FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 10.1


__ADS_3

Indra menemui bundanya di taman belakang. Tadi pelayan rumahnya memberitahu dimana bundanya menunggu.


"bunda" panggil Indra.


"duduk In, maaf.. bunda meminta kamu pulang" ucap bunda Serena, dia merasa tidak enak mengganggu kebersamaan putranya dan Rea.


"tidak apa bun, ada apa ?" tanya Indra seraya duduk dekat bundanya.


Bunda Serena terdiam beberapa saat kemudian mulai bercerita.


"trauma kakakmu kambuh lagi" ucap bunda Serena pelan.


Indra memandang bundanya. Dia sebenarnya sudah menyadari hal itu waktu Andra memukul tembok kamarnya sehingga menyebabkan memar dan berdarah pada kepalan tangannya tempo hari. Hanya saja dia tidak mau berpikir jauh karena kakaknya dan Narra baru bertemu setelah LDRan. Tentunya masih kasmaran melepas rindu.


"karena Narra bunda ?" tanya Indra.


Bunda Serena mengangguk. Lalu bunda Serena menceritakan semua yang Andra rasakan. Tentang rasa cemburu dan rasa di abaikan.


"sebenarnya bagaimana sikap persahabatan mereka ?" tanya bunda Serena karena empat tahun bersama Rea, tentu Indra sudah mulai mengenal sahabat-sahabat Rea yang juga merupakan sahabat Narra.


"Mereka sangat dekat bagaikan saudara bun. Karena dari kecil mereka bersama. Orang tua mereka juga bersahabat, hal itu yang membuat ikatan mereka semakin kuat. Tidak jarang mereka saling mengusap kepala, memegang pipi, memegang tangan dan memeluk. Tapi mereka tau batasan, aku belum pernah liat mereka saling mencium" jelas Indra.


"kakakmu tidak suka semua itu, membuat emosinya meledak" komen bunda Serena.


"kakak tidak bisa terus begitu, apalagi Narra melewati masa pahit bersama mereka" Indra kemudian terdiam.


Sepasang mata yang sedari tadi mencuri dengar pun semakin penasaran.


"ada apa In ?" desak bunda.


Indra pun menceritakan kembali apa yang terjadi tadi dan apa yang dia tahu dari Rea.


Bunda Serena terkejut. Dia tidak menyangka, Narra mengalami hal seperti itu. Mungkin hal itu yang membuat Narra seolah sangat hati-hati saat bersama mereka. Bukan hanya karena dia kekasihnya Andra tapi karena tidak percaya diri berada ditengah keluarga Hadinata Wijaya.


Tangan Andra mengepal. Siapa laki-laki yang berani mengganggu kekasihnya.


Karena emosinya, dia hanya semakin jauh dari Narra dan tidak tahu apa-apa tentang Narra. Bukannya selama tiga tahun LDRan mereka baik-baik saja, kenapa begitu bertemu mereka jadi jauh.


Andra terus mengepal kuat.


"siapa laki-laki itu In ?" tanya Andra mengagetkan bunda Serena dan Indra.


"aku tidak tau kak, tadi dia memakai masker. Rea juga belum sempat sebut namanya, bunda telfon. Tapi Imel bilang tidak penting. Dia senior Imel di club basket" jelas Indra.


"tapi.. sepertinya aku kenal suaranya tapi siapa" gumam Indra seraya mengingat-ingat.


"sudah, jangan dipikirkan lagi yang penting Narra baik-baik saja sekarang" sergah bunda Serena.


"An, kamu sudah tau kan bagaimana persahabatan mereka ? bunda harap kamu bisa mengendalikan emosi kamu. Bunda yakin, Narra tidak sengaja mengabaikan kamu. Malah kamu harus ada temani Narra disaat dia atau sahabatnya dalam masalah" nasehat bunda.


"iya bun, Andra akan berusaha" ucap Andra.


"mereka itu satu kak, selalu bersama" sahut Indra lagi.


Andra hanya mengangguk. Dia mencoba mengerti.


*


Setelah menyelesaikan pembicaraan mereka, bunda Serena mengajak kedua putranya untuk beristirahat.


Andra dan Indra mengangguk lalu beranjak menuju kamar masing-masing.


Dalam kamarnya, Andra terduduk di sofa. Dia meraih ponselnya. Ada perasaan bersalah karena mengabaikan Narra akibat emosinya. Dibacanya lagi pesan yang Narra kirim dan yang belum dia balas itu.


Dengan segera, Andra mengetik.


Maafkan aku sayang, besok kita bicara ya. Aku akan jemput kamu, aku antar kamu ke kantor. Bye sayang, mimpi indah ❤


Andra mengirim pesan yang diketiknya.


Tidak ada balasan dari Narra. Mungkin kekasihnya itu sudah tidur.


*


Narra terbangun karena bunyi alarm lewat ponselnya.


Dengan segera dia meraih ponselnya untuk mematikan alarm tapi ada pesan masuk yang belum di bacanya.


Dari ka Nda.


Narra mengecek waktu pengiriman, pesan itu di kirim semalam.


