
🍀🍀🍀🍀 Untuk pertama kalinya aku mengajukan kontrak, kalau lolos aku akan crazy up short episode... Kalau nggak lolos, mungkin slow update, doakan supaya lulus 🤗😉 Maklum aku hanya amatir yang tersisihkan dalam halaman paling pojok🤧 🍀🍀🍀🍀
🍀🍀🍀🍀 Happy Reading 🍀🍀🍀🍀
Kamar bayi yang indah, sudah mulai didekorasi. Orang yang paling antusias? Tentu saja Merlin, orang yang akan menjadi seorang nenek. Membeli banyak perlengkapan bayi, menyayangi menantunya.
Bahkan cenderung memaksakan untuk memanjakannya. Alasannya? Masih terbersit dalam ingatan Merlin ketika dirinya hampir membunuh bayi dalam kandungannya, karena cibiran dunia, serta tidak ada orang yang berada disisinya.
Kali ini dirinya ingin berada di sisi Frea, menjaga makhluk mungil yang akan memanggilnya nenek suatu hari nanti. Masker masih dipakainya diikuti beberapa pelayan dan supir membawa belanjaan yang menumpuk melangkah bersama Frea.
Brak...
"Hati-hati, kalau jalan!!" bentak Merlin menarik tangan Frea yang hampir tertabrak seorang wanita yang tengah memainkan gadgetnya sembari berjalan, mendorong wanita itu hingga tersungkur.
"Berani-beraninya kalian!!" bentak sang wanita paruh baya mulai bangkit, dari lantai.
"Tentu saja harus berani, melihat posisimu sekarang..." Merlin menipiskan bibir menahan tawa, merasa sedikit dendamnya terbalaskan.
Benar, wanita yang berada di hadapannya kini adalah Lia, mantan istri Adrian. Tidak sengaja bertemu, namun bukankah ini kesempatan untuk balas dendam?
"Dasar pelakor!! Aku dengar putramu sudah menikah, ternyata dengan calon istri Irgi. Anak seorang pelakor memang mewarisi sifat pada putranya bukan?" cibir Lia tersenyum, merendahkan menatap Frea.
"Setidaknya putraku lulusan luar negeri, dan mapan..." ucapnya Merlin tersenyum.
"Mike, juga pintar...!!" bentak Lia.
"Tomy anak kandung, lulusan luar negeri yang mapan," senyuman di wajah Merlin tidak lenyap juga.
"Irgi anak sah yang pintar di bidang musik dan bela diri!!" Lia tidak mau kalah.
"Tomy anak kandung, lulusan luar negeri yang mapan," kata-kata itu kembali diulang oleh Merlin, penuh senyuman.
"Mike meraih gelar S2!!" ucap Lia masih belum menyerah.
"Tomy anak kandung, lulusan luar negeri yang mapan," mantra itu kembali terucap dari bibir Merlin. Mantra yang tidak bisa terbantahkan dan terkalahkan.
__ADS_1
"Irgi pernah mewakili Indonesia di ajang beladiri ketika SMU!!" Lia bersungut-sungut.
"Tomy anak kandung, lulusan luar negeri yang mapan," senyuman memuakan dari wajah Merlin masih terlihat, satu kalimat yang seakan mengalahkan semua kata-kata Lia.
"Mike mewarisi perusahaan ayah kandungnya!!" ucapnya kembali.
"Tomy anak kandung, lulusan luar negeri yang mapan," kata-kata memuakan itu kembali terdengar. Suatu pernyataan yang pasti, Adrian akan menginginkan Tomy sebagai penerus.
"Mike...mike... Irgi...," kata-kata Lia terhenti, wanita itu membuka air mineral kemasannya, lalu meminumnya merasa kehabisan kata-kata untuk berdebat atau menyombong. Tidak terfikirkan lagi kelebihan lain yang dapat disombongkannya. Kata-kata yang dapat mengalahkan anak kandung lulusan luar negeri yang mapan.
"Dasar!!" umpat Lia, mempertahankan harga diri terakhirnya berjalan berlalu dengan langkah cepat.
Merlin tidak dapat lagi menahan tawanya, wanita itu tertawa sekencang-kencangnya, memegangi perutnya.
"Ibu mertua keren..." Frea mengacungkan dua jempolnya.
"Dia hanya wanita terhormat, jadi sebagai j*lang aku harus sedikit bertindak keras padanya," ucap Merlin merangkul pundak Frea, kembali membawanya berbelanja keperluan bayi.
***
Satu persatu keperluan dimasukkan Frea dalam troli. Tidak menyadari Merlin yang terus menatapnya sembari tersenyum.
Merlin meneteskan air matanya, "Syukurlah bayi sialan itu tidak mati!! Dia sekarang yang memberikanku anggota keluarga..." gumamnya, menyeka air matanya.
...Setiap anak terlahir dengan restu dari Tuhan. Membunuhnya saat dalam kandungan? Adalah suatu penyesalan terbesar jika melakukannya......
