Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Gay?


__ADS_3

...Apa ini fatamorgana? Atau aku pada akhirnya tidak dapat membalas rasa sakitmu? Hingga, menutup mataku terakhir kalinya. Menemuimu yang sudah berada di sana dalam dekapan-Nya....


...Aku lebih menyukai kemungkinan kedua, aku ingin segera menemuimu, melepas semua beban dan rasa sakit ini......


...Bermain bersama putra kita, di tempat yang lebih terang dan nyaman...Aku terlalu merindukanmu......


Tomy...


Suara mobil terdengar, mengetahui kedatangan suaminya? Tentu saja Frea mengetahuinya dari pesan yang dikirimkan Gilang. Tirai sedikit dibukanya, wajah ceria yang tersenyum tulus padanya tidak terlihat lagi. Tubuh suaminya terlihat sedikit lebih kurus, wajah yang lemah pucat pasi.


Merindukannya, ingin memeluknya lagi, menunjukkan buah hati kecil mereka. Anak yang mereka nantikan kehadirannya. Namun, rasa trauma saat berhadapan dengan orang tua wanita yang menyukai suaminya, atau saat dirinya hampir mati dalam kebakaran masih diingatnya.


Jemari tangannya mengepal erat, air matanya mengalir dengan tangisan tertahan. Melindungi putranya adalah prioritasnya saat ini, tidak ingin hal serupa atau lebih buruk lagi terjadi.


Frea membuka sedikit pintu kamarnya yang terletak di lantai satu. Pemuda itu melangkah menuju lantai dua, tidak terlihat sedikitpun kebahagiaan dalam guratan wajahnya.


Berjalan tanpa ekspresi, bagaikan menyerah dengan hidupnya.


"Nona..." seorang pelayan bagaikan memperingatkannya agar Frea tidak menemuinya, seperti perintah Gilang.


Frea mengangguk tanda mengerti, kembali menutup kamarnya. Duduk lantai menyenderkan punggungnya di balik pintu, menatap dari jauh wajah tenang putranya yang tengah tertidur dalam baby box.


"Kira, apa kamu juga merindukannya?" tanyanya pada sang anak, air matanya mengalir melalui pipi hingga bermuara pada dagunya.


Frea memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Ingin menemui dan memeluknya, sekali saja, melepaskan kerinduannya yang tertahan.


Rasa kasih itu masih ada mengakar dalam hatinya. Wajah tulus suami yang mencintainya, wajah tengik pria yang selalu menggengam jemari tangannya."Bocah, aku merindukanmu ..." umpatnya sembari tersenyum, membiarkan air matanya yang masih tidak dapat dikendalikannya.


Beberapa belas menit telah berlalu, wanita itu mengecup kening putranya yang tengah tertidur.


Dengan ragu melangkah perlahan menapaki tangga menuju lantai dua.


"Nona..." sang pelayan mencoba menghentikannya.


"Aku hanya ingin melihatnya sekilas. Tidak akan ketahuan. Tolong jaga Kira, jika dia terbangun, panggil aku ..." pintanya.


Sang pelayan menghela napas kasar, tidak mengetahui benar, hubungan antara saudaranya sepupu majikannya dengan wanita yang terlihat bagaikan hamil tanpa suami. Bahkan saat melahirkan, suami wanita itu tidak muncul sama sekali.


Namun, sang pelayan hanya dapat menurut, turun menuju lantai satu, mengawasi bayi mungil yang tengah tertidur.


***

__ADS_1


Wanita itu menghela napas kasar, jantungnya terasa berdebar cepat. Ingin menatap wajah pria yang hampir tiga bulan ini dirindukannya. Sedikit pintu dibukanya, hanya sekedar mengintip.


Wajah rupawan itu pucat pasi, tertidur tanpa melepaskan sepatunya. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipisnya. Frea memberanikan dirinya mendekat, seiring rasa hangat yang menjalar di hatinya.


Jemari tangannya terangkat ragu, menyentuh tangan hangat yang lebih besar dari tangannya. Tangan yang bagaikan selalu berusaha membahagiakan dan melindunginya.


"Panas?" Frea mengenyitkan keningnya, bangkit berjalan menuju lantai satu, mengambil plaster kompres demam untuk bayi. Sesuatu yang disiapkannya untuk Kira, jika sewaktu-waktu putranya demam.


Menempelkan asal, sedikit tertindih dua buah sekaligus, mengingat perbedaan ukuran plaster kompres demam untuk bayi dan orang dewasa.


Wajah rupawan itu tidak tertidur dengan tenang, terlihat kegelisahan dalam dirinya. Dengan ragu Frea menyentuh pipinya, "Masih panas..." gumamnya,"Kenapa kamu bertambah kurus..."


Tanpa diduganya, mata itu sedikit terbuka air mata diteteskan sang pemuda tanpa henti. Menganggap saat ini dirinya menemui fatamorgana almarhum istrinya.


"Frea..." suara lemah terdengar. Frea hanya tersenyum lembut, mencium pipi Tomy sekilas.


Tangan kokoh itu terangkat menahan tengkuknya, mencium bibir wanita yang dirindukannya. Benar-benar merindukannya, entah ini fatamorgana atau apapun, dirinya tidak peduli.


