
...Sebuah boneka tali yang bodoh, dikendalikannya perlahan. Menyayanginya, membantunya, hingga memberinya sebilah pisau....
...Pisau yang dipergunakan untuk menghancurkan dirinya sendiri. Boneka yang indah, namun bukankah tidak menyenangkan jika tidak bermain sejenak dengannya? Sebelum melihatnya, menjerit lenyap perlahan......
...Apa ini kesalahanku? Iya, ini kesalahanku, yang menginginkan untuk hancur bersama mereka. Lenyap bagaikan abu bersama rasa dendam......
Tomy...
Mona menghela napas kasar, foto sang kekasih sebagai wallpaper handphonenya masih terlihat. Mengusapnya perlahan, berusaha melepaskan kerinduannya, yang belakangan ini memang terlalu sibuk. Memikirkan sedang apa pemuda itu saat ini. Tidak dapat berkonsentrasi menjalankan tugasnya. Hingga, sepupunya memasuki ruangannya.
Pemuda yang tertunduk ragu, seakan enggan untuk bicara. "Tomy?" tanyanya seakan ingin mengetahui hal yang didapatkan sepupunya.
"Selidiki terlebih dahulu, mungkin aku yang salah paham," Tomy meletakkan foto Lian (kekasih Mona) di atas meja. Foto yang diambil dari jarak jauh, berciuman dengan seorang wanita di area belakang yang remang, dengan sedikit lampu berkedip yang terlihat. Bagaikan diambil di area belakang club'malam.
Mona mengenyitkan keningnya, setetes air matanya mengalir, hubungan yang terjalin tiga tahun bagaikan tidak ada artinya.
"Kapan kamu mengambilnya!?" tanyanya pada Tomy, mencengkram kerah kaos putih bertuliskan 'Ice Cream' yang melekat pada tubuh pemuda itu.
"Aku baru saja mengambilnya, dan segera kemari. Mereka masih disana," jawabnya tertunduk, bagaikan takut bercampur rasa iba pada sepupunya.
"Antar, aku padanya..." ucap Mona, dengan deru air mata yang tidak dapat dibendung, merasa dikhianati.
***
Area sebuah club'malam terlihat. Dengan cepat Mona memasukinya,"Aku akan memarkirkan mobil," Tomy memberi alasan, tetap tinggal dalam mobil.
Tersenyum, merapikan rambutnya, membenahi penampilannya dari kaca spion mobil. Melirik kepergian Mona yang sudah menjauh.
Tubuh nan indah, punggungnya nampak berwarna kontras dengan dress merah pendek yang dipakainya, rambut tergerai. Mengikuti dentuman suara alunan musik bersama Lian dengan tubuh limbung, mungkin karena pengaruh alkohol.
Sesekali bibir itu saling mengecup di tengah keramaian, tangan Lian dengan nakalnya membelai punggung sang wanita.
"Lian!!" Mona membentak, menampar sang wanita.
"Sayang..." wanita itu memelas pada Lian.
"Mona cukup!! Aku sudah jenuh dengan perilakumu!! Kapan kamu pernah ada waktu untukku, hah!?" bentaknya.
"Pria br*ngsek!!" tangan Mona terangkat hendak menampar kekasihnya. Namun tangan kokoh Lian menghentikannya.
__ADS_1
"Wanita robot!! Tidak tau malu!! Kaku!! Pria mana yang menginginkan wanita, memakai pakaian resmi atau gaun tertutup bagaikan peri tokoh animasi, aku sudah gila karena bisa tahan denganmu selama tiga tahun," ucapnya menatap tajam. Menghempaskan tangan Mona, berjalan berlalu dengan langkah kesal, membawa sang wanita malam pergi.
Mona mulai menitikkan air matanya, berjalan mengejar langkah kaki Lian. Memegang tangan pemuda yang dicintainya, berusaha menghentikannya pergi. Namun, jemari tangannya kembali dihempaskan, bagaikan telah muak dengan dirinya.
Berjalan cepat hingga area parkir, "Lian!?" Mona mengetuk kaca jendela mobil penuh rasa putus asa. Namun pemuda itu menunjukkan wajah dinginnya, berlalu menginjak pedal gas mobilnya.
Dengan bodohnya Mona berusaha mengejar hingga terjatuh di tanah, menangis sesenggukan. Terdiam mengingat wajah dingin yang terlihat di kursi pengemudi.
"Kakak sepupu?" Tomy memeluknya, menghapus air matanya,"Jangan menangis untuknya. Dia hanya pria bodoh..." ucapnya.
"Kamu tau apa!? Dia mencintaiku!! Dia hanya belum memahaminya saja!!" bentaknya mendorong tubuh Tomy, meraih kunci mobilnya.
"Aku ikut..." Tomy menaiki mobil, duduk di kursi penumpang bagian depan.
Pedal gas diinjaknya dalam-dalam, tidak mempedulikan apapun, hanya mengejar kekasihnya saja. Air matanya mengalir, mengaburkan pengelihatannya.
Kebersamaannya masih terbayang, pemuda yang tersenyum, memberinya kopi hangat. Pemuda yang tersenyum memberinya kue, meniup kue kecil dengan lilin bersama-sama.
Dunianya bagaikan runtuh, hubungan kasih yang terjalin bertahun-tahun lenyap begitu saja. Jemari tangannya gemetar, apa yang tidak diberikannya pada Lian? Bahkan kesuciannya pun sudah diberikan. Apa itu kurang?
