Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
22 Orang Anak


__ADS_3

Menjauh? Itulah yang dilakukan Irgi, tidak ingin mendekati Mike dan berselisih dengan ayahnya lagi. Menjadi putra kesayangan Adrian, merupakan hal yang membanggakan bukan?


Namun, benalu itu datang walaupun tidak sering. Hanya ingin bertemu dengan Adrian. Rasa takut menghampiri Mike, takut akan semua perbuatan tercelanya di ketahui Adrian.


Irgi yang menurut perkataan Lia, tidak akan mengadu. Namun, Tomy?


Surat perjanjian dilemparkan Lia, wanita itu menatap tajam pada suaminya.


"Anak harammu, harus menandatanganinya. Kamu menyayangi Irgi dan Mike bukan? Tunjukkan ketulusanmu, jika tidak aku akan menggugat cerai. Kemudian membawa kedua putra kita..." ucapnya.


Pilihan yang sulit? Menandatangani surat agar Tomy tidak mendapatkan hak waris apapun? Namun, putra ketiganya memang tidak pernah mendapat apapun bukan? Setidaknya, dengan memberinya uang sebagai ganti untuk menandatangani berkas. Tomy akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Merlin tidak perlu menjual diri lagi. Dirinya dapat memberi tanpa mendapatkan cercaan dari keluarga besarnya lagi.


"Baik, Tomy akan menandatanganinya," jawab Adrian meraih berkas yang terdapat di atas meja.


***


Malam sebelum kepergian Merlin, malam saat wanita itu sakit, tepatnya malam saat Tomy kecil bertemu untuk terakhir kalinya dengan Adrian.


Mike melihat segalanya dari lantai dua, anak gagap itu mengatakan ingin memeluk Adrian.


Hanya bentakan kasar yang didapatkannya, seperti biasanya. Memamerkan kedekatannya dengan Adrian menjadi tujuan Mike saat ini. Membuat Tomy mengetahui siapakah dirinya, hanya anak memalukan yang disembunyikan Adrian dari publik.


"Tidak, jangan mendramatisir, pulanglah..." Adrian mengenyitkan keningnya, menolak permintaan Tomy, yang hanya ingin sekali saja memeluk ayahnya.


Tomy mengambil amplop coklat besar yang penuh dengan uang, berjalan beberapa langkah, hingga Mike menuruni tangga. Seolah baru terbangun dari tidurnya."Ayah," ucapnya menggosok-gosok matanya.


"Anak ayah kenapa bangun, ini masih malam," Adrian bangkit menggendong Mike, menapaki tangga.


"Aku haus..." ucapnya.


"Biar ayah buatkan susu ya," Adrian selalu menatap sinis pada Tomy, tersenyum hangat pada Mike. Status anak haram di luar nikah dan putra sah memang berbeda, itulah yang ingin ditunjukkan Mike pada Tomy.


Tomy memeluk erat uang yang didapatkannya dari sang ayah, sebagai ganti menandatangani surat perjanjian, bahwa dirinya tidak akan menuntut apapun. Berjalan tertunduk, meninggalkan rumah.


***


Ting...ting...ting...


Adrian masih mengaduk gelas susu yang hendak diberikannya pada Mike. Hingga jemari tangannya terhenti, wajah anak itu terbayang lagi.


Segelas susu yang sudah jadi, ditinggalkan. Berjalan cepat menuju area depan rumah. Mengejar anak yang baru diputuskan hubungannya. Memiliki hubungan darah, namun tidak pernah diperhatikan olehnya. Baru menyadari mungkin betapa terlukanya anak itu.


"Tuan?" security yang berjaga di area depan rumah mengenyitkan keningnya, menatap kepanikan dalam raut wajah tuannya.


"Apa Tomy sudah pergi?" tanyanya pada sang security.


"Sudah, tuan..." jawab sang security menunduk memberi hormat.


Mata Adrian menatap jalanan di depan rumahnya yang sepi. Menghela napas kasar, entah kenapa langkahnya terasa lebih berat lagi. Seakan tidak akan bertemu dengan anak gagap itu, dalam jangka waktu yang panjang.


Memeluknya? Mungkin jika langkahnya lebih cepat untuk mengejar. Atau langkah putranya lebih lambat untuk pergi, dirinya akan melakukannya.


