Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Tiramisu


__ADS_3

Kediaman utama...


Beberapa pelayan naik ke lantai dua mempersiapkan kamar Tomy, yang akan ditempati Frea dan Kira. Tidak mempersiapkan kamar bayi? Tentunya iya, karena ayah dari satu anak itu semakin protektif pada anak dan istrinya.


Meja makan yang luas, Kira yang telah usai menyusu kini dijaga oleh pengasuh.


Suara alat makan yang berbenturan dengan piring keramik terdengar, kediaman megah yang baru satu hari ini ditempati Frea. Matanya tidak henti-hentinya memandang kagum, bahkan alat makannya pun dari perak. Wanita itu sedikit melirik ke arah suaminya, Dia sudah kaya, tapi keluarganya lebih kaya lagi...


Arsitektur rumah, interior bagian dalamnya nampak minimalis. Namun tetap terlihat megah, untuk sekelas rumah yang dihuni kurang dari sepuluh orang, rumah bagaikan kastil bangsawan Eropa ini, terlalu besar.


Para pelayan berpakaian resmi, untuk pelayan wanita memiliki seragam sendiri yang lebih sopan. Rok selutut, tatanan rambut rapi, dengan jas hitam, lengkap dengan name tag.


Pengawal memakai setelan jas hitam berpakaian rapi, sementara penampilan supir serupa, hanya tambahan mengenakan sarung tangan putihlah perbedaannya.


Suki belum juga kembali dari rumah sakit, mengingat waktu pemulihannya yang mungkin memakan waktu 6 bulan. Di meja makan saat ini hanya ada 6 orang, lebih tepatnya 7 orang termasuk, seorang wanita yang dengan tidak tahu malunya datang.


Merahasiakan hubungannya dari anggota keluarga lainnya? Tidak dapat selamanya menyembunyikannya. Pada akhirnya Keyla sendiri yang merajuk pada Gilang untuk dapat datang ke kediaman utama.


Tomy masih makan dengan wajah polosnya, sesekali mengambil lauk diletakkan di atas piring istrinya, mengingat wanita itu yang harus menyusui putra mereka.


Seorang komisaris yang terlihat santai menikmati hidup. Keyla menghela napasnya... Bentukan nyonya utama rumah ini, seperti ini...


Tubuh Frea masih belum begitu ideal akibat pasca melahirkan. Wajah? Wanita berusia 35 tahun tanpa banyak perawatan, memakai pakaian yang tidak berlebihan, dibandingkan dengan wanita berusia 29 tahun berperawatan wajah lengkap, tentunya Keyla terlihat jauh lebih cantik dengan tubuh yang benar-benar menggoda dibandingkan sosok Frea.


Namun, pria yang menyelamatkan Keyla dari kolam renang itu lebih memperhatikan istrinya. Keyla berusaha tersenyum, bersikap anggun, menahan rasa kesalnya.


"Jadi Gilang yang menyelamatkan nyawamu?" tanyanya tersenyum.


Frea mengangguk, pada kekasih Gilang, kembali makan dengan lahap.


"Ini, makanlah yang banyak..." Tomy tersenyum, mengambil bagian terbaik dari lobster, meletakkan dalam piring Frea.


"Sudah cukup, kamu mau aku gemuk?" tanyanya pada Tomy, dengan kekesalannya di ubun-ubun menatap isi piringnya yang telah menggunung.


"Jika kamu kurus, aku lebih mudah mengangkatmu ke tempat tidur. Jika kamu gemuk, akan lebih menyenangkan ketika memelukmu, saat tidur. Makanlah sesukamu, asalkan kamu sehat..." jawab Tomy tersenyum, kembali melanjutkan aktivitas makannya.


Keyla menghela napas berkali-kali, melirik ke arah Gilang yang tidak romantis sama sekali.


Leon meminum sedikit air di gelasnya,"Kenapa kamu membawanya kemari?" tanyanya menatap tajam pada putranya.


"Ayah, cepat atau lambat kita akan menjadi keluarga. Jadi, wajar saja..." kata-kata Gilang disela.


