FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 86


__ADS_3

Friends dan kedua orang tua Faya berada di depan ruang operasi. Mereka menunggu dengan wajah cemas mengenai kondisi Faya di dalam sana.


Sheva dan Erga yang sampai lebih dulu berdiri bersandar dekat pintu ruang operasi. Mereka tampak sangat khawatir karena melihat kondisi terakhir Faya.


Ada darah di area kepala Faya, kaki dan tangan Faya sulit untuk digerakan.


Manajer dan anggota Classic band, baru saja datang. Keenan sang manajer menghampiri Sheva.


"sudah berapa lama operasinya ?" tanyanya.


"hampir sejam bang, aku tidak sanggup mengingat kondisinya. Mama Maya dan papa Farid saja shock melihatnya" jelas Sheva.


Narra yang mendengar itu menundukan wajahnya, dia sedih karena sebelum kejadian dia berselisih paham dengan Faya. Dia marah pada sahabatnya itu.


Sebelumnya ...


Narra mengambil air mineral dalam lemari pendingin, dia membawanya ke sofa dan duduk disana menunggu suaminya menerima telfon.


Mereka baru saja sampai di apartement.


Andra menghampiri Narra dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dia mengambil botol minum yang diletakan Narra diatas meja. Setelah meneguk isinya sampai habis, dia memandang istrinya.


"kenapa ka Nda ? Ada masalah ? Telfon dari siapa ?" tanya Narra dengan pertanyaan beruntun.


Belum sempat Andra menjawab, ponsel Narra berdering.


Narra mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat nama penelfonnya.


"Erga telfon ? Trus kenapa ada banyak panggilan grup Friends ya" gumam Narra.


"ka Nda aku jawab telfon dulu" pamit Narra.


Andra hanya diam. Dia tahu ada kepentingan apa Erga menelfon Narra karena hal itu juga yang akan dia sampaikan setelah menerima telfon dari rumah sakit.


"iya Ga" jawab Narra.


"Na, Faya kecelakaan" sahut Erga dengan suara bergetar.


"apa ?!!!!!" Narra kaget. Tangannya bergetar dan ponsel di tangannya pun terlepas jatuh ke sofa.


Andra mengambil ponsel Narra. Dia menjawab pada Erga kalau mereka akan segera kesana.


"tadi kita sempat ketemu Faya" ucap Narra lirih. Air matanya jatuh membasahi pipinya.


"tadi rumah sakit menelfon aku, kondisi Faya kritis. Dia harus segera di operasi karena adanya gumpalan darah di otaknya. Tulang tangan dan kakinya juga retak" jelas Andra.


Narra menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya apa yang didengarnya.


"aku harus pergi sekarang, karena aku yang akan melakukan operasinya" kata Andra.


"ka Nda, aku ikut" ucap Narra.


Andra mengangguk. Dia membantu Narra untuk berdiri. Mereka berdua bergegas meninggalkan apartement.


*


Pintu ruang operasi masih tertutup. Ini sudah hampir satu jam lebih tapi belum ada keterangan apa-apa.

__ADS_1


Indra yang tadi datang bersama Rea menghampiri Narra. Dia merasa khawatir dengan kondisi kakak iparnya itu.


"kamu baik-baik saja ?" tanyanya.


Narra menoleh.


"aku baik-baik saja In, tidak apa" jawab Narra.


"kamu keliatan lelah, apa perlu aku minta Rea untuk temani kamu istirahat di ruangan kak Andra ?" tanya Indra.


Narra menggeleng.


Indra akhirnya menyerah, dia kembali ketempat duduknya yang bersebelahan dengan Rea.


Ingatan Narra menerawang jauh, dia masih terbayang kejadian tadi. Dan lokasi kecelakaan Faya dekat dengan lokasi apartementnya. Apa Faya mengikutinya ? Tapi untuk apa ? Pikir Narra.


"Na, kamu keliatan tidak baik-baik saja" komen Imel yang duduk di sebelahnya.


"aku hanya sedikit lelah Mel, tidak apa" jawab Narra.


Imel mengusap punggung Narra.


Pintu ruangan operasi terbuka. Seorang perawat memanggil keluarga Faya. Mama Maya, papa Farid dan Friends serta yang lainnya segera mendekat.


"pasien membutuhkan darah A negatif untuk operasinya, silahkan keluarga yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien dan bisa menjadi donor harap ikut saya untuk melakukan pemeriksaan sesuai prosedur" jelas perawat itu.


"bagaimana keadaan anak saya sus ?" tanya mama Maya.


"dokter masih berusaha. Mohon keluarga mengusahakan donor darah secepatnya karena golongan darah itu tidak tersedia di bank darah rumah sakit" kata suster itu.


"iya sus, kami akan segera mencarinya karena golongan darah kami tidak sama" kata papa Farid.