Andai kamu bersikap lebih baik, ayah akan sering menemuimu diam-diam. Tapi lingkungan tempatmu tinggal, membuatmu, berkeinginan selalu melukai saudaramu. Maaf... gumamnya kembali masuk, menyesali dirinya yang tidak pernah dapat mengabulkan keinginan sederhana putra yang tidak pernah merasakan kasih sayangnya.


***


Hari demi hari berlalu, anak itu tidak pernah datang lagi. Bahkan pada acara ulang tahun Adrian. Menemui Merlin yang sudah berhasil masuk ke dunia hiburan, hanya karena merindukan putra yang dulu selalu didorongnya pergi? Tidak Adrian terlalu gengsi melakukannya, menahan rasa bersalahnya. Tidak mengabulkan keinginan putra yang sudah tidak ditemuinya dalam jangka waktu yang lama.


Hingga, 2 tahun berlalu, Adrian menghela napas kasar, menghadiri acara pernikahan rekan bisnisnya. Pria yang sudah berumur 60 tahun, duda kaya yang hanya memiliki seorang anak perempuan yang tinggal di Jerman. Sang anak tinggal bersama suaminya, memutuskan hidup mandiri bersama anak dan suaminya. Meninggalkan sang ayah diusia tuanya.


Menikah di usia ini? Mungkin lebih tepatnya berkeinginan mencari teman hidup, untuk mendampingi hari tuanya.


Pernikahan yang sederhana, resepsi tertutup, bahkan calon mempelai wanitanya tidak disebutkan namanya.


"Selamat..." ucap Adrian tersenyum, menjabat tangan keriput rekan bisnisnya."Omong-omong dimana mempelai wanitanya?" mata Adrian menelisik.


"Sebentar lagi akan keluar. Usianya masih muda, jadi senang berdandan. Jika sudah berdandan lupa waktu..." sang pengusaha tua, tertawa kecil."Nah, itu dia..." ucapnya, menunjuk ke arah wanita cantik dengan gaun putih, yang senada dengan setelan jas sang pengusaha tua.


Jantung Adrian berdebar dengan cepat, menatap wajah itu dari jauh. Setelah sekian tahun tidak bertemu. Wanita itu terlihat lagi, namun tetap bukan miliknya. Milik pria yang tersenyum dengan wajah keriputnya.


"Cantik bukan? Dia dari kalangan selebriti, namanya Merlin. Aku menyelamatkannya saat akan menjadi korban perdagangan agensi artis yang berbuat kotor. Mengharuskan melayani produser agar mendapatkan peran,"

__ADS_1


"Dia tidak menangis saat itu, walaupun hampir dilecehkan. Aku membayar denda pembatalan kontraknya, mencarikannya agensi artis yang baru," ucap pria tua itu tersenyum, menatap Merlin dari jauh.


"Tentu saja tidak menangis, dia tetap saja seorang wanita malam!! Orang yang menjual tubuhnya demi uang," Adrian mengepalkan tangannya, menahan rasa sesak di dadanya. Mengetahui pernikahan Merlin, wanita yang ingin dimilikinya, namun tidak pernah dapat digapainya.


"Kamu masih terlalu muda, tidak mengerti dengan jalannya dunia ini. Atau perasaan orang lain. Aku tau dia dulunya wanita malam, dia sendiri yang mengatakannya,"


"Tidak pernah ada orang yang benar-benar baik padanya. Menikmati tubuhnya, membayar, kemudian pergi berlalu. Dia hanya memerlukan perlindungan, dan rasa aman. Kami sudah menjalin hubungan selama beberapa bulan, selama itu dia tidak meminta apapun, hanya makanan dan tempat tinggal," ucapnya menghela napas kasar.


"Tapi dia menjajakan tubuhnya, apa kamu tidak jijik!? Bisa saja dia akan meninggalkanmu setelah mengambil seluruh kekayaanmu!?" tanya Adrian menyakinkan pria tua yang berada disampingnya agar meninggalkan Merlin.


