
Menyebalkan? Begitulah yang ada dalam hati Frea menatap keadaan saat ini. Wajahnya pucat mengingat entah suaminya menadapatkan tenaga dari mana, setelah sibuk seharian. Meminta hadiah ulang tahun yang membuat tenaganya terkuras, sekali? Pernahkah suaminya hanya cukup dengan sekali? Kegiatan yang menjadi candu baginya setelah pertama kali mencoba.
Mata pemuda itu masih fokus pada laptopnya, sedangkan bibirnya kumat-kamit bicara dengan menggunakan earphonenya. Bahasa Indonesia? Memang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia tapi tidak jarang menggunakan bahasa asing.
"Dia dapat tenaga dari mana?" Frea menghela napas kasar, melirik atasan sekaligus suaminya dari meja kerjanya.
Hingga seorang wanita cantik tiba-tiba masuk, memakai kemeja, dengan celana panjang sebagai bawahannya. Sepatu hak tinggi, menghiasi kaki putihnya yang jenjang.
Rambut panjang terurai dengan kulit putih, menggoda pria manapun untuk berusaha memilikinya.
"Pst...pst... Frea..." Keysha, mengganggu sahabatnya.
"Apa?" tanya Frea yang tengah konsentrasi mengerjakan tugasnya.
"Saingan cintamu datang..." jawab Keysha, melirik pada Karin.
Karin mengibaskan rambutnya, layaknya super model berjalan berlenggak-lenghok membawa dokumen.
Menunduk di hadapan Tomy yang tengah duduk, mungkin dengan sengaja memperlihatkan bentuk bagian atas tubuhnya yang indah dengan dua kancing kemeja yang terbuka. "Pak Tomy, laporannya sudah dikirim," ucapnya menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, menambah kesan keseksiannya.
Hati pria mana yang tidak berdebar, hampir semua pria di devisi marketing terpukau. Tidak terkecuali manager yang telah berusia paruh baya.
Namun, bukan itu sasaran Karin, targetnya adalah pria yang sama sekali belum menoleh padanya."Pak Tomy?" panggil Karin kembali.
"Letakkan saja..." ucap Tomy tanpa melirik sama sekali, masih konsentrasi pada pekerjaannya.
"Aku membuat sup daging sapi wagyu, itu bagus untuk penambah energi. Makan saat makan siang ya? Agar tetap hangat..." Karin tersenyum, meletakkan sebuah paper bag.
Bagus untuk penambah energi? Wanita ini dengan sengaja, atau tidak, dia ingin membunuhku... gumam Frea dalam hati dengan wajah pucat. Membayangkan malam melelahkan yang akan dilaluinya, mengingat stamina suaminya tanpa mengkonsumsi apapun.
Berbeda dengan pegawai lainnya, yang mulai berbisik-bisik, menggunjingkan kedekatan hubungan Tomy dan Karin. Pasangan yang nampak serasi dari sisi manapun.
"Terimakasih, taruh saja. Omong-omong ini..." Tomy menyerahkan sebuah flashdisk, "Buat laporan ringkasnya. Aku tunggu hingga jam tiga, bawa kemari tepat waktu..." kali ini Tomy tersenyum, memberikan beban pekerjaan yang sulit pada bawahannya.
"I...iya..." ucap Karin menahan kekesalannya, berharap mendapatkan perhatian, namun beban pekerjaannya malah semakin menumpuk.
Wanita cantik dengan tubuh bak super model itu berjalan keluar dengan anggunnya, tidak menurunkan karismanya sama sekali.
Sama dengan pemuda yang duduk dengan tenang mengerjakan tugasnya. Terlihat fokus, dan dingin, bagaikan sosoknya di rumah adalah tipikal suami yang menuntut semua serba perfeksionis.
***
Tapi apa benar Tomy adalah tipikal suami yang menuntut kesempurnaan dari istrinya.
"Makan ya?" ucapnya menyuapi Frea dengan dengan sup daging sapi wagyu dalam ruangan meeting karyawan yang kosong, saat waktu makan siang."Maaf, aku janji, nanti malam akan memijitmu. Tidur memelukmu, tanpa melakukan apapun," lanjutnya tersenyum, menatap wajah kelelahan istrinya.
