
🍀🍀🍀🍀Bagi yang pernah membaca masa lalu Tomy di novel "Asisten Nona Muda", bab ini pengulangannya, karena di tulis dalam novel terpisah. Maaf harus ditulis ulang agar ceritanya tidak terkesan loncat. Tapi sudut pandang dan rentetan peristiwa akan sedikit digeser, terutama bagian pertemuan dengan Frea, tidak hanya berfokus pada keluarganya saja🍀🍀🍀🍀 Happy Reading 🍀🍀🍀🍀
🤗🤗🤗
Frea mengenyitkan keningnya menatap pemuda di hadapannya,"Kenapa kamu mau menikah denganku?"
"Hanya ingin..." jawab Tomy ambigu, tersenyum pada istrinya.
17 tahun yang lalu....
Brug...
Seorang anak di dorong keluar dari sebuah rumah mewah.
"A...ayah...!!" ucapnya menggedor-gedor pintu, putus asa.
Tangisan terisak keluar dari mulut kecilnya, tangannya yang mungil masih memukul pintu hingga terluka.
"Maaf, tuan ingin kamu keluar..." sang security menarik paksa anak dengan tatapan mata kosong itu.
"I...i...ya..." sang anak berucap sedikit gagap.
Berjalan keluar memakai seragam merah putih lusuh, dibimbing dua orang security.
"Maaf, kamu benar-benar perlu uang ya? Paman baru gajian, bawa ini untuk keperluanmu..." seorang security menatap iba, menyodorkan uang bergambarkan tokoh proklamator (seratus ribu rupiah).
"Te...te...trim... terimakasih pa...pa...paman..." Tomy kecil tidak punya pilihan lain, mengambil selembar uang kertas.
Sungkan? Anggap saja dirinya sungkan, namun jika tidak begini, dirinya tidak akan memiliki uang untuk membeli makanan.
Anak gagap itu berjalan menggenggam erat uang yang diberikan security yang bekerja di rumah megah milik ayah kandungnya.
Security yang berkerja di rumah megah? Bukankah seharusnya Tomy adalah tuan muda yang dihormati? Tidak, itu bukanlah sosok Tomy.
Pemilik rumah besar yang mengusirnya tanpa memberikan sepeserpun uang, adalah ayahnya. Namun ibunya bukan nyonya rumah itu. Ayahnya seorang pengusaha yang sering bergunta-ganti perempuan. Jadi tidak menepis kemungkinan memiliki anak haram. Anak haram? Apakah istilah itu ada? Sedangkan semua anak terlahir di dunia ini atas berkat Tuhan.
Anak itu melangkah di sebuah tempat makan yang bisa terbilang murah, memesan dua bungkus nasi. Satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk ibu kandungnya.
Gang-gang kecil dilaluinya, dalam pemukiman padat penduduk. Beberapa rumah berlantai dua tidak terawat, bahkan salah satu rumah dinding batako yang tubuh hanya berlapis perlak. Dengan tali jemuran lengkap dengan pakaian basah melintang di atas gang. Itu adalah hal biasa, dari dalam got sempit tercium bau menyengat. Bagaikan, memang bebauan khas tempat itu.
Rumah kecil dari triplek beratapkan seng yang mulai berkarat, Tomy membuka pintu yang tidak terkunci.
Bau menyengat tercium, seperti bau makanan busuk dan pakaian kotor menumpuk. Tomy meletakkan tasnya berjalan menuju dapur, tidak satupun piring atau sendok bersih yang berada disana.
Anak itu, masih memakai seragamnya, menahan rasa laparnya. Mengambil tumpukan piring melamin kotor, berjalan ke area belakang rumahnya. Tomy berjongkok, menyalakan keran air, mencuci satu persatu piring yang sudah berbau busuk.
Ibu... lirihnya dalam hati, kala membawa tumpukan piring yang telah bersih, mendengar suara erotis dua insan yang seharusnya tidak didengar anak seusianya.