Wanita yang terlihat memiliki tubuh menggoda, tidak dapat disandingkan dengan tubuhnya. Dress yang memperlihatkan lekuk tubuh dengan belahan dada yang indah? Apa itu dapat membuat Lian bertahan dan kembali padanya?
Jika begitu, uang sumber segalanya, tinggal menjalani operasi, memilih bentuk yang diinginkan. Benar-benar pemikiran bodoh yang tidak rasional.
"Lian..." Mona terus menangis, melanjutkan pemikiran gilanya. Apapun akan dilakukannya agar Lian kembali, bahkan jika harus menaiki meja bedah sekalipun
Mobil berhenti di salah satu dari dua apartemen yang dimiliki Lian. Namun, beberapa saat menekan bel tidak ada yang membukakan pintu.
Hingga akhirnya, Mona kembali turun ke parkiran diikuti Tomy. Menuju apartemen lainnya, apartemen yang tahun lalu dibelikan Mona untuk kekasihnya sebagai kado ulang tahun.
Jemari tangannya gemetaran, menapaki tangga seusai memarkirkan kendaraannya. Hingga kemudian memasuki lift menekan lantai 9 air matanya tidak henti-hentinya menetes.
"Kakak, jangan mengejarnya lagi," Tomy kembali meraih jemari tangan sepupunya.
"Aku tidak apa-apa, dia akan kembali padaku," ucapnya lirih.
Lorong demi lorong ditelusurinya, hingga sampai pada unit tempatnya merayakan ulang tahun Lian tahun lalu. Tempat dimana dirinya dulu, memberikan kesuciannya untuk pertama kalinya.
Kode akses ditekannya, sesekali menghapus air matanya. Hingga pintu itu terbuka, terlihat pakaian Lian yang hampir tanggal, hanya mengenakan boxer dengan kancing kemeja yang terbuka sempurna duduk di atas sofa ruang tamu dengan sang wanita berpakaian minim duduk di pangkuannya. Saling memangut bibir, seolah tidak menghiraukan pintu yang tiba-tiba terbuka.
__ADS_1
Mona melangkah cepat, menarik sang wanita dari pangkuan kekasihnya. "Lian!!" bentaknya kembali menatap mata pemuda yang bahkan tidak berniat menjelaskan apapun.
"Dia lebih mengerti tentangku dari pada makhluk kaku sepertimu," ucapnya.
Plak ...
Satu tamparan mendarat di pipi pria yang dicintainya. Tamparan yang tidak membuatnya lega, tamparan yang hanya ingin menyadarkan sang kekasih.
"Apa dia lebih cantik dariku? Jika iya, apa yang perlu aku rubah untukmu? Katakan!!" bentaknya, putus asa menitikkan air matanya.
"Cantik?" Lian tertawa kecil,"Bagaimanapun wajahmu aku tidak peduli pada wanita yang tidak aku cintai!! Setiap bertemu kita hanya berdebat!! Tapi dengannya, dia menuruti semua kata-kataku!! Dia lebih menghargaiku!!"
Pemuda itu mulai bangkit, menarik tangan Mona, mendorongnya hingga tersungkur di depan pintu apartemen,"Pergi!! Hubungan kita sudah berakhir!! Kaku!!" bentaknya membanting pintu dengan kasar.
Tangan Mona gemetaran, wajahnya tertunduk berurai air mata. Tomy mulai memeluknya erat, menepuk punggungnya, menenangkan,"Berhentilah menangis, jangan mengejarnya lagi..."
Mona membalas pelukan saudara sepupunya, menangis terisak, tidak menyadari wajah yang sebelumnya bagaikan iba, tersenyum di belakangnya.
Tangan putih dingin itu, mengelus rambut panjang Mona, melirik bagian belakang kepalanya penuh senyuman menjijikkan.
***
Di tempat lain...
"Sudah puas?" tanya seorang pemuda.
"Lumayan," Frea tersenyum, menatap pemuda di hadapannya. Orang yang mendobrak pintu saat dirinya putus asa akan kematiannya.
Memalsukan hasil tes DNA mayat seorang pelayan yang mungkin terjebak kebakaran saat api mulai menyala. Tujuannya? Karena traumanya, Frea saat itu memohon agar tidak kembali pada suaminya. Tidak ingin ada yang melukai janin di dalam rahimnya, baru mengetahui dapat seberapa kejamnya seseorang karena harta.
Sang pemuda menghela napas kasar,"Aku dicurigai mempunyai pacar karenamu!! Karena membawa ice box, mengatakan akan piknik...!!"
"Bahkan hampir diikuti mata-mata yang dikirimkan Mona yang ingin mengetahui pacarku seperti apa!!"
"Tidak taunya wanita hamil yang merepotkan!! Siapa yang akan mau dengan buy one get one (beli satu dapat satu)" gerutu Gilang kesal.
"Jangan begitu, bagaimana pun aku istri sepupumu, bagian dari keluargamu..." Frea meminum es lilin sambil tersenyum, menatap wajah kesal Gilang.
Bagaimana aku bisa berfikir untuk menyelamatkan istri Tomy? Berharap menjadikannya sebagai sandra suatu hari nanti, jika Tomy berani berbuat di luar kendali...
__ADS_1
Aku kira Tomy licik dan cerdas, ternyata cuma orang bodoh yang lugu... Untung ayah (Leon) tidak tau aku menyelamatkan wanita gila ini. Jika tidak, dia mungkin akan mengirimku ke kutub selatan untuk beternak pinguin, sambil mengutuk kebodohanku...
Bersambung