Pria itu menggelengkan kepalanya, kemudian tertawa kecil,"Kami sudah ke rumah sakit, dia tidak menderita penyakit seksual menular,"


"Dia berlutut di hadapanku, berterimakasih. Bersumpah akan menemaniku, hingga akhir hidupku. Karena sudah memberikannya perlindungan,"


"Merlin memang terkadang egois dan kekanak-kanakan. Tapi dia terlihat tulus mengatakannya. Harta? Nama baik? Aku tidak peduli akan semuanya. Anakku memilih hidup bebas, melupakan ayahnya yang tua renta. Aku menderita kanker otak. Diusiaku sulit untuk bertahan jika menjalani operasi. Merlin lah yang aku perlukan, orang yang akan menemaniku dan menangisi pemakamanku nantinya," jawab sang pria tua berjalan mendekati Merlin, menggandeng tangannya. Anehnya Merlin tersenyum, bukan cinta atau uang ternyata hal utama yang diperlukannya.


Namun sebuah tempat berlindung, merasa aman, dan menjaganya. Sesuatu yang tidak pernah dapat diberikan Adrian, karena rasa takutnya akan kehilangan harta, nama baik, karena kemarahan keluarga besarnya.


Merlin mengenyitkan keningnya, menatap dari jauh pria yang paling dibencinya. Menjulurkan lidahnya, mengejek, tanpa disadari suaminya. Kemudian, menarik sang pengusaha tua, mencium pipi keriputnya.


Orang-orang yang berada di dekat sana bertepuk tangan. Menatap pasangan yang terlihat bahagia.


Berbeda dengan Adrian, pria itu tersenyum, lebih tepatnya memaksakan dirinya tersenyum, menahan rasa sesak di dadanya,"Merlin memang kekanak-kanakan..." gumamnya.


***


Mobil mulai terparkir di garasi, Adrian pulang lebih awal. Seperti biasanya pula, setiap dirinya tidak ada di rumah Jimy akan datang.


Adrian mengepalkan tangannya, dirinya tidak dapat bersama Merlin. Namun, Lia dapat membawa Jimy sesuka hatinya.


"Aku terlalu merendah..." ucapnya tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri, kembali masuk ke dalam mobil. Mengambil keputusan yang tidak berani dilakukannya 13 tahun yang lalu.


Beberapa puluh menit kemudian, pria itu datang kembali. Menyewa wanita dengan harga yang paling mahal. Wanita cantik yang pandai menggoda, wanita malam profesional.


Masuk ke dalam rumahnya, membuka pintu kamar Lia. "Adrian, maaf aku..." kata-kata wanita yang masih berbalut selimut itu terhenti.


"Tidak perlu meminta maaf, ini bukan pertama kalinya aku memergoki kalian. Dari 14 tahun yang lalu, entah berapa kali, sampai lupa menghitungnya..." ucapnya tertawa kecil, merangkul pinggang seorang wanita berpakaian minim."Adukan aku pada keluarga besarku, jika aku berselingkuh. Katakan hari ini aku membawa seorang wanita pulang," ucapnya mencium bibir sang wanita malam di hadapan Jimy dan Lia.


"Perusahaan memang sebagian besar sahamnya milik keluarga besarku. Namun, aku merintisnya dari masih kuliah. Kamu ingat sendiri, bagaimana pemuda berusia 18 tahun nekat menikahi pacarnya yang hamil. Menghidupi istri dan anaknya, sembari kuliah,"


"Jika mereka menarik saham aku akan mulai dari nol. Jika kamu ingin membagi harta, padahal tidak menghasilkan sepeserpun uang, kita akan bagi semuanya. Tapi, ingat ini jangan pernah mengemis untuk kembali..." ucapnya, kembali merangkul sang wanita malam menuju kamarnya, yang memang sudah lama terpisah dengan kamar Lia.


Lia mengepalkan tangannya, geram. "Dia tidak akan berani. Aku akan mengadukan pada keluarga besarnya..." gumamannya.


"Tenanglah, aku baru saja membuka perusahaan. Walaupun tidak sebesar Pratama Group tapi jika dengan pembagian harta yang kamu dapatkan. Perusahaan akan berkembang pesat..." ucap Jimy mencium bibir wanita yang masih hanya berbalut selimut. Melanjutkan aktivitas mereka.


