FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 44.1


__ADS_3

Andra menepikan mobilnya di depan rumah Narra. Dia ingin bertemu kekasihnya dulu sebelum pulang kerumah untuk beristirahat menunggu acara mereka besok.


Tampak EO yang diminta Andra untuk mendekor tempat acara sudah mulai menjalankan tugasnya.


Kedai masih buka tapi hanya pegawai saja yang terlihat disana. Kedua orang tua Narra kemungkinan ada didalam rumah.


"nak Andra.. mari masuk" sapa ibu Flanella.


"permisi ibu, saya datang mau ketemu Narra" ujar Andra.


Ayah Sasmita keluar menemui mereka.


Ibu Flanella memandang suaminya bingung. Seharusnya Narra ada di rumah.


"Narra ada ayah ?" tanya Andra pada ayah Sasmita.


"Narra tadi pagi pamit keluar, katanya ada urusan" jawab ayah Sasmita.


"bukannya Narra sudah izin tidak masuk kerja ?" tanya Andra.


"iya, tapi katanya ini urusan yang tertunda kemarin" terang ayah Sasmita.


Andra terdiam. Dia pamit, tak lupa dia menyerahkan es cream di tangannya kepada ibu Flanella.


Andra masuk kedalam mobilnya. Dia masih belum beranjak.


"kamu kemana sayang ?" gumam Andra seraya menghubungi ponsel Narra.


Tapi nomor Narra tidak bisa di hubungi.


Andra khawatir, tidak biasanya Narra menon-aktifkan ponselnya.


Andra menghubungi Arjuna.


"Juna, apa Narra hari ini masuk kerja ?" tanya Andra.


"tidak kak, dia sudah izin tidak masuk selama tiga hari" kata Arjuna.


"baiklah, terima kasih"


"sama-sama kak"


Andra segera menghubungi Alex.


"iya bro"


"bro, aku minta kamu cari tahu keberadaan Narra sekarang. Ponselnya tidak aktif"


"baik bro, segera"


Andra kembali mengemudikan mobilnya setelah menutup pembicaraan dengan Alex.


Tadinya dia ingin pulang kerumah, sekarang tidak jadi. Dia akan berputar-putar mencari Narra.


Sementara itu..


Ardhan mengamit jemari Narra. Mereka sekarang berada di lokasi pembangunan real estate milik perusahaan Ardhan.


Sebenarnya Narra merasa risih tapi dia sudah terlanjur terikat perjanjian dengan Ardhan.


Narra sudah menuliskan untuk tidak ada kontak fisik tetapi Ardhan meminta untuk pegangan tangan.


Akhirnya Narra setuju setelah memikirkannya lama.


Narra merevisi ulang surat perjanjian yang dibuatnya dan mereka menandatanganinya bersama.


"bagaimana sayang ? kamu suka ?" tanya Ardhan.


Narra mengerutkan kening. Ardhan bersikap seolah mereka benar sepasang kekasih.


"cukup Ardhan, jangan memanggilku dengan sebutan itu" bisik Narra, dia masih menghormati Ardhan di depan para bawahannya yang sedari tadi bersama mereka.


"ingat, kamu sekarang pacar sehariku" balas Ardhan dengan berbisik juga.


Narra menghembuskan nafasnya kasar. Dia mencoba tersenyum tapi rautnya tidak bisa berbohong kalau dia melakukannya dengan terpaksa.


"bagaimana sayang, kamu suka ?" ulang Ardhan.


"iya, aku suka" jawab Narra dengan senyum dibuat-buat.


"iya apa ?" tanya Ardhan.


Narra melotot, dia tahu maksud pertanyaan Ardhan.


Dan lelaki di depannya itu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"iya sayang" kata Narra akhirnya.


Ingin rasanya dia menghentikan semua ini tapi semua sudah terlanjur. Dia sudah menandatangani perjanjian itu.


Ardhan tersenyum penuh kemenangan.


Mereka melanjutkan melihat pembangunan. Sesekali Ardhan memegang pinggang Narra agar Narra rapat dengannya ketika melewati jalanan berbatu.


"aku bisa sendiri" kata Narra.


"aku tidak ingin kamu terjatuh sayang" balas Ardhan.


Narra melihatnya malas tetapi Ardhan malah tersenyum.

