Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Orange Juice


__ADS_3

Jemari kecil seorang anak memegang jarum dan benang sedikit demi sedikit seragam sekolahnya yang sudah tidak layak pakai mulai diperbaikinya. Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Ibu dan pria yang datang semalam masih belum keluar dari kamar.


Dengan wajah sedikit lebam, serta beberapa luka di punggung dan bagian dadanya Tomy memakai seragam sekolah yang baru usai diperbaikinya. Tas sekolah dikenakannya, dengan ragu sang anak hendak kembali mengetuk pintu. Namun tangan kecilnya yang hendak mengetuk pintu diurungkannya, tidak ingin menggangu ibunya lagi, rasa sakit semalam masih menjalar di tubuhnya.


Tapi perutnya sudah cukup terisi, itu cukup untuknya. Uang jajan? Anak itu tidak membawa uang sepeserpun. Hanya membawa botol minuman bekas yang diisinya dengan air sumur sebagai pereda dahaganya. Dimasukkannya ke dalam tas.


Tangannya gemetar meraba pintu kamar yang tertutup rapat itu. "I...i...ibu a...aku be...bera...berangkat..." ucapnya berlalu pergi.


Luka lebam di tubuhnya tertutup seragam, namun di wajahnya tidak. Beberapa tetangga yang dilewatinya terlihat lebih peduli. Peduli? Sebagian besar hanya bertanya guna menggunjingkan wanita malam yang tinggal dengan putra haramnya.


"A...aku ter...ter...ter..." kata-kata gagap keluar dari mulutnya ketika ada tetangga yang bertanya.


"Ter apa!? Cepat bilang!! Dasar gagap..." cemooh tetangganya tidak sabaran.


"Ter... terjatuh..." Tomy tertunduk berjalan meninggalkan gang rumahnya.


***


Sinar matahari semakin terik saja, hari sudah menunjukkan pukul satu siang, anak yang bersekolah dengan bantuan beasiswa penuh itu, mendatangi sebuah warung.


"P...p....pak sa....saya..." kata-kata Tomy terhenti, penjaga warung yang tidak sabar mendengar kata-katanya, emosi.


"Sudah ambil sana!! Ingat harus habis!!" bentaknya, menyodorkan dua buah termos penuh es lilin,"Ingat, kalau bukan saya yang buatin kamu dagangan, mana bisa kamu makan," sinisnya.


"Te...te...te... terimakasih..." anak yang masih memakai seragamnya itu mengambil dua buah termos es.


"Gagap bikin emosi saja. Dosa ibunya yang terlalu banyak, makanya anaknya gagap..." pemilik warung kembali mencibir, setelah kepergian Tomy yang hanya beberapa langkah.


Tomy menghentikan langkahnya, menggenggam erat pegangan termos esnya...Apa dosa dari ibu dapat membuat anaknya cacat? Ibu terimakasih sudah melahirkan anakmu yang cacat ini... air matanya mengalir di pipinya, salah satu tangannya menaruh termos di trotoar, guna menyeka air matanya.


'Ibunya wanita malam, pantas saja anaknya gagap...'


'Ayahnya tidak jelas, siapa yang mau mempunyai anak gagap. Kalaupun ketemu ayahnya siapa, tidak akan mau mengakui anak gagap sepertinya...'


'Percuma pintar, tapi gagap...'


Begitulah cibiran orang-orang yang sering ditemuinya. Apa salahnya dengan gagap? Seolah-olah usahanya untuk belajar menjadi siswa berprestasi lenyap karena kata gagap.


Hari semakin terik, perutnya sudah mulai lapar. Namun, saat terik seperti inilah es lilin yang dibawanya akan laku. Tomy menelan ludahnya, menatap anak sebayanya membeli es lilin dagangannya, berlari bermain di lapangan. Botol air sebagai bekalnya dikeluarkannya, pengganjal dahaga dan rasa laparnya.


