
Wajah Mona seketika pucat pasi menatap uang yang berada ditangannya. Lima ratus ribu? Harga dirinya semalaman lima ratus ribu? Mungkin sebuah penghinaan besar baginya.
Wajah pria tidak tau malu itu masih diingatnya. Mencarinya? Itulah yang akan dilakukannya. Hingga handphone Mona tiba-tiba berbunyi dengan nama pemanggil Lian.
"Halo!?" ucapnya menghela napas kasar, perasaannya telah kandas tidak bersisa. Suara hangat itu bagaikan tidak lagi dinantikannya.
"Mona, bagaimana? Aku sudah berada di kantormu membawa proposalnya. Setelah perusahaanku berdiri kita akan menikah dan..." kata-kata itu disela.
"Jangan membawa proposalnya, aku putuskan untuk membuangmu. Aku sudah menentukan mainan yang lebih bagus. Carilah orang lain..." ucap Mona, menghela napas kasar.
"Mona, aku akan..." kata-kata ancamannya kembali disela.
"Akan berubah menjadi Doraemon? Menjadi apapun terserah kalian. Lagipula, kamu juga hidup dari uang yang aku berikan," Mona mematikan panggilannya. Air matanya kembali mengalir, bukan karena sakitnya dikhianati. Namun, karena penghinaan uang lima ratus ribu rupiah? Iya, tidak terima dihargai serendah itu.
***
Kematian Frea memutuskan hubungan kekerabatan dengan Tomy? Pernahkah kalian mendengar istilah turun ranjang? Itulah yang ingin dilakukan Ririn dengan membawa Fani ke tempat Tomy berada saat ini.
Rumah besar megah bagaikan istana, entah berapa puluh meter jarak gerbang utama hingga rumah utama. Air mancur indah terlihat bagaikan arsitektur Yunani.
Dengan ragu memasuki pintu besar di hadapannya, disambut dua orang pelayan yang bertugas membukakan pintu. Bagian luar bangun utama bagaikan berarsitektur Inggris kuno. Namun bagian dalamnya hanya kemewahan dengan desain interior minimalis.
"Kalian siapa?" tanya Agra, yang tengah merapikan sedikit pakaiannya hendak keluar untuk urusan bisnis.
"Ka... kami mantan adik ipar dan ibu mertua Tomy. Apa dia..." kata-kata Ririn disela.
"Panggil Tomy..." perintah Agra pada pelayan, kemudian berjalan keluar dengan cepat tanpa menyapa Ririn serta Fani.
"Frea melewatkan begitu banyak hal," Ririn duduk tanpa sungkan. Menyesali nasib putrinya yang harus meninggal di usia muda dalam keadaan hamil. Meninggalkan suami sempurnanya yang memiliki status tinggi.
"Fani, rapikan penampilanmu. Jika Tomy bersedia mengambilmu sebagai istri untuk menggantikan Frea, kamu adalah calon nyonya besar utama, rumah ini..." Ririn tersenyum, menyusun penuh strategi. Tidak membiarkan menantu sempurna yang dulu dicercanya lolos hanya karena kematian Frea.
__ADS_1
Tak...tak...tak...
Langkah demi langkah, pemuda itu akhirnya turun juga. Memakai pakaian santai serta topi menyeret sebuah koper besar.
"Kakak ipar," Fani bangkit, hendak berjalan mendekatinya.
"Kenapa kalian kemari?" tanyanya terlihat acuh.
"Ada yang ingin ibu bicarakan. Bisa minta waktunya sebentar?" Ririn menghela napas kasar, menatap Tomy yang sepertinya akan bepergian.
Pemuda itu mulai melangkah duduk di sofa yang berhadapan dengan Ririn dan Fani. Menatap dua orang wanita di hadapannya.
"Begini, ibu tau kamu sangat terpukul dengan kepergian Frea. Karena itu ibu ingin membantumu bangkit, melupakannya perlahan. Kamu tau istilah turun ranjang? Fani masih sendiri jadi..." kata-kata Ririn terhenti, menantu yang dulu selalu dimintanya berpisah dengan Frea menatap tajam padanya.
"Tidak, tempat tidurku hanya Frea yang pantas menaikinya. Aku sudah besar bisa tidur seorang diri, tidak memerlukan teman hanya untuk menghangatkan ranjang..." kata-kata menusuk keluar dari mulutnya.
"Kakak ipar..." wajah terkesan lugu memelas itu kembali terlihat. Berusaha bangkit mendekati Tomy.
Bangkit dari sofa, kembali menarik kopernya lagi, seolah tidak memperhatikan keberadaan ibu mertuanya.
