
Frea menghela napas kasar, turun dari mobil yang mengantarnya. Menemui ibunya untuk pertama kali, setelah menyembunyikan diri selama berbulan-bulan.
Membawa pengawal? Tentunya iya, suaminya yang protektif akan mengamuk jika dirinya keluar tanpa penjagaan. Kira masih tertidur dalam kereta dorong bayi yang dibawanya, berjalan mendekati rumah besar milik ayah tirinya.
"Tolong, ini rumahku, kalian jangan ikut masuk..." ucapnya pada dua orang pengawal yang mengikutinya.
"Tapi tuan ingin kami mengikuti nyonya, kemanapun. Apa perlu kami menghubungi tuan?" tanya salah satu pengawal.
"Tidak perlu, jika kalian melapor macam-macam, dia akan muncul disini entah darimana..." jawab Frea, mulai memasuki rumah Ririn dengan perasaan kesal.
"Frea..." Ririn segera berlari, memeluk erat putrinya penuh rasa haru,"Ibu kira kamu sudah meninggal, ibu bahkan ingin menyusulmu,"
Frea mengenyitkan keningnya jengkel,"Bagaimana dengan penawaran turun ranjang pada Tomy, untuk menikahi Fani?"
Ririn melepaskan pelukannya, tertawa kecil cengengesan,"Agar hubungan keluarga tidak putus dengan Tomy. Ada jalan turun ranjang kan? Jadi ibu tidak sengaja berfikir menjodohkan mereka..."
Frea menghela napas kasar, mendorong kereta bayinya, duduk di sofa ruang tamu. Diikuti dua orang pengawal berpakaian serba hitam.
"Mereka siapa?" Ririn berbisik pada putrinya, duduk di samping Frea.
"Tidak usah hiraukan, anggap angin saja," jawab Frea, meraih toples kue kacang diatas meja, memakannya tanpa sungkan."Bagaimana dengan Wena (kakak kandung Fani) dan putrinya?"
"Anaknya sudah hampir satu tahun," Ririn menghela napas kasar, menatap Frea penuh harap,"Bisa minta tolong suamimu untuk bekerja sama dengan perusahaan milik suami Wena?"
Frea menggelengkan kepalanya,"Tidak bisa, Tomy terlihat remeh. Tapi sebenarnya seorang profesional, jika sudah mulai bekerja, bahkan tidak seorangpun yang akan dipandangnya. Ibu mau suami Wena jadi korban amukannya, jika memberikan tender, tapi tidak dapat mengerjakan dengan sempurna?" ucapnya dengan mulut penuh.
"Memang seburuk itu?" Ririn mengenyitkan keningnya, dijawab dengan anggukan oleh Frea.
"Saat aku bekerja di JH Corporation sebagai staf marketing, tidak seorang pegawai pun yang berani lalai. Gaji mereka tinggi, tapi bekerja secara efektif. Aku juga tidak mengerti, bagaimana mereka merekrut orang-orang yang bekerja bagaikan robot,"
"Yang jelas, untuk mengobrol saja ketika jam kerja, hanya berani berbisik dengan satu atau dua kalimat," lanjut Frea, meminum secangkir teh hangat, yang baru dihidangkan ART.
"Omong-ngomong namanya Kira ya?" tanya Ririn membelai pipi Kira yang baru saja terbangun. Dijawab dengan anggukan oleh Frea.
"Tampannya cucu nenek, jika sudah sedikit lebih besar. Nenek akan membawamu ke arisan keluarga. Sebagai anak konglomerat, sekaligus cucu seorang selebriti senior..." lanjut Ririn tertawa kencang.
Frea menyemburkan tehnya terbatuk-batuk,"Ibu!!" bentaknya.
"Cucu nenek..." Ririn yang menang hoby pamer, mengangkat handphone-nya keatas mengambil gambar dirinya bersama sang cucu.
Kemudian mulai mengunggah di media sosial, dengan status.
'Tampan kan cucuku? Ini anak pertama Frea. Ada rahasia dibaliknya, ayahnya komisaris perusahaan besar. Sedang, nenek dari pihak ayahnya, adalah artis senior Merlin'
"Ibu, sebaiknya jangan mengunggah fotonya. Ibu jelaskan pun tidak akan ada yang percaya," ucap Frea membaca unggahan ibunya.
__ADS_1
Dan benar saja, dalam waktu 15 menit, belasan komentar di dapatkannya. Dengan ajaibnya, komentar-komentar tersebut menyatakan tidak ada orang yang mempercayainya, menganggap hal yang disampaikan Ririn lelucon.
"Kenapa tidak ada yang percaya..." Ririn tertegun, membaca satu persatu komentar.
"Benarkan? Aku saja tidak percaya dengan jalan hidupku. Akan lebih masuk akal bagi teman-teman ibu. Jika mengatakan, memiliki menantu seorang tukang kebun atau gigolo dari putrimu yang menikah pada usia 34 tahun..." ucap Frea kembali memakan kue kacang di dalam toples.
***
Kantor Bold Company...
Jam dinding telah menunjukkan pukul 10 malam, Tomy merenggangkan otot-ototnya. Kembali meminum secangkir teh hijau, mengetikan sesuatu di laptopnya.
"Tuan muda, maaf ini sudah malam, saya ..." kata-kata Salman disela.
"Fotocopy ini rangkap tiga," ucapnya menyerahkan tumpukan dokumen.
"Ini sudah pukul 10 malam, saya harus pulang ke rumah!! Saya juga memiliki kehidupan pribadi!!" bentaknya.
