
Seorang pemuda menghela napas kasar, setelah berhasil berdiskusi dengan perwakilan warga setempat. Tubuhnya menyender, pada sebuah kursi putar.
"Aku sudah gila, baru lima jam tidak bertemu, aku sudah merindukannya..." gumamnya tersenyum-senyum sendiri. Cinta yang hanya sebatas logika, itulah yang dulu ada dalam fikirannya. Namun, setelah menemukan Frea kembali, perasaan hangat yang membuatnya gila mematikan semua logikanya.
Tomy menghela napas kasar, mengirim pesan pada istrinya, disela waktu makan siang.
'Aku merindukanmu...'
Begitulah mungkin isi pesan yang dikirimnya.
***
Sedangkan di tempat lain, Zion yang makan siang di cafetaria bersama Keysha dan Frea mengenyitkan keningnya, menatap handphone Frea yang berbunyi. Sedangkan sang pemilik handphone tengah ke toilet diikuti Keysha, mengeluh perutnya sakit.
"Tomy?" gumam Zion tersenyum, menyadari handphone Frea yang tidak terkunci.
Jemari tangannya cekatan mengirimkan pesan balasan pada pemuda itu.
'Aku juga, ingin merebahkanmu di tempat tidur. Aku mencintaimu... wajahmu, bagaikan sinar matahari, bibirmu manis bagaikan madu, kulit halusmu aku ingin menyentuhnya,'
Ingin rasanya Zion muntah, mengetikan pesan yang begitu memalukan.
Tomy yang menerima pesan, tersenyum bahagia, membaca pesan itu berulang kali. Tertawa kecil seorang diri bagaikan orang tidak waras.
Jemari tangannya kembali membalas, dengan nama nomor penerima 'istriku'
'Kamu salah, senyumanmu lah yang seindah sinar rembulan. Matamu indah bagaikan lautan yang dapat menenggelamkanku dalam kebahagiaan. Aku juga mencintaimu...'
Tomy menekan tombol kirim, bagaikan tidak sabaran menunggu balasan.
Sedangkan Zion meminum orange juice, sembari mengutak-atik handphone Frea, membaca balasan dari Tomy.
Prth....
Orange juice menyembur dari mulutnya, sedikit memasuki hidungnya. Zion terbatuk-batuk membaca balasan dari Tomy. "Gila!! Pujangga yang pandai merangkai kata..." Zion tertawa kencang, sembari meraih tissue membersihkan mulut dan pakaiannya.
Senyuman menyungging di wajah rupawannya, kembali mengetikan pesan dari handphone milik Frea.
'Sayang, setiap malam saat kepergianmu, aku akan merindukanmu. Menginginkanmu menyentuh tubuhku, aku tidak akan dapat bertahan satu malampun tanpamu...'
Zion kembali mengirim pesannya pada petapa gunung yang dahulu tidak tersentuh.
Sementara Tomy tengah berbaring di sofa, ruang kerja pengelola gudang. Dengan hati yang berdebar-debar menunggu balasan pesan layaknya anak SMU yang baru pertama kali jatuh cinta.
Satu pesan masuk, dengan tidak sabaran dibacanya. Senyuman menyungging di wajahnya, berguling-guling di sofa sempit hingga terjatuh. Tertawa sendiri, kembali membalas pesan.
__ADS_1
'Aku juga, aku akan segera pulang. Tunggu aku!! Aku akan menghangatkanmu dengan tubuhku,'
Tomy mengirimkan balasannya, namun sejenak kemudian mengenyitkan keningnya. Ingin mendengar suara kerinduan istrinya. Jemari tangannya menghubungi nomor Frea.
Zion yang tersenyum-senyum sendiri membaca pesan dari Tomy. Namun, tiba-tiba Tomy menghubungi nomor Frea. Pemuda itu panik setengah mati, mematikan panggilan dengan cepat.
