Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Lamaran


__ADS_3

Vincent melepaskan pegangan tangannya, menatap iba pada Mona. "Aku akan membantumu membereskannya..." ucapnya mulai, berjalan ke arah tempat tidur.


Pakaian wanita dan pria masih berserakan disana. Vincent menyingkap selimut, alat pengaman pria bekas pakai terlihat. Pandangan matanya beralih menatap Mona yang menangis memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Sudah merelakan? Tentu, namun rasa sakit tidak akan hilang, luka hati tidak akan sembuh secepat itu. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat.


Tangan Vincent gemetaran, masih teringat jelas kejadian yang membuat Frea meninggalkannya. Rasa sakit yang sama mungkin dirasakan Frea kala menahan tangisnya, mengetahui hal yang dilakukannya dengan Dona.


"Jangan menangis..." ucap Vincent memeluk Mona dari belakang."Cepat atau lambat luka di hatimu akan sembuh. Kamu akan melupakannya..."


Jangan melupakannya... bayangan Vincent dalam hatinya, menganggap pria br*ngsek itu adalah dirinya.


Kata-kata yang menusuk dirinya sendiri, luka di hati Frea telah sembuh. Luka yang ditorehkannya, disembuhkan oleh orang lain.


Tangisan Mona masih terdengar, membalik tubuhnya, memeluk erat tubuh Vincent. Menangis dengan kecang menumpahkan segala rasa sakitnya di hadapan dada bidang itu.


"Dia akan menyesalinya..." Vincent kembali berucap.


Aku menyesalinya... kata-kata dalam hati pemuda itu tertahan, masih terpaku pada kenangan buruk masa lalunya.


Mona mengangguk, mengencangkan pelukannya.


"Kamu dapat hidup bahagia dengan orang lain..." kata-kata hangat dari pria itu kembali terdengar.


Dia (Frea) sudah hidup bahagia dengan orang lain...


Mona menonggakkan kepalanya, menatap mata Vincent,"Aku juga ingin bahagia..." tatapan penuh harap.


"Kamu akan bahagia, aku akan membantumu untuk bahagia..." jawabnya penuh senyuman.


***


Membantu? Bukan sesuatu yang diharapkannya. Mona hanya ingin hati Vincent memandangnya tidak mengharapkan lebih.


Tidak ada yang terjadi saat itu, mengemasi barang Lian? Urung dilakukannya, Vincent menggelengkan kepalanya, hanya berkata,"Kamu harus bahagia..."


Mengantarnya pulang ke kediaman utama, tanpa mengatakan apapun lagi.


Hingga satu bulan berlalu...


Berapa kalipun menunggu di area restauran, Vincent tidak kunjung muncul. Menunggu dengan sabar, hal yang dilakukannya. Namun, pemuda itu bagaikan lenyap ditelan bumi, pemuda bernama Vincent yang hanya pernah ditemuinya dua kali. Pemuda yang membuat hatinya gelisah.


Semua persiapan sudah usai, buket bunga dibawa seorang pemuda, lengkap dengan kotak yang berisikan sepasang cincin berlian.

__ADS_1


Wajahnya nampak tersenyum, poster besar Mona dihiasi bunga mawar disekitarnya terpasang di loby utama kantor.


Musisi sudah bersiap-siap menunggu instruksi...


Sebuah mobil mewah akhirnya terparkir, menampilkan seorang wanita berpakaian serba hitam. Berjalan dengan tegap, menunjukkan aura mendominasi. Riasan tipis menutupi kulitnya yang memang sudah putih alami.


Hingga langkahnya dihentikan, Lian berlutut di hadapannya, menyodorkan sepasang cincin dan buket bunga yang dibawanya,"Will you marry me?" ucapnya.


Pemuda itu tersenyum, menonggakkan kepalanya dalam keadaan berlutut. Menatap penuh harap,"Aku tau, aku sudah mengecewakanmu. Percayalah aku sudah menyadari kesalahanku. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku temui... maukah menjadi teman hidupku? Menemani masa tuaku?" tanyanya.


Tangan Mona mendekat meraih bunga dengan ragu. Alunan musik dari beberapa musisi terdengar, Lian tersenyum, mulai bangkit, menyematkan cincin di jari manis Mona.


***


Tidak ada yang menyadari keberadaan seorang pemuda disana. Pemuda yang hanya terdiam, entah kenapa ini semua rencananya namun matanya terasa pedih. Air mata sialan mengalir tidak dapat dihentikannya.


"Hanya wanita yang aku temui dua kali..." gumamnya, berjalan cepat meninggalkan area kantor, memakai helm-nya, mulai menghidupkan motor sportnya.


Rasa sesak menjalar di dadanya menepis semua perasaan aneh yang dirasakannya hanya dengan dua kali pertemuan. Motor dipacunya lebih cepat lagi, menembus jalan perkotaan di tengah hujan gerimis yang menerpa.


***


Tidak ada yang mengetahui, hal gila yang dilakukan Vincent satu bulan ini, agar hati Lian kembali sepenuhnya pada Mona. Menggoda Berta (kekasih Lian), membuat wanita itu takluk menginginkannya.


Pria br*ngsek pemain cinta profesional, itulah Vincent. Tidak berhubungan dengan Berta sama sekali, namun membuat wanita itu lupa diri. Hingga Lian mengetahui perangai buruk seorang Berta.


