Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Topeng


__ADS_3

Suasana terlihat ganjil, Tomy bagaikan dilindungi oleh kedua sepupunya, mereka duduk berhadapan dengan Mike dan Lia,


"Aku langsung saja bicara. Tolong yakinkan Adrian untuk mengembalikan status Mike..." ucap Lia to the points.


"Kamu siapa, ingin memberi perintah sepupuku!?" Mona mengenyitkan keningnya tidak terima.


"Mike walaupun bukan sepupu sedarah kalian. Tapi dia lahir dari rahimku saat bersetatus istri Adrian. Sedangkan, anak gagap terlahir dari wanita malam. Masuk kartu keluarga saja tidak pernah..." cibirnya mengeluarkan mulut berbisanya.


Kemarahan Mona benar-benar di ubun-ubun, logika dari mana, sepupu mereka adalah Mike, bukan Tomy. Kumat-kamit kekesalannya, mungkin jika teh belum disajikan, mereka akan disuguhkan racun paling mematikan.


"Kalian!! Tomy adalah sepupuku, walaupun namanya tidak ada dalam kartu keluarga paman Adrian..." bentak Gilang, lebih memilih berpihak pada Tomy yang lebih mudah didekati dibandingkan dengan Mike.


"Mau tidak mau, secara hukum Mike adalah bagian dari keluarga kalian, sedangkan Tomy hanya orang luar..." Lia tersenyum menatap sinis,"Sebaiknya, bujuk ayahmu, mengembalikan status Mike. Jika tidak, aku akan menyebarkan informasi tentang profesi ibumu sebelum menjadi selebriti..."


"Tomy tenang saja, aku akan bicara pada kakek untuk..." kata-kata Mona terhenti, sepupu polosnya mulai tertawa. Tawa yang terdengar janggal.


"Kakak sepupu tau alasan kenapa kakek memilihku?" ucapnya memutar rekaman perbuatan kedua orang pembunuh bayaran yang berusaha memuaskan Lia di tempat tidur di layar phonecellnya. Meletakkannya di atas meja.


"Ini..." Mona membulatkan matanya.


"Sialan!! Gagap br*ngsek!!" bentak Lia, melempar phoncell Tomy hingga hancur berkeping-keping. Kemudian menampar pemuda itu.


"Kesabaranku ada batasnya, kalian memasuki sarangku tanpa ijin..." Wajahnya memerah karena bekas tamparan. Menatap remeh pada Lia.


Kharismanya mulai keluar, rasanya tidak ada yang perlu disembunyikannya lagi.


Semua data karyawan Bold Company sudah dikantonginya, siapa saja pengkhianat dalam perusahaan, pegawai yang royal, atau penjilat sudah diketahuinya.


Sayapnya akan mulai dikepakan dari hari ini, menatap dua tikus di hadapannya.


Mike tersenyum padanya,"Tomy, ayah tidak menyayangimu dari kecil. Tidakkah kamu membencinya?"


"Membenci atau tidak, tidak ada hubungannya denganmu. Sebaiknya fikirkan saja, perusahaan ayah kandungmu yang hampir bangkrut..." cibir Tomy tertawa kecil, "Proyek pengembangan produk baru..." ucapnya.


"Jadi kamu pelakunya..." Mike mulai bangkit, memegang kerah kemeja Tomy. Pengembangan produk baru? Itu merupakan cara menyelamatkan perusahaan yang susah payah difikirkan Mike. Namun, dengan bodohnya Jimy (ayah kandung Mike) menjualnya pada perusahaan lain.

__ADS_1


Uang transaksi? Tidak pernah masuk ke kas perusahaan, digunakan untuk kesenangan Jimy sendiri.


Pembelinya? Siapa sangka mereka adalah orang-orang Tomy yang dikendalikannya dari rumah utama milik Suki.


Bermain game sepanjang hari? Tidak, pemuda itu berniat melebarkan sayap Bold Company. Sesuatu yang dipercayakan Suki.


Prang...


Kaca besar di dekat mereka pecah, bagaikan tembakan peringatan, dari salah satu penembak jitu yang mengetahui majikannya bagaikan diancam.


Lubang bekas peluru terlihat pada kaca walaupun suara letupan senjata tidak diketahui entah dari mana.


Suasana seketika hening, Gilang mengeluarkan keringat dingin. Tenyata Tomy memiliki kepribadian serupa dengan Leon. Sedangkan Mona terdiam masih mencerna situasi di hadapannya.


Tomy menepis tangan Mike, yang terlihat gemetar, melihat ke arah kaca yang berlubang, "Ini wilayahku, aku sudah menandainya. Mau tau berapa banyak pengawal yang bersembunyi di sekitar villa?" tanyanya, kembali duduk.