"Me...me...mereka pu..punya ba...ba...banyak uang..."gumamnya, menatap dari rindangnya pohon di lapangan. Menanti anak-anak yang tengah bermain kehausan, membeli kembali es lilinnya.


Tomy kecil tersenyum, menatap anak sebayanya yang bermain dengan orang tuanya. Atau sekedar di jemput ibunya karena terlalu lama bermain. Anak itu tertegun diam, Apa jika aku pulang terlambat ibu akan menjemputku? Apa jika aku tidak pulang ayah akan mencariku... gumamnya dalam hati.


Hari sudah hampir gelap, es lilin yang di jualnya telah habis sedari tadi, entah apa yang ditunggunya. Anak terakhir yang bermain di taman terlihat menangis kala orang tuanya menjemputnya hanya untuk mengingatkannya untuk makan dan mandi.


"Kalau kamu jadi anak baik, mandi dan makan tepat waktu, ayah akan mengajakmu ke kebun binatang..." ucap sang ayah menggendong anaknya di punggungnya yang kokoh.


"Dasar nakal, jam segini belum pulang, ibu sudah memasakkan ayam goreng dan puding..." sang ibu mengacak-acak rambut anak di punggung suaminya itu, gemas.


Anak yang bahagia... Tomy menyerah, mengambil dua buah termos besar yang kosong. Ternyata hanya dirinya satu-satunya anak yang tidak dijemput orang tuanya.


Pengujian yang menyakitkan, dua buah termos kosong itu dikembalikan pada penjaga warung. Beserta uang hasil dagangannya.


Seperti biasa, uang 10.000 rupiah diberikannya pada Tomy beserta dua bungkus nasi yang diambilnya dari sisa nasinya di rumah.


"Te...te..." kata-kata Tomy terpotong.


"Tidak usah bilang terimakasih!! Capek saya dengar te...te...te!! Suara kamu seperti kaset rusak!! Pergi sana!!" bentaknya.


Tomy tersenyum, walaupun kakek tua berusia 57 tahun itu bermulut pedas. Tapi, tidak dipungkiri tanpa pemilik warung dia tidak tau akan makan apa. Setiap bulannya yayasan amal akan mengirimkannya uang, tapi nominal dan bentuk uang itu hanya diketahui ibunya.


Beberapa keperluan rumah yang habis dibelinya, sabun dan deterjen. Hanya itu yang dapat dibelinya hari ini. Sisa dari uangnya di masukkan dalam celengan tembikar.


Wajahnya tersenyum, menatap ibunya memakan nasi bungkus yang didapatkannya dari penjaga warung. Makanan bersama ibunya satu-satunya saat yang paling bahagia baginya. Mulut ibunya yang sering berucap sinis akan tertutup oleh makanan. Namun tetap duduk di sampingnya.


Kehangatan keluarga? Itulah hal yang tidak pernah dirasakannya.


***


Hari ini badan ibunya menggigil, tapi tubuhnya panas.


"I...i...ibu..." ucapnya cemas, mengambil air dan handuk kecil hendak mengompres ibunya.


Sang ibu mendorongnya, hingga baskom air yang dibawanya terjatuh, mengotori lantai dan pakaiannya,"Cari ayahmu!! Minta uang yang banyak padanya!! Agar ibu sembuh!!" bentaknya.


Tomy tidak menjawab hanya tertunduk, bangkit mulai berjalan keluar. Langkah demi langkahnya keluar dari gang. Anak berusia 11 tahun keluar rumah pukul 9 malam? Itulah yang dilakukan Tomy berjalan hingga sampai di rumah besar milik ayahnya yang cukup jauh.


Mungkin sekitar pukul setengah 12 malam kaki kecilnya baru sampai. Dengan ragu Tomy menekan bel rumah besar tersebut.


Gerbang dibukakan security setelah beberapa puluh menit. Ayahnya? Kali ini pria itu duduk di ruang tamu, masih mengenakan pakaian tidur seperti menanti kedatangannya yang sebelumnya dilaporkan security.


