FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 27.1


__ADS_3

Seperti pagi biasanya di hari kerja, Andra menjemput Narra dan mengantar kekasihnya itu ke kantor.


Tidak ada percakapan pagi ini, mereka terdiam sepanjang jalan.


Narra masih kesal dengan sikap Andra. Dan begitu juga dengan Andra yang kesal karena Narra mendiamkannya.


Mobil Andra berhenti di depan lobby utama kantor Narra.


Narra menoleh pada Andra, mereka kini saling bertatapan.


"sayang, jangan mendiamkan aku" pinta Andra sendu.


"aku ingin ka Nda mengerti, aku hanya bersikap biasa saja pada mereka" balas Narra.


"iya, aku minta maaf kalo cintaku mengekang kamu" ucap Andra.


Semalaman Andra berpikir untuk merubah sikapnya karena tidak mau Narra merasa tertekan. Dia tidak mau karena sikapnya, Narra menjauh dan meninggalkan dia. Dia sangat mencintai Narra, dia tidak akan sanggup kalau sampai rasa cinta yang Narra punya untuk dia hilang.


Andra meyakinkan diri untuk berusaha sekuat hatinya memperbaiki sikapnya.


Narra mengenggam tangan Andra.


"aku tidak masalah ka Nda bersikap seperti itu. Itu artinya ka Nda menyayangiku. Tapi tolong kasih aku kepercayaan bahwa aku bisa menjaga diriku sebagai kekasih ka Nda. Aku tidak akan macam-macam" balas Narra.


"maafkan aku" ucap Andra seraya membalikan tangannya, sekarang dia yang mengenggam tangan Narra.


"aku kerja dulu ka Nda, sebentar jam makan siang aku akan bertemu klien dan bertemu Erga. Setelah itu aku akan menemui ka Nda" pamit Narra.


"iya sayang" ucap Andra.


Narra mengangguk.


Andra mencium kening Narra.


Dan tiba-tiba Narra mencium pipi Andra.


Andra terkejut. Dia memegang pipi kanannya.


"aku tidak pernah meragukan ka Nda, maafkan aku" ucap Narra.


"aku mencintaimu sayang" ucap Andra.


"aku tau, aku juga cinta ka Nda" balas Narra lalu tersenyum.


Dia lalu turun dari mobil Andra dan bergegas masuk kedalam gedung.


*


Setelah pertemuan dengan klien selesai, Narra meminta izin pada Arjuna untuk tidak ikut kembali ke kantor bersamanya.


"aku mau bertemu sahabatku pak" ucap Narra.


"baiklah, aku duluan" pamit Arjuna.


Setelah agak lama menunggu, Erga datang dengan setelan biasa. Narra memicingkan matanya.


"kamu tidak kerja ?" tanya Narra setelah Erga duduk.


Erga menggeleng, "aku tidak konsen kerja" katanya.


"kenapa ?" tanya Narra.


"karena itu aku minta ketemu kamu. Aku mau cerita" jawab Erga.


"baiklah, tapi kamu tidak ingin pesan makan atau minum ?" tanya Narra.


"aku pesan minum saja" balas Erga.


Narra melambai pada pelayan yang melihat kearah mereka. Setelah pelayan itu mendekat, Narra memesan cappuccino kesukaan Erga.


"ada yang lain ?" tanya pelayan itu.


"tidak ada, terima kasih" sahut Narra.


Pelayan itu belum beranjak dari tepi meja mereka, Narra melihatnya memandang Erga yang sibuk dengan ponselnya.


"maaf, ada apa ?" tanya Narra.


Erga menoleh pada Narra lalu pada pelayan itu.


Pelayan itu gugup saat Erga memandangnya.


"maaf, kak Erga Radian.. boleh minta foto dan tandatangannya ?" katanya.


Narra tersenyum. Ternyata pelayan itu pecinta balap, dia mengenal Erga.

__ADS_1


Erga tersenyum, "boleh, tapi kalo foto.. aku mau foto bertiga dengan sahabatku" katanya sopan.


"tidak apa kak, saya mengerti" katanya seraya menyerahkan notes pada Erga.


"nama kamu ?" tanya Erga.


"Alina" jawabnya singkat.


Erga pun menuliskan kata terima kasih dan menyematkan nama Alina lalu menandatangani notes itu serta menuliskan nama, lengkap dengan nama team serta nomor mobil balapnya.


Lalu Erga merangkul pundak Narra agar mendekat padanya dengan Alina disisi kirinya. Dia berada diantaranya. Mereka berpose tersenyum kearah kamera ponsel Alina.


"terima kasih banyak kak, maaf.. saya akan segera mengantarkan pesanannya" ucap Alina lalu pamit.


Erga dan Narra hanya tersenyum.


"sekarang ceritakan padaku" Narra bersandar pada kursinya.


Dia menunggu Erga menyampaikan ceritanya.


Erga menghela nafas berat.


"aku menyukai seseorang sejak lama" ucap Erga akhirnya.


"trus"


"tapi aku tau sekarang sudah terlambat. Orang itu sudah mempunyai kekasih dan mereka bahagia" lanjut Erga lagi.


"kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan tanpa harus bercerita sama aku" sahut Narra.


"iya aku sudah melepaskannya tapi entah kenapa aku merasa aku tidak bisa melepaskan dia tanpa dia tau aku sayang dia"


"Rea"


Narra menyebut nama yang membuat Erga membulatkan matanya tidak percaya.


"kamu tau ?!" katanya.


"entah kenapa dari dulu aku merasa cara kamu melihat dia bukan sebagai sahabat tapi kamu memperlakukan dia istimewa. Maaf Ga, bukan karena Indra adik Andra tapi aku melihat Rea bahagia dengan Indra" jelas Narra.