"Aku bisa makan sendiri..." ucap Frea meraih sendok dari tangan suaminya, sejenak menghela napas kasar,"Karin cantik ya...?" ucapnya.
"Emm..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Tomy yang tengah mengunyah makan siang, bekal yang disiapkannya tadi pagi untuk makan bersama.
"Em?" Frea mengenyitkan keningnya, entah menunggu atau mengharapkan jawaban apa. Wanita memang sulit dimengerti bukan? Salah satu jawaban, maka, dapat dipastikan Frea akan mengemasi kopernya.
"Dia cantik dimata orang lain, tapi tidak denganku. Mataku hanya dapat melihat kecantikan kakak dari 17 tahun yang lalu, hingga sekarang..." jawaban tulus yang tepat sasaran, sukses membuat hati Frea lumer bagaikan karamel.
Menjawab tidak cantik? Maka akan dituduh berbohong. Menjawab cantik? Amukan yang akan didapatkan, mungkin pertengkaran yang akan berlarut-larut tanpa diketahui pangkalnya dimana.
"Tomy, aku..." kata-kata Frea terhenti, bibir Tomy membungkamnya dengan sebuah kecupan.
"Jangan merendahkan dirimu sendiri. Sudah aku bilang, kakak membuatku tergila-gila selama 17 tahun. Frea, aku mencintaimu..." Tomy melanjutkan ciumannya, menggerakkan bibirnya perlahan.
"Frea aku..." kata-kata Keysha yang masuk tanpa permisi terhenti, menatap ciuman panas dari pasangan suami istri."Aku tidak melihat apa-apa!!" ucapnya berteriak cepat menutup matanya.
Frea refleks melepaskan ciumannya, mendorong tubuh Tomy.
__ADS_1
"Jika masuk, jangan lupa ketuk pintu. Apa orang tuamu tidak mengajarimu etika...?" ucap Tomy layaknya atasan yang berwibawa.
"Maaf..." Keysha tertunduk.
Namun, tangan Frea memukul bahu suaminya,"Dia itu temanku!! Dia tidak sengaja!!" bentaknya.
"Baik, aku yang salah, jangan marah..." Tomy tersenyum, mencuri kesempatan mencium pipi Frea.
Apa dia benar-benar pak Tomy yang dingin? Orang yang sulit tersentuh? Frea benar-benar menaklukkannya... kagum Keysha dalam hati.
Tidak mengungkapkan identitas mereka sebagai pasangan suami istri? Frea yang menginginkannya, tidak ingin mendapatkan diskriminasi atau pegawai lain akan memperlakukannya berbeda. Hingga sekarang hanya Keysha yang mengetahui hubungan Frea dengan Tomy.
***
Hingga sore menjelang, beberapa pekerjaan dikirimkan melalui e-mail, pemuda itu terpaksa harus bekerja lembur. Kembali memindahkan laptopnya ke dalam ruangannya di lantai 8, mempermudah pekerjaannya yang harus memeriksa beberapa dokumen lama.
Frea mengemasi barang-barangnya, berjalan menuju parkiran. Karin juga berdiri disana, hendak masuk ke dalam mobil, sementara Frea tengah menunggu jemputan.
Frea tersenyum, sebuah pesan masuk dari suaminya. Berjalan kembali memasuki kantor.
Sedangkan Karin, menghela napas kasar, meninggalkan kunci mobilnya di atas meja kerjanya. Perlahan berjalan, sesekali melirik jam tangannya.
***
Frea berjalan mengendap-endap, memasuki ruangan besar dengan pintu coklat. Berjalan mendekati suaminya.
"Duduklah disini..." Tomy menepuk pahanya. Frea nampak ragu, namun jemari tangan itu menariknya. Membawa dirinya ke dalam pangkuan suaminya.
"Sedikit lagi selesai, jika tidak selesai kita makan malam disini..." ucapnya tersenyum, masih mengetik sesuatu di laptopnya.
Namun, apakah Tomy akan diam? Tidak, sesekali pemuda itu mencium aroma istrinya. Mengecup pipi dan leher Frea di tengah aktivitasnya.
"Hentikan..." Frea tertawa kecil, merasa geli dengan ulah suaminya.