"A...ayah a...a...aku..." kata-kata Tomy terhenti, sebuah amplop coklat di lemparkan ayahnya. Berserta sebuah map hijau dengan dokumen bermaterai tertempel diatasnya.


"Uang itu untukmu, tapi tandatangani itu..." ucapnya sinis.


Tomy yang masih berusia 11 tahun belum cukup mengerti dengan dokumen perjanjian di hadapannya. Hanya dapat membacanya sekilas.


"Isinya, kita tidak memiliki keterkaitan walaupun memiliki hubungan darah. Jangan pernah berharap suatu hari nanti dapat merebut harta anak-anakku..." lanjutnya, menatap penuh kebencian.


Anak dari ular adalah ular, mungkin itulah anggapan pria di hadapannya. Merasa jijik pada anak gagap di hadapannya, anak yang berasal dari seorang wanita malam licik, yang meniduri banyak pria.

__ADS_1


Merebut harta anak-anakku? Lalu dirinya bukan anak ayahnya? Kenapa aku berbeda dengan saudaraku yang lain. Tangannya gemetaran meraih bolpoin, menandatangani surat tersebut.


"Ambil uangnya!! Jangan kemari lagi..." ucap sang pria tersenyum.


"B...b...b...boleh a...a...aku me...me...memeluk ay...ayah. Se...sekali sa...saja..." tanyanya.


"Tidak, jangan mendramatisir, pulanglah..." sang pria mengenyitkan keningnya.


Tomy mengambil amplop yang penuh dengan uang, berjalan beberapa langkah, hingga suara seseorang anak yang lebih dewasa satu tahun darinya terdengar.


"Ayah," sang anak menggosok-gosok matanya baru terbangun dari tidurnya.


"Anak ayah kenapa bangun, ini masih malam," pria itu bangkit menggendong sang anak, menapaki tangga.


"Aku haus..." ucapnya.


"Biar ayah buatkan susu ya," pria yang selalu menatapnya sinis, tersenyum hangat pada putranya yang lain.


Tomy memeluk erat uang yang didapatkannya dari sang ayah. Sakit? Tentu saja, apa karena dirinya gagap? Apa karena dirinya sesuatu yang dikatakan anak di luar nikah? Keluarga? Sesuatu yang tidak dimilikinya.


Jika aku dapat meminta, aku tidak ingin terlahir di dunia ini. Alasan? Karena aku terlahir bukan seperti seorang anak. Aku hanya benalu yang menyusahkan kedua orangtuaku....


Tidak sedikitpun air mata menetes di pelupuk matanya. Hanya perasaan sesak.


Langkah kecilnya mulai kembali berjalan keluar gerbang besar. Sang security hanya dapat menatap iba, salah seorang anak yang seharusnya menjadi majikannya hidup terlunta-lunta.


Kaki anak itu terluka menapaki jalan berkerikil. Tali sandalnya yang putus di bawa di tangannya. Hingga pukul 2 pagi, sang anak tersenyum membuka pintu kamar ibunya, membawakan dua bungkus bubur ayam.


"I...i... ibu..." ucapnya membawa dua buah sendok dan mangkuk melamin.


Wanita itu terbangun, panasnya sudah mulai turun dengan sendirinya.


"Ma... makan..." Tomy tersenyum mulai mencoba menyuapi ibunya.


Namun, bibir wanita itu masih terasa pahit, menepis tangan Tomy yang memegang bubur ayam, hingga bubur hangat itu terjatuh.


"I...ibu i...i...ingin a... apa?" tanyanya.


"Uang!! Kamu dapat uang tidak dari ayahmu!?" bentaknya.


"Da...dapat, i...i...ibu bi...bisa ju...jualan sem...sem...sembako, ja...jangan mem...membawa pa...paman ti...ti... tidak di..dikenal la..lagi. Ta...ta...tapi ay...ayah..." kata-kata Tomy disela.


"Bagus, itu artinya kamu sudah diakui oleh ayahmu," untuk pertama kalinya ibunya tersenyum padanya. Walaupun, hanya untuk meraih amplop besar berisikan uang di tangan Tomy.