Narra membaca isi pesannya lalu segera membalasnya.


Maaf ka Nda, aku baru baca pesan. Baiklah, aku mandi dulu dan siap2. Bye ka ❤


Dengan bergegas Narra menuju kamar mandi. Dia tidak mau terlambat dan membuat kak Andra menunggu nantinya.


*

__ADS_1


Sementara Andra yang baru saja selesai mandi, tersenyum melihat pesan Narra. Kekasihnya itu mengirim dengan emot love disana, sama seperti dengan emot yang dia kirim.


"aku mencintaimu sayang, aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Andra.


Pagi ini Andra akan ke perusahaan. Dia bekerja dirumah sakit jelang sore dan kalau ada pasien darurat.


Dia sudah mengaturnya dengan sang ayah agar karier dokternya terus berjalan karena itu adalah cita-cita Andra. Menjadi dokter yang membanggakan dan bisa membantu orang banyak.


*


Narra menyelesaikan tugasnya membantu ibu Flanella membuat sarapan. Dengan segera dia menatanya di meja makan.


Terdengar bunyi bel. Narra menghentikan aktivitasnya. Apa kak Andra sudah datang ? pikirnya.


Dengan segera Narra membuka pintu.


Andra berdiri didepannya dengan setelan jas sedang tersenyum padanya.


"boleh aku ikut sarapan bersama disini ?" tanyanya.


Narra mengangguk, dia tidak bisa berkata-kata karena terpesona pada sosok didepannya.


"nak Andra, silahkan masuk. Kita sarapan bersama" ajak ibu Flanella.


Andra mengangguk. Dia mengikuti langkah Narra dan ibu Flanella menuju ruang makan.


"selamat pagi" sapa Andra pada ayah Sasmita dan Rayyan yang sudah duduk disana.


"pagi nak Andra, ayo sarapan bersama" ajak ayah Sasmita.


Andra tersenyum.


"pantas saja adikku semangat betul pagi ini ternyata ada tamu istimewa" goda Rayyan.


"kakak..." wajah Narra memerah.


Andra menanggapinya dengan tersenyum, "maaf pak, ibu, Rayyan, saya datang menjemput Narra kekantor. Kalau boleh ikut sarapan disini" ucapnya sopan.


"apa tadi ? pak ?!" Rayyan memandang ayahnya.


Andra memandang Rayyan tidak mengerti.


"kamu jangan panggil pak. Panggil ayah dan ibu saja" terang ibu Flanella.


"iya bu" sahut Andra.


Kali ini Andra memandang Narra. Narra tersenyum.


"baik ayah, ibu, saya tidak akan mengecewakan kalian" sahut Andra mengerti.


"nah gitu, kamu duduk disebelahku. Narra disamping ibu" ujar Rayyan mengatur.


"iya" Andra menurut dan duduk di sebelah Rayyan.


"Na, layani nak Andra" tegur ibu Flanella.


"iya bu" sahut Narra seraya berdiri.


"tidak apa ibu, saya bisa sendiri" sergah Andra tidak enak.


"kamu duduk manis saja, biarkan adikku yang melayani. Aku juga begitu" kata Rayyan.


Narra menyendok nasi goreng di piring untuk Rayyan lalu melakukan hal yang sama untuk Andra. Hal yang sama juga dilakukan ibu pada ayah.


Andra memandang Narra senang. Dia menikmati kebersamaan sarapan pagi bersama Narra dan keluarganya.


*


"maafkan aku" ucap Andra dalam perjalanan memecah keheningan mereka.


"kakak baik-baik saja ?" Narra memandang Andra.


"iya, aku terlalu berlebihan" ucap Andra seraya menoleh sekilas.


"bisa ka Nda ceritakan, apanya yang berlebihan ?" Narra semakin tidak mengerti.


Andra menepikan mobilnya. Dia terdiam beberapa saat.


"aku sangat mencintaimu" Andra memegang kedua pipi Narra.


"aku tau, ka Nda selalu bilang itu" Narra menatap Andra.


"karena terlalu mencintaimu, aku hanya menginginkan kamu saja. Menginginkan kamu selalu ada untuk aku, perhatian hanya untuk aku dan selalu aku saja dalam pikiranmu. Maaf aku berlebihan, terlihat egois" kata Andra masih dengan posisi kedua tangannya menempel di kedua pipi Narra.


Narra hanya terdiam mendengarkan.


Tiba-tiba ponsel Andra berdering. Dia meraih ponselnya disaku dalam jasnya.


"aku ingin mengingatkan pagi ini ada meeting interen perusahaan" kata Alex diseberang telfon.

__ADS_1


"iya, aku akan segera kesana. Kamu urus semuanya, aku masih mengantar Narra kekantornya" Andra mengakhiri pembicaraannya dan memasukan kembali ponselnya di saku dalam jas yang dikenakannya.


Andra memandang Narra.


"sayang, boleh kita lanjutkan pembicaraan kita saat makan siang ? Alex mengingatkan meeting pagi ini" ucap Andra mengusap pipi Narra.


Narra hanya mengangguk.