Air matanya mengalir, menyusun satu persatu piring. Meletakkan dua bungkus nasi diatas meja dapur, menunggu kegiatan ibunya selesai, agar dapat makan bersama dirinya.
Seragam sekolahnya telah berganti, pakaian kotor miliknya dan ibunya direndamnya dalam ember cucian besar. Menunggu beberapa puluh menit agar lebih mudah mencucinya.
"Ti...ti... tinggal, me... menunggu i...bu, sa...saja," ucapnya masih menahan rasa laparnya.
Anak itu melangkah masuk, sejenak kemudian menelan ludahnya, penuh kekecewaan. Dua porsi makanan di atas meja kini tengah dinikmati seorang pria dan ibunya.
"I...i...ibu..." ucap Tomy terbata-bata.
"Dapat berapa kamu dari ayahmu?" tanyanya dengan mulut penuh, pada putranya yang terlihat masih berkali-kali menelan ludahnya, kelaparan.
"A... ayah ti...ti.. tidak mem...memberiku u...uang. Ha... hanya pa...paman secur... security yang mem...mem... memberiku uang..." jawabnya gagap.
"Bukannya tes DNA sudah aku berikan, kamu putra kandungnya!! Kamu berbohong ya? Menyimpan uangnya sendiri? Kecil-kecil sudah pandai berbohong!!" bentak wanita menarik kasar tangan putranya. Sementara pria yang bersama ibunya terlihat acuh, memakan makanannya dengan tenang.
"Mana uangnya!?" bentak sang ibu menyangka anaknya berbohong, menoyor kepala Tomy kecil.
"I...i...itu u...un...untuk ma...makan be...besok..." Tomy mencoba menghentikan ibunya yang menggeledah seisi tas sekolah dengan banyak kacing dan sobekan besar itu.
"Ini apa!?" wanita itu mengeluarkan satu persatu isi tas, melempar buku di dalamnya asal. Hingga akhirnya mengambil sisa uang sebesar 80.000 dari tas Tomy. Mendorong putranya kesal.
"Anak tidak berguna!! Tau ayahmu tidak akan menjadikanku istri kedua, seharusnya aku menggugurkanmu saja dulu! Sebagai seorang anak seharusnya kamu dapat berbakti pada ibumu! Gagap menyusahkan..." cibirnya
Tangan Tomy meraih tasnya, mengambil satu persatu bukunya yang berceceran di lantai, menahan rasa lapar yang dari pagi dirasakannya.
__ADS_1
Ayah tidak menginginkan keberadaanku, aku hanya harus bersyukur dan berterimakasih karena ibu dulu tidak menggugurkanku, membiarkan aku hidup melihat dunia... gumamnya dalam tangisan tertahan.
***
Hari sudah malam...
Ibunya dan pria yang berbeda dengan tadi siang, pulang dengan membawa sekantung gorengan, tidak melirik sedikitpun pada putranya yang tengah belajar. Sedikit perhatiannya teralih, "I...i...ibu b...b... boleh a...aku mi...mi..minta sa...satu?"
"Kamu punya tangan dan kaki kan? Beli sendiri, kalau tidak minta pada ayahmu yang kaya," ucapnya acuh.
"Anakmu gagap?" tanya pria yang dibawa sang ibu.
"Jangan fikirkan dia..." wanita itu membimbing sang pria menuju kamarnya.
Beberapa belas menit berlalu suara erotis yang mengganggu itu terdengar lagi. Tomy menahan rasa laparnya, berusaha konsentrasi belajar walaupun suara dari dalam kamar ibunya semakin kencang. Seiring pergulatan panasnya.
Wanita malam? Itulah profesi wanita yang melahirkannya. Dahulu bekerja di club'malam dengan bayaran yang mahal, berharap dapat menjerat bos kaya dengan tidak memakai pengaman. Namun, dipecat itulah yang terjadi saat ayah kandung Tomy mengetahui kehamilan wanita malam yang sering disewanya.
