
Narra keluar dari kamar, dia menuju ke pusat keramaian. Di pulau ini semuanya tersedia, mulai dari area wisata, pameran seni, pusat belanja, hiburan, bermain bahkan olahraga. Semua dibangun agar para pengunjung betah untuk berada di tempat ini.
Melani yang ingin menutup tirai jendela melihat Narra yang melintas dengan terburu-buru.
"Narra mau kemana malam-malam begini ?" gumam Melani.
Richard yang berada tidak jauh darinya mendekat, dia ikut melihat keluar jendela.
"apa mereka bertengkar ?" tanya Melani.
"kalo pun begitu, mereka pasti bisa menyelesaikannya sendiri" sergah Richard.
Melani mengangguk.
Mereka kemudian menuju tempat tidur. Melani duduk bersandar dengan melihat aplikasi online shop di ponselnya, sementara suaminya mengerjakan pekerjaan lewat laptopnya.
Pintu kamar mereka di ketuk.
Dengan bergegas, Richard beranjak membuka pintu. Tampak Andra berdiri diambang pintu dengan gelisah.
"maaf om, saya mengganggu om malam-malam begini. Apa Narra menemui tante Melani ?" tanya Andra.
"Narra tidak kesini, Melani ada di dalam" jawab Richard.
Melani yang baru saja keluar dari ruang ganti untuk mengganti pakaiannya menghampiri mereka yang berdiri diambang pintu.
"biar tante saja yang mencari Narra. Kamu tunggu disini" sergah Melani.
Richard memandang Melani.
"aku rasa aku tau dimana Narra, biarkan aku bicara dengannya" izin Melani pada suaminya.
Richard mengusap kepala Melani, "hati-hati" katanya.
Melani mengangguk.
"kita tunggu di depan, Melani akan membawanya pulang" kata Richard.
Andra mengangguk, padahal dalam hatinya ingin pergi bersama Melani untuk mencari Narra karena dia sangat mengkhawatirkan istrinya itu.
"sudah, semua akan baik-baik saja. Tunggu sebentar" Richard meninggalkan Andra duduk di teras sendiri karena dia ingin membuat kopi untuk mereka.
*
Narra duduk melantai dengan menekuk lutut memandang lukisan galaksi yang berada di galeri seni.
Dari awal melihatnya, Narra sangat menyukai lukisan itu. Melihatnya membuat suasana hatinya tenang.
Melani melihat Narra dan mendekatinya lalu duduk bersama Narra di lantai.
"tante ?!" Narra terkejut.
"Andra cemas mencarimu. Aku tau kamu pasti ada disini" kata Melani.
"Narra tidak apa-apa tante, hanya gugup saja. Hati Narra tidak tenang" jelas Narra.
"kamu mau cerita sama tante ?"
"aku takut tidak bisa memberi moment indah pada ka Nda, dia memintanya malam ini tante" ucap Narra pelan dan malu-malu.
Melani tersenyum.
__ADS_1
"malam pertama ?" tanya Melani.
Narra mengangguk.
"Na, ini adalah moment pertama buat kalian. Tidak apa kalo kamu masih gugup atau canggung. Tante yakin Andra pasti memahamimu" jelas Melani.
"bagaimana kalo aku tidak bisa tante ?"
"kamu bisa, ikuti nalurimu berdasarkan sentuhan Andra" ucap Melani.
Dia mengajak Narra berdiri. Mereka pun beranjak meninggalkan galeri seni.
*
Andra memeluk Narra erat.
"maaf, aku tidak pamit sama ka Nda. Aku pergi ke galeri seni" jelas Narra dalam pelukan Andra.
"seharusnya kamu menungguku, kita pergi bersama" kata Andra setelah melepaskan pelukannya.
"kalian selesaikan masalah kalian dengan baik" ucap Richard seraya merangkul pinggang Melani.
"An, jangan memaksa" ucap Melani mengingatkan.
Andra hanya tersenyum canggung, dia tidak mengerti maksud Melani. Mereka pun pamit kembali ke kamar.
*
Andra mendudukan Narra di tepi tempat tidur sementara dia sedikit berlutut di depan istrinya itu.
"sayang, ceritakan padaku. Ada apa ?" tanya Andra.
"aku merasa gugup" ucapnya.
Narra menggeleng.
"kalo kamu blum siap, aku tidak akan memaksa. Kita tidur ya" Andra membelai pipi Narra lalu beranjak berdiri.
Narra menahan tangan Andra.
"aku siap" ucap Narra pelan.
"aku tidak ingin kamu tidak nyaman sayang" sergah Andra.