Namun, hal terindah yang dilihatnya sedari lahir, dapat membuat setetes air matanya mengalir.


Anak itu mulai tersenyum, menyeka air matanya, memijit kaki ibunya, berharap satu-satunya orang yang mengakuinya akan segera sembuh.


***


"I...i...ibu..." panggilnya, beberapa kali mengelilingi rumah yang kosong. Hingga dirinya menyadari sesuatu, semua pakaian di lemari ibunya menghilang. Uang yang diberikan ayahnya? Tentu saja ikut menghilang bersama ibunya.


Sebuah pesan tertulis didalam secarik kertas...


'Tomy aku tidak sanggup memiliki anak menyusahkan sepertimu lagi. Pulanglah ke rumah ayahmu'


Itulah isi pesan dari ibunya. Menyusahkan? Tomy tertawa kecil miris, Apa aku anak yang menyusahkan? Ketika aku haus di tengah malam, aku harus menimba air agar dapat minum. Tidak ada ayah yang membuatkanku minuman hangat. Ketika sakit, aku minum banyak air putih, makan dari pemberian tetangga. Ibu tidak pernah memasak untukku. Apa aku menyusahkan...


***


Anak itu kini tinggal seorang diri, menjual es lilin masih dikerjakannya. Tidak ada lagi tempatnya berpegangan, apa seorang diri lebih tenang? Tidak, lebih terasa menyakitkan lagi, terbuang serta tersisihkan.


Hingga malam tiba, Tomy kecil berjalan seorang diri, membawa kantung kresek dengan dua bungkus nasi putih yang diberikan penjaga warung, tempatnya mengantar es lilin. Namun, untuk siapa satu bungkus lagi? Ibunya telah pergi entah kemana. Langkahnya melewati restauran tempat satu-satunya orang yang peduli padanya.


Kakinya ingin mendekat dengan ragu, wajah cerah itu terlihat tersenyum lagi, melayani beberapa pelanggan.


Aku tidak memiliki tempat untuk pulang, bisakah aku tinggal dan hidup bersamamu? Tidak ada orang yang memerlukanku lagi. Apa kamu bersedia menerimaku...


Perlahan langkahnya terhenti, Tomy terdiam, menatap dari jauh kedatangan seorang pemuda membawakan coklat dan buket bunga mawar yang terlihat indah. Frea tersenyum terlihat bahagia, meraih hadiah dari kekasihnya.


Jemari tangan Tomy mengepal, menegang erat pegangan kantong plastik yang dibawanya. Hanya dua bungkus kertas minyak yang berisikan nasi putih yang dimilikinya. Seorang anak dengan pakaian lusuh, itulah dirinya.


"Ca...ca... cantik..." gumamnya tergagap meneteskan air mata menatap senyuman di wajah Frea. Tersadar dirinya hanya akan menjadi benalu, walaupun gadis itu mengulurkan tangannya lagi.


Permata indah yang tidak bisa diraihnya? Itulah sosok Frea dimata Tomy kecil. Bagaikan permata berharga yang dijual di toko perhiasan dalam etalase kaca. Permata yang bahkan tidak dapat disentuh oleh jemari tangannya, tidak ingin mengotori permata cantik dalam etalase kaca yang indah.


Sepasang kakinya yang hanya memakai sandal jepit dengan kancing bertengger di bawahnya itu berjalan. Benar, bahkan untuk membeli sandal jepit baru dirinya belum bisa.


Ayah, ibu, dan gadis yang membantunya. Dirinya hanya akan menjadi benalu, rumah di tengah gang sempit itu terlihat. Tomy membuka pintu, terlihat rumah yang kosong tanpa suara mengganggu yang tidak pantas didengar anak seusianya lagi. Tanpa kemarahan ibunya, anak itu mulai mengambil dua piring melamin, serta dua buah sendok.


Kedua bungkus nasi dibukanya, salah satunya diletakkan di atas meja tempat biasa ibunya makan. Isakan tangis kecil terdengar, Tomy sesekali menyeka air matanya. Hanya ditemani, dirinya hanya tidak ingin sendiri.


