
Kenapa harus membunuh mereka? Tidak ada alasan pasti, namun begitu muak rasanya. Aku hanya mengambil sedikit, dari banyak harta yang mereka punya. Tapi, nama-nama orang itu mempermalukanku. Mungkin itulah yang berada di benak Simon, pria yang sempat menjabat sebagai manager keuangan kantor pusat.
Hal yang dilakukannya salah, tidak bercermin sama sekali. Malah memiliki tingkat dendam yang tinggi, sudah hampir semua orang dalam daftar dilenyapkannya. Kini giliran Leon, menunggu dengan sabar, menenggak air mineral kemasan.
Hingga wajah berkharisma itu terlihat, menghabisi secara membabi buta adalah tujuannya. Mobil Leon mulai melaju meninggalkan kantor cabang, tempatnya mengurus pekerjaan. Beberapa jalan sepi minim penerangan dilaluinya. Tidak menyadari mobil hitam mengikutinya.
Hingga tiba di sebuah tikungan, minim penerangan serta tanpa CCTV. Dengan jurang di belakang pembatasnya.
Brak...
Suara benturan terdengar, mobil Leon ditabrak dari belakang, membentur pembatas jalan. Mesin mobilnya mati, mungkin karena kerusakan akibat benturan. Leon menatap dari kaca spion, sebuah mobil yang sengaja ingin membuatnya terjatuh ke jurang yang dalam.
Brak...
Mobil Leon kembali ditabrak dari belakang...
"Sial!!" umpatnya, dalam mobil yang hampir terjatuh, berusaha menyelamatkan diri dengan melepaskan sabuk pengamannya.
Brak...
Tabrakan berikutnya, mobil terjatuh ke jurang, berguling, hingga ke dasar.
Pemuda itu tersenyum dari dalam mobilnya, setelah menabrak mobil Leon berkali-kali. Turun sejenak, mengamati area jurang tempat mobil Leon terjatuh.
Bayangan tubuh sang pemuda terlihat, menghalangi cahaya lampu depan mobil miliknya. Berdiri di hadapan pembatas jalan yang hancur.
"Tingkah mu seperti seorang kaisar, tapi kaisar juga bisa mati bukan..." gumam Simon tersenyum, berjalan berbalik menuju mobilnya.
Mobil pemuda itu mulai kembali melaju meninggalkan tikungan tajam dengan pembatas jalan yang hancur. Menghindari kemungkinan, adanya saksi mata yang lewat. Buku agenda kecil miliknya, menampakan foto Leon yang telah tercoret, pertanda tugasnya telah usai.
***
Darah mengalir dari siku, dahi dan lututnya, pakaiannya nampak lusuh, bersembunyi di bagian bawah jurang. Benar, Leon sempat melompat keluar dari mobil sebelum mobil terjatuh ke dasar jurang.
Liontin kalung pemberian almarhum istrinya diciumnya sekilas,"Aku selalu merasa, kamu masih ada dan melindungiku..." gumamnya tersenyum.
Mobil miliknya yang berada di bawah jurang telah hancur tidak berbentuk. Pria paruh baya itu terduduk sejenak, menatapnya dari area landai bagian atas jurang, tepat di bawah jalan raya.
"Harusnya kita bertemu sekarang..." pria itu memejamkan matanya sejenak, membaringkan dirinya di atas tanah, seolah menghapus rasa lelahnya. Lelah? Tentu saja, sudah puluhan tahun saat istrinya meninggalkannya, bersama Gilang. Anak polos yang mewarisi sifat ibunya, anak yang ingin diangkatnya ke posisi tertinggi, memberi kebahagiaan padanya.
Jika saja sabuk pengaman terlambat dilepaskannya, atau dirinya terlambat keluar dari mobil dapat dipastikan. Leon akan meninggalkan putra polosnya seorang diri. Pemuda yang tidak mengerti dengan jalannya dunia.
Pria paruh baya itu kembali duduk menghela napas kasar, berusaha lebih tenang,"Tugasku sebagai ayah belum berakhir, kecuali Gilang sudah mendapatkan kebahagiaannya. Benar begitu bukan, Harnum (nama almarhum istri Leon)?" ucapnya tersenyum, menatap ke area bawah jurang. Seolah berucap pada almarhum istrinya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu berusaha bangkit, dengan beberapa luka akibat melompat keluar dari mobil. Gilang? Mungkin hanya itu semangat hidupnya untuk menjalani hari-hari, hingga melihat putra tunggalnya bahagia.
Hari ini sama seperti kemarin, aku melangkah seorang diri lagi. Mencari penggantimu? Aku sudah berusaha, tapi mereka hanya pelampiasan...
Harta? Rupa? Hanya itulah yang ada di fikiran mereka. Rasa yang berbeda saat bersama denganmu, tidak memandang fisik atau rupa, tangan kita saling menggenggam dengan tulus. Menguatkan menapaki jalan sulit ...
Apa kamu tau, kenapa aku tidak dapat mencintai orang lain? Bukan karena tidak ada wanita yang lebih cantik darimu. Bukan pula, karena tidak ada wanita yang lebih pintar dibandingkan denganmu.
Namun, tidak pernah ada hati yang mencintaiku, sesempurna hatimu...
Tegarkan aku menapaki jalan ini, hingga dapat melihat putra kita bahagia...
Leon...
***
Krieeet...
Suara pintu terbuka, seorang pemuda berjalan mengendap-endap bagaikan tikus yang tidak ingin tertangkap oleh seekor kucing.
