
Narra sedang menikmati sarapannya dengan di temani Andra.
Tadi Andra sempat keluar kamar menuju ruang kerjanya, dia membersihkan diri dan mengganti bajunya.
"ka Nda, kapan aku pulang ?" tanya Narra sambil menunggu Andra menyuapinya.
Entah kenapa dia ingin bermanja dengan Andra.
"tergantung hasil pemeriksaanmu sebentar, kalo hasilnya bagus ya kamu bisa pulang" jelas Andra menyuapi Narra.
"kalo menurut ka Nda ? ka Nda kan dokter" tanya Narra sambil mengunyah makanannya.
"menurutku kamu sudah membaik, tapi kita tunggu hasil dari dokter Firza karena dia yang menangani kamu " Andra mengusap kepala Narra.
Narra tersenyum.
Ponsel Narra yang sementara di charge berdering. Narra melihat layarnya.
Private number. Narra sudah tahu siapa penelfonnya.
Andra dan Narra saling pandang.
"jawab saja, aku mau tau apa maunya" kata Andra.
Narra menurut. Dia menjawab panggilan Ardhan dan mengaktifkan speaker agar Andra ikut mendengar pembicaraan mereka.
"pagi sayang, aku tunggu kamu di lobby kantormu" suara Ardhan.
Andra tidak suka dengan panggilan Ardhan pada Narra. Tapi dia menahan emosinya.
"ada apa kamu di kantorku ?" tanya Narra memandang Andra.
Dia tahu kekasihnya itu tengah menahan emosinya.
"ya mau ketemu kamu sayang, aku masih ingin melanjutkan pembicaraan kita yang tertunda"
"aku tidak bisa karena aku tidak ke kantor hari ini" Narra mengakhiri panggilan Ardhan.
Dia menghela nafas.
"sayang, aku sudah hampir tau semuanya tentang kisahmu dan Ardhan tapi yang aku tidak mengerti apa yang ingin dia jelaskan ?" tanya Andra.
Narra mengangkat bahunya.
"aku tidak tau, dia tidak sempat bilang kak Rayyan sudah datang" jawab Narra.
"apa kamu mau tau apa yang ingin dia jelaskan ?" tanya Andra.
Narra memandang Andra.
"aku merasa tidak penting lagi, sekarang aku sudah bersama kamu. Aku bahagia" ucap Narra.
"kamu yakin ?" tanya Andra seraya menggenggam tangan Narra.
Narra mengangguk.
"baiklah, kita lupakan tentang Ardhan" ujar Andra seraya menempelkan keningnya pada kening Narra.
"kita pikirkan tentang kita saja" lanjut Andra lagi.
Pintu di ketuk.
Narra dan Andra melepaskan tautan mereka dan menoleh kearah pintu. Tampak dokter Hadinata Wijaya dan dokter Serena Hadinata setelah pintu terbuka.
"kamu tidak bilang kalo calon menantu ayah dirawat disini" dokter Hadinata Wijaya dan dokter Serena Hadinata menghampiri mereka.
"maaf ayah, bunda" ucap Andra.
dokter Hadinata Wijaya menepuk pundak Andra.
Bunda Serena mengusap kepala Narra.
"bagaimana keadaanmu ?" tanyanya.
"aku merasa lebih baik bunda" jawab Narra.
Bunda Serena mengangguk.
Suara ketukan pintu kembali terdengar, ayah Sasmita dan ibu Flanella masuk.
"ayah, bunda, ini kedua orang tua Narra" Andra memperkenalkan.
Dokter Hadinata Wijaya memandang ayah Sasmita. Dia mengenalnya.
"apa kabar pak Sasmita ?" tanya dokter Hadinata Wijaya seraya mengulurkan tangan.
Ayah Sasmita terlihat gugup.
"kabar baik dok" katanya membalas menjabat tangan dokter Hadinata Wijaya.
Hal yang sama juga terjadi pada ibu Flanella dan bunda Serena, keduanya saling berjabat tangan dan menempelkan pipi kanan dan kiri mereka.
"Narra anak yang baik, Andra sangat bahagia bersama Narra" komen bunda Serena pada ibu Flanella.
"Andra juga anak baik dok, kami senang dia memperlakukan Narra dengan baik" sahut ibu Flanella.
__ADS_1
"kapan waktu kontrol anda pak Sasmita ?" tanya dokter Hadinata Wijaya.
Ibu Flanella dan Narra memandang ayah Sasmita karena mereka tidak pernah tahu ayah Sasmita mengeluh sakit.
"aku hanya menemani teman dok" sahut ayah Sasmita salah tingkah.