***


Esoknya, uang yang diberikan yayasan diterima sendiri oleh Tomy. Anak itu, mencari alamat yayasan asal Singapura tersebut. Tinggal di yayasan adalah pilihannya, meminta belas kasih agar dapat tinggal di sana.


Gagap? Tomy gagap karena cemoohan, trauma, yang dialaminya berkepanjangan. Perlahan anak itu mulai dapat bicara dengan lancar, dibantu orang-orang di yayasan tersebut. Membersihkan yayasan dilakukannya dengan suka rela, sebagai rasa terimakasihnya.


Hingga kini diusianya yang sudah menginjak 16 tahun. Dirinya sudah terlihat lebih baik, menjelma menjadi remaja rupawan, memetik bunga krisan putih yang ditanamnya sendiri.


"Tomy kamu mau kemana?" salah seorang pengurus yayasan bertanya padanya.

__ADS_1


"Berkencan..." jawab remaja itu tersenyum.


Aneh bukan? Sosok Frea tidak hilang sama sekali dari ingatannya. Angkot mulai dinaikinya, bunga krisan terlihat indah setelah dijadikan buket cantik olehnya.


Area restauran mulai terlihat, remaja itu melangkah penuh senyuman, duduk di kursi pelanggan untuk pertama kalinya. Matanya terpejam sejenak takut menatap daftar harga menu,"Aku harap cukup...aku harap cukup..." gumamnya mengingat celengan tembikar satu-satunya tabungan yang telah dipecahkannya hanya berisi sekitar 160.000.


"Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan.


"Orange juice..." jawab Tomy ragu. Matanya menelisik mencari sosok Frea.


Satu jam berlalu, gadis itu belum juga muncul. Minumannya juga sudah tandas, matanya menelisik mengamati pelayan yang mulai berbisik-bisik tentangnya yang hanya memesan segelas orang juice, namun duduk cukup lama.


"Aku pesan satu orange juice lagi..." ucapnya kembali memanggil pelayan, merasa tidak enak. Duduk membuat sejam hanya memesan satu gelas orange juice.


Satu jam kemudian, sosok Frea belum terlihat juga, "Satu orange juice lagi..." lagi-lagi pesanan yang sama, menu yang paling murah.


Cepatlah datang, aku mohon... cepatlah datang aku mohon... gumamnya dalam hati.


Hingga gelas ke 7 perutnya sudah terasa tidak karuan. 7 buah gelas berderet di mejanya.


"Kenapa belum datang juga!?" gumamnya mengacak-acak rambutnya frustasi.


Hingga sebuah mobil mewah tiba di parkiran, sosok Frea terlihat lebih dewasa, berjalan bersanding bersama pemuda yang sama dengan lima tahun yang lalu. Pemuda dengan penampilan ala kantor, "Aku mencintaimu..." ucap Vincent mengecup kening Frea, hingga akhirnya kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan kekasihnya.


Tomy segera bangkit,"Kakak, ini untukmu..." ucapnya dengan cepat, menyodorkan bunga krisan putih yang dibawanya.


Frea mengenyitkan keningnya, tidak mengenali sosok Tomy lagi,"Kamu siapa?" tanyanya.


"A...aku, aku menyukaimu, sebentar lagi aku akan pergi. Jadi bisa kakak..." kata-katanya terhenti, Frea menghela napas kasar.


"Maaf, aku tidak ingat penah mengenalmu. Tapi aku sudah memiliki pacar. Kamu terlihat masih SMU, sebaiknya belajarlah yang rajin..." ucap Frea tersenyum, meninggalkan Tomy.


Teman-teman Frea mulai menahan tawa. Mengingat bergelas-gelas minuman yang dihabiskan sang remaja, hanya untuk menyatakan cinta.


***


Menyerah? Apa sosok Tomy akan menyerah? Tentu saja tidak.