Tak lama Andra keluar dari ruang operasi dengan didampingi suster tadi. Semuanya kembali mendekat.


"dokter bagaimana keadaan Faya ?" tanya Keenan.


Andra menghela nafas berat.


"kami terpaksa menunda operasinya sampai ada pendonor darah untuk Faya tapi sebaiknya jangan lama karena kondisi Faya yang kritis dan operasi penyambungan tulang ini membutuhkan waktu kurang dari enam jam dari saat pasien mengalami keretakan. Kami juga blum bisa mengeluarkannya dari ruang operasi dan mengizinkan pasien untuk ditemui karena kami masih berjaga mengingat kondisinya" jelas Andra.


Keenan dan semuanya mengangguk mengerti.


"terima kasih dok" ucap Keenan.


"suster, tolong cek pasokan darah di bank darah apa sudah tersedia" kata Andra.


"baik dok" pamit suster itu.


"saya permisi" pamit Andra. Dia mendekati istrinya.


Sementara papa Farid mengeluarkan ponselnya. Dia menyebarkan pesan untuk mencari pendonor darah untuk Faya karena baik dia dan istrinya mempunyai golongan darah yang tidak sama dengan Faya.


Semuanya segera sibuk dengan ponselnya, mereka meminta bantunan donor darah untuk Faya.


Andra duduk jongkok dekat kaki Narra. Dia mengusap pipi istrinya itu.


"kamu lelah sayang, sebaiknya kamu istirahat" katanya.

__ADS_1


"aku baik-baik saja sayang. Hmmm apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan tante Mel dan om Richard ?" tanya Narra.


"tapi kita belum bisa membuktikan apa-apa" jawab Andra pelan.


"maaf kak Andra, aku rasa Narra benar. Kita harus meminta tolong pada mereka sekalian kita membuktikannya karena kalo kita menunggu terlalu lama, kondisi Faya tidak memungkinkan" sahut Imel yang dari tadi duduk disebelah Narra.


Andra mangut.


"baiklah, kamu hubungi mereka. Aku masuk dulu kedalam, kalau mereka sudah datang.. Biar aku yang akan menjelaskan pada mereka" katanya.


Narra mengangguk.


Andra mengusap pipi Narra lalu beranjak berdiri kemudian dia mencium kening istrinya. Dia pun kembali masuk kedalam ruang operasi.


Narra memandang Imel lalu pada Rea dan Indra. Mereka dari tadi berada dekat Narra dan tahu pembicaraan Narra dan Andra. Mereka serempak mengangguk sebagai tanda untuk meyakinkan Narra agar melakukan apa yang dia katakan tadi.


Narra meraih ponselnya, dia mencari nama tante Melani pada kontaknya. Tak lama panggilan pun terhubung.


"iya Na, kenapa kamu telfon tante dini hari begini ? Ada apa ? Semuanya baik-baik saja kan ?" tanya tante Melani dengan suara khawatir.


"maaf Narra mengganggu tante, maaf sekali... Tapi Narra harus melakukan ini" kata Narra.


"ada apa Na ? Kamu kenapa ?" tanya tante Melani semakin cemas.


"Narra minta tante Mel dan om Richard segera datang kerumah sakit A Medika" ucap Narra.


"ada apa ?" tanya tante Melani.


"ini tentang Regan tante" ucap Narra akhirnya.


Hening...


"Na, ini om Richard" sahut suara di ujung telfon setelah sejenak tanpa suara. Rupanya om Richard mengambil alih ponsel istrinya.


"iya om" sahut Narra.


"kamu yakin dengan apa yang ingin kamu sampaikan ?" tanya om Richard.


"yakin om, Narra harap om dan tante segera kesini. Narra tunggu di depan ruang operasi" kata Narra.


"baiklah kami akan segera kesana" kata om Richard.


Panggilan tersebut dimatikan.


"aku harap, aku tidak salah" gumam Narra. Dia kembali duduk bersandar.


Imel menggenggam tangan Narra.


"kita harus yakin, kami bersamamu" katanya.


Rea mendekat. Dia berdiri disebelah Narra lalu mengusap punggung sahabatnya sekaligus ipar dari kekasihnya itu.


Pandangan Narra tertuju pada mama Maya dan papa Farid, apa mereka setuju dengan apa yang sudah dia lakukan ? karena dia tidak meminta izin mereka terlebih dahulu. Walau bagaimana pun mereka orang tua Faya sekarang.


Narra menghela nafas. Dia berharap semua akan baik-baik saja. Dan ini yang terbaik untuk semuanya. Baik untuk Faya, keluarga papa Farid dan keluarga om Richard.


"semua akan baik-baik saja" ucap Rea.

__ADS_1


***


__ADS_2