__ADS_1


*


"kalian menemukannya ?" tanya Alex.


"iya tuan Alex, nona Narra ada di proyek pembangunan real estate" jelas anak buahnya.


"apa ? dia bersama siapa ?"


"saya sudah mengirimkan videonya ke email anda" kata anak buahnya tanpa menjawab pertanyaan Alex tadi.


"baik, saya akan memeriksanya. Kalian terus awasi Narra jangan sampai kalian kehilangan jejaknya. Paham !"


"paham tuan !"


Panggilan ditutup.


Alex memeriksa emailnya. Dia terperanjat kaget. Indra yang berada di dekatnya memandang heran.


Mereka bertiga bersama asisten Indra sekarang berada di dalam ruangan Andra untuk menyelesaikan pekerjaan Andra yang belum selesai.


"ada apa kak ?" tanya Indra.


"Narra sekarang bersama Ardhan" ucap Alex pelan.


"apa ?" Indra kaget.


Alex menyerahkan ponselnya pada Indra agar adik Andra itu bisa melihatnya sendiri.


Indra terperangah.


Dalam video itu Narra berdekatan dengan Ardhan, tangan mereka bertautan dan kadang Ardhan mengusap kening Narra untuk menghapus keringatnya.


"tidak mungkin, Narra tidak mungkin seperti itu. Dia tidak mungkin mengkhianati kak Andra. Besok lamaran mereka" Indra menggelengkan kepalanya.


"aku juga berpikir begitu" kata Alex.


Nada panggilan ponsel Alex berdering.


Dari Andra.


"bro menelfon" kata Alex pada Indra.


"jawab saja kak tapi jangan bilang apa-apa sebelum kita tahu dari Narra tentang apa yang terjadi" kata Indra.


Alex mengangguk.


"iya bro" dia menjawab panggilan ponselnya.


"kamu sudah menemukannya ?" tanya Andra.


"belum bro, maaf aku akan terus berusaha" kata Alex berbohong.


"iya bro" jawab Alex.


Panggilan ditutup.


"kita temui Narra kak Alex sebelum kak Andra menemukannya lebih dulu. Aku tahu kak Andra pasti belum pulang kerumah, dia terus mencari sampai Narra ada kabar" jelas Indra.


Alex mengangguk.


"Tobby, kamu tangani semuanya disini selama aku dan kak Alex pergi" pesan Indra.


"baik boss" kata Tobby, asisten Indra.


Indra dan Alex bergegas meninggalkan ruangan Andra.


*


Andra terus berkendara, sambil mencoba menghubungi para sahabat Narra. Hasilnya sama, semua tidak ada yang tahu keberadaan Narra.


"Alex juga belum menemukannya" gumam Andra.


"apa aku temui Rayyan saja" pikir Andra akhirnya.


Andra segera memutar arah, dia sekarang menuju bengkel Rayyan.


*


Rayyan cukup kaget dengan kedatangan Andra. Dia segera menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


Bengkel Rayyan cukup sederhana. Tetapi peralatannya lengkap. Mereka menerima perbaikan motor dan mobil.


"hai Rayyan" sapa Andra.


"akhirnya kamu datang juga ke bengkelku" balas Rayyan.


Rayyan lalu mengajak Andra masuk kedalam kantornya dan meninggalkan Rasta yang masih sibuk memperbaiki mobil klien bersama seorang pegawai.


Bengkel ini mempunyai tiga orang pegawai dengan Rasta sebagai penanggung jawab dua serta Rayyan sebagai penanggung jawab satu sekaligus pemilik bengkel.


"kita bicara di ruanganku atau disini ?" tanya Rayyan.


"disini saja Ray" jawab Andra.


Rayyan mengangguk.


"silahkan duduk, mau ngopi ?" tawar Rayyan.


"boleh, terima kasih" kata Andra.

__ADS_1


Rayyan menuju meja pantry yang bersebelahan dengan toilet. Dia membuat kopi untuk dirinya dan Andra.


"sepertinya kamu butuh admin cewek untuk mengurus disini dan membuat kopi" kata Andra.


"kalo untuk admin segala urusan laporan keuangan, Narra biasanya membantuku. Jadi sebulan sekali Narra pasti membantuku disini untuk membuat laporannya. Yang penting semua datanya lengkap di komputer" jelas Rayyan sambil mengaduk kopinya.


