Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Target


__ADS_3

Seorang pemuda berwajah rupawan, terlihat meminum wine-nya. Menitikan air matanya, mengingat wanita yang dicintainya, satu-satunya wanita yang mengisi hatinya. Beberapa minggu ini dirinya, masih terus mengingat bayangan wajahnya yang tersenyum.


Teguk demi teguk dihabiskannya, tidak menyadari seorang wanita mendekatinya.


"Boleh aku bergabung?" tanyanya.


Sang pemuda mengangguk, menghela napas kasar. Mencintai orang tidak mencintainya, mengharapkan untuk mengemis cintanya namun semua harapannya kandas.


"Apa harimu buruk?" Mona kembali bertanya, hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh sang pria.


"Aku juga hariku sangat buruk, mau tidur satu malam denganku?" pertanyaan gila yang keluar dari mulut Mona. Menganggap setiap jam berharga, jam terakhir hidupnya.


Kenapa tidak dihabiskan dengan berbuat baik saja? Karena tidak akan ada surga bagi orang yang bunuh diri. Menikmati hidup di detik-detik terakhirnya.


"Kamu sudah gila..." sang pria mengenyitkan keningnya.


"Hubungan yang aku jalani bertahun-tahun kandas. Aku mencintainya, tapi hatinya sudah bersama orang lain. Tidak bolehkah aku merasakan kehangatan orang lain juga..." Mona tersenyum, senyuman yang menyiratkan kesedihan.


Setidaknya, aku ingin menyakitinya di akhir hidupku. Ditemukan meninggal di tempat tidur pria lain... gumamannya dalam hati, menatap penuh harap. Harapan yang benar-benar bodoh.


"Aku mencintai orang lain, dasar murahan..." cibir sang pria mulai bangkit. Berjalan limbung keluar area restauran.


"Biar aku yang mengantarmu," tawar Mona tersenyum, "Katakan saja dimana alamatmu,"


Alasan sebenarnya Suki memaafkan Mona? Beberapa hari sebelumnya, setelah Lian diketahuinya memiliki hubungan dengan wanita lain. Wanita itu menangis, di depan ruangan rawat sang kakek, tanpa ada niatan untuk masuk. Terlalu malu untuk meminta maaf.


Merasakan bagaimana rasanya dikhianati orang yang dicintai dan dipercayainya. Membayangkan betapa sakit perasaan kakeknya, yang dulu diberinya racun dosis rendah setiap ada kesempatan.


Suki mengetahui semuanya, hanya terdiam, tersenyum mengetahui cucunya pada akhirnya tumbuh dewasa perlahan.


***


Dalam mobil yang melaju tidak terdengar satu kata pun. Hanya keheningan, hingga Mona menghela napas kasar memulai pembicaraannya.


"Dimana rumahmu?" tanyanya.

__ADS_1


"Rumahku adalah rumahnya, dia orang gila yang menikahi pria lain..." jawab sang pria sudah mulai meracau dalam keadaan mabuk.


"Kamu mencintainya? Berapa lama hubungan kalian?" Mona menghela napas kasar, setidaknya memiliki teman bicara di detik-detik terakhir hidupnya.


"6 tahun, dia hanya orang bodoh..." racaunya kembali."Tidak ada wanita yang benar-benar aku cintai dan mencintaiku..."


Mona menghentikan laju kendaraannya, di tepi pantai yang sepi, keluar dari area jalan raya."Aku hanya hidup malam ini saja, mau mencoba mencintaiku? Jika gagal mencintaiku, kamu tidak akan rugi apapun..."


"Persetan dengan cinta, setelah dia pergi jauh. Tidak ada cinta lagi..." ucap sang pria menitikkan air matanya.


"Lihat aku!! Hubungan yang aku jalani selama tiga tahun kandas. Tidak inginkah kamu balas dendam? Aku janji, besok dia akan tau kamu dapat hidup tanpanya..." Mona menyakinkan, mengingat dirinya dan sang pemuda akan berada di halaman utama surat kabar. Sebagai pasangan c*bul dengan sang wanita mati keracunan.


Entah pengaruh alkohol, sang pria menurut memejamkan matanya, mulai memegang tengkuk kepala Mona. Ciuman singkat berkali-kali meningkatkan hasratnya. Hingga akhirnya berubah menjadi gerakan bibir saling menuntut.


Merasakan kehangatan di tengah udara pantai yang dingin. Jantung keduanya berdebar cepat, seseorang yang baru dikenalnya? Namun, perasaan apa ini?


"Emmgghhh..." racau Mona merasakan tubuhnya benar-benar dimanjakan dalam ruangan sempit tanpa penerangan. Pakaian bagian atasnya telah tanggal entah sejak kapan.


