
šššš Warning!! Novel ini akan segera tamat, tinggal beberapa chapter lagi....šššš
Sejumlah uang kembali masuk ke rekeningnya, pemuda itu tersenyum. Entah apa tujuan seseorang tiba-tiba datang membebaskannya dari penjara, memberikannya uang secara rutin untuk membalas perbuatan mereka yang mempermalukannya.
Sebuah mobil keluaran terbaru dibelinya, setelah ini, tinggal dua target lagi. Dua? Bukankah yang tersisa hanya Agra? Tidak, masih ada satu orang lagi. Seseorang yang fotonya tidak terdapat dalam buku agenda.
Gilang, itulah sasaran terakhir, orang yang tanpa sengaja mendengar semua percakapan tentang tindakan penyimpangan dana yang dilakukannya. Orang yang pertama kali melaporkan pada ayahnya, Leon. Tukang mengadu yang paling menyebalkan, hingga Simon enggan menyimpan fotonya dalam buku agenda...
Sesuatu yang tidak diketahui Rangga, orang yang dianggapnya sebagai adik adalah sasaran pembunuhan terakhir...
***
Seorang pemuda menangis sesenggukan, menatap mobil ayahnya yang diderek dalam keadaan tidak berbentuk. Tidak ada jasad yang ditemukan, namun DNA darah Leon terdapat pada stir. Pertanda pria paruh baya itu sempat membentur nya, saat kecelakaan terjadi.
"Kecil kemungkinan untuk selamat, mungkin tubuhnya terpental ke dasar jurang yang lebih dalam. Kami akan tetap berusaha..." itulah yang dikatakan tim pencarian. Masih menelusuri keberadaan Leon, setidaknya keberadaan jenazahnya.
"Ayah...!!" teriakan keluar dari mulut Gilang, menangis sesenggukan. Penopang hidupnya menghilang, satu-satunya orang yang membimbingnya sebagai panutannya.
Tubuh itu melemah berlutut, mungkin, begitu banyak kesalahannya pada Leon. Dirinya, hanya anak kucing yang begitu manja, berlindung pada sang singa.
Rangga melihat semuanya dari belakang Tomy. Tangisan Gilang semakin lirih.
Bukan, bukan ini yang diinginkannya. Hanya ingin melepaskan rasa sakit di hatinya. Membalas mereka satu-persatu.
Namun, bukannya menghilang, rasa sakit semakin terasa. Anak yang selalu bermain bersamanya kini telah tumbuh dewasa, menangis dalam perasaan sakit karenanya. Karena ayah yang dicintainya sang anak dilenyapkan oleh seorang Kenzo walaupun menggunakan tangan orang lain.
Wajahnya berusaha tersenyum, tapi jemari tangannya gemetaran. Menginginkan untuk meminta maaf pada Gilang, namun dirinya tidak dapat mengembalikan keberadaan Leon.
"Tuan besar (Suki) ingin bicara denganmu..." ucap Miko, pada Rangga.
Rangga mulai melangkah, menjauhi mobil milik Tomy. Mendekati mobil Suki kemudian masuk ke dalamnya.
"Sudah puas!?" tanya Suki dengan nada dingin, pria tua itu menitikkan air matanya. Kehilangan anak pertamanya.
"Belum, masih kurang satu nyawa lagi..." jawab Rangga, merogoh saku sweater-nya meminum sekaleng soda yang disimpannya.
"Seharusnya aku membunuhmu, segera setelah dilahirkan!!" Suki membentak, tidak dapat menahan amarahnya lagi.
Rangga tertawa lepas, menitikkan air matanya,"Kamu benar, seharusnya aku mati bersama kedua orang tuaku. Aku ingin mati menyusul mereka. Tapi melihatmu bahagia, aku tidak akan membiarkannya..."
__ADS_1
"Gilang... kamu tidak melihatnya!? Dia menyayangimu, tapi kamu..." Suki mencengkram leher pakaian pemuda itu.
"Aku dulu menyayangimu, tapi kamu..." ucap Rangga membalik kata-kata Suki, menepis tangan keriput itu dari pakaiannya.
"Sebaiknya, bercermin dari dirimu sendiri terlebih dahulu. Pernahkah anda minta maaf pada anak yatim-piatu ini?" Rangga, mulai turun dari mobil Suki.
"Masalah Gilang, dia adalah satu-satunya keluargaku. Jadi jangan membawa namanya sebagai tameng untuk melindungi diri..." lanjutnya, membanting pintu mobil.
Suki tertegun diam, menatap kepergian Rangga. Menggunakan nama Gilang sebagai tameng, apa itu yang kini dilakukannya untuk menghindari meminta maaf?
