
Suara mobil polisi dan ambulance terdengar silih berganti. Gilang terpaku dalam diam berdiri di belakang garis polisi menatap tubuh Simon dipindahkan dalam kantung jenazah.
Simon? Dulu Gilang pernah menjabat sebagai salah satu staf divisi keuangan. Saat baru menginjakan kaki di Bold Company. Tentunya atas perintah sang ayah, yang menginginkan putranya belajar dari bawah, serta mengambil berbagai bidang.
Gilang tidak begitu dekat dengannya, namun satu hal yang pasti 4 tahun yang lalu Simon merupakan staf senior yang jujur, ramah, menjadi panutan staf lainnya. Tidak heran seorang Simon dapat menjabat sebagai supervisor sebelum akhirnya tertangkap melakukan penyelewengan dana.
Membunuh? Apa yang sebenarnya membuat hidup pria sepertinya hancur? Mungkin kata-kata Leon saat penangkapan Simon benar adanya, Simon hanyalah boneka dari para atasan yang pada akhirnya mati di tangannya.
Gilang yang naif? Tidak, dirinya semakin mengerti dengan bagaimana jalannya dunia.
Tubuh itu remuk, perlahan resleting kantung jenazah ditutup.
Leon menghilang karena ingin Gilang menjadi lebih dewasa, cukup mengetahui bagaimana jalannya hidup jika sang ayah tidak ada nanti. Namun, pemuda itu hanya mematung di tempat.
Imajinasi gila sekarang ada dalam fikirannya. Bagaimana jika dirinya berada di posisi Simon, Keyla meninggalkannya setelah memberikan segalanya. Sedangkan ayahnya sudah tidak ada.
Tidak, Gilang tidak akan membunuh Keyla, namun hanya akan terlalu jijik mendekatinya. Tapi kenapa? Bukankah Simon mengatakan mereka sama saja? Hal yang tidak dimengerti olehnya, apa perbedaan dirinya dan Simon.
Jemari tangannya mengepal, meraih phonecell di sakunya. Mencoba menghubungi Frans menanyakan keberadaan kakaknya. Namun, panggilan dimatikan.
Hingga matanya tidak sengaja menatap catatan panggilan, dengan nama pemanggil Amel. Nomor tersebut dihubunginya mengingat pembicaraan mereka yang sempat terputus. Seperti sebelumnya, nomor tersebut kembali tidak aktif.
"Telfon siapa?" Tomy menepuk bahunya.
"Frans, aku ingin tau keadaan Kenzo. Satu lagi temanku Amel, tadi telfonku diputuskan sepihak. Nomor keduanya sulit untuk dihubungi," ucapnya masih konsentrasi pada smartphonenya.
"Mungkin Kenzo sedang mengadakan acara pernikahannya dengan sahabatmu. Sedangkan Frans menjadi pendamping pengantinnya..." ucap Tomy tersenyum dengan imajinasi liarnya.
Gilang menatap tajam,"Imposter..." cibirnya penuh kekesalan.
"Aku cenayang... peramal berbakat dari sebelum dilahirkan," senyuman menyungging di wajah Tomy.
"Tomy, bisa bantu aku mencari keberadaan Kenzo?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf, tidak bisa... Kamu mungkin tidak tau, Kenzo adalah pemilik W&G Company. Frans adalah orang kepercayaan untuk membalas dendam pada keluarga kalian. Sedangkan orang mati yang ada disana," Tomy mengalihkan pandangannya pada Simon.
"Kenzo yang membebaskannya dari penjara, mendanai untuk membalas dendam. Kenzo awalnya, hanya menginginkan kematian Ayah dan pamanmu, untuk menebus dosa kakek yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya,"
"Tapi niatnya terhenti karena tidak ingin melukaimu. Sayangnya sudah terlambat, Simon melarikan diri, membawa uang yang dikirimkan Kenzo sebelumnya. Kakakmu baru mengetahui kamu adalah sasaran terakhirnya. Mungkin karena itu dia mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanmu..."
"Orang aneh yang bodoh..." lanjut Tomy menghela napas kasar, menatap ambulance yang membawa jenazah telah tertutup sempurna.
Gilang terdiam sejenak, mencerna semua yang terjadi. Menyalahkan Kenzo? Tidak, orang tua kandung pemuda itu mati karena keluarganya. Mungkin rasa kasih dan pengorbanan sang kakak membuatnya berhenti memikirkan penyebab ayahnya yang hampir terbunuh.