Matanya menelisik, mengamati Kira yang tertidur nyenyak dalam baby box. Berusaha tidak tertangkap, hal yang dilakukannya. Sudah beberapa hari Tomy pulang larut, bahkan hampir pagi.
Pemuda itu membersikan dirinya, berbaring di samping Frea. Tidak menyadari bahaya yang mengintai. Mata istrinya, mulai terbuka menyadari pergerakan di tempat tidur, pertanda pemuda itu sudah pulang.
"Emmm..." hanya itu jawaban yang didengarnya dari bibir suaminya, dengan mata masih tertutup.
Hidung Frea mengendus, mencari bau alkohol atau parfum wanita yang tersisa. Pemikiran bodoh yang membuatnya terus menerus memendam kecurigaannya.
Siapa yang tidak akan berfikiran aneh, memiliki suami yang berusia lebih muda, berwajah rupawan, dengan jumlah kekayaan yang tidak dapat dibayangkan olehnya. Ditambah belakangan ini sering pulang malam, bahkan hampir pagi, dengan alasan bekerja.
Bagaimana dia menyembunyikan bau parfum wanita simpanannya... gumam Frea dalam hati yang belakangan ini tidak pernah disentuh suaminya.
Hidungnya semakin mengendus bagaikan *njing pelacak. Perlahan memeriksa handphone Tomy, dan sialnya phoncell pintar itu dilengkapi password.
"Apa password-nya?" Frea bergumam dalam kekesalannya. Mencoba memasukkan password beberapa kali secara acak.
"14052004" suara seorang pria terdengar.
Frea segera mengetiknya dengan cepat,"Berhasil!!" ucapnya, tertawa.
"Apanya yang berhasil?" tanya seseorang yang berbaring di sampingnya.
"Mencari bukti perselingkuhan..." kata-kata Frea terhenti, menyadari ada yang tidak beres.
__ADS_1
Dan benar saja, Tomy hanya berpura-pura tertidur. Mengenyitkan keningnya, menatap tingkah aneh istrinya.
Senyuman Pepsodent yang menampakkan deretan gigi putih nampak di wajah Frea, memendam rasa malu dan bersalahnya.
"Siapa yang berselingkuh!?" Tomy menatap dengan wajah serius, menindih tubuh istrinya. Hembusan napasnya benar-benar dirasakan Frea. Jantungnya berdegup cepat tidak terkendali, dengan mudah bocah ini mengendalikan perasaannya.
"Tidak, ada!! Ini handphonemu!!" ucap Frea memejamkan matanya, menyodorkan handphone milik suaminya.
"Berselingkuh?" napas pemuda itu terasa menyapu lehernya. "Password handphone, tanggal, tepat di hari pertama kita bertemu. Dihidupku hanya ada Frea..."
"To... Tomy, aku hanya...hanya..." kata-kata Frea disela.
"Hanya apa?" tanyanya, mencium leher istrinya.
"Kamu selalu pulang malam, terkadang pagi, jadi aku..." lagi dan lagi, pemuda itu benar-benar menggoda menyesap pelan lehernya.
"Jadi kamu?" tanya Tomy, masih menghebuskan napas pelan.
"Aku kira kamu menemukan yang lebih muda dan cantik!!" ucapnya cepat dengan nada tinggi memejamkan matanya, menunggu ketakutan akan kemarahan suaminya.
Marah? Tidak, Tomy mulai tertawa kecil, menghujani ciuman pada wajah istrinya. "Kakak menggemaskan..." berhenti menindih tubuh Frea, kembali berbaring di sampingnya
"Jangan panggil aku kakak lagi, memalukan..." ucap Frea bersungut-sungut.
"Maaf sering pulang larut, aku merindukanmu...'Sa... yang...'" kata-kata penuh penekanan diucapkannya, tertawa kecil.
"Menyebalkan..." Frea bertambah malu lagi menyembunyikan wajahnya di bawah selimut, beberapa saat.
Hingga..."Kenapa kamu tidak marah? Aku mencurigaimu berselingkuh tadi..." wanita itu, membuka selimutnya dengan cepat menyadari ada yang aneh.
"Kamu curiga, karena kamu peduli, tidak ingin kehilanganku..." Tomy menyentuh dagu istrinya, menatapnya tajam.
"Aku..." kata-kata Frea terhenti, bibirnya di bungkam. Tidak dengan pelan, gerakan bibir yang bagaikan menuntut.
Hembusan napas terasa menerpa wajah pasangan suami istri. Bagaikan berlomba menghirup udara, masih terpaku saling menatap lebih dalam.
"Sudah lama...aku memerlukan energi... sayang..." tubuh Frea diraupnya. Bibir mereka kembali bertaut. Kancing piyama yang baru saja dikenakannya, kembali ditanggalkan. Satu-persatu pakaian mereka tergeletak, berceceran di lantai dan tempat tidur.
"Emmmnnngghhh... Tomy..." napas wanita itu tidak teratur, hanya berbalut selimut yang sama, tanpa satupun busana yang menghahangi sentuhan kulit mereka. Merasakan sentuhan di sekujur tubuhnya, pemuda yang tiada hentinya merengkuhnya perlahan.
Hingga derat suara tempat tidur terdengar seiring penyatuan mereka..."Sa... sayang..." racau Tomy tergagap. Sesekali mencium bibir istrinya, ciuman panas, saling membelit.
Anak, maksudnya anak gagap yang telah tumbuh dewasa itu tidak menyadari satu hal. Hanya di tempat tidur dirinya kembali gagap, memanggil kata 'Sayang' dengan deru napas tidak teratur.
__ADS_1
Bersambung