Wanita malam tanpa muc*kari hanya mengandalkan dirinya sendiri, menjual tubuh di pemukiman kumuh. Mempertahankan Tomy? Tidak menggugurkannya? Tidak sepenuhnya, mengetahui ayah kandung anak itu tidak bersedia menikahinya. Di usia kandungannya yang ke tujuh bulan, berkali-kali anak itu coba digugurkannya.
Mencari dokter? Biaya operasi untuk menggugurkan kandungan berusia tujuh bulan terlalu besar dan beresiko. Meminum jamu dilakukannya, namun bayi prematur lah lahir.
Entah keberuntungan dari mana, sejak lahir ada yayasan dari luar negeri, tepatnya yayasan asal Singapura yang membiayai anak itu, walaupun nominal uang yang tidak banyak. Namun cukup untuk membuat ibu yang melahirkannya tidak membuangnya begitu saja.
Pensil pendek dengan ujung berlapis karet dijatuhkannya, perutnya mulai terasa sakit. Tomy memegangi perutnya, mulai meringis, suara erotis masih terdengar dari dalam kamar.
Anak itu berjalan dengan langkah gontai, wajahnya pucat menahan rasa sakit yang terus menderu dari perutnya. Dengan ragu mengetuk pintu kamar, "I...i...ibu a...aku la...la...lapar," ucapnya mengetuk beberapa kali tiada henti.
"Anak sialan!!" geram suara seseorang dari dalam sana, sebelum pintu terbuka.
Tomy ketakutan, namun saat ini mungkin hanya gorengan yang dibawa ibunya yang dapat menahan rasa laparnya.
Pintu dibuka kasar, benar saja, seorang pria bertelanjang dada hanya memakai sehelai sarung, keluar. "A...a...aku ha...hanya ingin mi... minta g...g... gorengan, sa...satu sa...sa...saja," ucapnya gemetaran.
Brug...
Satu tendangan dilayangkan pada dadanya, tidak ada benda keras disana kecuali sebuah gantungan baju. Pria itu memukul tubuh kecil Tomy berkali-kali, hingga gantungan baju itu patah."Gagap!! Tidak tau diuntung!! Pantas saja ayahmu tidak mengakuimu!!" bentaknya, menarik tubuh Tomy yang lebam di dorongnya keluar dari rumah sempit itu.
Ibunya? Ibunya melihat semuanya, masih berbaring di tempat tidur menunggu pria itu berhenti menghajar anaknya. Menunggu? Tentu saja untuk melanjutkan aktivitas panasnya.
Gagap? Apa keinginanku untuk menjadi gagap? Apa aku yang meminta untuk dilahirkan? Dilahirkan hanya untuk berterimakasih tetap hidup. Ibu... terimakasih... Aku akan mengucapkannya, itu sudah cukup kan....
Anak itu memegangi perutnya erat, menahan rasa sakit yang semakin lama semakin parah, rasanya mual. Tapi saat ingin muntah hanya air yang keluar.
Haruskah ke rumah ayah lagi? Mungkin terbersit pemikiran itu sejenak. Namun, istri ayahnya selalu menatapnya sinis. Ayahnya? Orang itu selalu mengusirnya seakan bagaikan benalu.
Benalu? Apa aku benar-benar seorang benalu? Tidakkah anak-anak ayahnya yang lain, adalah benalu? Anak gagap ini hanya meminta makanan. Tapi anak-anak ayahnya dari istri sahnya, bagaikan bangsawan tinggal dengan pelayan, membawa supir kemana-mana, pakaian bagus, jika bosan tinggal beli lagi.
Berbeda dengan pakaiannya, tas murah dengan kancing, kerah seragam merah putih yang sobek, sepasang sepatu bekas, kebesaran dengan beberapa lubang itupun semuanya didapatkan dari tetangga yang iba padanya. Apakah menjadi anak haram adalah hal buruk? Bukankah anak haram kelahirannya juga di berkati Tuhan?