Namun, semua pemikiran ditampiknya dengan satu kalimat, 'Kenzo-lah yang telah membunuh putra pertamanya,"
***
Sedang, Tomy mengenyitkan keningnya, menuruni sisi bawah jalan yang sedikit landai. Mendapati ada sesuatu yang aneh, bukan jejak roda, namun, tanah bagaikan sempat terinjak. Tempat yang berjarak beberapa meter dari lokasi kecelakaan.
Dedaunan hijau, menampakkan sedikit warna merah kehitaman. "Darah? Dia belum mati? Tapi, kenapa tidak muncul..." gumamnya.
***
Di tempat lain, seorang pria paruh baya menghela napas kasar. Menyewa kamar murah dengan uang cash yang terdapat di dompetnya. Satu persatu luka di tubuhnya diobatinya seorang diri.
Satu hal yang disadari Leon, anak itu terlalu menurut dan mengikutinya. Tidak dapat memilih dengan pasti yang terbaik bagi hidupnya. Hingga bertemu Keyla, wanita yang paling diinginkan putranya...
Memohon untuk bersama seorang wanita yang tidak diketahui rupa aslinya. Asal Leon mengijinkan dan mendapat restu untuk menikahi Keyla, itu akan menjadi jalan yang benar. Mungkin begitulah dalam fikiran Gilang.
Ketidak beradaan Leon, sesuatu yang mungkin akan menyadarkannya. Betapa pahit dunia ini, tanpa perlindungan ayahnya. Jalan terakhir sang ayah, melatih kecerdasan putranya yang terlalu bergantung padanya. Mungkin, dengan pelajaran hidup dapat membuat sang anak lebih dewasa. Untuk tidak menghancurkan hidupnya dengan menikahi Keyla.
***
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menunjukkan sinar kejinggaan. Wajah pemuda itu pucat, menitikkan air matanya tiada henti.
Pintu apartemen mulai dimasukinya, terlihat ruangan gelap disana.
Tak...
Sakelar lampu ditekan...
Ruangan itu mulai terlihat lebih terang, Rangga berjalan masuk dalam sebuah kamar. Mengambil beberapa butir obat-obatan, yang berada di dalam laci, meminum beberapa butir sekaligus. Namun, rasa sakit dan sesak tidak kunjung menghilang.
__ADS_1
Air matanya mengalir lebih banyak, tidak dapat dihentikan olehnya. "Aku bukan manusia..." umpatnya pada diri sendiri.
Bayangan wajah pemuda yang bagaikan adiknya masih terngiang jelas. Wajah putus asa, dari seorang anak manja, anak yang selalu bergantung dan mengikuti ayahnya.
Rangga menatap jemari tangannya sendiri, "Aku membuatnya menangis dengan membunuh Leon..."
"Arrrgghh..." teriaknya, menyalahkan dirinya sendiri.
Benar, gangguan kepribadiannya kini tengah menguasainya. Wajah Rangga terlihat di cermin, wajah rupawan dengan bekas luka di bagian dahinya.
Matanya memerah,
Ayah...Ibu ... Aku bukan anak yang berbakti, tinggal selama delapan tahun dengan orang yang membunuh kalian... Bahkan untuk membalas rasa sakit kalian, aku tidak sanggup melakukannya...
Jemari tangannya mengepal, perlahan berjalan menuju bathtub. Tidak sehelai pakaiannya pun dilepaskannya.
Hal yang dilakukannya? Memasukkan tubuh dan kepalanya dalam air, berharap akan mendapatkan ketenangan, setidaknya menghukum dirinya sendiri.
Gelembung udara berada di sekitar wajahnya. Rambutnya mengapung dalam air. Wajah tenang, walau mulai kehabisan napas.
Hah...hah...
"Sial!! Aggrrhh..." umpatnya memukul air bingung dengan tujuan hidupnya sendiri. Berkutat dalam dendam dan rasa bersalah.
***
Malam mulai menjelang, untuk pertama kalinya pemuda itu meminum alkohol. Sesuatu yang cukup dihindarinya, memutar-mutar gelas berisikan Vodka yang diisinya seperempat, kemudian meminumnya.
Pandangan matanya kosong, duduk di balkon apartemen seorang diri.
Apa yang harus dilakukannya? Membalas rasa sakit almarhum kedua orang tuanya? Hal yang tidak dapat dilakukannya, menatap tangisan Gilang dalam penyesalan...
Menyusul kedua orang tuanya? Mungkin itulah jalan yang menjadi tujuan akhirnya. Tidak memiliki sahabat, keluarga, atau orang yang memeluknya ketika terluka.
Hanya membiarkan trauma dan luka menganga dalam hatinya...
Jemari tangannya terangkat, memegang sepucuk senjata api. Mengarahkan tepat di pelipis kepalanya, dengan tatapan kosong...
Bersambung
__ADS_1