Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Apartemen


__ADS_3

Sebuah motor sport mulai terparkir di area restauran. Vincent melepaskan helmnya, berjalan melewati area depan restauran menuju ruangan Lidia.


Perlahan mulai membuka pintu, "Ibu ..." ucapnya tersenyum.


"Ada seseorang yang mencarimu. Kamu sudah punya pacar?" Lidia mengenyitkan keningnya.


Vincent refleks menggeleng, menghela napas, duduk berhadapan dengan Lidia.


"Vincent, Frea sudah bahagia. Tidak bisakah kamu merelakannya?" tanyanya.


Vincent tertunduk, mengangguk, tersenyum miris, setetes air matanya mengalir,"Aku melihatnya, dia masih hidup. Menggendong anaknya, di salah satu toko miliknya, ditemani suaminya,"


"Asalkan dia bahagia tersenyum seperti dulu. Itu sudah cukup, aku merelakannya..." lanjutnya.


"Dona sudah tidak ada, jangan memikirkan tentang Frea lagi. Tapi carilah pasangan lain, Gea memerlukan kasih sayang seorang ibu ..." Lidia menepuk pundak putranya memberi nasehat.


Vincent hanya berusaha tersenyum, memilih tidak menjawab. Hatinya masih terikat dengan Frea, entah kenapa.


Siang menyingsing ...


Hari itu, adalah hari libur dari perusahaan tempatnya bekerja. Vincent menghidupkan mesin motornya. Hingga perhatiannya teralih sejenak, menatap aneh pada wanita yang tiba-tiba menghadang kendaraannya.


"Kamu!?" ucapnya membulatkan matanya.


Mona hanya tersenyum, membawa sebuah paperbag besar.


***


Taman kota yang terlihat lengang, dua orang duduk berdampingan. Menenggak dua kaleng minuman bersoda


"Kenapa mencariku?" tanyanya pada Mona, kembali menenggak minumannya.


"Aku merindukanmu..." jawab Mona terang-terangan.


"Merindukanku?" Vincent tertawa kecil, "Maaf, malam itu aku terbawa perasaan. Kamu minta berapa? Biar aku transfer..." ucapnya, merogoh sakunya.


"Tidak perlu!! Ingat jenis mobil yang aku bawa? Aku lebih kaya darimu..." Mona menghela napas kasar nampak merajuk bagaikan anak kecil,"Ini aku membalikkan!!" kesalnya mengembalikan uang lima ratus ribu rupiah yang ditinggalkan Vincent.


Pemuda itu menipiskan bibir menahan tawanya, "Lalu kenapa ingin menemuiku?" tanyanya."Ingin servis lagi?"


Wajah Mona memerah seketika, mengingat malam panasnya di tempat sempit berpenerangan minim, hal yang dilakukan seorang ahli yang telah lama berpuasa."Ti... tidak" jawabnya gelagapan. "Aku hanya tidak sengaja lewat, ingin berjalan-jalan..."


Vincent terdiam sejenak menghela napas kasar,"Mau jalan-jalan denganku?" tanyanya.


***

__ADS_1


Sebuah motor sport menembus jalan perkotaan. Mona, mengeratkan pelukannya, untuk pertama kalinya berboncengan menggunakan motor, satu persatu jalanan besar ditembusnya.


"Berteriaklah!!" Vincent berucap, pada wanita yang diboncengnya.


"Aaaa...." Mona mulai menunjukkan sisi kegilaannya.


"Bukan begitu, mengumpatlah...!!" ucap Vincent kembali.


"Br*ngsek!! Lian br*ngsek, apakah kamu tidak memikirkan betapa sakitnya melepas keperawanan!!" teriak Mona seakan tidak mempedulikan keberadaan Vincent.


Pemuda itu semakin memacu cepat kendaraannya, begitu pula dengan lebih banyak lagi umpatan kembali keluar dari mulut Mona,"Aku adalah Mona!! Wanita tidak terkalahkan!! Kenapa kamu meninggalkanku demi wanita murahan!!"


"Dia tidak pantas untukmu!! Bukan!! Kamu yang tidak pantas untukku!! Aku..." kata-katanya disela.


"Kamu masih mencintainya!?" ucap Vincent tersenyum.


Mona menggeleng, mengeratkan pelukannya pada punggung Vincent. Menyenderkan kepalanya, air matanya mengalir, menumpahkan rasa sakitnya.


***


Laju motor terhenti di sebuah area pantai, hari sudah semakin malam. Hanya ada penjual jagung rebus saja disana.


Vincent terdiam menatap ke area laut yang indah. Lampu-lampu kapal nelayan terlihat berlalu lalang di tengah laut.


Meminum soda yang dibawa Mona dalam paperbagnya.


Mona menatap ke arahnya, ikut menghela napas, terlihat antusias,"Kamu mulai menyukaiku?"