Jika dapat menghadap Tuhan saat ini, aku ingin mengadu dan memakinya. Agar anak haram dan tidak sempurna tidak dilahirkan di dunia ini. Agar tidak ada yang merasakan hidup sendiri, membalas budi pada ibu yang tidak menginginkanku. Agar tidak ada anak kelaparan tanpa kasih sayang dan perlindungan ayah... air matanya mengalir di pipinya yang memar. Menahan sakit di perutnya dan seluruh tubuhnya yang terasa remuk.
Tidak menyadari seorang gadis berusia 17 tahun menatap iba pada sang anak. Pelayan restauran, itulah profesinya.
Gadis yang tengah membuang sampah itu segera berlari kedalam, mengambil makanan sisa.
"Dek... bangun..." ucapnya hangat, membawa kertas minyak yang dibungkus asal, membangunkan Tomy. Kemudian membantunya duduk.
"Makan dulu ya?" gadis itu tersenyum lembut, mulai menyuapi Tomy dengan dengan segelas air. Jemari tangannya telaten, mengambil nasi dan lauk, menyuapi sang anak makanan sedikit demi sedikit.
"Te...te... terimakasih, a....a...aku bi...bisa sen...sendiri," Tomy mulai makan dengan cepat, mengisi perutnya yang kosong dari pagi
"Apa ada orang memukulimu?" tanyanya menatap luka lebam di tubuh Tomy, namun tidak satupun jawaban yang didapatkannya dari mulut anak itu.
"Jika kamu lapar, kamu boleh kesini setiap malam. Anggap saja aku sebagai kakakmu..." lanjutnya, mengusap-usap lembut rambut Tomy.
Anak itu tertegun diam. Hangat? Itulah perasaannya saat ini, menatap wajah dihiasi senyuman... Jika akan memiliki pasangan, aku ingin yang cantik dan lembut seperti kakak. Agar ketika memiliki anak nantinya, anakku tidak akan memiliki penyesalan karena sudah terlahir di dunia yang tidak adil ini...
"Makanlah? Mau kakak suapi?" tanyanya.
Air mata sang anak mengalir, mengangguk, menerima suapan dari gadis yang tersenyum ramah padanya. Bagaikan baru menemukan satu-satunya kebaikan di dunia ini.
Makanan mulai tandas, gadis itu mencuci tangannya di keran dekat post ronda. Menatap sang anak berpakaian lusuh.
__ADS_1
"Kamu tidak cuci tangan?" tanyanya. Sang anak mengangguk, mulai ikut membasuh tangannya.
"Anak pintar..." puji Frea.
Anak pintar? Tomy tertegun, tidak pernah ada yang memujinya termasuk kedua orang tuanya. Bahkan jika mendapatkan peringkat pertama, tidak ada yang peduli. Tapi hanya dengan mencuci tangan, orang ini memujinya?
"Frea, ayo pulang," Seorang pemuda rupawan, menyodorkan helmnya. Dari atas motor sport, menatap kekasihnya di dekat area restauran.
Tomy terdiam, menatap pemuda yang tersenyum menatap Frea. Rendah diri? Dirinya hanya seorang anak gagap yang mendapatkan belas kasih dari jemari tangan Frea.
"Tunggu, kasihan dia, aku mengobati lukanya dulu ya?" ucapnya.
"Tidak, ini hari ulang tahunmu. Aku sudah membelikan tiket untuk ke bioskop," Vincent mengenyitkan keningnya, menatap aneh pada anak berpakaian lusuh.
"Bocah!! Sudah malam pulang sana!!" lanjutnya protektif, mengamati sang anak melihat Frea dengan tatapan aneh.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan kotak P3K ya?" Frea menggengam jemari tangan, anak berpakaian lusuh.
Berdebar? Itulah yang dirasakannya, aneh bukan perasaan yang dirasakan seorang anak berusia 11 tahun. Namun, itulah yang terjadi ingin memiliki dan melindungi satu-satunya tangan hangat yang terulur padanya.
