Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Bencana


__ADS_3

Handphone pemuda itu tiba-tiba berbunyi, Tomy menghela napas kasar, mengangkat telepon dari orang suruhannya.


"Tuan..." terdengar suara seorang pria dari seberang sana.


"Bagaimana?" tanya Tomy, pada seseorang yang ditugaskannya mencari jejak Simon.


"Jejak terakhir, transaksi penarikan uang dalam jumlah besar beberapa minggu yang lalu. Saya sempat mencari informasi di kalangan penjual senjata ilegal, seperti suruhan anda. Hasilnya, Simon membeli senjata laras panjang, biasa dipergunakan untuk menembak dalam jarak jauh," jawabnya.


Jemari tangan Tomy mengepal, dirinya sudah tertinggal langkah,"Ada informasi lain?" tanyanya.


"Ada, pemesanan tiket pesawat ke luar negeri untuk penerbangan sore ini atas nama Simon," jawab seseorang dari seberang sana.


"Cari informasi tambahan lebih detail lagi.." Tomy memberikan instruksi terakhirnya, kemudian menutup panggilannya.


Jemari tangannya mengetuk pegangan kayu otaknya mulai berpikir, langkah selanjutnya. Tiket penerbangan sore ini, berarti Agra dan Gilang akan dilenyapkan pada pagi atau siang hari.


Menembak dari jarak jauh, sedangkan tidak semua gedung pencakar langit dekat Bold Company dapat dimasuki pihak kepolisian, atau pengawal pribadi miliknya guna meringkus Simon.


Mengerahkan pengawal profesional untuk menjaga Gilang dan Agra? Maka Simon akan menunda untuk bertindak. Pemuda itu akan membuat rencana yang lebih matang lagi. Mungkin berikutnya akan lebih berbahaya.


Hingga satu jalan dipilihnya dalam waktu yang sempit.


Tomy menghela napas kasar, tersenyum menatap ke arah Kenzo dan Suki. Tidak menyadari, tiba-tiba pemuda yang diamatinya itu menoleh padanya. Menyadari ada yang aneh dengan raut wajah Tomy.


***


Hingga dirinya kembali melangkah ke lantai dua, hendak menemui istri dan anaknya. Sejenak raut wajahnya berubah, berpapasan dengan Agra, jemari tangannya mengepal. Dendam yang akan kembali menjadi dendam yang baru, ini harus dihentikan. Mungkin itulah tujuannya saat ini. Mutuskan sebuah rantai yang menyakitkan.


Jemari tangannya gemetar, perlahan memegang hendel pintu. "Frea..." ucapnya kembali berusaha tersenyum.


Wanita itu duduk di tepi tempat tidur, tengah memakaikan minyak kayu putih pada tubuh Kira.


"Kamu belum berangkat?" tanyanya, tersenyum pada Tomy.


Pemuda itu melangkah, duduk di dekatnya, menggelengkan kepalanya. "Frea, boleh aku minta sesuatu?" tanyanya.


"Apa?" Frea mengenyitkan keningnya, namun pemuda yang berusia lebih muda darinya itu memeluknya.


"Aku mempunyai firasat buruk, kamu tau terkadang aku seperti cenayang," Tomy tertawa kecil, mengatakan kata-kata asal.

__ADS_1


"Firasat buruk?" tanyanya tidak mengerti.


Tomy mengangguk,"Ajari putra kita agar tidak menjadi seseorang yang pendendam. Apapun yang terjadi padanya, kehilangan siapapun dirinya,"


"Kenapa bukan kamu yang mengajarinya?" Frea menghela napas kasar, masih dalam pelukan suaminya.


"Aku ingin, semoga saja bisa. Karena Frea-ku adalah ibunya. Dia akan lebih mendengarkan kata-katamu dari pada kata-kataku..." jawabnya ambigu, memeluk Frea lebih erat penuh senyuman. Menyenderkan dagunya, seolah ingin merasakan perasaan nyaman, yang selalu dirindukannya.


"Tomy...?" Frea terdiam menatap tingkah aneh suaminya.


Tidak menyadari, pemuda itu kini tengah ketakutan. Tangan dinginnya yang memeluk Frea mengerat, Aku akan mempertaruhkan segalanya kali ini, maaf... gumamnya, dengan tangan gemetar.


"Aku mencintaimu, 'Sayang'..." ucapnya tersenyum lembut.


Tomy melepaskan pelukannya, meraih putranya, "Anak ayah, bertambah tampan saja..." ucapnya mengecup pipi Kira berkali-kali.


Untuk pertama kalinya, pemuda itu benar-benar ketakutan dengan keputusannya. Keputusan yang dapat mempertaruhkan hidupnya.


***


Hanya 15 menit Tomy menghabiskan menghabiskan waktu dengan istri dan putranya. Tomy menghela napas kasar, memasuki mobilnya. Perlahan mengikuti mobil Agra dari belakang.


Dering suara phonecell terdengar. Pemuda itu segera mengangkatnya, menggunakan earphone yang melekat di telinganya.


"Menjadikan diriku sebagai perisai yang melindungi umpan. Aku sudah memakai rompi anti peluru," jawabnya, terdengar santai.


Semoga saja, rompi ini tidak bermasalah... gumamnya dalam hati.


