Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Kesalahan Bagian 2


__ADS_3

Mucikari profesional, itulah orang menjualnya, dalam 20 menit, Merlin yang saat itu masih berusia 16 tahun dirias layaknya wanita dewasa yang rupawan.


Kulit dasarnya yang putih membuat tubuh yang mulai beranjak remaja itu kian menggoda.


Tok...tok...tok...


Sang mucikari mengetuk pintu kamar hotel, membukanya tanpa permisi. Seorang pemuda duduk menyender di sofa dalam keadaan kacau.


"Tuan, saya jamin ini masih fresh. Soal harga..." kata-kata sang mucikari terhenti, Adrian melempar setumpuk uang padanya.


Sang mucikari kemudian berbisik pada Merlin,"Layani dia dengan baik, aku tunggu di kamar sebelah. Setelah selesai kamu akan mendapatkan bagianmu," ucapnya meraih uang yang tergeletak di atas lantai.


Dengan cepat berjalan keluar menutup pintu.


Adrian yang saat itu masih berusia 21 tahun, menghela napas kasar. "Kenapa diam saja disana?" tanyanya terlihat kesal, dengan wajah tanpa ekspresi.


"Lalu aku harus apa?" Merlin mengenyitkan keningnya berpikir sejenak, kemudian tertunduk sebentar memberi hormat layaknya murid baru,"Perkenalkan namaku Merlin, usiaku 16 tahun. Semoga kita dapat bisa berteman dengan baik..."


Seketika Adrian menipiskan bibir menahan tawanya, seakan semua beban masalahnya terlupakan, menatap gadis kecil di hadapannya."Apa hoby-mu?" tanyanya lagi, berharap menemukan jawaban yang lebih aneh.


"Makan, semua manusia butuh makan..." jawaban yang tidak terduga.


"Makan bukan hoby," Adrian mengenyitkan keningnya, melanjutkan pembicaraan unfaedah.


"Aku tidak punya hoby?" tanya Merlin terkejut dengan dirinya sendiri, menghela napas kasar.


"Mana aku tau kamu punya atau tidak..." ucap Adrian masih mode menahan tawa.


"Kamu bilang masih berusia 16 tahun. Pernah pacaran?" tanyanya.


"Pernah, ketika SMP, pacar adalah orang yang akan mentraktirmu makan di kantin," jawab Merlin jujur.


"Selain itu?" Adrian mengenyitkan keningnya, ingin mengetahui gaya pacaran remaja yang berusia 5 tahun lebih muda darinya.


"Selain itu, mengantar jemput pulang. Saat lulus SMP tentu saja harus putus..." aura kepolosan dari gadis kecil yang benar-benar menyengat. Bahkan tidak pernah berciuman? Jangan sangka Merlin benar-benar kotor dari awal.


"Lumayan pintar juga ya?" Adrian berdecak kagum, masih menahan tawanya. Mengingat betapa malangnya nasib mantan pacar gadis di hadapannya. Hanya dijadikan tukang ojek yang mengantar Merlin kemana-mana.


"Makanya harus lebih pintar sedikit, kakak dimanfaatkan kemudian diselingkuhi ya?" tanyanya menatap betapa kacaunya Adrian, dengan dasi yang terlepas, dan rambut acak-acakan. Serta mata yang sembab.


Adrian menghela napas kasar, kemudian mengangguk, membenarkan, meminum air putih dingin di hadapannya.


"Kecerdasan kakak sepertinya lebih rendah dariku," Merlin menatap jenuh.


"Jangan salah kecerdasan otakku tinggi!!" bentak Adrian tidak mau kalah.


"Baik, jika kakak bisa berhitung satu sampai lima puluh, aku akan mengakui kecerdasan kakak..." ucap Merlin penuh senyuman.


"Hanya satu sampai lima puluh, dasar anak kecil. Satu, dua, tiga, empat..." awal-awalnya Adrian menghitung dengan lancar, hingga melewati dua puluh. Mulut Merlin mulai berkicau.


"21, 22, 23, 24, 25," Adrian masih berhitung.


"33, 35, 27, 26," seketika angka yang keluar dari mulut Merlin membuat konsentrasi Adrian yang tengah menghitung hilang.


"Curang!!" bentak Adrian.


"Apanya yang pintar, berhitung sampai lima puluh saja tidak bisa," Merlin tersenyum, namun ada hal lain dibalik senyumannya.


Tidak ingin ditiduri kakak rupawan? Tentu saja, dari tadi dirinya hanya mengulur waktu. Berharap dapat berbicara hingga pagi, membuat pemuda di hadapannya melupakan bahwa dirinya adalah wanita penghibur.