Namun, jika ini akhir hidupnya, bukankah akan terasa sepadan. Sang pemuda memangkunya, mencicipi tubuh bagian atasnya penuh hasrat.


Lenguhan demi lenguhan terdengar, berpadu suara deburan ombak. Dosa besar dari dua orang yang memang hidupnya sudah rusak.


Perlahan menikmati malam, bukan terburu-buru penuh napsu. Hanya perlahan, bagaikan perasaan yang menyebar dalam satu malam.


***


Munggunghwa kochi pieotsunida...


Munggunghwa kochi pieotsunida...


Munggunghwa kochi pieotsunida...


Menyerupai bunyi boneka raksasa dalam drama Korea squid game. Begitulah suara alam phoncell Vincent. Pria itu membuka matanya setelah semalam entah melayangkan berapa tembakan hingga sang wanita tidak dikenalnya terkapar.


Jemari tangannya meraba-raba ke arah handphonenya,"Gea terlambat sekolah!!" racaunya, bagaikan tidak mempedulikan seorang wanita yang masih tertidur nyenyak berselimutkan sebuah jaket tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


Memakai pakaian dengan cepat, yang ada diingatannya adalah putrinya tercinta. Berita kematian Frea membuatnya kacau, mungkin karena itulah dirinya mabuk di restauran sang ibu. Seusai pulang kerja.


Membuka pintu mobil, hal yang dilakukannya kemudian? Meninggalkan semua uang tunai dalam dompetnya. Yang hanya lima ratus ribu rupiah,"Maaf cuma ada segini," ucapnya pada wanita tidak dikenal yang tengah tertidur. Tidak dipungkiri, Vincent menikmati malam yang mereka lewati bersama. Ingin memberi uang lebih, tapi tidak ada ATM didekat pantai tempat mobil terparkir. Mengantar Gea yang hampir terlambat ke sekolah saat ini lebih penting.


Dengan cepat menghubungi ojek online, agar lebih cepat menyelip diantara padatnya kendaraan nantinya. Meninggalkan Mona tertidur dalam mobil di tepi pantai.


Belum mandi, dengan penampilan sedikit acak-acakan. Vincent turun dari ojek, di area depan rumahnya.


"Ayah kemana saja?" Gea yang telah menunggu lama merajuk.


"Tidak kemana-mana," jawabnya, mengambil helm, mengeluarkan motor sportnya tidak ingin putri tunggalnya terlambat ke sekolah.


Hot dady? Mungkin itulah sosok Vincent, seorang duda satu anak. Anak yang dicintainya layaknya putri kandungnya sendiri.


***


Di tempat lain...


Mona membuka matanya perlahan, merasakan terpaan angin, yang memasuki jendela mobil yang sedikit terbuka. Tubuhnya terasa remuk menerima serangan pria yang puasa bertahun-tahun setelah kepergian Frea, mantan kekasihnya.


"Apa aku di surga atau neraka?" gumamnya masih menyangka dirinya semalam meminum arsenik dosis tinggi.


Mona, menghela napas kasar mendengar suara phonecellnya. Beberapa pesan masuk, satu pesan dari sepupunya Tomy. Beberapa pesan lain dari Lian yang ingin meminta suntikan dana.


Wanita itu mengenyitkan keningnya merasakan dirinya masih hidup. Mulai memeriksa phoncellnya, pesan Lian yang rata-rata isinya sama, dibacanya sekilas. Sedangkan pesan Tomy dibacanya dengan seksama.


'Kakak sepupu, botolku tertukar dengan kakak. Tolong bawa pulang ya? Isinya sangat penting, sampel air sungai yang tercemar. Tugas temanku yang kuliah membuat skripsi sempel air sungai...'


Alasan yang dibuat Tomy, menghentikan Mona mengakhiri hidupnya dengan menukar botol racun.


Mona terdiam sejenak, kegiatannya semalam terlintas lagi. Pria yang terlihat lebih sempurna dari segi fisik dan rupa dibandingkan dengan Lian.


Wajahnya memerah, masih terasa sentuhan pelan yang diberikan Vincent. "Bukan hanya Lian pria di dunia ini!!" ucapnya, dengan semangat hidup yang kembali.


"Tomy kebodohan dan kecerobohanmu menyelamatkan hidupku..." gumamnya, mengecup pesan dari adik sepupunya."Aku akan membelikanmu perangkat game yang baru..."

__ADS_1


Hingga matanya menelisik, menemukan uang sebesar lima ratus ribu rupiah, uang yang tinggalkan Vincent. Uang tidak seberapa baginya, ditinggalkan pria yang memberinya serangan bertubi-tubi.


Bersambung


__ADS_2