Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Tom & Jerry


__ADS_3

Hari ini hari yang sama, seorang pemuda membuka matanya. Cahaya silau melewati celah tirai kamarnya. Ayahnya sudah tidak ada lagi, apa yang harus dilakukannya hari ini tidak diketahui olehnya.


Air matanya menetes, sahabat? Seseorang yang dianggapnya sahabat untuk bicara juga telah pergi. Beberapa kali mencoba menghubunginya hanya untuk sekedar bicara tentang ayahnya saja. Namun, nomor phonecell itu tetap tidak aktif.


Tidak memiliki pegangan hidup sama sekali, kenapa rasanya dapat sesakit ini?


Kriet...


Pintu kamar perlahan terbuka,"Gilang..." suara seorang wanita terdengar. Membawa bubur dan segelas orange juice untuknya. Perlahan meletakkannya di atas meja, samping tempat tidur.


"Paman sudah tidak ada, relakan saja, biarkan ayahmu tenang..." kata-kata yang keluar dari mulut Keyla.


Membiarkan Leon tenang? Apa tujuannya? Jemari tangan Gilang mengepal, bahkan jenazah ayahnya belum ditemukan. Tapi, wanita ini, berani-beraninya...


"Gilang, aku akan tetap ada bersamamu, menjadi keluargamu satu-satunya. Setelah ini kita menikah ya..." ucapnya memeluk tubuh kekasihnya yang terduduk diam di tepi tempat tidur.


Leon? Pria itu menjadi penghalang baginya untuk menikah dengan Gilang. Walaupun, sempat menyukai sosok Leon, tapi menjadi istri seorang Gilang lebih baik. Penghalang itu kini telah lenyap, melakukan apapun dengan putranya, tidak akan ada yang menghalangi....


Wajah Keyla mendekat, bibirnya yang dingin mengecup pelan pipi Gilang, jemari tangannya perlahan menggerakkan wajah rupawan itu untuk menatap matanya. "Aku mencintaimu, hanya aku anggota keluargamu saat ini..." ucapnya, berbisik menghapus air mata di pipi kekasihnya.


Perlahan bibir itu dikecupnya, tidak hanya itu jemari tangannya menelusup memasuki piyama bermotif Doraemon milik pemuda itu. Meraba otot dada dan perutnya yang terasa padat.


Ayah dan anak, ternyata memiliki tubuh yang hampir sama menggodanya...


Namun, Keyla tidak menyadari, satupun balasan tidak didapatkannya.


Apa ini? Hanya hambar, tidak ada perasaan sama sekali. Yang ada hanya rasa kesal. Leon, ayah yang dicintainya dianggap sudah meninggal, ingin menjadi anggota keluarga satu-satunya. Jangan bermimpi setelah mengutuk kematian ayahnya...


Brak...


Gilang mendorong wanita cantik, dengan kulit putih, rambut coklat itu hingga tersungkur ke lantai. "Kamu mengutuk ayahku?" ucapnya dengan nada dingin menatap tajam, mengeluarkan aura mendominasi.


"Ti... tidak, maksudku agar kamu tidak sakit aku..." kata-kata Keyla disela.


"Jika ingin terus bersamaku, jaga mulutmu..." ancaman tidak main-main untuk pertama kalinya keluar dari mulut anak yang selalu berlindung pada ayahnya.


"Gilang, aku hanya ingin menghiburmu. Paman pasti akan selamat. Setelah paman kembali kita akan menikah," Keyla mulai bangkit, meraih jemari tangan Gilang, gelagapan.

__ADS_1


Jantungnya berdegup cepat saat ini, adrenalinnya terpacu. Berdegup cepat? Bukan karena jatuh cinta, namun ketakutan. Pemuda yang mudah dikelabui, pemuda baik hati, tiba-tiba mengancamnya? Tidak, ini tidak boleh terjadi, Gilang adalah calon suami ideal untuknya. Kaya, rupawan, mudah dimanfaatkan, tidak ada yang kurang.


"Apa hanya menikah yang ada di otakmu? Pergi, aku ingin sendiri..." ucapnya dengan nada dingin.


"Gilang, aku mencintaimu!! Bukan begitu maksudku... Tolong jangan berbuat seperti ini padaku, jangan marah. Jika kamu tidak percaya, aku akan bunuh diri untuk membuktikannya," air mata mengalir di pipi putih wanita rupawan itu. Air mata yang mungkin dapat meluluhkan semua pria. Air mata yang selalu dipercayai pemuda di hadapannya satu tahun ini.


Menyempurnakan kebohongannya, kematian Leon adalah yang terbaik bagi hubungannya dengan Gilang. Mungkin begitulah isi hati seorang Keyla.


Gilang hanya terdiam, namun Keyla memeluknya erat. Bagaikan menangis sesenggukan, tangisan yang dibuat-buatnya.


Tidak ada penolakan, juga tidak ada balasan. Pemuda itu hanya tertegun diam...


Hanya kata-kata ayahnya yang terngiang di fikirannya kala dahulu pria itu, tidak menyetujui hubungannya dengan Keyla.


'Dia bukan wanita baik-baik, rupa luar dan dalam tidak akan sama. Tapi jika kamu tetap menginginkannya, ayah mengijinkan kalian bertemu. Ingatlah satu hal, jangan begitu saja percaya. Carilah kebenaran tentangnya...'