"Tomy kamu sedang apa?" seorang pegawai yayasan bertanya padanya.


"Membuat bangau kertas," jawabnya.


"Untuk apa?" tanya sang pegawai yayasan.


"Doa terakhirku untuk mereka. Setelah ini yayasan akan ditutup dan pemilik yayasan kembali ke Singapura kan?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh pegawai yayasan,"Ada mitologi jika melipat 1000 buah bangau kertas satu permintaan akan terkabul. Aku ingin membuat 3000 buah, 1000 untuk ayahku, 1000 untuk ibuku, 1000 lagi untuk kakak ramah yang pernah menolongku..." lanjutnya penuh senyuman.


"Tapi apa kamu ikut ke Singapura? Bagaimana jika orang tuamu mencarimu?" tanya sang pegawai yayasan.


"Tidak akan ada yang mengingatku kecuali kalian..." ucapnya dengan jemari tangan masih melipat kertas origami.


***


Beberapa bulan kemudian...


Tomy menaruh tiga buah paket beserta tiga buah surat menyertainya. Alamat ibunya? dua tahun yang lalu ibunya menjadi model pendatang baru, merawat diri dan membayar untuk kariernya menggunakan uang putranya. Kemudian menikah dengan seorang duda kaya yang sudah berumur.


Di hari keberangkatannya dengan beberapa orang dari yayasan, anak itu tersenyum meraba kaca jendela pesawat. Sudah cukup melelahkan baginya, mungkin ini yang terbaik, kedua orang tuanya kelihatan bahagia tanpa kehadirannya.


***


Plak...


"Kapan kamu lebih dewasanya!! Sebentar lagi ujian akhir, tapi sekolah mengeluarkanmu!!" bentak seorang pria pada salah satu anaknya.


"Ayah egois!! Kita ini kaya, tanpa belajarpun aku..." anak berusia 18 tahun itu kembali ditampar, tamparan yang tidak begitu menyakitkan, tidak menggunakan tenaganya.


Sang anak menatap sinis, mengambil kunci mobil, berjalan menuju parkiran. Suara mobil meninggalkan rumah mulai terdengar.


"Tuan maaf ada paket..." seorang security membawakan sebuah kotak besar. Sang pria duduk, perlahan membukanya, terlihat origami berbentuk bangau berjumlah banyak, dengan sepucuk surat.


'Selamat ulang tahun ayah, boleh aku memanggilmu ayah? Bagaimanapun aku menerima uang ayah dan menandatangani berkasnya,'


'Ada sebuah mitos jika dapat melipat seribu origami bangau maka satu permohonan akan terkabul. Aku tidak dapat menjaga ayah, jadi aku hanya ingin ayah tetap sehat dan panjang umur. Aku mencintaimu...'


'Yang dulu menjadi putramu, Tomy....'


Pria itu mulai tersenyum, bahkan dirinya sendiri melupakan hari ulang tahunnya. Tapi anak yang dianggapnya kotor, mengingatnya.


Tubuhnya menyender di sofa, mengingat pakaian putra gagapnya yang robek dengan banyak bekas jahitan. Tas sekolah hampir jebol, banyak kancing berkarat yang hinggap disana. Penampilan lusuh anaknya lima tahun yang lalu, saat berkali-kali diusir.


Bahkan datang tengah malam berjalan kaki, meminta pelukannya. Permintaan yang tidak dihiraukan sang pria.


"Apa anak itu baik-baik saja?" tanyanya pada sang security.


"Maaf tuan, siapa?" sang security balik bertanya.


"Tomy, putraku yang kesulitan bicara..." jawabnya.


"Saya tidak mengetahui alamatnya, tapi dulu dia sering berjalan kaki kemari. Saat saya mengusirnya, ada sedikit lebam di tangannya. Mungkin ibu yang merawatnya tidak memperlakukannya dengan baik..." sang security menerangkan prasangkanya 5 tahun yang lalu.


"Aku akan kerumahnya," pria itu mengambil phonecell di sakunya, menghubungi detektif.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2