***


Pria itu hanya diam, menatap ke arah balkon,"Buka pakaianmu!! Dan tidurlah, besok pagi-pagi sekali. Istriku akan datang membawa beberapa orang anggota keluargaku..." ucapnya pada wanita yang tidak mengerti dengan pengusaha yang menyewa jasanya, tapi tidak berkeinginan menggunakannya. Menuruti perintah Adrian.


Benar saja, pagi mulai menjelang, wanita itu tidur tanpa busana. Tidak disentuh sama sekali oleh pria yang memilih tertidur di sofa. Adrian menghela napas kasar bersiap untuk kehilangan segalanya.


Bagaimanapun cepat atau lambat semua akan terjadi. Walau memiliki bukti perselingkuhan Lia dengan Jimy pun, wanita itu terlalu pandai menepis. Mengatakan ini semua salah paham, atau dirinya dijebak Merlin yang entah berada dimana.


Hal itu terjadi juga, saham ditarik oleh semua anggota keluarga besarnya. Hartanya dibagi dua dengan Lia. Setelah Adrian dengan sengaja tertangkap basah berselingkuh, menginginkan bercerai, melepaskan segalanya.


Dari dulu Adrian hanya pernah berselingkuh dengan Merlin. Wanita yang disewa tanpa disentuhnya, hanya untuk alasan bercerai dengan Lia.


***


Irgi lebih memilih tinggal dengan ayahnya. Sedangkan Mike tinggal dengan ibunya.


Adrian merintis perusahaan yang hampir bankrut, kembali berjaya bahkan berkembang pesat, setelah dua tahun berlalu dari hari perceraiannya.


Tidak rela semua jatuh ke tangan Irgi nantinya. Mike kembali tinggal dengan ayahnya. Namun, dengan kepribadian yang berbeda. Dimasa SMU-nya Mike dikeluarkan dari sekolah, akibat dengan sengaja merusak motor teman sekelasnya hingga terjadi kecelakaan. Kecelakaan yang tidak menelan korban, tapi remaja dengan prilaku buruk itu, dikeluarkan oleh kepala sekolah.


Lebih pintar dari Irgi, tentu saja. Mike melanjutkan kuliah, kembali berusaha menarik perhatian Adrian. Namun ayahnya tidak seperti dahulu, yang mudah didekati, mendengar dan mempercayai semua kata-katanya.


Surat perjanjian yang ditandatangani Tomy dirobek Adrian tanpa alasan. Mencari keberadaan si anak gagap, tertinggal dengan hati yang penuh dengan penyesalan.


Seharusnya, aku melakukannya dari dulu. Meninggalkan Lia yang sudah memiliki Jimy, walaupun harus kehilangan semua harta yang dapat aku cari... Menikahi Merlin, memberinya rasa aman, tidak meninggalkannya, hanya karena rasa cemburu. Rasa cemburu? Aku tidak pernah membelikan sekilopun beras untuknya makan, kecuali uang yang aku berikan sebelum dirinya mengandung putraku. Hingga dirinya memutuskan mengisi perutnya dengan cara yang salah...

__ADS_1


***


Setahun kemudian, Merlin menemuinya mencari keberadaan Tomy. Hati wanita itu mungkin sudah tertutup untuknya. Merlin memenuhi janji setianya pada pengusaha tua renta, penderita kanker otak. Menemaninya, menggenggam erat tangan sang pengusaha tua hingga, suaminya yang telah renta itu meninggal akibat penyakitnya.


Menjadi satu-satunya orang yang menangis di pemakaman sang pengusaha tua yang telah menjaganya. Memberinya rasa aman, dari kerasnya dunia ini. Kata-kata pengusaha tua itu terbukti, bukan rupa atau harta yang membuat Merlin berhenti menjual dirinya pada akhirnya. Tapi tangan keriput almarhum suaminya yang telah menolongnya.


Bermusuhan? Entah kenapa, setiap bertemu dengan Merlin dirinya selalu memaki. Meninggikan nada suaranya, sama seperti wanita itu yang terlanjur menganggapnya musuh bebuyutan.


Begitulah dirinya menjalani kehidupan, membiarkan Mike membantu, mengelola perusahaan. Selama dirinya mencari jejak Tomy, putra ketiganya ke Singapura.