Ya, Narra mulai merasakan tentang sesuatu yang beda pada Erga saat sahabatnya itu mulai intens menemani Rea menonton drakor favoritnya. Kapan pun Rea butuh teman nonton, Erga selalu jadi orang yang selalu ada.


Sayangnya Rea tidak menyadari hal itu.


"tapi Ga, dengan kamu bilang tentang perasaan kamu.. apa kamu yakin persahabatan kita dan perasaan Rea akan baik-baik saja ?" tanya Narra.


"aku tidak tau" Erga menggeleng lemah.


"maaf Ga, sebaiknya kita cari moment yang pas untuk kamu bilang sama Rea dan menjelaskan kalo kamu hanya ingin dia tau bukan untuk memilikinya" ucap Narra.


"iya Na, makasih.. aku sedikit lega. Tapi jujur, semenjak aku melihat Rea bahagia dengan Indra... saat itu aku sudah melepaskannya. Hanya saja rasa ini masih melekat. Aku bingung, aku tidak ingin begini" jelas Erga.


"aku mengerti" sahut Narra.


Cappuccino Erga datang di bawa oleh Alina.


Erga dan Narra mengucapkan terima kasih. Gadis itu tersenyum, dia pamit.


"diminum Ga, setelah ini antarkan aku ketemu ka Andra ya" pinta Narra.


"iya, tapi aku takut kak Andra berlaku seperti pada Faya dan Sheva" sahut Erga.


"maksudnya ?"


"kak Andra cemburu" sahut Erga.


"tidak apa, kak Andra mengerti" ucap Narra.


Ternyata para sahabat cowoknya sudah saling memberitahu tentang sikap Andra pada mereka. Tapi Narra tidak ingin membahasnya lebih jauh. Pelan-pelan dia akan membuat Andra bersikap biasa pada para sahabat cowoknya.


*


Erga mengantarkan Narra ke perusahaan HW Farma. Mereka berhenti di depan lobby utama.


"aku ikut masuk juga ?" tanya Erga.


"terserah kamu, memangnya kenapa ?" tanya Narra.


"tidak apa, cuma khawatir kak Andra salah paham sama kita" sahut Erga.


"tenang saja, kak Andra tidak kenapa-napa" Narra menimpali.


Erga mengangguk, dia melaju pelan ke area parkir dan mereka turun bersama dari mobil.


Erga ingin membuktikan sendiri cerita kedua sahabatnya tentang sikap Andra pada mereka.

__ADS_1


Kini mereka sampai di depan ruangan Andra dan sekretaris Mia pamit masuk memberitahu atasannya.


Tak lama, sekretaris Mia keluar dari ruangan Andra bersama Alex.


"hai Na, langsung masuk saja" ucap Alex.


"terima kasih kak Alex" Narra tersenyum.


Narra mengajak Erga masuk. Alex tersenyum pada Erga saat keduanya melewatinya.


"ka Nda" sapa Narra.


Andra beranjak dari kursinya. Dia tersenyum pada Narra dan Erga.


"silakan duduk, maaf merepotkanmu mengantar Narra kesini" Andra menyalami Erga.


Erga membalas uluran tangan Andra.


"tidak masalah kak, Narra sahabatku" balas Erga.


Mereka pun duduk di sofa tamu ruang kerja Andra.


Sebenarnya Andra sedikit kecewa karena Narra datang bersama Erga. Dia ingin berduaan dengan Narra. Bahkan dia sampai menunda makan siangnya sampai Narra datang.


Alex tadi sudah di mintanya untuk memesan makanan untuknya dan Narra. Mungkin sebentar lagi makanan mereka datang.


"emmm baiklah, karena Narra sudah sampai disini.. aku pamit" ucap Erga seraya bangkit dari duduknya.


"kamu buru-buru sekali" ucap Narra ikut berdiri.


"aku mau menikmati izin sehariku, kalo aku disini hanya akan jadi obat nyamuk kalian" canda Erga.


Narra memukul pundak Erga pelan.


Andra beranjak berdiri.


"aku pamit kak Andra" ucap Erga.


"iya, terima kasih sekali lagi" ucap Andra.


Erga mengangguk seraya keluar dari ruangan Andra.


"ternyata benar kata Faya dan Sheva.. walaupun sikapnya biasa tapi tatapan mata itu tidak bisa berbohong. Ada aura kecemburuan" gumam Erga dalam hati.


Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


*


Narra dan Andra menikmati makan siang yang di pesan Alex.


Sebenarnya Narra masih merasa kenyang tapi Andra meminta untuk menemaninya. Daripada terjadi drama lagi, Narra menurut saja.


"jadi Erga cerita apa ?" tanya Andra.


Narra sedikit kaget, dia harus bilang apa. Dia tidak mungkin cerita yang sebenarnya karena ini bisa berimbas pada Indra.


"biasa, dia jenuh saja di kantor jadi dia minta izin tidak masuk hari ini" bohong Narra.


"namanya saja kerjaan rutin, pasti ada jenuhnya tapi kalo aku rutin ketemu kamu... tidak ada jenuhnya" balas Andra.


Narra memandang Andra.


"hmmm kakak mulai merayuku ?!" tanyanya.


"aku berusaha tidak kaku" sahut Andra.


"aku suka" sahut Narra singkat.


Mereka saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain.


"jangan pernah pergi" ucap Andra lirih karena hal itu yang dia takutkan.


"aku akan selalu temani ka Nda" ucap Narra.


"apa ?" tanya Andra.


Narra menghela nafas, dia melanjutkan "ka Nda sayang...."


Andra mengusap puncak kepala Narra.


"terima kasih ya" katanya.


Narra mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2