
Seorang sekretaris mulai membuka helai demi helai kertas, yang berisikan 'Tidak Diganti' dan 'Ganti' Suatu kebodohan memang ketika Frea memilih voting.
Wanita itu hanya perlu duduk, mewakili Tomy, pergantian komisaris dapat dilakukan jika menurut persentase pemegang saham menginginkannya, dalam artian sebenarnya Tomy selaku pemegang 60%, tidak perlu melakukan voting. Cukup mengatakan sebagai pemenang saham 60% dirinya tidak ingin diganti, maka rapat akan berakhir.
Namun voting? Sebuah kesempatan besar bagi Frans dan Roberto. Untuk mendepak komisaris utama yang baru.
'Ganti' kertas anonim yang ditunjukkan seorang sekretaris cantik. Kemudian memberikan hitungan pertamanya.
'Ganti' kembali kertas sialan itu membuat Frea semakin pucat saja,"Aku akan diceraikan..." gumamnya.
'Ganti' kertas sialan itu lagi-lagi ditunjukkan sang sekretaris cantik.
Leon memejamkan matanya, menyenderkan tubuhnya di kursi yang didudukinya. Dengan dasi yang longgar.
'Tidak Ganti' kata-kata pada kertas anonim berikutnya.
"Setidaknya ada empat suara, tidak memalukan...' gumamnya, menghela napas kasar tentang hari sial yang harus dialaminya.
'Tidak Ganti'
'Tidak Ganti'
'Tidak Ganti'
'Tidak Ganti'
Seketika Leon membuka matanya, seharusnya empat suara, namun ini sudah suara ke-lima. Suatu keajaiban terjadi, namun hanya dengan lima suara, tidak cukup untuk menenangkan voting.
'Ganti'
'Tidak Ganti'
'Tidak Ganti'
Sudah suara ke tujuh, wajah Leon nampak terdiam tidak mengerti. Apa sebenarnya yang ada didalam otak para pemegang saham.
Sedang, Frans mulai terdiam dengan wajah pucat, melirik ke arah Roberto yang sama terkejutnya.
Hingga suara terakhir yang dihitung, akhirnya diakumulasikan. Perolehan vote 11 orang menginginkan komisaris diganti, sedangkan 19 orang lainnya tidak.
Beberapa pemegang saham yang berkewarganegaraan asing, sedikit melirik orang yang tertidur di kursi paling pojok belakang.
Komisaris yang baru memang bernama Tomy. Tapi siapa yang sangka dia adalah Tomy tangan kanan pemilik JH Corporation. Keahlian dan kredibilitasnya tidak diragukan lagi, beberapa perusahaan besar di luar negeri pernah ingin merekrutnya menjadi CEO, untuk melebarkan sayap perusahaan mereka.
__ADS_1
Namun, pemuda itu seperti lebih senang melekat pada Farel orang yang merekrutnya dari awal. Dua pemuda yang saling melengkapi, mendirikan perusahaan besar hanya dengan modal kecil.
Dan sekarang tiba-tiba menjadi komisaris Bold Company? Pemegang saham yang berpacu hanya menginginkan keuntungan, tentu akan lebih memilih pemuda yang hanya tertidur diam tanpa bicara atau pembelaan itu.
Sifatnya yang tanpa belas kasih, bergerak diam-diam sering terdengar di kalangan pebisnis negara lain. Walau Tomy berpura-pura mabuk pun, orang-orang asing jeli yang sering berinvestasi ke berbagai negara itu akan tetap memilihnya.
"Apa yang terjadi?" gumam Leon tidak mengerti, menghela napas kasar.
"Maaf, ini rencana anda? Maksudku ini rencana paman?" tanya Frea pada Leon. Leon menggeleng-gelengkan kepalanya terdiam.
Frans memejamkan matanya sejenak melewatkan satu kesempatan lagi. Menghela napas kasar, meraih mikrofon di hadapannya, berusaha tersenyum,"Saya sudah berjanji akan bersikap netral. Jadi rapat pemegang saham kali ini, sudah diputuskan komisaris tidak akan diganti..."
Pemuda itu menatap tajam pada Roberto, sembari menutup rapat, dengan di bagian akhir mempresentasikan beberapa proyek yang akan diambil Bold Company tahun ini.
***
Hingga satu jam kemudian rapat berakhir. Beberapa pemegang saham yang berkewarganegaraan asing melepaskan alat penerjemah mereka, melangkah meninggalkan ruangan. Sedang, Roberto terlihat mengejar mereka seperti meminta penjelasan.
Langkahnya diikuti Frans, mencoba untuk lebih bersabar lagi. Hingga langkah Frans terhenti, matanya menelisik, mengamati Frea, wanita yang terlihat gemetaran memasukkan koinnya pada mesin penjual minuman.
"Syukurlah semua sudah berakhir..." ucapnya dengan lutut yang lemas, ketakutan.
Tiba-tiba suara yang dibencinya terdengar,"Jadi ini bukan rencanamu?" Frans mengenyitkan keningnya.