Vincent menggeleng, "Aku duda beranak satu, memang kamu mau? Lagi pula, kepuasan dalam berhubungan, berbeda dengan rasa cinta," jawabnya menenggak sodanya kembali.


Mona menatap lekat ke arah pria yang duduk berdampingan dengannya. Entah kenapa terlihat kesedihan dan penyesalan di matanya. Jemari tangannya, mulai menggenggam tangan Vincent yang terasa dingin.


Isakan pria itu terdengar,"Aku pernah mencintai seseorang, hanya menyukai sesuatu yang terasa hangat. Tapi sebuah kebodohan, aku tidak menunggunya, entah berapa kali aku mengkhianatinya, hanya demi kesenangan,"


"Lalu sekarang?" Mona mengenyitkan keningnya.


"Dia sudah bahagia, memiliki anak dengan pria lain. Membangun keluarganya..." jawabnya, menghapus air matanya, menatap lampu nelayan yang berlalu lalang. Rambutnya terkena semilir angin laut."Omong-ngomong kenapa kamu banyak bertanya?" tanyanya kembali mengalihkan pandangannya pada Mona.


"Aku...aku menyukaimu...!!" jawab Mona tertunduk.


"Menyukai? Karena hubungan satu malam menyukaiku?" tanyanya kembali memastikan, menahan tawanya.


Mona mengganguk, menjawab dengan wajah serius.


"Dengar, kamu baru berpisah dari pacamu kan? Perasaan yang kamu rasakan adalah keinginan untuk balas dendam. Membalas pengkhianatannya, dengan mendekatiku... Aku..." kata-kata Vincent terhenti.

__ADS_1


Mona menyambar bibirnya, perlahan pemuda itu memejamkan matanya. Merasakan Mona yang menerobos masuk ke dalam mulutnya, bergerak perlahan disana. Rasa aneh menjalar dalam dirinya, jantungnya berdegup cepat. Jemari tangannya menahan tengkuk Mona, mendalam, membalas ciumannya.


"Emmgghhh..." napasnya terengah-engah kala tautan bibir itu terlepas. Saling berpacu menghitup oksigen dengan serakahnya.


Kedua bola mata itu kembali saling memandang,"Namamu siapa?" pertanyaan bodoh dari Mona, yang telah berkali-kali datang ke area restauran hanya untuk berharap bertemu dengan Vincent.


"Vincent..." jawabnya, dengan deru napas memburu, kembali menarik tengkuk Mona. Entah perasaan apa yang dialaminya, namun wanita ini membuatnya memiliki perasaan ingin melindunginya.


Mulut itu kembali ditautnya, decapan bibir terdengar berkali-kali. Seiring pergerakan bibir dua orang yang terlihat semakin brutal.


"Berani bilang tidak menyukaiku?" tanya Mona pada pemuda di hadapannya.


"Tidak tau, mungkin hanya rasa kagum..." jawabnya ambigu, mulai bangkit, kembali mengenakan helm-nya."Ayo kita pulang..." ucapnya, mengulurkan tangannya.


Mona mulai bangkit, menghela napas kasar, menggenggam jemari tangan yang terasa dingin.


Sesuatu terasa bagaikan pembatas, pemuda itu membangun tembok diantara mereka.


***


Motor sport itu kembali melaju, Mona hanya terdiam memeluk pinggang sang pemuda, menyender pada punggungnya yang kokoh. Vincent membisu tanpa ekspresi hanya menatap ke arah jalanan.


"Kita akan kemana?" pertanyaan pertama yang terlontar dari bibirnya.


"Akan aku tunjukkan jalannya..." jawab Mona, semakin erat memeluk pinggang Vincent.


Area Apartemen elite terlihat. Motor sport itu berhenti tepat di depannya. "Aku pergi..." ucap Vincent saat motor akan melaju.


Mona kembali menghentikannya, menarik tangannya,"Bantu aku berkemas..." ucapnya,


***


Kode akses di tekannya, bagian dalam apartemen berinterior mewah terlihat. "Ini apartemenmu?"


Mona mengangguk, mulai memasuki sebuah kamar diikuti Vincent.


Kamar yang lumayan luas, dengan pemandangan balkon yang indah. Namun, matanya menelisik, terdapat boxer pria di keranjang pakaian kotor.


Tempat tidur masih berantakan, selimut dan bantal beecereran tanpa bentuk.


"Bantu aku mengosongkan tempat ini..." ucap Mona dengan mata berkaca-kaca, bagaikan menahan air matanya yang hendak tumpah.


Koper yang terdapat di atas lemari diturunkan Mona, lemari dibukanya. Memasukkan satu persatu pakaian Lian ke dalamnya.


"Ini bukan kamarmu ...?" Vincent memegang pergelangan tangannya, menatap tajam padanya.

__ADS_1


Mona mengangguk, "Ini adalah tempat memalukan, dimana aku menyerahkan hal paling berharga dalam hidupku pada pria br*ngsek,"


Bersambung


__ADS_2