Kekecewaan? Itulah yang didapatkannya. Perusahaan kacau balau, seluruh tender proyek diberikan pada perusahaan milik Jimy. Dana perusahaan masuk ke rekening pribadi milik Mike.


Dengan angkuhnya, anak yang dulunya bertubuh lemah. Kini berdiri tegak melempar dokumen hasil tes DNA. Ternyata dirinya hanya memiliki dua putra, Irgi dan Tomy putra yang diacuhkannya karena termakan kata-kata lemah dari Mike, putra dari mantan istri dan selingkuhannya.


***


Saat ini, kantor JH Corporation...


Tomy menghela napas kasar, dengan wajah cemberut, membuka cup mie instannya yang sudah matang.


"Maaf..." Frea menertawakan suaminya.


"Apa jika ganti tempat boleh?" tanya Tomy penasaran.


Frea mengangguk, menyeruput mie instan miliknya.


"Kenapa tidak disini saja?" tanya Tomy penasaran, mengingat kegiatan panas mereka yang terhenti di tengah jalan. Hanya ciuman panas, dibiarkan meraba tubuh Frea. Hanya sebatas itu.


"Kamu sudah gila!! Ini kantor!! Selain itu melepas keperawananku di tempat..." kata-kata bentakan Frea terhenti, menahan rasa malunya.


"Kamu belum pernah melakukannya?" tanya Tomy memastikan pendengarannya.


Frea tertunduk, mengangguk membenarkan.


"Benar-benar menjadi perawan tua!!" Tomy tertawa memegangi perutnya, menghentikan aktivitas makannya.


Plak...


Sebuah map dipukulkan Frea, pada kepala suaminya. "Dasar bocah!! Aku dulu menolongmu tapi kamu malah mengutukku menjadi perawan tua..." bentaknya bersungut-sungut kesal.


Tomy bangkit dari kursinya, sedikit membungkuk, mencium bibir istrinya. "Aku tidak pernah memiliki kekasih. Bahkan tidak pernah mencium bibir seorang wanita selain Frea..." ucapnya, berbisik.


"Tidak pernah mencium bibir? Berarti bagian tubuh lainnya pernah," Frea mengenyitkan keningnya, menatap curiga.


Tomy mengangguk, "Aku pernah mencium kening mayat. Aku serius, mungkin arwahnya mengikutiku sampai sekarang,"


"Jangan begitu, hanya kita berdua yang berada di lantai 8..." Frea menghela napasnya ketakutan.


"Aku bahkan pernah memasuki rumah tua, bekas korban bunuh diri. Sangat menyeramkan, rumah orang Jepang dengan pedang samurai sebagai pajangannya. Putrinya bunuh diri ketika hamil," ucapnya serius, ingin menakuti istrinya.


Dan benar saja,"Pekerjaanmu sudah selesai? Kita pulang ke apartemen ya?" ucapnya memeluk lengan suaminya.


***


Mobil melaju membedah jalanan perkotaan, rumah besar dengan dua orang penjaga gerbang terlihat.


"Kita dimana? Kenapa berhenti disini? Disini rumah bosmu (pemilik JH Corporation) ya?" tanyanya.


"Bukan, rumah ini milik istri dan anak-anakku..." jawabnya berjalan cepat meninggalkan Frea.


"Tomy kamu sudah pernah menikah sebelumnya!! Jadi aku istri kedua!?" ucap Frea mengejar Tomy dengan prasangkanya.


"Tuan..." beberapa pelayan menunduk memberi hormat.


Sementara Tomy terus melangkah dengan cepat, diikuti Frea. Pintu kamar besar terbuka, terlihat ruangan luas.


"Aku merencanakannya selama 17 tahun. Rumah ini cukup besar untuk tim kesebelasan berikut cadangannya kan?" tanyanya duduk di tepi tempat tidur.


Direncanakan selama 17 tahun? Anak ini memang memiliki niat busuk dari awal. Mengutukku menjadi perawan tua, untuk menunggunya menikahiku. Dan sekarang tim kesebelasan beserta cadangannya...Aku akan mati saat melahirkan...


"Tomy, mungkin kamu belum mengerti, anak tidak bisa datang begitu banyak dengan cepat..." ucapnya gugup, menatap bocah lemah. Bocah yang kini tumbuh dewasa, menginginkan 22 anak darinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2