dapat menjadi cucu kesayangan Suki. Bagaikan malaikat polos yang lemah, dapat dikendalikan siapa saja.
"Yang polos?" Lia mengenyitkan keningnya memastikan pendengarannya.
Polos dari mananya? Dia sudah seperti bos mafia, aku kirim pembunuh bayaran. Tapi dia malah mengancam membunuh mereka, jika tidak memaksaku melayani mereka di tempat tidur... gerutunya dalam hati.
Gilang mengangguk,"Jangan mengganggu sepupuku yang lugu..."
"Tidak, kami hanya ingin bicara sebentar dengannya..." Mike menghela napas kasar berusaha bersabar. Menghadapi Gilang? Mungkin bukanlah hal yang sulit untuknya. Namun singa tua di belakang pemuda itu terlalu mengerikan.
Sang ayah yang memperlakukan putra tunggalnya layaknya harta berharga, akan mencabik-cabik siapapun yang menghalangi jalan putranya. Itulah sosok seorang Leon.
Ada Mona, wanita keji yang sulit ditebak dan Leon di meja makan setiap pertemuan keluarga. Bagaikan mengeluarkan aura iblis, sesuatu yang saat itu sulit ditembus, hanya untuk mendekati Suki.
Dan sekarang wanita beracun (Mona) serta anak singa (Gilang) disini? Menganggap iblis paling mengerikan (Tomy) adalah pemuda polos, lugu tidak berdaya? Sungguh suatu lelucon.
"Sudahlah, tapi camkan ini jika kalian memanfaatkan kepolosan sepupuku. Aku akan bertindak, dasar anak hasil perselingkuhan..." ucap Gilang meminum minuman dingin yang baru disajikan pelayan.
Aku akan bertindak? Ayahmu lah yang akan bertindak. Jika jarimu tertusuk duri sedikit saja... cibir Mike dalam hatinya. Menatap anak baik hati yang sok menjadi arogan.
Hingga pemuda itu akhirnya turun juga, sosok yang hanya diketahuinya dari informan dan kata-kata ibunya. Namun, terlihat berbeda dari keterangan.
Seharusnya pemuda arogan yang tidak dapat dianggap remeh. Sedangkan yang berjalan menuruni tangga, pemuda dengan pakaian santai, tersenyum ramah pada siapa saja.
Diikuti oleh Mona yang bagaikan juga telah tertipu. "Tenang jangan takut, mereka tidak akan menyakitimu. Kakak ada disini..." ucapnya, membimbing Tomy menuruni tangga.
Bersambung
__ADS_1