Sudut bibir Vincent terluka saat itu kala sebuah tinju mendarat pada wajahnya.


"Lian!! Ini tidak seperti yang kamu fikirkan!! Lian!!" Berta mengejar kekasihnya beberapa langkah, hingga kembali lagi pada Vincent.


"Kamu tidak apa-apa, aku tidak mencintainya. Dia memaksaku menjadi kekasihnya," dusta Berta sesuatu yang sudah diketahui Vincent.


Vincent bangkit tertawa kecil,"Saat masih muda entah berapa wanita penggoda sepertimu yang pernah aku cicipi..." ucapnya, meninggalkan Berta yang terpaku seorang diri.


Motor sportnya kembali melaju, menatap kesamaan keadaan Frea 11 tahun yang lalu dengan Mona kini. Mendorong Lian kembali menjadi pilihannya untuk membuat Mona bahagia.


***


Akhir yang bahagia? Itulah yang dilihatnya, kala Lian melamar Mona di hadapan umum. Mungkin seharusnya yang ada dalam imajinasinya, dirinya kembali ke masa lalu, menyadari kesalahannya, melamar Frea di depan umum.


Tapi tidak, itu tetap seorang Mona, dadanya terasa sakit. Hatinya bergemuruh, bukankah ini harapannya, melihat Mona bahagia dengan kekasih yang sudah mengkhianatinya.


Benar, ini yang terbaik...

__ADS_1


Tidak menyadari dirinya saat ini berada di posisi seorang Tomy. Meninggalkan seorang wanita yang sebenarnya dicintainya, hanya untuk membuatnya bahagia bersama pria lain yang tidak dicintainya.


***


Plak...


Sejenak setelah kepergian Vincent, Lian ditamparnya. Melempar cincin yang tersemat di jari manisnya. Orang-orang yang awalnya antusias bertepuk tangan, mulai berbisik.


"Aku sudah tidak tertarik lagi pada tubuhmu. Orang kurus sepertimu, berharap mendapatkan cucu pemilik perusahaan sepertiku?"


"Servicemu di ranjang kurang memuaskan, carilah Berta-mu tersayang, yang mudah puas dengan durasi yang sebentar..." cibirnya tersenyum mencemooh, berjalan pergi.


"Mona!! Aku yang mengambil malam pertamamu!! Kamu lupa!!" ucapnya tanpa malu, dihadapan banyak orang, berharap ini akan mengembalikan Mona yang mencintainya. Mona yang perhatian padanya.


Namun tidak, wanita itu menepis tangan Lian,"Hadiah apartemen yang aku berikan, dan rekomendasi jabatan tiga bulan yang lalu, anggap saja bayaran karena sudah pernah melayaniku beberapa kali..." Mona tidak mempertahankan egonya lagi. Melangkah pergi dengan pasti.


Lian hanya terdiam, menjatuhkan buket bunganya. Baru menyadari status Mona yang tinggi, wanita itu menunduk untuknya, memberikan uang dan kekuasaan hanya untuk dicintai. Jemari tangannya mengepal, rasa bersalah ada dalam dirinya, kala mengingat Mona saat diusir olehnya dari apartemen yang dibelikan wanita itu.


***


Tak...tak...tak...


Wanita itu tidak konsentrasi sama sekali, mainan bolpoinnya, melirik ke arah jam dinding berkali-kali berharap hari segera sore. Hingga dirinya dapat ke restauran, menunggu kedatangan seorang pemuda yang bernama Vincent. Menunggu tanpa harapan yang jelas.


Hingga laci paling bawah mejanya dibukanya, terlihat pembalut wanita yang belum terbuka. Mona mengenyitkan keningnya, mencoba mengingat siklus bulanannya.


Menatap layar phonecell pintarnya, yang menunjukkan tanggal hari ini.


***


Hari semakin sore, tidak ada satu orangpun di kantor. Jantungnya berdegup cepat, membawa testpack menuju toilet pribadi di ruangannya.


"Dua garis, aku mohon!! Dua garis, aku mohon!!" gumamnya memejamkan mata, menunggu reaksi alat tes dihadapannya. Setelah sebelumnya menaruh urine dalam wadah kecil.


Anak siapa? Itulah pertanyaannya, semenjak Lian didekati Berta beberapa bulan yang lalu, dan Mona harus mengurus proyek besar dirinya tidak pernah berhubungan lagi dengan Lian. Walau berhubungan sebelumnya pun, Lian cukup cerdas untuk memakai pengaman.


Dua garis terlihat,"Aku hamil!!" ucapnya melompat kegirangan.


Bukankah jika hamil, seharusnya dia menunduk dan menangis seperti wanita pada umumnya? Tidak ini sebuah keberuntungan untuknya Vincent berkata harus memberitahunya jika hamil. Mona tersenyum menelfon ayahnya, yang baru kembali dari Filipina.


"Ayah..." suaranya terdengar berubah bagaikan orang menangis. Menyembunyikan rasa bahagianya.


"Kamu kenapa?" tanya seseorang di seberang sana.

__ADS_1


"Ayah, aku hamil... tolong minta pertanggungjawaban ayah dari anakku, dia menghilang, tidak mau bertanggung jawab..." ucapnya mengadu.


Bersambung


__ADS_2