Wajah Frea pucat pasi, mengepalkan tangannya memberanikan dirinya, "Ini rencanaku..." dustanya.
Frea tidak terlihat terkejut, mungkin lebih tepatnya tidak benar-benar mengerti dengan kata-kata cepat, tanpa menggunakan logat Asia pada umumnya. "Bisa diulang..."
Frans menghela napas kasar, bagaimana bisa seseorang yang tidak terbiasa berbicara dengan orang asing, mempengaruhi pemegang saham dari negara lain.
"Apa pekerjaanmu?" tanyanya, menatap jenuh.
"Ibu rumah tangga," jawab Frea dengan bangganya, mungkin memamerkan statusnya sebagai seorang ibu.
"Suamimu komisaris yang baru kan? Dia dimana?" Frans kembali bertanya.
"Dia masih tidur di ruang rapat..." jawab, Frea jujur, berjalan membawa dua kaleng soda, kembali masuk ke dalam ruang rapat.
Frans kembali menghela napas kasar mencoba mengingat, orang yang datang bersamaan dengan Frea. Pemuda yang disangkanya, sebagai supir, adik atau asisten wanita itu.
Orang duduk paling pojok sembari tertidur. Wajah tidak berdosa yang tidur, terlihat polos tanpa beban,"Suaminya benar-benar seorang bocah pemalas? Roberto dikalahkan seseorang yang tidur dengan nyenyak di ruang rapat?" gumamnya tidak mengerti.
***
__ADS_1
Sementara itu Tomy membuka matanya, mengamati area sekitarnya yang sudah sepi. Menatap Leon yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Ini perbuatanmu?" tanyanya memandang curiga.
"Perbuatan apa?" Tomy menguap, sembari merenggangkan otot-ototnya.
"Rapat hari ini, kamu yang mengendalikan voting kan?" Leon semakin mendesak.
Tomy menggelengkan kepalanya,"Ada voting? Kakek menyuruhku hadir, tapi karena semalaman bermain game online aku tidak tidur sama sekali. Aku memohon agar Frea mau menggantikan ku bicara,"
"Kakek bilang hanya perlu duduk, mengatakan tidak setuju untuk diganti, maka semua akan beres. Kenapa tiba-tiba ada voting?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
Leon menghela napas kasar, apa yang diharapkannya dari komisaris pemalas yang hanya bermain game seharian. "Mungkin ayah (Suki) yang bertindak untuk melindungimu. Benar-benar cucu yang berlindung di bawah ketiak kakeknya .." cibirnya menatap jenuh, berjalan meninggalkan Tomy.
***
Dalam mobil yang melaju, Frea menghela napas kasar. Menatap ke arah suaminya yang walau di dalam perjalanan pulang pun, tertidur, menyender pada bahunya. Mungkin karena kelelahan, beberapa bulan ini mengalami insomnia.
"Tomy..." ucap Frea.
"Em?" jawabnya, masih memejamkan mata.
"Aku hampir membuat posisi komisaris diganti..." Frea tertunduk penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, belajarlah dari pengalaman..." Tomy membuka matanya, kemudian tersenyum. Mengambil kartu ATM dari kantung sweater-nya.
"Habiskan isinya dalam waktu seminggu, gunakan dengan bijak..." lanjutnya.
"Magsudnya?" Frea tidak mengerti.
"Uang didalamnya cukup untuk membeli sebuah rumah dengan halaman yang luas. Apa yang akan kamu lakukan jika mempunyai uang dengan jumlah itu setiap minggunya?" tanya Tomy, menunggu jawaban dengan sabar.
"Investasi? Membeli tanah, atau membangun rumah kost," jawaban yang keluar dari mulutnya, mengingat Tomy sudah memenuhi kebutuhannya dan putranya.
"Pintar, carilah investasi dengan keuntungan tidak begitu besar, tapi tidak memiliki kemungkinan merugi," ucapnya tersenyum, kembali tertidur memeluk istrinya.
Kalangan atas tidak sesederhana dalam pemikiran orang-orang. Dimana ketika menikahi pria kalangan atas dapat serta merta mengangkat derajat mereka. Bagaikan seorang Cinderella menjadi putri dalam satu malam. Tidak begitu.
Memasuki strata sosial yang berbeda, harus dilakukan perlahan. Arogan ketika memiliki sesuatu atas penghasilannya sendiri, itulah yang diinginkannya menjadi sosok Frea nantinya. Tidak ingin istrinya tertunduk, di hadapan orang lain yang lebih rendah darinya.
Wanita itu kembali terdiam sejenak, dengan ragu bertanya. "Tomy, tadi orang yang bernama Frans menanyakan sesuatu menggunakan bahasa Inggris, jika tidak salah 'Will you to be my bed partner? (Maukah kamu menjadi teman ranjangku)' kamu tau artinya?" tanyanya penasaran.
Tomy seketika membuka matanya, menahan kekesalannya "Artinya dia akan segera mati..."
__ADS_1
Dengan polosnya Frea kembali bertanya,"Jadi dia sakit parah?"
Bersambung