
...Cinta? Bagaimana cinta itu dapat menyakiti dan melukaimu. Menusuk mu bagaikan menghujam pisau tumpul yang lebih menyakitkan, mengikis kulitmu sedikit demi sedikit....
...Membuatmu bertindak tidak rasional, menampakkan wajahmu yang sebenarnya. Saat itulah aku akan tersenyum menatapmu, terpuruk di bawah kakiku......
Tomy...
Terlihat canggung, mengambil makanan dengan cepat bagaikan orang kelaparan. Wajahnya nampak lugu, hanya tersenyum menawarkan aura bagaikan bawahan.
"Pelan-pelan..." Mona tersenyum padanya, memberikan segelas air.
"Terimakasih," ucap Tomy tersenyum, meraih air sungkan.
Hampir semua orang menatapnya penuh senyuman, hanya satu orang yang mungkin tidak,"Aku sudah selesai..." ucapnya menghela napas kasar.
"Gilang, kamu mau kemana?" tanya Leon menatap putranya.
"Piknik, aku penat berada di rumah ini," jawabnya mengambil ice box dan kotak keranjang.
"Piknik? Gilang mungkin sudah mempunyai pacar. Dia sudah dewasa..." Mona tersenyum, sedikit melirik tajam. Pada area pintu keluar, bersamaan dengan seorang pengawal mengikuti pemuda itu.
"Dia memang sudah cukup dewasa, jadi jangan mencampuri urusannya," Leon menghela napas kasar, menatap tidak suka, kembali menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Tomy, kamu tidak memiliki kekasih?" tanya Mona yang mencoba mendekatkan dirinya.
Seketika gerakan alat makan semua orang terhenti. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Mona.
"Aku sudah menikah," Tomy tersenyum, menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Kenapa tidak membawanya tinggal disini?" Mona kembali bertanya.
Pemuda itu menunduk,"Dia sudah meninggalkanku, terlebih dahulu..." ucapnya, kembali makan.
Leon tersenyum sejenak, kemudian memasang wajah bagaikan berduka,"Jika tidak tau apa-apa, jangan banyak bertanya. Istrinya yang tengah hamil meninggal satu bulan yang lalu dalam kebakaran,"
"Tomy, maafkan Mona ya? Mona tidak tau apa-apa," Agra (ayah Mona) menghela napas kasar.
"Tidak apa-apa, aku sudah merelakannya," dustanya, masih berusaha tersenyum."Omong-omong kakak ipar tidak memiliki kekasih?" tanyanya pada Mona.
"Sudah, dia bekerja sebagai direktur kantor cabang perusahaan kita..." jawab Mona tersenyum.
"Bekerja di perusahaan kita? Apa dia tampan? Aku ingin bertemu dengannya, mungkin kami akan akrab, dapat menjadi satu team bermain game online," Tomy terlihat antusias.
__ADS_1
Hampir semuanya menatap jenuh, pada pemuda yang hidupnya terlihat terlalu santai. Beberapa hari ini tidak ada pergerakan dari Tomy, hanya mengunci diri di dalam kamar, keluar untuk berbelanja di swalayan, atau menyiram tanaman.
Bahkan mengunjungi salah satu cabang perusahaan, atau mendekati pemegang saham lainnya pun tidak pernah.
Komisaris? Apa Suki sudah gila memilih orang lugu, udik, pemalas sebagai komisaris? Mungkin begitulah pemikiran semua orang di meja makan. Tidak sabaran, untuk mengendalikan Tomy bagaikan bonekanya. Kemudian membuang, saat tidak memerlukannya.
Namun, apa benar pemuda penuh dendam itu telah terbuai dalam kehidupan yang nyaman?
***
"Emmmnnngghhh..." suara lenguhan seorang wanita terdengar."Berhenti," ucapnya, menghentikan jemari tangan yang terus membuai tubuh indahnya."Handphoneku berbunyi..."
"Ayolah, biarkan saja," ucap pemuda yang kini hanya memakai boxer.
"Tidak bisa, ini penting," sang wanita, mengecup bibir sang pemuda, kemudian bangkit dari tempat tidur menuju toilet hanya mengenakan pakaian dalam saja.
"Tuan..." ucapnya mengangkat panggilan.
"Dia memuaskan?" tanya seseorang dari seberang sana.
"Sangat, anda memberiku uang, dia juga royal. Aku mendapatkan double," jawabnya sembari menatap tubuh indahnya di yang terpantul di cermin kamar mandi sebuah hotel.
"Tapi, anda bilang..." kata-katanya terhenti.
"Aku hanya membayarmu untuk mendekatinya, tidur tiga kali dengannya, uang yang aku transfer kali ini adalah uang terakhir," orang yang menghubunginya, mematikan panggilan sepihak.