...Tidak akan ada yang tau anak itu akan tumbuh seperti apa. Mungkin anak itu akan tumbuh menjadi satu-satunya perlindungan di dunia yang munafik ini. Satu-satunya orang yang akan menggenggam jemari tangan keriputmu saat hendak kembali pada-Nya......
Merlin...
***
Prang ...
Leon melempar gelas kaca pada dinding ruang kerjanya."Br*ngsek!! Puluhan tahun aku mengabdi pada perusahaan, menjadi *njing penurut, tapi ini balasannya!!" amarahnya nampak meluap-luap mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pengacara keluarga.
__ADS_1
"Dokumen ada pada ayah anda. Semua saham dialihkan atas nama cucunya, Tomy. Dalam artian, orang dengan nama tersebut, berhak menduduki posisi komisaris jika dia menginginkannya..." ucap sang pengacara, memberikan informasi pada Leon.
Leon mengambil phoncellnya, berhenti bermain dengan tenang, menghubungi seseorang,"Ini aku, cari informasi detail tentang anak ketiga Adrian," ucapnya melonggarkan dasinya.
Hanya Leon? Tidak, hari ini Mona (cucu Suki, anak dari Agra) datang menemui sang kakek, membawa secangkir teh hijau hangat. "Kakek, kakek harus menjaga kesehatan. Besok, aku belikan suplemen ya...?" ucapnya.
"Iya, pergilah..." Suki terdiam, menatap ke arah jendela.
Mona menghela napas kasar, senyuman di wajahnya menghilang setelah berjalan beberapa langkah. Mengetahui keputusan Suki? Tentu saja, Mona mengetahui semuanya, seolah-olah kecerdasan, dan pengabdiannya pada sang kakek sia-sia.
Tapi apa benar Mona mengabdi? Tidak, menjadi cucu perempuan yang paling, dicintai yang diinginkannya. Mendapatkan kasih sayang terbesar saat sang kakek tidak ada nanti.
Namun hari ini dirinya mengetahui ada cucu yang lebih diandalkan dan dikasihi oleh sang kakek. Mona berjalan beberapa langkah, menelusuri lorong, hingga sampai di rumah kaca, tempatnya merawat beberapa jenis tanaman bunga yang indah.
Dirinya terdiam menatap beberapa bunga yang mekar dengan indah dihadapannya. Sudah beberapa tahun ini, makanan dan teh sang kakek dicampur dengan sedikit getah bunga yang indah di hadapannya. Paparan arsenik yang terkandung dalam tanaman lah yang membuat syaraf tangan dan kaki sang kakek terganggu, melemahkan otot-ototnya. Menyebabkan Suki mengalami kelumpuhan. Tujuannya? Agar Agra (ayah dari Mona) mendapatkan posisi komisaris, sedangkan dirinya mendapat posisi CEO.
Sesuatu yang konyol bukan? Kakek yang memangku dan memeluknya dengan erat. Sudah sepatutnya dirinya membalas kasih sayang Suki. Namun, posisi wakil direktur selama bertahun-tahun, tidak ada peningkatan, membuatnya meragukan kasih sayang Suki.
"Maaf, kakek yang memaksaku melakukan ini..." Mona menangis dalam senyumannya, telah menambah lebih banyak lagi dosis pada teh hijau sang kakek.
Membelai pelan tanaman indah di hadapannya, kembali menyiraminya, sembari tersenyum, menyeka air matanya. Bertindak seorang diri tanpa diketahui Agra, sang ayah.
***
Dalam ruangannya Suki masih terdiam, menuangkan teh pada pot tanaman hias,"Tuan besar..." sang bawahan berucap.
"Semuanya saling membunuh, memikirkan milik orang lain, dari pada menambah kwalitas dirinya sendiri," Suki menitikkan air matanya, yang mengalir perlahan di pipi keriputnya.
Masih teringat di benaknya betapa manis Mona ketika kecil, berlari memeluknya. Gadis yang selalu memakai kostum bagaikan peri. Peri kecil yang kini tumbuh dewasa menginginkan menjadi seorang ratu, hingga tega menghujam belati pada kakeknya sendiri.
Mengetahui segalanya? Jemari tangan Suki gemetaran saat dulu mengetahui dirinya lumpuh akibat terpapar arsenik, dalam jangka waktu panjang. Tidak ada botol racun yang ditemukan saat koki dan pelayan digeledah. Namun, hingga akhirnya, satu tahun terakhir, dirinya mengetahui, kebiasaan Mona membawa teh ke dalam rumah kaca sebelum memberikan padanya.
Bunga yang indah, digunakan untuk menjadi seorang ratu, oleh peri kecil yang bodoh. Menikam tangan keriput yang memberinya kasih sayang.
__ADS_1
"Semua orang dalam rumah ini sama, Tomy akan berubah fikiran. Dia dapat melindungi dirinya sendiri. Namun, tidak akan dapat melindungi keluarganya..." ucapnya menitikkan air matanya. Betapa kedudukan membuat meja makan hangat, menjadi medan perang. Di tengah orang-orang yang berusaha tersenyum penuh dendam di hadapannya.
Bersambung