Karin mengumpulkan keberaniannya, menatap dari celah pintu yang sedikit terbuka. Terlihat pemuda itu tersenyum, tertawa kecil, memangku seorang wanita. Wanita cantik dengan rambut yang panjang, sekilas wajah wanita itu terlihat. Salah satu pegawai di devisi marketing.
Air matanya mengalir, dengan tangis yang tertahan. Mencintai seorang pemuda dari hari pertamanya bertemu saat pembukaan kantor pusat JH Corporation. Pemuda dingin yang seolah menjaga jarak darinya. Dikabarkan menikah? Dirinya dikalahkan oleh wanita tidak dikenal.
Namun, mengetahui keretakan hubungan Tomy dengan Istrinya, seolah menjadi harapan baginya, perasaannya akan terbalaskan. Hanya menjadi selingkuhan hingga mereka berpisah? Tidaklah mengapa.
Tapi, mengetahui kenyataan dirinya kembali dikalahkan? Bahkan untuk menjadi selingkuhan Tomy memilih wanita lain, wanita yang bahkan tidak dapat menyaingi dirinya.
Karin melangkah mundur, berjalan pergi dengan langkah gontai. Tujuannya saat ini? Menghancurkan wanita yang mendekati pria yang dicintainya.
***
"Kenapa memintaku menunggu?" tanya Frea mengenyitkan keningnya.
"Besok, aku harus keluar kota. Pabrik tekstil mengalami sedikit masalah, tentang pegawai setempat yang hanya mendapatkan jabatan rendah..." jawab Tomy tersenyum membelai rambut Frea."Hanya dua, tidak satu hari! Aku berjanji akan menyelesaikannya dalam satu hari, aku akan merindukanmu,"
"Selesaikan pekerjaanmu dulu baru pulang..." ucap Frea tersenyum, mempelai pipi suaminya.
Suara pesan masuk di handphone Tomy. Pemuda itu, menghela napas kasar setelah membaca pesan yang masuk, "Besok akan ada seorang mahasiswa PKL datang, di devisi marketing. Namanya Zion, jika dia mengatakan hal aneh padamu, katakan padaku..." ucap Tomy protektif.
"Siap," Frea tertawa kecil menatap betapa manisnya wajah Tomy ketika cemburu.
Pekerjaan yang sedikit lagi rampung, makanan delivery yang belum datang. Mungkin karena terlalu lelah duduk dalam waktu yang lama. Tomy menarik Frea berbaring di sofa yang berukuran cukup besar dalam ruangannya. Memeluk tubuhnya erat.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya butuh energi..." Tomy memejamkan matanya, merasakan kenyamanan saat memeluk tubuh istrinya. Walau hanya sekedar memeluk tidak melakukan apapun.
Frea menonggakkan wajahnya,"Aku lapar..." ucapnya.
"Sabar, sebentar lagi makanan delivery akan sampai..." Tomy masih memejamkan matanya, mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Harta? Pelampiasan hasrat? Bukan itulah yang membuatnya bahagia, namun merasa memiliki sebuah kasih sayang di dunia yang dingin ini. Dunia yang dulunya ditapakinya dengan sandal jepit tipis, menemukan tangan hangat yang menyuapinya, tangan tulus. Tangan hangat yang kini sepenuhnya menjadi miliknya."Aku bahagia..." gumam Tomy dengan mata masih terpejam memeluk Frea erat di atas sebuah sofa yang cukup besar.
***
Siapa sebenarnya sosok Zion? Seorang pemuda rupawan berdiri menunduk memberi hormat di hadapan orang-orang divisi marketing. Sebelah telinganya ditindik menyempurnakan penampilannya.
Memiliki istri WNA (Warga Negara Asing) yang berprofesi sebagai seorang Chief Eksekutif Officer (CEO) perusahaan multinasional, saat ini istrinya tengah hamil. Bukankah seharusnya lebih baik mengikuti PKL di perusahaan istrinya? Tidak, Zion memiliki perjanjian pada pemilik JH Corporation dan Tomy, jika dirinya akan mengabdi pada JH Corporation.
"Namaku Zion, mohon bimbingannya..." ucapnya tersenyum, mengedipkan sebelah matanya pada Frea. Mengetahui sosok istri dari Tomy.