"Tuan!! Tuan!! Tuan!! Sial!!" umpat sang wanita bertubuh indah, menyadari panggilannya diputuskan sepihak, sejenak melirik ke luar kamar mandi.
"Tidak apa-apa, setidaknya aku memiliki kekasih yang royal..." gumamnya, kembali berjalan ke tempat tidur. Melepaskan satu persatu dari dua helai kain kecil yang melekat di tubuhnya.
***
Jaring yang lengket dan kokoh, tanpa merugikan diperlukan untuk menjerat seekor kupu-kupu. Seorang pemuda tersenyum setelah menutup panggilannya.
Kalian tau perbedaan antara j*lang dan wanita yang terpaksa menjadi j*lang? Bukankah semua sama saja? Tidak sepenuhnya, wanita yang terpaksa menjadi j*lang akan puas dan berhenti, jika sudah mendapatkan jumlah yang cukup.
Sedangkan seorang j*lang sejati tidak akan pernah puas, menghisap mangsanya hingga tidak tersisa. Bahkan membuat sang pria melupakan segalanya, termasuk rasa kasihnya pada pasangan sesungguhnya.
Itulah yang kini tengah dimainkan Tomy. Menjadi boneka? Tidak, merekalah yang akan menjadi boneka yang dipermainkannya. Menyewa seorang j*lang sejati untuk mendekati kekasih sepupunya.
Kesalahan Tomy? Tidak, dirinya hanya membayar tiga kali. Sang wanita malam lah yang melanjutkan untuk mengambil segalanya. Dan sang pria lah, yang lebih memilih kepuasan di tempat tidur, dimanjakan dengan wajah rupawan dan tubuh indah.
__ADS_1
Hanya berdiam sebagai pemalas yang tidak bertindak? Pemuda itu sudah terbiasa bekerja secara profesional. Menghubungi profesional heaker, meretas data perusahaan Bold Company, untuk dikirim dan diperiksa olehnya dalam kamar yang tertutup.
Pemegang saham? Untuk apa mendekati mereka, bekerja bertahun-tahun bersama Farel dan keluarganya, membuat Tomy mengenal orang-orang dari kalangan pebisnis multinasional. Semua pemegang saham Bold Company mungkin sudah mengenal namanya, takut akan prilakunya ketika bekerja sebagai asisten pemilik JH Corporation.
Hanya terdiam di kamar, namun menonton, menyaksikan semuanya. Mengendalikan sesuka hati bagaikan boneka tali.
Tok...tok...tok...
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, laptop segera ditutupnya. Memakai headphone, menyalakan komputer, seolah-olah tengah bermain game online.
Beberapa menit berselang, pemuda itu keluar penuh senyuman, memakai kaos dan celana pendek seolah-olah bagaikan anak SMU yang kecanduan game,"Kakak sepupu, maaf aku tidak dengar. Aku sedang bermain game, kakak ingin ikut?"
"Tomy, bisa kamu membantuku!?" tanyanya penuh harap.
"Membantu? Masuklah..." jawabnya tersenyum ramah, mulai menyalakan sakelar lampu dalam ruangan yang gelap. Hanya terlihat sinar komputer yang menyala disana.
"Ada apa?" Tomy mengenyitkan keningnya.
"Lian, pacarku sering tidak dapat dihubungi, sifatnya berubah, kami sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Aku terlalu sibuk, harus bekerja di kantor dari pagi hingga malam, untuk mengerjakan beberapa proyek. Bisa bantu aku mengikutinya? Setidaknya bicara padanya agar hubungan kami membaik," tanyanya penuh harap.
"Ada aku, kakak adalah satu-satunya anggota keluarga yang aku percayai. Aku akan menolongmu..." ucapnya menggenggam jemari tangan Mona menyanggupinya.
Tersenyum penuh arti, menatap boneka talinya yang putus asa. Lebih tepatnya, kupu-kupu cantik yang telah terjerat tali rapi yang pintalnya.
***
Sedangkan di tempat lain, terjadi kejar-kejaran antara dua buah mobil.
"Sial!!" umpat seorang pemuda, menghela napas kasar, menginjak pedal gasnya lebih dalam.
Mobil yang dikendarainya, mulai memasuki gang pemukiman. Memarkirkan mobilnya di lapangan bola asal, berjalan cepat mencari angkutan terdekat.
"Bodoh..." ucapnya tersenyum sembari tertawa, menaiki ojek pangkalan, membelah jalan tikus lainnya.
Sebuah mobil berhenti, memasuki lapangan dalam kompleks pemukiman, tepat di depan mobil sang pemuda yang terparkir asal. Seorang pria yang memakai setelan jas hitam turun, membuka pintu mobil dengan cepat.
"Sial!!" umpatnya tertipu, gagal mengikuti pemuda itu kembali.
Dengan segera menghubungi, majikannya,"Maaf, saya kehilangan jejak..." ucapnya memberi laporan.
Bersambung
__ADS_1