Hingga akhirnya tangan Tomy yang menahan tengkuk istrinya lemas, matanya kembali tertutup kehilangan tenaga sepenuhnya. Kembali memejamkan matanya dalam tangisan air mata yang belum mengering. Wajahnya yang tertidur nampak lebih damai saat ini, dibandingkan dengan sebelumnya.


"Maaf, cepatlah sembuh..." pinta Frea, menyentuh pucuk kepala suaminya, membelainya perlahan. Tersirat banyak kerinduan dalam hatinya. Perasaan berdebar nyaman yang benar-benar dirindukannya dari bocah berakal picik. Bocah yang telah tumbuh dewasa, membuat dirinya jatuh cinta sepenuhnya. Menyerahkan seluruh hati dan tubuhnya.


***


"Frea ..." ucapnya bangkit, memeluk tubuh itu erat.


"Tomy!! Lepas!! Ini menjijikkan!!" Gilang mendorong tubuh sepupunya.


Kepalanya masih sakit, namun memang terasa berbeda dada bidang seorang pria. Bukan rasa lembut kenyal yang aneh saat memeluk Frea.


Tomy segera melepaskan pelukannya,"Kenapa kamu bisa disini?" tanyanya dengan nada lemah, memegangi kepalanya.


"Aku kemari ingin melihat keadaanmu. Pelayan mengatakan kamu tidak keluar kamar dari siang..." Gilang menghela napas kasar.


Plak...


Plaster pereda demam untuk bayi terlepas dari dahi Tomy. Terjatuh di atas selimut, "Apa kamu yang memasangnya?" tangan Tomy gemetaran mengingat sesuatu.


Gilang menggeleng, namun kemudian segera mengangguk, tidak ingin keberadaan Frea diketahui."Aku yang memasangnya..."


Tomy segera melangkah ke toilet, "Ueeek..." suaranya terdengar. Mengingat dirinya menikmati bibir seseorang yang menempelkan plaster, orang yang berwajah bagaikan Frea. Namun, ternyata Gilang? Dirinya berpangut mesra dengan Gilang? Ini sebuah kegilaan yang tidak dapat diterimanya.

__ADS_1


"Tomy, kamu tidak apa-apa...?" tanya Gilang pada sepupunya.


"Jangan katakan pada siapapun, kalau aku menciummu!!" bentaknya dengan nada lemah, masih membasuh mulutnya. Menikmati bibir Gilang? Benar-benar gila!! Walaupun ciuman itu terasa nyata bagaikan bibir Frea yang menyapu seluruh rongga mulutnya. Lidah yang saling membelit menjelajah pelan. Tenyata itu adalah Gilang!?


Tomy membasuh wajahnya,"Gilang kamu bukan gay kan?" tanyanya, menatap curiga.


"Gay?" Gilang mengenyitkan keningnya.


"Iya!! Kamu membalas ciumanku. Aku kira kamu Frea!!" bentaknya kembali, mundur selangkah, bagaikan takut dilecehkan oleh Gilang.


Frea!! Wanita sialan!! Kenapa kalian berciuman? Aku disangka gay kan... kesal Gilang berusaha tersenyum.


"Kamu menyangka aku Frea, mungkin berciuman juga mimpi, panasmu terlalu tinggi. Tadi sempat aku chek masih 39 derajat," ucapnya, memberi alasan.


"Mungkin hanya fatamorganaku saja ..." ucap Tomy berusaha tersenyum. Masih menginginkan bertemu dengan istrinya, memeluk, memanjakannya, menatap senyumannya yang hangat.


***


Hati Frea berdebar cepat, tersenyum menatap wajah putranya. Bayi mungil yang tengah disusuinya.


"Ibu merindukan ayahmu. Dia terlihat lebih kurus sekarang. Apa dia masih mengingat kita...?" tanyanya pada putranya.


***


Di tempat lain, cantik? Tubuh yang indah? Tidak ada yang kurang dari penampilannya. Benar-benar fisik yang terlihat sempurna. Lekuk tubuh yang membuat pria manapun tidak dapat berpaling. Memasuki sebuah kamar hotel, tempatnya berjanji temu dengan calon ayah mertuanya. Sekaligus mantan Sugar Daddy-nya.


Sugar Daddy? Istri Leon meninggal saat Gilang berusia tiga tahun. Tidak ingin menikah lagi, lebih memilih memiliki wanita simpanan. Namun, siapa sangka putranya Gilang tiba-tiba mengenalkan wanita itu sebagai kekasihnya pada sang ayah.


Tidak ingin melukai hati putra tunggalnya. Leon tidak membeberkan betapa br*ngseknya wanita yang dianggap bidadari oleh putranya. Memutuskan hubungannya dengan Keyla (nama kekasih Gilang).


Wanita yang mengencani sang ayah, kemudian menjerat sang anak. Wanita picik yang ingin disingkirkan Leon. Cinta buta dalam hati Gilang telah mengakar, hingga memberinya semua fasilitas, termasuk pengawal pribadi, membuat Leon kesulitan bertindak.


Krieeet...


Pintu kamar hotel terbuka, tubuh menggoda itu mendekat, memeluk tubuh Leon yang tengah meminum anggur dari belakang.


"Daddy... maksudku paman, ayah mertua..." ucapnya.


Leon sudah jenuh dengan wanita picik yang menjerat putranya, pemuda berhati lunak, putra tunggal yang disayanginya. Memberikan Keyla untuk menaiki ranjang Tomy, mungkin lebih baik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2