Vincent semakin cemburu saja,"Frea ayo pulang!!" bentaknya.
"Kasihan dia!! Biar aku obati dulu..." ucap Frea iba.
"Ka...ka...kakak di...di...dia je...jelek," anak gagap itu mulai angkat bicara. Tidak menyukai keberadaan Vincent, yang terlihat dekat dengan Frea.
Frea tertawa kecil, melihat tingkah polos sang anak. Vincent menahan rasa geramnya, menarik lengan kekasihnya erat.
"Kamu pilih dia atau aku!!" bentak Vincent, emosi pada anak berpakaian lusuh.
"Kemanusiaan lebih penting, jadi aku pilih dia," jawab Frea polos.
Tomy kecil memegang tangan Frea memelas, Jangan pergi dengannya, tidak ada orang sebaik kakak. Tidak bisakah terus bersama denganku saja...
"Kita obati dia dulu ya?" pintanya pada Vincent.
Vincent menatap tajam, pada sang anak, tanpa sadar mengeratkan cengkramannya pada lengan Frea. Bagaikan dapat membaca isi hati Tomy.
Gadis itu sedikit meringis, menahan rasa sakit.
Menyebalkan, kakak jadi kesakitan!! Rasakan kekuatan gigi Tomy... Tanpa aba-aba, sang anak menggigit tangan Vincent.
"Sakit!! Anak gila!!" bentak Vincent meniup-niup tangannya.
Frea malah tertawa kencang, sembari menarik kedua pria beda usia itu kedalam restauran guna diobatinya.
Area belakang restauran yang kosong, cairan pereda nyeri dan bengkak disemprotkan Frea mengobati luka sang anak.
"Apa sakit?" tanyanya, sang anak hanya mengangguk tertegun.
Satu-satunya kebaikan yang aku lihat, aku ingin suatu saat nanti memilikinya. Bisakah? Apa aku terlalu serakah...
"Selesai..." lanjutnya tersenyum.
"Sudah selesai!! Pulang sana!!" Vincent membentak, tidak rela pacarnya mendapatkan pandangan terlalu dalam walaupun dari seorang anak kecil.
Anak itu bangkit,"Te...te...terima... terimakasih," ucapnya gagap, menunduk, berjalan pergi sesekali menoleh.
Aku hanya seonggok tanah, tidak berguna bicara pun sulit. Jika suatu saat nanti aku menjadi sempurna, bisakah kakak terus bersamaku...
Vincent mengenyitkan keningnya masih kesal, "Frea ada sesuatu di lehermu," ucapnya mendekati wajah Frea, membuat dirinya seolah-olah berciuman, jika melihat dari di posisi sang anak.
Tomy kecil menatap dari jauh hanya terdiam berlalu pergi, menapaki jalan...
Setetes air matanya mengalir, aneh bukan untuk anak berusia 11 tahun? Tapi itulah kenyataannya.
Dirinya hanya terkadang menitikkan air matanya, mendengar suara erotis ibunya dari kamar yang tertutup. Atau tanpa sengaja menyaksikan ibunya yang berciuman. Tubuh wanita yang melahirkannya digagahi hampir tanpa busana dengan pria yang berbeda.
Namun, hari ini rasanya sesak menatap gadis yang baru pertama kali ditemuinya berciuman, seperti ibunya dengan pria lain. Tubuh seorang yang mungkin sudah dimiliki orang lain.
Apa jika aku sudah lebih dewasa, aku dapat memilikinya? Apa dia sama dengan ibuku, sesuatu yang dapat dibahagiakan dengan uang? Jika begitu, aku akan mengumpulkan banyak uang untuk membahagiakannya. Tidak membiarkannya di sentuh orang lain lagi...
Anggapan lugu seorang anak yang tumbuh besar di lingkungan yang salah.
__ADS_1
Bersambung