"Terserah kamu saja..." Leon menghela napas kasar, berusaha bersabar, melirik ke arah Agra dan Mona yang tidak seperti biasanya. Hanya terdiam, mencemooh atau menyelidik tentang identitas Keyla pun tidak.


Suasana yang benar-benar aneh baginya, dua orang yang seharusnya mengeluarkan mulut madu dipenuhi racun hanya terdiam.

__ADS_1


Hingga beberapa saat suasana hening, Agra meletakkan garpu dan pisaunya, menatap ke arah kakak tertuanya, Leon.


"Mona akan mundur dari kandidat pewaris perusahaan..." ucapnya memulai kata-katanya.


"Kenapa mundur?" Tomy mengenyitkan keningnya, masih mengiris daging di hadapannya.


"Kakak, bisa aku meminjam orang-orangmu?" tanya Agra dengan ragu.


Leon menetap adiknya, raut wajah yang sepertinya benar-benar murka. Sedangkan Mona tertunduk, entah apa yang ada di fikiran wanita busuk itu.


"Katakan dulu ada apa..." tanyanya.


Agra kembali menghela napasnya,"Mona sedang mengandung,"


"Mudah, tinggal menikah saja dengan Lian. Lagipula, dia sudah melamar Mona di depan umum kan..." Gilang menyela pembicaraan mereka, mengajukan gagasannya.


Seketika suasana hening, Agra, Tomy, Mona dan Leon menoleh padanya merutuki kepolosannya. Mungkin tipikal orang yang menganggap semua yang ada di dunia ini mudah itulah Gilang yang gegabah.


Piring Leon telah diganti oleh pelayan dengan piring dessert yang lebih kecil, pria itu terdiam sejenak, kembali bertanya,"Anak siapa?" sedikit tidaknya mengerti jika Agra tidak akan meminta pertolongannya, apalagi melepaskan kesempatan Mona untuk menduduki posisi tinggi, dengan membeberkan aib putrinya. Satu-satunya kesimpulannya, Mona tidak dihamili oleh Lian.


Agra kembali mengambil garpu dan pisau di hadapannya, mengiris daging dengan tenang,"Dia melarikan diri, informasi yang diketahui Mona, hanya namanya saja,"


"Cukup sulit juga, berikan informasi pada asistenku. Nanti orang-orangku akan membantumu mencarinya," Leon memakan sekitar dua sendok tiramisu, kemudian bangkit meninggalkan ruang makan tanpa banyak bicara.


"Aku sudah selesai," ucap Mona tertunduk lemas, bagaikan mengalami trauma mendalam.


Hanya empat orang yang masih konsentrasi pada makanannya. Frea terlihat makan lebih banyak dari biasanya, mengingat dirinya yang harus menyusui setelah ini.


Mengenal Keyla? Tentu Tomy mengenalnya saat bertemu di villa Gilang. Namun, aneh memang pemuda itu terlihat acuh, tidak ada yang kebal akan pesona wanita cantik. Bukankah begitu?


Kaki halus bergerak di bawah meja, mendekati kaki seorang pemuda. Menyentuhnya perlahan, Keyla bergerak hati-hati agar tidak ada yang tau.


Tomy mengenyitkan keningnya, melirik ke arah Frea. Frea berinisiatif menggodaku? Tapi ini masih di meja makan... gumamnya dalam hati salah sangka.


Gerakan kaki Keyla lebih intens lagi, Dia tidak menolak, berarti menyukainya...


Pemuda itu mempercepat gerakan makannya, ingin segera menarik Frea ke kamar. Tidak pernah? Bukannya tidak pernah, tapi memang jarang Frea berinisiatif menggodanya.


Hingga tangisan Kira terdengar kencang, tidak dapat dihentikan pengasuh. Frea segera bangkit, meninggalkan meja makan.


Wajah Tomy seketika pucat pasi, dirinya memang tidak melihat kaki yang berada di bawah meja. Namun sepasang kaki yang pergi adalah kaki Frea, lalu kaki siapa yang menggodanya?