Satu kali, handphone itu berbunyi, kali kedua handphone itu berbunyi, hingga kali ketiga. Zion memberanikan dirinya mengangkat, mengakui kejahatannya.
"Halo, Tomy, bagaimana rasanya melepaskan keperjakaanmu!?" ucapnya berbicara cepat.
Tomy mengenyitkan keningnya, mengetahui suara orang yang mengangkat panggilannya. "Zion? Dimana Frea?" tanyanya.
"Di toilet, belum kembali dari tadi. Tapi senyumanku memang seperti sinar rembulan," ucap Zion tertawa memegangi perutnya.
"Jadi kamu yang membalasnya?" Tomy menghela napas kasar, memendam kekesalannya.
"Iya, kamu seperti seorang Romeo yang pandai berkata-kata manis," Zion terkekeh.
"Boleh aku menggunakan kemampuanku untuk, menggoda istrimu!?" Tomy terdengar kesal.
"Jangan!! Aku hanya bercanda. Omong-omong segeralah kembali, kamu hampir menjadi duda," ucap Zion sembari meminum orange juicenya.
"Duda?" tanya Tomy dari seberang sana tidak mengerti.
"Apa Frea terluka? Setelah kembali aku akan menegur bagian engineering (pemeliharaan gedung)!!" suaranya terdengar cemas.
"Tidak, hanya seperti sedikit syok saja..." Zion menghela napas kasar,"Segeralah kembali," lanjutnya.
"Setelah ini tinggal mengatur beberapa karyawan. Aku mungkin akan kembali besok, pagi-pagi sekali. Jika ada hal yang terjadi pada Frea, tolong hubungi aku..." ucap Tomy, mematikan panggilannya, mengingat banyaknya hal yang harus dikerjakannya, agar dapat pulang lebih awal.
Zion menghapus pesan memalukan yang dikirimkannya. Duduk meminum orange juicenya, menatap piringnya yang telah tandas.
Hingga akhirnya Frea datang, terlihat murung. Duduk dengan ekspresi yang tidak dimengerti. Beberapa orang berbisik-bisik menggunjingkan dirinya. Entah siapa yang menyebar isu, Frea memiliki pekerjaan sampingan menjual diri.
Mobil mewah yang sering menjemputnya, menjadi bukti cibiran mereka. Menjelaskanpun sepertinya percuma, hanya pembullyan melalui kata-kata dan cibiran dari orang-orang devisi lain yang bahkan tidak dikenalnya.
Tidak ada yang menyadari seorang wanita menatap dari lantai dua, menatap wajah wanita yang paling memuakan baginya. Tepatnya ke arah Frea yang dianggapnya murahan, mungkin dengan segala keberanian Frea melepaskan busana, merangkak ke atas ranjang Tomy. Menggoda pria dingin yang tengah bermasalah dengan istrinya itu, menyentuh tubuh Tomy untuk menghangatkan ranjangnya.
Selingkuhan? Status yang diincar Karin, sebelum bersatu sepenuhnya dengan pemuda yang dicintainya satu tahun terakhir, menanti perpisahan Tomy dengan istri yang tidak diketahui rupanya. Rencana yang benar-benar hancur, karena kehadiran Frea.
Jemari tangan Karin mengepal, menahan tangisannya. Menginginkan memiliki Tomy sepenuhnya, hanya untuk dirinya. Obsesi? Mungkin, dengan gembiranya mengatakan dirinya jatuh cinta pada sang ayah. Memutuskan akan menjadi istri seorang Tomy dari pertama kali bertemu dengannya. Pemuda yang membuat hatinya berdebar cepat.
Iri, begitulah perasaannya saat melihat Tomy tersenyum bukan untuknya. Memangku seorang wanita, tertawa bersamanya. Dadanya terasa sesak, menginginkan dirinya yang berada di posisi Frea, mendapatkan kasih sayang pemuda yang terlihat memiliki hati dingin.