Beberapa kalimat yang tiba-tiba diingatnya. Keyla berani menggodanya untuk berhubungan layaknya suami-istri saat Leon tidak diketahuinya masih hidup atau sudah mati? Apa ini wanita baik-baik yang dibanggakan nya pada sang ayah?


***


Tomy menghela napas kasar, duduk di sofa lantai dua, menunggu sang kakek yang berkata hendak meminta maaf. Sudah cukup lama dirinya menunggu. Bahkan Kenzo, masih terdiam di lantai satu. Menunggu kedatangan Tomy dengan sabar.


Brak...


"Apa!? Perutku sakit!! Cucu durhaka!! Tidak membiarkan aku konsentrasi, sedikit lagi keluar!!" bentak Suki dari dalam kamar mandi.


"Aku kira, kakek kabur karena takut untuk meminta maaf pada Kenzo..." Tomy mengenyitkan keningnya, duduk di tepi tempat tidur kamar Suki. Bagaikan menunggu sang kakek dengan sabar.


"Firasatnya tajam..." Suki berucap dengan suara kecil, menghela napas kasar, menatap Miko yang tengah mencari cara membantunya melarikan diri.


"Mungkin insting cucu dan kakeknya," Miko mencoba memanjat melalui ventilasi kamar mandi. Tapi percuma saja, pria paruh baya itu malah terjatuh. Menimbulkan suara yang lumayan kencang.


Suara seorang pemuda kembali terdengar dari luar,"Jangan bilang kalian mau melarikan diri lewat ventilasi? Kakekku lumpuh, bagaimana dia bisa naik?" teriak Tomy dari kamar tidur Suki.


Miko memegangi pinggangnya yang terasa sakit akibat terjatuh,"Cucu anda seperti cenayang (peramal, atau dukun)," keluhnya.


Suki kembali berbohong,"Tidak, ada tikus tadi Miko mengejarnya dan terpeleset..." teriak Suki dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Tikus? Kebetulan aku adalah Tom!! Penangkap tikus profesional!! Sudah terkenal di TV (Tom&Jerry) biar aku yang menangkapnya!! Sebaiknya kakek keluar sekarang!!" bentak Tomy, tidak ingin terlambat ke kantor. Hanya karena mengunggu sang kakek yang masih gengsi bercampur malu meminta maaf pada Kenzo.


***


Di tempat lain...


Uang yang sebelumnya dikirimkan Kenzo, ditarik Simon dari bank.


Mobil mewah yang baru dibelinya, mulai melaju meninggalkan bank. Hingga pada akhirnya terhenti di depan area rumah terbengkalai.


Kriet...


Marmer pada rumah, dipenuhi tanah dan debu. Beberapa sudut plafon telah jebol, lembab begitulah yang terasa. Dengan lumut yang melekat pada beberapa area dinding. Sedang tanaman dan akar menjalar masuk melalui jendela yang terbuka.


"I...ini, apa cukup?" tanyanya pada dua orang berjas hitam di hadapannya.


Salah satu orang mulai menghitung uang, usai membuka amplop coklat besar yang dibawa Simon.


"Cukup, ini milikmu sekarang..." salah seorang pria ber-jas hitam memberikan koper berbentuk memanjang yang dibawanya pada Simon.


"Berlatih, beberapa minggu dulu, baru melaksanakan apapun tujuanmu..." kedua orang itu segera pergi berlalu tanda transaksi mereka telah berakhir. Membeli senjata ilegal, hal yang dilakukannya. Mengingat, Agra dan Gilang memiliki beberapa pengawal.


Mungkin dengan menembak sasaran dari jarak jauh, akan lebih mudah, serta sulit untuk tertangkap.


***


Hingga, beberapa minggu kemudian, hari itu tiba...


Gedung pencakar langit tempatnya berdiri saat ini terletak dekat dengan kantor pusat Bold Company, angin pagi yang dingin terasa menerpa rambutnya. Mengunyah permen karet rasa strawberry, satu persatu persiapan dilakukannya. Bahkan memasang peredam suara. Mengarahkan tepat pada kantor Agra sebagai sasaran pertamanya.


Hanya dipecat dari Bold Company membuatnya melakukan semua ini? Tidak, namanya telah di blacklist dari beberapa perusahaan, tidak memiliki kemungkinan berkarir menurut pendidikan dan bidangnya lagi, membuat rasa dendam yang mendalam dalam dirinya.


Istrinya mengajukan perceraian, kala Simon mendekam di balik jeruji besi sebelum dibebaskan oleh Kenzo. Wanita j*lang itu, segera menikah kembali dengan pria lain setelahnya. Hal yang membuat hidup Simon benar-benar hancur.


Menggelapkan dana perusahaan? Itu karena ingin memenuhi tuntutan istri rupawannya. Wanita yang menjadi korban pembunuhan pertamanya setelah keluar dari penjara.


Matahari terbit perlahan, Simon berbaring menunggu di atap salah satu gedung pencakar langit. Menghilangkan penatnya, menunggu dua orang itu datang ke kantor pusat Bold Company.

__ADS_1


Hal yang dilakukannya setelah ini, entahlah... Hidupnya sudah benar-benar hancur, mungkin hanya dapat melarikan diri seumur hidupnya dari kejaran kepolisian.


Bersambung


__ADS_2