"Bodoh, bagaimana jika dia menembak di kepalamu!? Kita hanya perlu bersabar!! Ke kantorku sekarang!! Dalam 15 menit kamu sudah harus disini!!" bentak Farel.


Aku ingin ke kantormu, berlindung di balik ketiak Firaun sepertimu. Tapi waktu terlalu tipis, mungkin jika aku ke kantormu. Agra dan Gilang sudah tewas. Aku hanya kebagian acara pemakaman dan sidang pelaku pembunuhannya saja... pertimbangannya.


Tomy tersenyum,"Untuk pertama kalinya aku berkata tidak, orang itu membeli senjata ilegal. Entah siapa saja yang akan dibunuhnya lagi. Kali ini dia akan tertangkap..."


"Tenanglah, kepolisian diam-diam juga melindungi Agra, tentunya atas persetujuanku," lanjutnya.


"Berapa orang yang mereka kirimkan!? Dua!? Tiga!? Apa mereka dapat mengawasi semua tempat? Jika tidak kamu akan mati!!" suara bentakan itu kembali terdengar dari mulut Farel.


Kenapa kamu tau? Firaun k*parat!! Kamu menurunkan keyakinan ku. Mungkin aku akan ditembak di bagian kepala, istriku menjadi janda, lalu menikah lagi. Anakku masih terlalu kecil tidak akan mengingat wajahku. Lalu akan mengira ayah tirinya adalah ayah kandungnya...Hantu-ku akan gentayangan di sekitar lokasi kematianku... komat-kamit khayalan tingkat tinggi dalam hatinya, masih berusaha untuk terlihat tetap tenang dan keren.

__ADS_1


"Pengawalku, sudah berjaga-jaga, tenang saja, nyawaku ada 9. Hilang satu tidak akan masalah," Tomy bergurau, berharap dapat menenangkan dirinya dan Farel.


Mudah-mudahan saja Tuhan memberkatiku dengan 9 nyawa seperti kucing...Aku belum ingin mati... fikirnya.


"Tomy, tugaskan orang lain, untuk melindungi Agra..." ucapnya, memijit pelipisnya sendiri, berusaha bersabar. Tidak ingin nyawa sahabatnya ada dalam bahaya.


"Tidak akan terlihat natural jika ada pengawal yang berjaga di ruangannya. Simon tidak akan bertindak. Dari pada mengoceh, lebih baik doakan, semoga dia tidak menembak di bagian kepala..." Tomy menghela napas kasar, mematikan panggilannya sepihak.


Tidak ada jalan lain yang difikirkannya, jika menjaga Agra menggunakan pengawal atau petugas kepolisian. Simon akan kembali bersembunyi, namun jika dirinya menjaga Agra dalam ruangan pamannya itu, tidak akan dicurigai, sebagai keluarga, sekaligus komisaris di perusahaan tersebut.


Frea, Kira... aku ingin pulang, bermalas-malasan dengan kalian. Hingga berusia 68 tahun, lalu mati mendahului Frea setelah melihat cucuku tubuh besar. Hanya itu keinginan sederhanaku... gumamnya komat-kamit dalam hati.


"Aku tidak akan mati!! Aku tidak akan mati!! Aku adalah Tomy!! Penyihir kucing kesayangan Firaun!! Nyawaku ada 9!!" ucapnya berteriak, mengeratkan memegang stirnya, menginjak pedal gasnya dalam-dalam mengikuti mobil Agra.


***


Awalnya, memang Tomy meninggalkan Kenzo di rumah bersama Suki. Tidak menyadari pemuda itu mengikutinya dengan mobil yang berbeda. Menginjak pedal gasnya dalam-dalam, mencurigai ekspresi wajah Tomy saat mengamatinya dari atas tangga.


"Apa rencanamu? Apa kamu mengetahui sesuatu tentang Simon!?" gumamnya sudah dapat menduga-duga. Kecerdasan Tomy, serta memiliki jaringan informasi yang kuat, keberadaan Simon mungkin sudah diketahuinya.


"Berani melarikan uangku untuk membunuh adikku!! Kamu akan mati!!" umpatnya mengingat sosok Simon yang berniat mengingkari janjinya untuk hanya membunuh Leon dan Agra, tidak melibatkan Gilang sama sekali.


Begitulah aksi kejar-kejaran, saling mengikuti terjadi antara tiga mobil. Agra yang berada paling depan tidak menyadari apapun. Mulai memutar musik mengiringi perjalanannya menuju kantor pusat Bold Company.


Musik mendayu-dayu yang merdu, bahkan dirinya ikut bernyanyi...


'Tubuhku terguncang, dihempas batu jalanan'


'Hati bergetar menatap kering rerumputan, perjalanan ini pun seperti jadi saksi'


'Gembala kecil menangis sedih'


'Kawan coba dengar apa jawabnya, ketika dia kutanya mengapa'


'Ayah ibunya telah lama mati, ditelan bencana tanah ini'


(Ebiet G Ad. Berita Pada Kawan)


Tidak menyadari dirinyalah yang akan terkena bencana. Dijadikan umpan memancing Simon untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Nyanyiannya semakin keras dan santai, menyetir mobilnya penuh senyuman...


Bersambung


__ADS_2