"Fotocopy, setelah itu kamu boleh pulang..." Tomy tersenyum, mengambil beberapa berkas lagi.
Kenaikan gaji, tapi diperlakukan seperti budak... gumam Salman dalam hati, pasrah memfotocopy dokumen, sebelum akhirnya pulang.
***
Jam dinding kini sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tomy menghela napas kasar, menutup laptopnya, berjalan sembari membaca beberapa pesan dari istrinya.
'Jika kamu giat dan royal, masuk gedung ini nanti pagi. Katakan pada security ingin bertemu dengan Tomy,' itulah isi pesan yang ditulis Tomy, meninggalkan kartu namanya. Disamping pemuda yang tertidur, meringkuk kedinginan.
Hingga Tomy melangkah menuju area parkir, hanya mobilnya yang berada disana. Sepasang mata mengawasinya, membawa sebuah pisau yang terasah cukup tajam.
Wira? Itulah orangnya, office boy yang baru saja dipecat oleh Tomy. Bahkan tengah menjalani proses pemeriksaan atas tuduhan pencurian data perusahaan.
Jemari tangannya mengepal, menggenggam sebuah pisau tajam.
Dengan cepat berjalan mendekat kearah Tomy. Namun, bayangan pria yang hendak menikam tubuhnya dari belakang, terlihat dari mobil sportnya yang mengkilap. Tomy segera menghindar, menggunakan tasnya yang tebal sebagai perlindungan dari tajamnya pisau.
Tidak dapat berkelahi sama sekali memang kelemahan terbesarnya. Hanya berteriak sembari menghindar.
"Tolong!! Ada Anabelle!! Salah, maksudku Chucky disini!!" teriaknya dalam kepanikan, entah kenapa sifat konyolnya yang keluar.
"Diam!! Komisaris k*parat!! Kamu fikir dapat hidup senang hanya dengan kekayaan!!" bentak Wira semakin beringas, berjalan mendekati Tomy hendak menyerangnya.
"Tolong!!" teriaknya, tapi percuma, security mungkin tengah berpatroli ke dalam area kantor. Tidak akan ada yang mendengarkan suaranya, yang berada di tempat parkir lantai paling dasar.
Pandangan mata Wira nampak kosong,"Istriku ingin bercerai karena aku akan dipenjara!!" ucapnya. Tomy segera berlari dengan cepat, menyadari Wira tetap mengejarnya.
__ADS_1
Satu-satunya harapan Tomy hanya gelandangan yang tertidur di depan kantor. Namun, tanpa diduga, entah keajaiban dari mana, Tomy tersandung. Jatuh sebelum meninggalkan tempat parkir.
"Aku akan mati, Frea maaf, suamimu ini mati diusia yang terlalu muda..." gumamnya, masih duduk di lantai menatap pisau tajam di hadapannya.
Namun, seseorang menahannya dengan menahan ujung pisau, menggunakan tangan. Jemarinya berlumuran darah segar, menetes ke lantai.
"Berikan aku pekerjaan..." ucap sang gelandangan pada Tomy, terlihat putus asa.
"Aggh!! Sialan!! Siapa kamu!?" bentak Wira, hendak menarik paksa pisaunya.
Tomy bangkit dari lantai bergerak dengan cepat, memukul kepala Wira menggunakan tasnya. Sedang sang gelandangan menendangnya asal. Hingga terjadilah pengeroyokan yang dilakukan Tomy dan sang gelandangan pada Wira.
Dua orang yang tidak bisa berkelahi, menginjak dan menjambak asal, tubuh Wira hingga tidak berdaya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil polisi kembali menjemput pria yang tidak sadarkan diri akibat serangan membabi-buta dari tas kantor, sandal jepit dam sepatu kulit.
Tomy dan sang gelandangan menghela napas lega. "Tanganmu terluka?" ucap Tomy cemas.
"Tidak apa-apa, tapi aku tetap bisa bekerja kan?" tanyanya. Tomy tersenyum kemudian mengangguk.
***
Rumah utama terlihat, mata sang gelandangan menelisik memasuki rumah beraksi tekstur Eropa itu. Duduk dalam mobil sport yang dikendarai Tomy.
"Ini rumah keluarga besarku. Menginaplah disini sementara..." ucapnya, tidak dijawab oleh pemuda yang masih tertegun kagum dengan liurnya yang hampir menetes.
Tomy berjalan menapaki tangga, dihentikan oleh kepala pelayan,"Tuan..."
"Ambilkan kotak P3K, temanku terluka," ucap Tomy.
Kepala pelayan menghela napas kasar,"Maaf, disini dokter keluarga yang baru direkrut oleh tuan Agra, atas rekomendasi sahabatnya dari W&G Company. Saya akan memanggilnya untuk mengobati teman anda,"
"Terserah kamu saja," Tomy menatap jenuh.
***
Luka di tubuh sang gelandangan diobati oleh dokter berusia hampir sama dengan Tomy. Albert, itulah nama sang dokter.
"Tuan, sudah selesai..." ucapnya.
"Bagus kamu boleh pergi," Tomy terlihat acuh.
Sang dokter yang masih mengenakan pakaian tidur tersenyum, menunduk, memberi hormat. Meninggalkan ruang keluarga.
Namun, segera setelah menutup pintu senyuman menghilang dari wajahnya, berjalan menuju kamarnya. Menelusuri lorong yang gelap.
__ADS_1
Bersambung