Narra menggeleng, "aku siap" tegasnya.
Andra mendekat. Dia mencium kening, kedua pipi lalu bibir Narra kemudian dia merebahkan Narra di tempat tidur.
"aku akan pelan-pelan. Kalo aku menyakitimu, bilang ya" kata Andra.
Narra mengangguk.
Andra mulai menyentuh Narra dengan lembut. Narra merasakan sentuhan suaminya dan merespon mengikuti nalurinya. Mereka melewati malam indah dengan penuh cinta.
*
Andra mengajak Narra berjalan-jalan setelah selama tiga hari sibuk dengan kegiatan seminar. Sekarang giliran Andra memanjakan istrinya.
Narra menarik tangan Andra tepat di depan lukisan galaksi.
"aku suka dengan lukisan ini, tante Melani menemukanku duduk disini memandang lukisan ini" cerita Narra.
__ADS_1
"bagus, kita beli untuk apartemen eh rumah kita bagaimana ?"
"rumah ?" tanya Narra.
"aku pikir, sebaiknya kita punya rumah untuk keluarga kecil kita" kata Andra.
"aku rasa tidak apa kalo kita tinggal dulu di apartement kan kita baru berdua kalo misalnya nanti kita punya anak, aku akan meminta rumah yang besar sama ka Nda" kata Narra menggoda suaminya.
"aku akan mengabulkan semua permintaanmu" ucap Andra seraya mengusap puncak kepala istrinya.
"aku jadi terkesan matre" gumam Narra.
"sut !" Andra meletakan telunjuknya di bibir Narra.
"kamu tidak seperti itu, justru kalo kamu tidak meminta padaku.. Aku merasa aku bukan suami yang baik karena tidak memenuhi keinginan istriku. Jangan ragu untuk meminta apapun, aku akan berusaha memenuhinya" kata Andra.
"terima kasih ka Nda" ucap Narra lalu mencium pipi suaminya.
Andra tersenyum lalu mendekat pada istrinya, "sepertinya kita sudahi jalan-jalannya, aku ingin bermain denganmu" bisiknya.
"ka Nda..." Narra membulatkan matanya lalu berjalan mendahului suaminya melihat lukisan yang lain.
"sayang... Tunggu aku" panggil Andra.
*
Malamnya Andra dan Naŕra makan malam romantis di tepi pantai. Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya. Sesekali Andra duduk bersandar memandangi wajah istrinya.
"sayang kenapa melihat seperti itu ?" Narra tersipu malu.
"aku memandang keindahan di depan mataku"
"ehmmm gombal" balas Narra.
"aku serius sayang" kata Andra.
"hmm baiklah, kita makan yuk ka Nda. Aku sudah lapar" Narra memandang suaminya.
Setelah makan malam yang romantis, Andra dan Narra mengulangi malam penuh cinta mereka. Pulau M menjadi saksi indahnya moment bulan madu mereka.
"sayang, tante Mel tadi mengirim pesan. Beliau dan om Richard pulang besok pagi di jemput helikopter karena ada kerjaan om Richard yang mendesak" kata Narra pada Andra.
Mereka masih berada dalam selimut setelah tadi melakukan moment penuh cinta.
"iya, sebenarnya mereka mengundang kita ke pulau villa baru mereka tapi aku ada urusan besok pagi ke negara P. Kamu maukan temani aku ?" tanya Andra.
"villa proyek Faya dan Ardhan ?" tanya Narra.
Andra mengangguk.
"baiklah, aku ke kamar mandi dulu" Narra beranjak meraih gaun tidurnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Andra menghela nafas panjang.
Alasan sebenarnya dia menolak ajakan Richard untuk mengunjungi villa mereka adalah karena dia masih tidak suka bila melihat Faya bertemu Narra. Mungkin dengan Ardhan, dia bisa bersikap biasa karena memang Ardhan dari awal sudah intens mendekati Narra meskipun kini mereka sudah berbaikan dan berteman. Tapi Faya, sahabat Narra yang mengaku mencintai istrinya itu dalam diam. Dia masih belum bisa menerima karena dia merasa Faya belum bisa merelakan Narra bersamanya.
"maafkan aku sayang, aku masih terlalu cemburu. Aku tidak akan bisa mengendalikan emosiku kalo dia mencoba memancingnya lagi" ucap Andra lirih.
Pintu kamar mandi terbuka, Narra keluar dan menuju ke tempat tidur.
"aku juga mau bersih-bersih" kata Andra seraya beranjak.
__ADS_1
Narra mengangguk lalu mulai berbaring. Matanya terpejam karena dia merasa sangat mengantuk.
***