Janji sebelumnya pada ayahnya yang sudah meninggal, mungkin menjadi penyebabnya. Akan memberikan malam pertamanya pada suaminya. Tentunya saat itu sang ayah meminta putrinya berjanji, karena ingin menjaga Merlin yang pacaran di usia terlalu muda, mengingat betapa kaku watak putrinya.


"Kakak, bagaimana jika bermain domino?" tanyanya, tersenyum.


"Tidak, bukannya kita..." Adrian menghentikan kata-katanya. Niatan untuk membalas perselingkuhan Lia masih ada. Namun, sekarang masalah terbesarnya saat menyewa gadis dibawah umur yang polos, bagaimana mengatakan akan menidurinya?


"Kakak takut kalah?" tanya Merlin, tersenyum menantang pemuda di hadapannya.


"Aku tidak takut kalah!! Ayo bermain!!" ucap Adrian penuh semangat.

__ADS_1


Berhasil, mendapatkan uang tapi bisa keluar dengan selamat. Dasar kakak mata keranjang yang bodoh... gerutunya dalam hati, masih tersenyum cerah.


Namun, apa benar begitu? Dua orang makhluk berlawanan jenis berada dalam satu ruangan, tanpa ikatan darah.


Tak...


Adrian membanting kartu dominonya kesal. Waktu kini telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, hanya bermain domino. Tidak ada hal lebih yang terjadi.


"Aku menang lagi," Merlin tertawa, duduk diatas tempat tidur dengan Adrian. Entah kenapa, dihadapan Merlin, Adrian dapat menunjukkan sisi kekanak-kanakannya, tanpa ada rasa tertekan sedikitpun. Bagaikan melepaskan beban hidup yang menumpuk di punggungnya.


"Sial..." umpat Adrian.


"Jangan marah kita ulang lagi," ucap Merlin mengocok kartu.


Adrian menghentikan tangan Merlin, menatap mata gadis itu lekat. "Kamu berniat menipuku, agar tidak perlu tidur denganku?" tanyanya, baru mulai menyadari.


Sial!! Aku ketahuan, tenang Merlin... tenang. Tetaplah tersenyum pada pria kaya yang gila di hadapanmu... gumamnya dalam hati.


"Tidak!!" jawab Merlin tegas.


Adrian mengamati Merlin dari atas sampai bawah. "Aku juga sebenarnya tidak tertarik dengan triplek," jawabnya tersenyum, menatap bentuk tubuh Merlin seakan menilai.


"Triplek?" Merlin mengenyitkan keningnya, mendengar hinaan pelanggan pertamanya.


"Maaf, aku bicara blak-blakan!!" Adrian menutup mulutnya, kemudian kembali tersenyum,"Anak kecil, jika tidak berniat dari awal, pulanglah! Aku akan meminta orang lain untuk menggantikanmu," ucapnya mengacak-acak rambut Merlin, hendak beranjak dari tempat tidur. Tempatnya bermain domino.


Namun tanpa diduga, gadis itu naik ke pangkuan Adrian. Menatap mata pemuda itu lekat. Demi uang, demi makanan enak untuk Adi...tapi kakak bodoh ini, tidak jelek untuk dijadikan suami... gumamnya dalam hati mencium pipi Adrian. Bahkan Merlin hanya pernah mencium pipi almarhum ayahnya. Hari ini merupakan langkah yang terlalu besar baginya.


Aneh, benar-benar aneh... anak kecil dalam pangkuannya hanya mencium pipinya sekilas. Namun, jantungnya berdegup cepat, perasaan yang tidak pernah didapatkannya saat bersama Lia. Ingin berusaha lebih menyayangi gadis dalam pangkuannya.


Cinta adalah logika, Lia adalah wanita tercantik dan berhati terbaik di kelas, maka seharusnya dirinya hanya akan jatuh cinta padanya. Anggapan awam yang membuat Adrian menjadikan Lia sebagai kekasihnya. Meniduri, bahkan menikahinya hanya karena perasaan kagum. Dirinya benar-benar tidak dapat membedakan cinta dan kekaguman, benar-benar hal bodoh yang dilakukannya dulu.


"Tu..trun, lebih baik kamu pulang..." ucap Adrian gelagapan, untuk pertama kalinya merasakan perasaan yang benar-benar berbeda. Mendorong Merlin, hingga kembali duduk di tempat tidur.


Adrian kemudian bangkit, berjalan beberapa langkah, hingga gadis itu memeluknya dari belakang... Jangan ambil uangnya, aku mohon, itu seikat uang cukup untuk membeli berbungkus-bungkus nasi... gumam Merlin dalam hati, tidak rela kehilangan uangnya.


"Lepas, kamu pulang ya..." ucapnya melepaskan tangan Merlin. Kemudian berjalan kembali hingga jemari tangannya menyentuh gagang pintu.


"Kakak impoten ya makanya diselingkuhi?" tanyanya menantang singa yang baru mengendus bau daging sapi wagyu pilihan.