"Wah, ada pemandangan segar lagi, di devisi marketing!" Keysha berteriak, menatap sosok pemuda rupawan yang mungkin seumuran dengannya.
Zion melangkah, menuju meja kosong dekat dengan Frea."Perkenalkan, aku Zion..." ucapnya mengulurkan tangan.
Dia seperti play boy... Frea menghela napasnya, tidak membalas uluran tangan Zion.
Pemuda itu mulai duduk, berucap sedikit berbisik,"Apa milik Tomy berfungsi?" tanyanya penasaran.
Frea membulatkan matanya, mengenyitkan keningnya,"Milik Tomy...?"
Zion mulai kembali bergosip, mengingat manager marketing yang belum datang,"Benar milik Tomy, apa dia impoten?" tanyanya masih berbisik.
"Impoten?" Frea mengenyitkan keningnya, mengingat Tomy yang tidak pernah lelah menjamahnya.
Impoten? Jika orang seperti Tomy impoten, lalu orang normal seperti apa... Frea menggelengkan kepalanya, kembali menghela napas kasar, hendak menyalakan komputernya.
"Begini, dia tidak pernah menyentuh wanita. Terkadang aku meragukan kejantanannya. Bahkan, sempat mengira-ngira jika dia penyuka sesama jenis. Tapi tiba-tiba dia menikah, benar-benar sebuah kejutan..." ucap Zion mengoceh.
Drrttt...
Tiba-tiba stopkontak yang terhubung dengan komputer Frea mengeluarkan asap dan percikan listrik. Zion menarik jemari tangan Frea agar tidak tersengat.
Frea segera bangkit, lantai yang dipijaknya memang sedikit basah. Beruntung, dirinya mengangkat kaki sebelum aliran listrik menyengat kakinya.
"Cabut stopkontaknya!!," salah seorang pegawai berteriak, bersamaan dengan pegawai lainnya mencabut kabel yang mengaktifkan stopkontak menggunakan tissue kering yang tebal.
Ketakutan? Begitulah kondisi Frea saat ini. Hanya ini? Masih banyak hal ganjil yang terjadi, bagaikan akan mengancam nyawanya.
Hampir terserempet motor, saat turun dari mobil. Pot tanaman yang hampir menimpa kepalanya. Dan sekarang stopkontak? Apa ini sebuah kebetulan...
Senyuman menghilang dari wajah seorang wanita yang kebetulan lewat. Anggaplah sebuah kebetulan dirinya lewat saat ini. "Wanita tua jelek, tidak tau diri..." cibirnya dengan suara kecil, berjalan, kembali tersenyum menelusuri lorong.
...Cinta? Aku dapat memberikannya padamu, bahkan lebih besar dari yang dia berikan padamu. Cantik? Apa dia lebih cantik, kamu buta jika melihatnya lebih cantik. Pintar? Apa dia lebih pintar, tidak......
...Lalu kenapa kamu memilihnya? Apa karena dia terlalu agresif menggodamu, dapat menghangatkan tempat tidurmu? Jika begitu aku akan memberikan tubuhku sepenuhnya padamu......
...Semua karena aku mencintaimu......
Karin...
Bersambung
Pernahkah kalian mendengar dongeng snow white? Ratu jahat yang menghancurkan segalanya yang lebih cantik darinya...
Ketika sebuah bunga mawar mekar lebih cantik darinya. Pemilik kebun mawar akan dipenggal. Gadis yang terlahir lebih cantik darinya, harus mati...
Kejam? Bengis? Mungkin itulah yang kalian ingat dari sosoknya, yang selalu bertanya pada cermin siapakah yang tercantik di dunia...
Namun, mungkin kebohongan cermin lah yang membuatnya menjadi sosok yang arogan, penuh kebencian. Sang cermin memuji kecantikan sang ratu, kemudian mengatakan ada satu orang yang lebih cantik...
Andai sang cermin menjawab dengan cara yang berbeda 'Semua makhluk di dunia cantik, termasuk anda. Mereka cantik dari sisi yang berbeda, serta dicintai orang-orang yang berbeda,'
Sang ratu mungkin tidak akan berusaha membunuh putri salju. Hidup dengan lebih mencintai dirinya sendiri, dan menghargai orang yang mencintainya...
__ADS_1
Author...