"Aku tidak peduli pada ayahku, karena ibuku tidak lagi tertarik padanya. Perusahaannya, akan jatuh ke tangan Irgi, saudara yang memiliki darah yang sama denganku. Pergi dari sini, jangan coba memprovokasiku," pemuda itu mulai tersenyum memuakan, penuh hinaan dan arogansi. Wajah yang selama ini disembunyikannya di balik kedok anak lugu yang baik.


"Akan aku ingat ini..." Mike menatap penuh kebencian, berjalan pergi diikuti Lia.


Di saat seperti ini mungkin dirinya bersyukur sudah menyelamatkan nyawa Frea. Jika tidak kepalanya akan dipenggal, atau setidaknya dilubangi peluru oleh penembak jitu yang entah bersembunyi dimana.


"Tomy, jangan macam-macam padaku. Jika tidak istrimu..." kata-kata ketakutan keluar dari mulut Gilang. Mengingat bekas kediaman Tomy yang hancur akibat kebakaran pastinya bernilai tinggi."Istrimu, masih hidup. Jika kamu macam-macam padaku, aku tidak akan mengatakan keberadaannya,"


Tomy menghela napas kasar, menyenderkan punggungnya di sofa, menatap langit-langit ruangan,"Dia sedang menyusui anak kami di lantai satu, kamar sebelah tangga..." ucapnya.


"Kamu tau?" Gilang mengenyitkan keningnya.


Tomy mengangguk, "Setiap malam aku tidur dengannya. Selama 17 tahun hanya memikirkan wajahnya, walaupun kamu membubuhkan oli atau semir sepatu ke wajahnya, aku akan tetap tau..." ucapnya.


"Tapi..." kata-kata Gilang terhenti.


"Terimakasih, karenamu dia hidup. Jika dia tidak selamat, aku sempat memutuskan akan membunuhmu dan Leon. Lalu menyusul mereka..." ucapnya tersenyum pada Gilang, menepuk pundaknya.


"Tomy, jadi..." Mona mengenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Maaf, kakek ingin aku menyadarkanmu. Tentang pacarmu, itu adalah ulahku. Menukar botol racun juga sebuah kesengajaan..." Tomy tersenyum, mulai bangkit."Tidak perlu memberiku perangkat game. Mulai lusa aku akan ke kantor, ini liburan terakhirku..."


Pemuda itu merenggangkan otot-ototnya, kedua sepupunya masih mematung di tempat tidak mengerti dengan perubahan Tomy yang terlalu drastis.


***


Tomy tersenyum tidak mempedulikan apapun, melangkah menuju kamar Frea. Membukanya tanpa permisi, tubuh indah itu terlihat. Hanya berbalutkan daster tipis, mungkin dipergunakannya, untuk mempermudah menyusui putranya.


Brag...


Pintu ditutupnya, dikunci dari dalam, dress tipis disingkapnya. Memulai kegiatan anehnya.


"Emmgghhh..." lenguhan keluar dari mulut Frea yang masih tertidur memejamkan mata, merasakan bibir seseorang menjalar di sekujur tubuhnya.


Matanya perlahan terbuka, wajah rupawan itu terlihat menjamah tubuhnya. "Tomy?" Frea mencoba mendorong tubuh suaminya.


"Kenapa mencoba membohongiku?" tanyanya, menatap mata istrinya.


"Aku takut aku dan putra kita," kata-kata Frea terhenti, Tomy membungkam bibirnya dengan ciuman singkat


"Aku akan menjaga kalian. Kamu tidak percaya padaku?" tanyanya, mulai berbaring di samping tubuh Frea diatas tempat tidur kapuk yang tidak begitu besar. Memeluknya erat, merasakan aroma tubuh yang dirindukannya.


"Bukan begitu, putra kita..." kata-kata terhenti. Menatap suaminya yang memeluknya semakin erat, mulai menitikkan air matanya.


"Kalian masih hidup..." lirihnya.


"Setiap hari, aku hanya terfikirkan untuk menyusul kalian, apa kamu tidak merindukanku?" tanyanya, pada wanita dalam dekapannya.


Frea mengangguk, menatap mata suaminya,"Aku merindukanmu..." mata pasangan itu mulai terpejam, memangut bibir menikmati setiap sentuhan, yang mereka rindukan.


Tangan Frea menyusup dalam kaos yang dipakai suaminya. Menyentuh tubuh itu mengantarkan pada napsu yang lebih dalam. Hingga Tomy menanggalkan kaos katun putih yang dipakainya sendiri.


"Aku ingin, apa sudah boleh?" napas Tomy terengah-engah, mengingat istrinya yang baru hampir dua bulan melahirkan putra mereka.


Frea menggigit bibir bagian bawahnya sendiri, menatap tubuh suaminya yang sudah lama tidak dilihatnya, tubuh yang terlihat menggoda. Dengan rasa canggung dan malu mengangguk.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2