Leon menatap segalanya dari lantai dua, jika Frea masih hidup mungkin dapat dijadikan boneka untuk mengendalikan Tomy. Namun, wanita hamil itu sudah tidak ada.
Sang pria paruh baya, menghela napas kasar, kemudian tersenyum, terfikirkan untuk menikahkan keponakannya kembali.
Tentunya mudah untuk Leon menemukan wanita yang lebih cantik serta lebih menggoda, dibandingkan almarhum istri keponakannya. Wanita yang akan menjadi bonekanya guna mengendalikan Tomy.
Seseorang dihubunginya, tentunya bukan orang biasa,"Halo, paman ada apa menelfon pagi-pagi?" tanya seseorang di seberang sana.
"Kamu ingin segera menikahi Gilang bukan? Aku memiliki syarat untukmu..." ucapnya pada kekasih rahasia putranya. Kekasih yang tidak pernah direstui olehnya. Wanita nakal yang senang bermain-main dengan berbagai pria.
Leon mengetahui segalanya, uang adalah alasan wanita itu mendekati putra tunggalnya. Namun, untuk masalah hati, Gilang bukanlah orang yang plin-plan. Mungkin dengan kemunculan Tomy, target wanita murahan itu akan berubah. Melindungi putranya, sekaligus menemukan tali yang tepat untuk mengendalikan keponakannya.
__ADS_1
Rasa benci mungkin akan ada dan menjalar dalam hati putranya, jika kekasih yang tidak pernah dikenalkan pada keluarga besarnya, mampu meluluhkan hati Tomy. Namun, mungkin itu sepadan, membuat Gilang terlepas dari jeratan lintah serakah.
"Sepupu Gilang, namanya Tomy dia terpilih sebagai komisaris perusahaan. Bisa kamu bicara dan mendekatinya, agar bersedia mengangkat Gilang sebagai CEO. Paman akan mengatur pertemuanmu dengannya..." ucapnya sembari tersenyum. Mematikan panggilannya, mengingat betapa menawannya wajah kekasih rahasia putranya.
"Tidak akan sudi membiarkan perempuan lain menaiki ranjangmu? Kita lihat saja nanti..." gumamnya.
***
Villa yang cukup luas, udara yang terasa lebih segar. Tomy telah menghubungi Gilang sebelumnya, menginginkan menginap beberapa hari disana. Entah mengapa, rasa nyaman menjalar dalam dirinya, saat menapaki kaki di tempat tersebut.
Hanya ingin, beberapa hari saja, sebelum kembali pada tujuannya. Wajah Tomy nampak pucat, bibirnya memutih, dua bulan ini pemuda itu tidak pernah dapat tertidur dengan nyenyak. Mimpi buruk kematian istrinya masih terasa.
Koper ditariknya perlahan, menapaki anak tangga. Tidak terlihat seorang pun di sana. Gilang harus tetap pergi bekerja di perusahaan, tidak ada yang tidak sibuk. Menjadi seorang komisaris, bagaikan cuti bagi Tomy.
"Tuan, kamar anda berada di lantai dua ..." ucap sang pelayan yang menyambutnya.
"Kenapa tidak di lantai satu saja?" Tomy menghela napas kasar.
"Sedang dalam renovasi..." alasannya, mengeluarkan keringat dingin setelah mendapatkan intrupsi oleh Gilang. Memasang peredam suara di kamar Frea, dan berjaga-jaga agar dua orang satu atap itu tidak bertemu.
"Emm," Tomy hanya mengangguk, terlalu letih untuknya banyak berbicara atau berfikir.
Ruangan luas tertata rapi terlihat, pelayan segera pergi segera setelah memberikannya kunci kamar.
Pemuda dengan wajah semakin pucat itu membuka koper, mengambil kotak P3K-nya. Termometer diraihnya, memeriksa keadaannya sendiri, "41 derajat..." gumamnya dengan tubuh lemas, mulai berbaring. Terlalu lelah baginya beberapa hari ini, setetes air matanya mengalir. Hingga sepasang bola mata itu terpejam sempurna.
Hawa dingin terasa di sekitar dahinya. Matanya berusaha terbuka, fatamorgana itu terlihat lagi. Wajah wanita baik hati yang dirindukannya. Jemari tangan yang terasa dingin, menyentuh kulit pipinya yang panas. Bagaikan ingin memeriksa keadaannya.
Air matanya mengalir tidak terkendali, menatap lekat fatamorgana yang dilihatnya samar.
"Frea ..." lirihnya.
__ADS_1
Bersambung