"Aku ingin menemuinya, bisa membantuku?" tanyanya kembali.
Tomy menggeleng-gelengkan kepalanya,"Jaringan W&G Company di negara ini tidak begitu kuat. Tapi, di luar negeri tidak dapat dianggap ringan. Jika Frans mulai merekrut jaringan disini, akan sulit melacak keberadaannya,"
"Tenang saja, dan ikhlaskan, mungkin Kenzo sedang menikahi sahabatmu..." gurau Tomy tertawa kencang.
Tapi tidak sama dengan wajah Gilang pemuda itu nampak suram. Membayangkan imajinasi Tomy benar-benar terjadi. Sejenak kemudian, kembali menghela napasnya berusaha bersabar, "Simon dia..." kata-kata Gilang terpotong.
"Jadi yang dikatakannya adalah kenyataan?" Gilang mengepalkan tangannya, masih ragu dengan keputusan yang akan diambilnya.
"Dia mengatakan sesuatu padamu sebelum jatuh?" Tomy mengenyitkan keningnya, sedikit membungkuk, hendak memasuki garis polisi.
"Dia menceritakan tentang hidupnya, dia..." kata-kata Gilang kembali terpotong.
"Dunia lebih kejam dari yang kamu bayangkan. Sangat sulit di dunia ini menemukan orang tulus. Tapi aku lebih beruntung, dapat menemukan Frea..." ucapnya mulai berjalan beberapa langkah meninggalkan Gilang.
Hingga tiba-tiba pemuda itu memanggilnya, menghentikan langkah Tomy,"Tomy, bisa bantu aku membuktikan ketulusan Keyla?" tanyanya.
Tomy membalikkan badannya, mengenyitkan keningnya.
***
Permintaan yang tidak dapat ditolak olehnya mengingat tangan Gilang-lah yang menyelamatkan istrinya. Frea tengah sensitif, sering cemburu tidak jelas. Hingga dirinya dengan teramat sangat terpaksa, memanggil Firaun.
__ADS_1
Dengan bayaran uang? Tidak, dengan imbalan membantunya lembur, tiga bulan lebih. Sungguh konyol memang, pagi hingga sore Tomy menjadi komisaris. Sedangkan pada malam hari kembali menjadi asisten.
***
Menggoda? Itulah kelebihan Farel, pemuda itu membuat wanita menginginkannya, namun tidak pernah dapat menyentuhnya. Hal yang dilakukannya? Tidak ada, hanya berjalan di mall menunjukkan dirinya.
Tentunya dengan pakaian bermerek terkenal, earphone melekat di telinganya. Hanya makan dan duduk seorang diri di dekat meja Keyla.
Dan benar saja, tidak perlu susah-susah, lebah akan mencium madu menyengat dari bunga yang mekar.
Wanita cantik nan menggoda kini berdiri di hadapan Farel, yang tengah makan dengan tenang.
"Apa kamu sendirian? Boleh aku bergabung?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Farel.
Senyuman nampak di wajah sang pemuda rupawan, dengan tubuh dari atas sampai bawah berbalut barang branded,"Kamu cantik..." pujinya.
Keyla mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, akhirnya dirinya menemukan pemuda yang terlihat lebih menggoda dari pada Gilang. Terlihat dari keluarga kaya, dan lebih bersifat dewasa.
"Terimakasih..." ucapnya tersipu,"Perkenalkan, aku Keyla..."
"Namaku Farel," Farel hanya tersenyum, kembali meminum minuman dingin di hadapannya.
"Farel? Pantas saja aku seperti pernah melihatmu. Kamu pemilik JH Corporation kan?" tanyanya yang memang sering melihat majalah bisnis, mengincar pengusaha muda.
Farel mengangguk, "Apa kamu seorang model? Bahkan kamu lebih cantik daripada istriku," senyuman secercah matahari menyungging di wajah rupawannya.
Sementara Tomy yang mendengar dari alat penyadap lantai tiga mall hanya dapat menipiskan bibir menahan tawanya.
"Jika aku kirimkan ini ke Jeny (istri Farel). Mungkin Jeny akan kabur membawa kedua anaknya..." tawanya akhirnya pecah, hingga terbatuk-batuk.
Sedang Gilang, pemuda itu hanya terdiam, menatap ke arah lantai dua mall tempat Farel dan Keyla berada. Seharusnya dirinya marah bukan? Tidak, rasanya hambar. Mungkin dirinya baru menyadari kebahagiaannya mulai menghilang setelah kepergian Amel.
Bersambung.
__ADS_1