
Leon kembali memeriksa laporan, mengenakan kacamata bacanya. Tangannya terangkat, hendak meminum, minuman vitamin C yang dibawakan Nila.
Tanpa di duga, Kenzo tiba-tiba muncul di hadapan Leon, merebut gelas minumannya.
Prang...
Gelas dibanting sang anak hingga pecah berkeping-keping, "Rasa terimakasih ku untuk Gilang. Hadiah terakhirku sebelum pergi ke panti asuhan besok..." ucapnya pada Leon.
Leon tertegun, sedikit tidaknya mungkin dirinya mengerti, "Sudah malam, tidurlah..."
Anak itu mengangguk, berjalan pergi, ini pertolongan terakhirnya untuk keluarga yang membesarkannya, tepatnya pada Gilang satu-satunya orang yang menganggapnya kakak. Setelah ini hanya akan ada dendam. Dendam yang membekas seumur hidupnya.
***
Mobil melaju meninggalkan kediaman, mobil yang hanya dikendarai Nila, sedang Kenzo di kursi bagian belakang lengkap dengan kopernya.
Rasa benci Nila sudah tidak tertahankan, pada anak yang seharusnya akan di bawahnya ke panti asuhan. Mengingat hal yang terjadi tadi malam, menginginkan Leon yang sulit ditaklukkan.
"Apa di panti asuhan masih jauh?" tanya Kenzo.
"Di luar kota, aku mencarikanmu yang terbaik, dengan udara yang terasa segar..." jawab Nila, berusaha tersenyum.
Kenzo menatap ke arah jendela mobil, akhirnya Suki membuangnya karena muak melihat wajahnya. Wajah yang mengingatkan Suki akan rasa bersalahnya pada Arman.
Namun, bukan di panti asuhan, mobil berhenti di perlintasan kereta api yang sepi, tempat yang jauh dari rumah utama. Tempat yang terasa asing bagi Kenzo. "Keluar!!" suara bentakan yang terdengar memekik.
Kenzo keluar dengan ragu. Tanpa diduga, Nila yang tidak sabaran menarik kasar tubuhnya dari mobil, hingga terjatuh. Mengeluarkan koper miliknya,"Panti asuhan? Keluarga kami yang sudah membesarkanmu merasa rugi!! Dasar anak buruh kasar, pencuri gudang..." ucap Nila tersenyum.
"Bibi...maksudku nyonya tau tentang orang tuaku? Siapa nama mereka!?" tanyanya membulatkan matanya, memegang kaki Nila agar tidak segera masuk ke dalam mobil.
"Sedikit tidaknya kamu harus sadar diri, ayahmu narapidana yang mencuri di gudang Bold Company. Orang rendahan sepertimu tidak pantas mendapatkan apa-apa..." Nila hendak memasuki mobil, namun tangan Kenzo menahannya.
"Namanya!! Siapa nama lengkapnya?" teriaknya menangis,"Aku mohon!!" lanjutnya.
"Arman Wiratmaja... puas!?" tangan Kenzo lemas, membiarkan Nila pergi meninggalkannya tanpa memberikan haknya. Sertifikat yang dititipkan Suki, dibawa Nila pergi, dialihkan menjadi miliknya sendiri.
Dalam fikirannya mungkin, punya hak apa anak ini? Seharusnya berterimakasih sudah dibesarkan. Masih harus mendapatkan beberapa toko? Adalah sebuah lelucon yang dibuat ayah mertuanya (Suki).
__ADS_1
Kenzo terdiam senyuman menyungging di wajahnya, mengambil barang-barangnya, menarik kopernya mencari tempat berteduh di tengah teriknya matahari. Tersenyum? Nama lengkap almarhum ayahnya sudah diketahui olehnya, itu sudah cukup.
Dua tahun setelahnya...
Anak berusia 10 tahun yang tinggal di jalanan, hanya dapat mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit, mengais-ngais sampah mencari botol bekas, hal yang dilakukannya saat itu, disela kegiatannya mengikuti sekolah gratis bagi anak-anak jalanan.
Dengan mendatangi satu-persatu gudang Bold Company, dirinya berharap mendapatkan informasi keberadaan makam kedua orang tuanya.
Mengunjungi pusaran makam kedua orang tuanya, menjadi keinginannya. Namun, hal yang terjadi berbeda, prilaku anak baik itu telah berubah, mendengar cerita karyawan lama pabrik.
Bagaimana ayahnya memohon di hadapan Suki, bagaimana ayahnya harus mengemis meminta perpanjangan waktu untuk bertanggung jawab mengganti berrol-rol kain yang tidak dicurinya.