Wanita cantik itu nampak tersenyum meminum anggur dengan anggun, bibir seksinya terlihat merekah dengan warna yang terkesan sensual. Melirik ke arah Tomy bagaikan menggoda.


Dengan rasa kesal di ubun-ubun, Tomy menginjak kaki putih mulus nan s*ksi itu, sekuat tenaga."Dugong," satu kata menusuk yang keluar dari mulutnya, meninggalkan meja makan mengejar Frea.

__ADS_1


"Ssss...." Keyla meringis, menahan rasa sakit di kakinya tidak ingin Gilang mengetahui atau curiga padanya.


"Kenapa?" Gilang mengenyitkan keningnya, menghentikan aktivitas makannya.


"Tidak apa-apa, omong-ngomong apa aku boleh menginap di kamarmu?" tanyanya.


"Tidak bisa, ayah akan marah..." anak kesayangan Leon itu mengatakan kata-kata mematikan itu lagi. Ayah, semuanya bergantung pada kata ayahnya tercinta.


***


Leon duduk di gazebo menghilangkan penatnya, hingga orang itu hadir lagi.


"Tuan..." ucapnya tertunduk, membawa sebuah paperbag.


"Kenapa tidak memberikannya sendiri saja? Kalian cukup dekat..." Leon menghela napas kasar.


"Dia tidak akan suka jika aku memberikannya secara langsung. Lagipula, belakangan ini kami jarang bicara. Saya sudah senang melihat dia tersenyum, mau memakannya..." sang wanita gemuk, memberikan paperbag yang dibawanya pada Leon.


Isinya? Hanya beberapa kotak kue kering buatan rumah, yang nantinya diletakkan Leon dalam kamar putranya.


Pria paruh baya itu meraihnya,"Kamu menyukai Gilang? Jika menyukai katakan saja..."


Wanita bertubuh gempal itu menggeleng, sembari tersenyum, "Jika mengatakannya, hanya akan terasa canggung. Menggangu kebahagiaannya..."


"Dimanapun, apapun yang dilakukannya, asalkan dia bahagia. Aku sudah sudah cukup senang..." wanita gemuk itu menunduk pamit, berjalan pergi meninggalkan Leon.


'Dimanapun, apapun yang kamu lakukan, asalkan kamu bahagia. Aku sudah cukup senang...'


Kata-kata terakhir yang didengarnya saat wanita berambut pendek sebahu dengan poni di dahinya, memakaikannya dasi. Kata-kata penuh senyuman saat dirinya harus pergi meninggalkannya dalam perjalanan bisnis.


Sudah cukup senang? Wajah itu berlumuran darah, mengalami kecelakaan mobil. Saat Leon pulang dari perjalanan bisnis, tubuh itu telah bersih, dimakamkan meninggalkannya dengan putra mereka yang berusia tiga tahun.


"Sayang..." ucapnya seolah berbicara pada almarhum istrinya,"Gilang, akan melewatkan kesempatan sekali seumur hidupnya..." Leon, melepaskan kacamatanya, menyeka air matanya.


Menatap kepergian seorang gadis gemuk yang kembali duduk di bangku taman, menunggu Keyla pulang selaku asistennya. Wanita gemuk, yang dibayar Gilang, dengan bayaran tidak seberapa untuk mengurus keperluan wanita rupawan yang dipujanya.


Mungkin cukup sulit untukmu melihatku sedikit saja. Memendam semuanya, menyaksikan kisah cinta yang aku tau akhirnya akan seperti apa...


Apa begitu menyakitkan? Benar ini menyakitkan, tapi dengan bodohnya aku masih ingin melihatmu. Walaupun, melihatmu bahagia dengan orang lain...


Wanita dengan tubuh indah, wajah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.


Mungkin cinta dimatamu ada padanya, bukan ada padaku yang hanya tertunduk melihatmu dari jauh. Hanya menunggumu kesepian untuk sekedar bicara dan tertawa menghiburmu...


Tidak akan lama, aku berjanji...

__ADS_1


Hingga, aku sudah siap untuk pergi, sebagai gajah buruk rupa. Gajah besar yang tidak pernah terlihat di matamu...


Bersambung


__ADS_2