***
__ADS_1
Frea menghubungi supir rumah agar tidak menjemputnya. Tidak ingin menimbulkan prasangka lagi. Malam yang dingin ditengah guyuran hujan, wanita itu menonggakkan kepalanya. Memikirkan apa yang sedang dilakukan suaminya.
Hingga, sebuah mobil berhenti di hadapannya, "Maaf, nona Frea? Tuan Tomy ingin kami menjemput anda. Mengantar anda ke tempat beliau saat ini," ucap seorang pria paruh baya sopan.
Frea menghela napas kasar, memasuki mobil tanpa ragu sedikitpun. Hujan semakin deras saja, mobil masih melaju keluar dari pusat kota.
Hingga pada akhirnya terhenti di sebuah area hotel yang cukup mewah.
"Mari, ikut saya..." ucap sang supir, membukakan pintu untuk Frea.
Area loby yang luas dilaluinya, menaiki lift hingga berjalan menembus beberapa lorong. Ruangan kamar VVIP di hotel tersebut terlihat, pintu mulai dibuka sang supir.
Seorang pria paruh baya duduk disana, meminum secangkir teh hangat. Beserta beberapa bodyguard.
"Masuk!!" supir yang tadinya ramah, membentak Frea, mendorongnya memasuki kamar. Pintu kamar tertutup rapat, dengan penjagaan ketat.
"Namamu Frea? Duduklah..." sang pria paruh baya mempersilahkan.
Frea berjalan dengan ragu, duduk tanpa membantah, mengingat senjata api yang berada di pinggang dua orang bodyguard di belakang sang pria paruh baya. Senjata yang dapat membunuh orang yang pandai beladiri sekalipun.
Suara petir menggelegar dari luar, menyambar sebuah pohon yang berdiri kokoh. Tidak terlihat keterkejutan sama sekali dari dua orang yang saling duduk berhadapan.
"Aku hanya memiliki seorang putri, ibunya meninggal saat melahirkannya," sang pria menghela napas kasar. "Semua keinginannya, aku ingin memenuhinya. Tapi dia terlalu mandiri, lulus dengan nilai terbaik, mendapatkan pekerjaan dengan jabatan tinggi tanpa bantuanku. Dia tidak memerlukan apapun, tapi saat dia tersenyum mengatakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Itulah saat paling bahagia baginya,"
"Kebahagiaan yang hanya berjalan sementara," lanjutnya.
"Maaf..." sang pria paruh baya sedikit menunduk, menghela napas kasar.
Dua orang bodyguard lainnya, membuka kamera, menyalakannya ke arah tempat tidur. Bersamaan dengan seorang pria tidak dikenal, berwajah rupawan, mulai membuka jasnya.
"Apa yang kalian inginkan?" Frea mengenyitkan keningnya, jemari tangannya gemetar, merogoh phonecellnya yang berada di tas. Berharap dapat menghubungi seseorang.
Bodyguard yang menyadari pergerakan Frea, merebut tasnya.
Sang pria menyodorkan cek dengan nominal fantastis yang tertulis,"Pejamkan matamu, tidurlah dengan pria yang aku sewa. Tolong buat pria yang dicintai putriku jijik dan meninggalkanmu," ucapnya.
Kamera yang terpasang? Tentunya untuk membuat video yang nantinya akan dikirimkan pada Tomy.
Wajah Frea pucat pasi, mulai berdiri, hendak berjalan keluar. Namun sang pria paruh baya memberi interupsi. "Pegangi dia, jika melawan!! buat tidak sadarkan diri..." perintahnya, berjalan berlalu meninggalkan ruangan, bersama dua orang bodyguard di belakangnya.
Langkahnya terhenti sebelum pintu tertutup,"Maaf... tapi setelah ini carilah pria lain..." ucapnya iba, hingga pintu berakhir tertutup sempurna.
Hujan di luar semakin deras, beberapa kali suara petir masih terdengar.
Bersambung
__ADS_1