"Aku tidak..." kata-kata Adrian disela.


Apa maunya anak ini!? Aku akan mati jika terus berdekatan dengannya...


"Alasan saja, bilang badanku seperti triplek. Untuk seusiaku, ini bentuk tubuh yang sempura. Katakan saja terus terang kakak impoten kan...?" cibirnya, keras kepala, jika sudah memutuskan Adrian akan menjadi orang pertama yang menikmati tubuhnya. Orang yang akan dinikahinya, membantunya untuk menjaga sang adik.


"Anak kecil aku tidak impoten!! Aku akan tetap menggantimu dengan orang lain..." ucapnya, namun Merlin berjalan cepat berjinjit mengecup bibir Adrian. Kecukupan singkat, namun jantung Adrian terpacu semakin cepat, menahan tengkuk Merlin, melanjutkan ciumannya.


Aku sudah gila...aku sudah gila... gumam Adrian dalam hatinya, menyukai seorang anak, layaknya pedofil. Merlin tidak merespon sama sekali, hanya membuka sedikit bibirnya, membiarkan Adrian bertindak semaunya.


"Aku pria dewasa, aku tidak impoten, tapi aku tetap tidak bisa tertarik padamu!!" dustanya, masih berusaha menetralkan detak jantungnya.


Merlin yang juga untuk pertama kalinya merasakan jantungnya berdegup dengan cepat, ikut tersenyum canggung... Ada apa denganku? Tidak bisa begini, jika menyentuh orang kaya gila ini lebih banyak. Jantungku mungkin akan meledak...


"Iya, aku akan meminta mami (mucikari) mencari pelanggan lain, untukku saja..." ucapnya gelagapan.


"Pelanggan lain?" Adrian mengenyitkan keningnya tidak rela.


"I...iya, pelanggan lain, kakak pergilah, minta mami mengembalikan uangmu..." ucap Merlin masih memasang wajah tersenyum.


Entah kenapa ada perasaan aneh dalam dirinya, membayangkan tubuh remaja di bawah umur ini di jamah pria lain. Adrian menghela napas, menarik remaja di bawah umur dalam dekapannya, anggap saja dirinya benar-benar tidak waras. Bibir itu kembali dicicipinya tiada henti, menjelajah seakan tidak pernah puas.


Triplek? Tidak, tubuh remaja itu terlalu sempurna untuk tidak disentuhnya. Jemari tangannya menjelajah.


"Kakak berkata aku adalah triplek!!" Merlin bersungut-sungut.


"Memang!! Tapi sialnya aku telah membayarmu!! Aku terlalu gengsi untuk meminta pengembalian uang!!" bentak Adrian mencari alasan, tidak mau kalah, tetap berusaha melepaskan pakaian Merlin.


"Dasar tidak waras!! Impoten!!" ucap Merlin, menahan debaran hatinya, memegang erat kemeja Adrian. Kala bibirnya bermain di area leher Merlin.

__ADS_1


"Impoten!? Setelah ini aku akan membuat triplek sepertimu menjerit!!" ucapnya kesal, namun tetap saja memperlakukan Merlin yang masih muda dengan lembut.


Satu persatu pakaian mereka berserakan di lantai, menuju arah tempat tidur. Suara jeritan erotis? Tidak itu saja, yang terdengar.


"Sakit!! Bodoh!!" suara Merlin terdengar.


"Sekarang percaya aku tidak impoten!?" bentakan Adrian kembali terdengar, walaupun suara keduanya diiringi napas tidak teratur serta erangan erotis.


"Sakit!! Kenapa mengigitku!! Dasar piranha!!" suara Adrian terdengar memekik.


"Kakak tidak waras!! Aku juga tadi kesakitan!! Kamu bisa pelan-pelan tidak?" kata yang keluar dari bibir Merlin.


Pertengkaran di tengah suara erotis, walaupun begitu, mereka tetap melanjutkannya hingga akhir, merasakan debaran seakan tidak pernah puas. Sekali? Tidak, dari mana Merlin dapat menebak sifat Tomy ketika di tempat tidur? Tentu saja dapat menebak dari sifat Adrian. Tidak akan melepaskan mangsanya jika belum merasa puas.


***


Merlin menatap langit-langit kamar dengan wajah pucat. "Kakak br*ngsek!!" umpatnya di pagi yang dingin setelah bangun lebih awal, mendorong tubuh Adrian yang tengah tertidur hingga tersungkur di lantai. Ajaibnya, pemuda itu masih saja tertidur.


Tanpa terikat pernikahan dan masih di bawah umur? Benar suatu dosa besar yang dapat merusak tubuhnya serta mendapatkan berbagai cibiran masyarakat suatu saat nanti. Namun jika ini untuk mengisi perutnya dan perut adiknya mungkin akan sepadan dengan harga yang harus dibayarnya nanti.