Andra menarik Narra kedalam pelukannya lalu mencium puncak kepala Narra berkali-kali kemudian melepaskannya. Dia beralih mencium pipi Narra lalu memandang bibir dengan polesan lipstik merah natural milik Narra.


Jantung Narra berdebar kencang kala Andra mendekatkan wajahnya.


Andra menciumnya. Ciuman yang lembut tapi berhasil membuat Narra menegang. Sampai Andra melepaskan, Narra masih kaget seraya meletakan telunjuk diatas bibirnya.


"maafkan aku, aku tidak bisa menahan diriku" ucap Andra seraya melepaskan telunjuk Narra lalu memegang dagu Narra dan mengusap bibir Narra dengan ibu jarinya.


Dia tergoda lagi tapi dengan cepat dia membuang jauh pikiran itu dari kepalanya. Dia takut Narra tidak suka dan marah. Dia bisa kacau kalau Narra membencinya. Dia sangat mencintai Narra, gadis yang dikenalnya di rumah sakit yang mengobati luka hatinya.


Narra hanya tertunduk. Dia masih kaget dengan ciuman bibir yang dilakukan Andra. Ciuman yang berbeda dari Ardhan. Andra menciumnya dengan lembut sedangkan Ardhan dengan menuntut untuk lebih. Beruntung Narra masih bisa mengendalikan sikap Ardhan itu.


Narra menggelengkan kepalanya. Dia benci mengingat Ardhan, kenapa dia membandingkannya dengan Andra. Sikap Andra lebih baik segalanya dari Ardhan. Semoga Andra tidak akan pernah seperti Ardhan.


Andra meraih jemari Narra.


"kenapa sayang ?" tanya Andra seakan tahu ada yang mengganggu pikiran Narra.


"ka Nda tidak akan menyakiti aku kan ?!" ucap Narra lirih.


Andra menggeleng kuat. Bagaimana bisa Narra berpikir seperti itu. Dia adalah segalanya untuknya. Dia adalah kebahagiaannya.


"percaya sama aku, aku tidak akan menyakitimu bahkan meninggalkanmu. Kita akan menikah saat kamu sudah siap" ucap Andra meyakinkan.


Narra mengangguk tertunduk.


"liat aku sayang" Andra menaikan dagu Narra dengan telunjuknya agar kekasihnya itu memandangnya.


"aku mencintaimu" ucapnya.


"aku juga cinta sama ka Nda" ucap Narra memandang lekat mata Andra.


Andra tersenyum.


"kamu jangan berpikir yang tidak-tidak tentang aku, kamu itu bahagiaku. Itu saja" Andra terus meyakinkan.


Narra masih terdiam menatap Andra.


"kita jalan sekarang ya sayang ? aku tidak mau Alex kembali mengganggu kita" kata Andra.


"iya ka Nda" Narra mengangguk.


Seperti biasanya berpisah, Andra mencium kening Narra sebelum kekasihnya itu turun dari mobil. Tidak lupa pesan akan menjemputnya nanti saat jam pulang kerja.


*


Narra tidak konsen, kata-kata Andra terus terngiang dalam pikirannya.


Apa maksudnya ? Narra tidak mengerti.


Selama ini dia merasa, sudah berusaha menjadi kekasih yang baik untuk Andra. Bahkan Narra menepis traumanya demi bersama Andra.


"sudahlah, nanti saja. Sekarang waktunya kerja ! ayolah Naaaaa... kamu konsentrasi !" semangat Narra pada dirinya sendiri.


Dia melanjutkan pekerjaaannya sampai panggilan phone dari Arjuna agar Narra segera masuk kedalam ruangannya membuatnya beranjak dari duduknya.


"permisi pak" ucap Narra begitu masuk ruang kerja atasannya.


"duduk Na" ujar Arjuna.


Narra duduk di kursi depan meja kerja Arjuna.


Arjuna menutup map setelah menandatangani berkas di dalamnya. Dia memandang Narra serius.


"aku sudah dapat laporan dari bagian produksi, berkasnya sudah aku kirim ke emailmu. Aku minta tolong kamu yang bertemu dengan pihak HW Farma untuk membahas lebih lanjut tentang iklannya" jelas Arjuna.


"Iya pak, saya akan segera mengatur pertemuan dengan pak Alex" sahut Narra.


"kenapa dengan Alex ? kalo kamu bisa langsung atur dengan bossnya ?!" goda Arjuna.


"bapak....." Narra tersipu malu.


"becanda Na, eh ini kotak bekal kamu. Sudah dicuci dan ada sandwich buatan mamaku didalamnya sebagai tanda terima kasih karena hampir saja maag putranya kambuh" Arjuna terkekeh seraya menyerahkan kotak bekal Narra.


"iya, sama-sama pak. Kenapa bapak jadi repot begini. Sampaikan ucapan terima kasih saya untuk mama bapak" Narra mengambil kotak bekalnya.


"aku berterima kasih, nanti aku sampaikan sama mama" ucap Arjuna tersenyum.


Narra pun pamit keluar dari ruangan Arjuna untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.


***

__ADS_1


__ADS_2