"ooo begitu, maaf pak Sasmita kalo saya salah mengira" dokter Hadinata Wijaya mengerti.
Sepertinya pak Sasmita menyembunyikannya dari Narra dan ibunya. Pikir dokter Hadinata Wijaya.
"teman ayah siapa ? kenapa ibu tidak pernah tau kalo ayah kerumah Sakit" tanya ibu Flanella.
"pak Teddy bu, dia tidak mau orang lain tau sakitnya" jawab ayah Sasmita seraya tersenyum.
Ibu Flanella mangut.
Narra memandang ayahnya, entah kenapa dia merasa ada yang ayahnya sembunyikan pada mereka. Tapi dia tidak ingin bertanya, karena dia tidak mau membuat ibunya kepikiran.
Kedua orang tua Andra dan kedua orang tua Narra duduk berbincang di sofa sementara kedua anak mereka memandang dari arah tempat tidur.
"mereka keliatan akrab" bisik Andra.
Narra mengangguk setuju.
*
Sementara di kantor Arjuna, Ardhan masih duduk di sofa lobby utama dengan kesal. Narra tidak masuk kantor dan langsung mematikan panggilannya.
"kenapa dia tidak masuk kantor ?" gumam Ardhan.
Dia beranjak dan menuju resepsionis. Dia menanyakan tentang Narra.
"sebentar pak, saya tanyakan dulu" resepsionis itu pun menelfon.
Tak lama..
"maaf pak, ibu Ranarra Sasmita sekretaris pak Arjuna sekarang di rawat di rumah sakit A Medika" kata resepsionis itu.
"kenapa ?" tanya Ardhan kaget.
"maaf pak, untuk selanjutnya anda bisa menanyakan langsung pada pak Erick asisten pak Arjuna" kata resepsionis itu lagi.
"baiklah, terima kasih" Ardhan segera keluar dari gedung kantor Arjuna.
Dia menuju mobilnya dan melaju menuju rumah sakit.
"kenapa harus rumah sakit A Medika, aku yakin Andra tidak akan membiarkan aku masuk" gerutu Ardhan dalam mobil yang melaju.
"tapi aku akan berusaha ketemu Narra, aku harus menjelaskan semuanya agar Narra mengerti dan kembali padaku" ucap Ardhan yakin.
Dia semakin semangat melajukan mobilnya menuju rumah sakit A Medika.
*
Alex menemui Andra di ruang inap Narra. Dia membawa berkas perusahaan yang hendak di tanda tangani oleh Andra.
Data tentang Narra sudah dia kirim melalui email sesuai instruksi Andra karena tidak ingin Narra tahu.
Mereka berdua duduk di sofa, tampak Andra membaca dengan teliti berkas yang akan dia tanda tangani.
"maaf bro, kita ada meeting dengan pihak bahan baku produk susu siang nanti. Dan seperti biasa itu termasuk meeting prioritasmu" Alex mengingatkan.
Andra meletakan berkas yang dibacanya diatas meja kemudian memandang Narra.
Narra mengerti, Andra enggan meninggalkannya.
Dari hasil pemeriksaan tadi pagi, Narra masih harus di rawat semalam lagi, besok baru bisa pulang untuk memulihkan kondisinya.
"ka Nda, aku tidak apa-apa disini. Ada suster" Narra meyakinkan.
"keluargamu masih sibuk kerja, para sahabatmu juga. Bagaimana kalo aku minta kak Diandra atau Indra yang temani kamu" kata Andra.
Narra tidak ingin merepotkan keluarga Andra karena masih canggung.
"tapi.." belum sempat Narra berkata, Andra sudah meraih ponselnya dan menelfon seseorang.
"kak Di lagi sibuk ?" tanya Andra.
"tidak, pasien kakak sedikit hari ini. Kenapa An ?" tanya Diandra.
"bisa kakak temani Narra ? aku ada meeting penting siang ini" Andra memandang Narra.
"oh iya, kakak belum jenguk Narra. Baiklah, kamu meeting saja. Kakak nanti temani Narra" sahut Diandra lagi.
"terima kasih banyak kak" Andra menutup panggilannya.
Andra melangkah menuju tempat tidur Narra.
"aku hanya khawatir sama kamu sayang, mau ya di temani kak Diandra" Andra duduk di tempat tidur Narra.
Narra mengangguk.
Andra mengusap kepala kekasihnya itu lalu mencium keningnya.
"aku meeting dulu ya, tidak lama" katanya.
__ADS_1
"iya ka Nda" ucap Narra.