"Merlin?" sang mucikari membuka pintu tanpa permisi, menghela napas kasar.


"Sudah minum obat untuk mencegah kehamilan?" ucap sang mucikari mendekat, mengenyitkan keningnya, mengingat Adrian mungkin tidak memakai pengaman sama sekali. Dijawab dengan anggukan oleh Merlin."Kamu bisa ke kamar mandi sendiri?"


Merlin menggelengkan kepalanya, menahan rasa perih,"Ya, sudah biar aku bantu..." wanita paruh baya itu, perlahan membantunya bangkit. Mengantarnya hingga kamar mandi, membantunya membersihkan diri.


"Maaf, membawamu kemari. Jalan ini adalah jalan terburuk," ucapnya pada Merlin, membantunya membasuh diri dalam bathtub.


"Aku yang memilihnya, Adi sudah lama merengek ingin membeli ayam goreng dan mainan. Dengan begini dia bisa tersenyum, mempunyai tempat tinggal, makanan enak, seperti anak lainnya," Merlin menghela napas kasar, tidak menyesali keputusannya.


Obat kontrasepsi? Sejak awal hanya disimpannya, dari saat dirias sang mucikari, ragu untuk meminumnya. Hingga akhirnya memutuskan untuk tidak meminum sama sekali.


Menjerat Adrian? Benar itulah tujuannya, menginginkan kehidupan lebih baik, setidaknya tempat untuk dirinya dan sang adik bersandar. Lebih dari itu pula, dirinya juga menginginkan memenuhi kata-kata almarhum ayahnya. Menyerahkan malam pertamanya pada suaminya.


***


Mobil mainan yang saat itu berharga cukup mahal, serta sebungkus ayam goreng dibawanya. Berusaha berjalan normal, agar sang adik tidak cemas padanya.


Merlin nampak kebingungan, matanya menelisik, menatap ketidak beradaan sang adik di emperan toko."Adi tidak ada..." ucapnya menangis terisak.


"Mungkin satpol PP atau orang dari yayasan sosial membawanya. Nanti mami bantu cari informasi..." ucap sang mucikari.


Merlin hanya tertunduk sembari mengangguk, masih terisak, tidak rela berpisah dengan adiknya.


Hingga, beberapa hari berlalu, jejak terakhir adalah sebuah panti asuhan. Namun, anak itu telah diadopsi.


Merlin mendatangi alamat rumah yang diberikan panti, membawa pakaian baru, mobil mainan yang selalu diinginkan adiknya, serta sebungkus ayam goreng berharap dapat menjemput Adi (adiknya).


Namun senyuman di wajahnya memudar, keluarga yang bahagia itulah yang terlihat. Sang adik tengah bermain dengan orang tua angkatnya. Orang tua yang terlihat menyayanginya, bermain di pekarangan rumah yang terlihat luas, mengajari sang adik menaiki sepeda.


Jemari tangannya lemas, pakaian baru, mainan, keluarga, semua telah dimiliki Adi, tidak memerlukan dirinya lagi.


Merlin meletakkannya di depan rumah. Mengingat tangannya yang kotor, tubuhnya yang kotor, dan profesinya yang kotor. Entah, apa yang akan dijawabnya, jika sang adik menanyakan dirinya mendapatkan uang darimana.


Memilih memalingkan wajah, menitikkan air matanya. Berjalan melangkah pergi melupakan sang adik yang telah memiliki keluarga baru. Keluarga yang akan melindungi dan menjaganya lebih baik, dari pada hidup di jalanan bersama sang kakak.


***


Matahari telah bersinar terik, Adrian membuka matanya tubuhnya berbalut selimut. Namun, tergeletak di lantai, menatap langit-langit kamar,"Aku benar-benar berselingkuh? Melakukannya dengan anak kecil!? Aku seorang pedofil!?" gumamnya, berguling-guling di lantai.


Namun sejenak terdiam hatinya kembali berdebar mengingat malam yang dilaluinya dengan Merlin. Malam yang benar-benar gila, penuh perdebatan dan hinaan.


Perbedaan yang mendasar, saat melakukannya karena mengasihi bercampur dengan napsu. Bukan napsu semata saat bersama dengan Lia.


Hal bodoh yang ingin dibantahnya, hingga beberapa hari tidak konsentrasi bekerja, setelah berselingkuh untuk pertama kalinya. Tidak lagi berkeinginan tidur sekamar dengan Lia, hanya Irgi dan Mike yang menjadi perhatiannya.


Adrian menyenderkan tubuhnya pada kursi putarnya tidak dapat menghilangkan Merlin dari otaknya,"Aku benar-benar seorang pedofil..." gumamnya merutuki dirinya sendiri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2