Andra mangut.


Rayyan datang dengan membawa dua cangkir kopi.


"silahkan" ucap Rayyan seraya meletakan kedua cangkir di atas meja.


"aku kesini mau tanya, apa kamu tau Narra ada urusan apa pagi ini ?" tanya Andra menjelaskan maksud kedatangannya.


Rayyan menggeleng, "aku tidak tau, tadi pagi dia buru-buru pergi. Dia tidak sempat sarapan bersama kami" jelasnya.


"ponselnya tidak aktif Ray" ucap Andra.


Rayyan bersandar di kursinya.


"kemana dia ?" gumamnya.


Pintu di ketuk, dua orang pegawai bengkel Rayyan masuk kedalam.


"permisi kak Rayyan, ini salinan nota dan uang pembayaran dari klien. Beliau bayar tunai" kata salah satunya seraya menyodorkan selembar kertas slip pembayaran dan amplop kepada Rayyan.


"ok, terima kasih" kata Rayyan seraya menerima kertas slip pembayaran dan amplop dari pegawainya.


"kalo begitu saya keluar dulu kak" kata pegawai itu lagi.


"saya mau buat kopi kak" pamit yang satunya.


"iya silahkan" ucap Rayyan.


Pegawai itu menuju meja pantry.


"ponselnya masih tidak aktif" kata Andra dengan ponselnya yang masih menempel di telinga.


"Narra kemana" Rayyan mulai khawatir.


"maaf kak, maaf sekali lagi kalo saya mendengar pembicaraan kakak. Tadi kami bertemu kak Narra" kata pegawai Rayyan sembari membawa empat cangkir kopi di atas nampan.


Dia sekarang berdiri di dekat pintu masuk.


"dimana ?" tanya Rayyan.


"kak Narra masuk ke gedung perkantoran dekat grandmall" katanya.


"kamu yakin itu Narra ?" tanya Andra.


"iya, tanya sama Dimas.. dia juga melihat. Kami tadi mengantar mobil di grandmall" jelasnya lagi.


"ok, terima kasih infonya" kata Rayyan.


Pegawai Rayyan itu pun pamit keluar.


"itu kantor Ardhan" ucap Andra setelah dalam ruangan itu hanya mereka berdua.


"kenapa bisa Narra ada disana ?" tanya Rayyan.


"Ardhan menawarkan kerjasama pada Arjuna, nilainya besar sehingga Narra berusaha profesional dalam proyek itu. Ardhan mau Narra yang menangani proyeknya" jelas Andra.


"licik" komen Rayyan.


Andra mengangguk, "aku tau dia sengaja karena ingin dekat sama Narra" terangnya.


"aku pergi" kata Andra lalu meminum kopinya sampai habis.


Dia beranjak berdiri.


"kamu mau kemana ?" tanya Rayyan.


"menemui Narra" ucapnya.


"jaga adikku baik-baik" pesan Rayyan.


"pasti" Andra beranjak keluar dari kantor Rayyan. Dia segera masuk kedalam mobilnya.


*


Indra dan Alex berada di pelataran parkir kantor Ardhan karena menurut anak buahnya setelah meninjau lokasi pembangunan real estate, mereka kembali ke kantor Ardhan.


"mereka ke mall kak" tunjuk Indra.


Setelah menurunkan asistennya di depan lobby kantor, Ardhan mengambil alih kemudi dan meminta Narra duduk di depan bersebelahan dengannya.


Mereka menuju mall.


Indra dan Alex terus mengikuti kemana mobil Ardhan pergi membawa Narra.


Tanpa mereka sadari, Andra juga sudah sampai disana. Dia mengikuti mobil Ardhan masuk ke pelataran parkir mall.


Andra terlihat sangat menahan emosinya. Dia tidak tenang sekarang. Hatinya gelisah melihat Ardhan turun dari mobil dan membuka pintu untuk Narra.


Anehnya, Narra menyambut tangan Ardhan saat lelaki itu mengulurkan tangannya. Mereka berjalan berpegangan tangan masuk kedalam mall.


"Ardhan brengsek !!" umpat Andra seraya memukul setir mobil.


***

__ADS_1


__ADS_2