Andra dan Alex pun pamit tetapi langkah Andra berhenti di depan pintu. Dia meminta Alex untuk keluar lebih dulu, dia akan menyusul.
"kenapa ka Nda ?" tanya Narra.
Andra melangkah mendekatinya. Dia mengusap pipi Narra lalu mencium bibir merah kekasihnya itu. Narra membalasnya. Mereka berciuman cukup lama lalu Andra melepaskan.
"maaf sayang, aku tergoda" ucap Andra menempelkan keningnya pada kening Narra.
"iya ka Nda, sebaiknya ka Nda pergi sekarang. Kak Alex sudah menunggu" ucap Narra.
Andra melepaskan tautan mereka.
"kamu mengusirku ?" katanya dengan nada sendu.
"bukan ka Nda sayang, kalo ka Nda pergi sekarang kan cepat selesai urusannya. Bisa cepat kesini lagi" Narra tersenyum.
"baiklah, aku akan segera kesini setelah meeting selesai" kata Andra mengusap pipi Narra.
"iya ka Nda sayang" Narra mengangguk.
Andra kembali mencium kening, kedua pipi dan mengecup bibir Narra. Dia pamit.
Narra memilih untuk berbaring, dia akan beristirahat sampai Diandra datang.
*
Ardhan memasuki lift, setelah mengetahui ruangan Narra dari suster jaga dia segera bergegas.
Begitu pintu lift terbuka, dia langsung menghilang di lorong rumah sakit karena melihat Andra sedang berjalan menuju kearahnya.
"baguslah dia pergi, itu artinya dia tidak akan mengganggu" gumam Ardhan dengan senyum liciknya seraya mengintip menunggu Andra dan asistennya masuk lift khusus disebelah lift yang dia naiki tadi.
Setelah mereka menghilang dibalik lift yang tertutup, Ardhan segera beranjak menuju ruangan Narra.
Dia mengetuk pintu ruangan Narra dan langsung membukanya.
Dia melihat jelas ekspresi kaget Narra.
"kenapa kamu bisa ada disini ?" tanya Narra berusaha bersandar.
"hati-hati sayang, sini aku bantu" Ardhan ingin mendekat.
"jangan ! disitu saja, jangan kesini" teriak Narra.
Ardhan mengangkat kedua tangannya, dia memilih duduk di sofa.
"aku ingin menjelaskan semuanya Na, kasih aku kesempatan" katanya.
"aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, sudah tidak ada gunanya lagi. Aku sudah bahagia dengan kak Andra" Narra bersikap acuh.
"bahagia, kamu yakin ? mau hidup dengan orang yang hanya tau mencintai kamu tapi dia tidak tau apapun tentang kamu"
Narra memicingkan matanya memandang Ardhan.
"aku sudah lama kenal Andra, dia hanya mengikat wanitanya seperti yang dia mau tapi dia tidak tau apa-apa tentang wanitanya. Apa kamu mau seperti itu ?"
"kami akan saling mengenali satu sama lain seiring kami selalu bersama" sergah Narra.
"Jeniffer saja pergi tinggalkan dia" ujar Ardhan.
Narra terdiam, Ardhan tahu tentang Jeniffer.
"sebaiknya kamu pergi, aku mau istirahat" usir Narra.
Suara pintu diketuk.
Diandra masuk.
"hai Na" sapanya pada Narra.
"hai kak Diandra, maaf aku merepotkan kakak" Narra tersenyum.
"tidak apa, kamu kan calon adik iparku" Diandra tersenyum.
Diandra menoleh pada tamu Narra.
"Ardhan ?! kamu ada disini ?" tanya Diandra.
"baguslah kamu datang, sekarang jelaskan pada pacarku tentang kepergianku" kata Ardhan seraya beranjak berdiri.
"pacarmu ?! Narra ?" Diandra tidak mengerti.
"aku bukan pacarmu lagi" sergah Narra.
"tapi kita tidak pernah ada kata putus" balas Ardhan.
"jangan lupa, kamu yang pergi tinggalkan aku dengan semua hinaan dan perlakuan kejam orang tuamu" balas Narra tajam.
Ardhan terdiam. Apa yang dikatakan Narra begitu adanya. Dia pergi disaat Narra terjatuh sangat dalam karena orang tuanya. Seharusnya Ardhan ada untuk membantu Narra.
Diandra mengerti sekarang.
Jadi Narra adalah kekasih Ardhan yang dia tinggalkan ke negara P untuk menghindari perjodohan dengannya.
__ADS_1
"aku akan menjelaskannya" ujar Diandra.
***