Bagaimana sang ayah meninggal akibat kelelahan bekerja siang dan malam sebagai buruh bangunan. Bagaimana ibunya yang tengah hamil besar, melahirkan tanpa kehadiran sang suami.
Pasangan suami-istri yang telah tenang disana, meninggalkan putra mereka. Putra yang kini memakai, pakaian tidak layak, membawa karung berisikan botol bekas minum.
Anak itu menangis, berlutut di hadapan makam kedua orang tuanya,"Ayah maaf...aku tidak tau..." ucapnya, yang setelah mengabdi 8 tahun menjadi anak yang penurut, setelah mengejar kasih sayang Suki, orang yang menyebabkan kematian ayahnya.
Kenzo perlahan tertawa seorang diri di tengah tangisannya. Satu persatu nama penghuni rumah tempatnya mengabdi diingatnya. Anak dengan bekas luka di dahinya. Luka yang akan menjadi pengingat untuknya, tidak pernah ada kasih untuk seorang anak angkat.
***
Seorang pasien menjerit memberontak, bukannya sembuh, seseorang menyuap perawat untuk semakin menyiksanya.
Setelah bercerai dengan Agra ketika Mona duduk di bangku SMU, Nila memutuskan hubungan dengan mantan suami dan putrinya.
Beberapa tahun kemudian, wanita itu menikah dengan seorang pria rupawan yang mengaku sebagai pengusaha. Uang, rumah, mobil pribadi miliknya semua tandas, dirinya benar-benar tertipu oleh wajah rupawan pria yang sebenarnya dibayar Kenzo.
Perlahan kewarasannya menghilang setelah kehilangan segalanya. Pihak keluarganya membawanya ke rumah sakit jiwa. Mangsa empuk bagi pemuda itu, kembali menyiksanya perlahan-lahan.
"Aaaghhh..." teriak wanita tidak waras itu kala tangannya disayat, kembali ditaburi garam kasar.
"Sayang, aku mencintaimu jangan pergi..." Nila tetap tertawa, sembari menangis, berhalusinasi setiap pria disana adalah pria rupawan yang telah menipunya.
Seorang pria berpakaian perawat menghela napas kasar,"Aku sudah bosan bermain dengannya, ada yang mau?" tanyanya, menatap tubuh Nila yang terikat.
Pria paruh baya bertubuh gemuk yang terlihat seumuran dengan Nila mengganguk,"Aku saja malam ini, berapa kalipun rasanya tidak puas..." ucapnya, mulai melepaskan kancing pakaian perawatnya. Menggagahi tubuh Nila.
__ADS_1
Tok ...tok...tok...
Kenzo, mengetuk pintu masuk membawa beberapa kaleng minuman bersoda dalam plastik serta amplop berukuran besar.
"Ini upah tahunan kalian, bagi rata..." ucapnya melemparkan amplop coklat besar yang dibawanya.
Upah tahunan? Benar, ini sudah tahun ke dua Nila dititipkan pihak keluarganya ke rumah sakit jiwa. Selama itu pula, Kenzo tidak membiarkannya sembuh, berkutat dengan rasa takut, menyiksanya perlahan-lahan.
Minuman bersoda kembali ditenggaknya, menghubungi seseorang...
***
Frans menghela napas kasar, mengangkat panggilan dari tuannya.
"Tuan," ucapnya.
"Apa saja yang kamu dapatkan, kiriman semuanya padaku..." jawab seorang pemuda rupawan di seberang sana, pemuda yang meraba dahinya sendiri. Bekas luka yang ditutupinya dengan poni masih ada.
"Baik tuan, tapi apa anda sudah tinggal di kediaman utama?" tanyanya, menghela napas kasar.
"Iya, cukup menyenangkan berada di sana. Seperti reuni di tempat penjagalan..." sang pemuda tersenyum.
"Bagaimana dengan Tomy?" Frans menghela napas kasar.
"Dia? Sangat konyol, tapi aku menyukainya," jawab Kenzo, tersenyum, menatap ke arah jendela tidak begitu memperhatikan kegiatan orang di ruangan itu.
Kegiatan? Tentunya, pria bertubuh gemuk yang tengah menggagahi tubuh Nila. Wanita tidak waras berusia paruh baya, sesekali menjerit dan tertawa, tanpa perlawanan.
"Berbisik!! Bisa tutup mulutnya!!" bentak Kenzo.
Selotip digunakan, pada mulut Nila, hingga pemuda itu kembali mengobrol dengan tenang.
"Jadi apa rencana anda?" tanya Frans pada majikannya.
"Aku fikirkan nanti, entah kenapa aku sempat berfikir kami mirip dan sepaham..." jawabnya tersenyum, meminum minuman bersoda miliknya.
Bersambung
__ADS_1