
Narra menemui Andra di rumah sakit. Tadi suaminya itu memintanya untuk datang kesana.
"aku bisa masuk sendiri, kamu langsung ke kantor saja" kata Narra begitu hendak turun dari mobil.
"baik kak" jawab Alen.
"terima kasih Alen" ucap Narra.
"sama-sama kak Narra. Aku pergi" pamit Alen.
Narra langsung masuk kedalam, dia menuju ruangan suaminya. Tampak para dokter dan perawat yang mengenalnya menyapanya dengan senyuman. Narra membalasnya dengan perlakuan yang sama.
Di meja jaga dia bertemu dengan suster Marina.
"sore tante Mar" sapa Narra.
"Narra, kamu mau temui suamimu ya ?" tanya suster Marina.
"iya tante Mar, suamiku ada di ruangannya ?" tanya Narra.
"iya, dokter Andra ada jadwal visit hari ini jadi sekitar sejam lagi beliau akan beranjak" jelas suster Marina.
"terima kasih tante Mar, aku masuk dulu" pamit Narra.
Dia mengetuk pintu ruangan Andra. Setelah mendengar ada sahutan dari dalam, Narra membuka pintu dan masuk kedalam.
Andra beranjak berdiri menyambut istrinya dengan merentangkan tangannya. Narra tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam pelukan suaminya.
"mood boosterku..." ucap Andra.
"aku juga butuh pelukan suamiku" sahut Narra.
Andra melepaskan pelukannnya, dia membawa Narra duduk di sofa. Dia mengurai rambut Narra yang menutupi wajah istrinya itu.
"ada apa ?" tanyanya.
"aku sudah baikan dengan Faya. Dia tadi meminta maaf atas sikapnya, aku harap kali ini dia benar-benar menepati janjinya agar ada batasan antara kami" jelas Narra.
"baguslah, aku sangat tidak ingin dia mengacaukan kebahagiaan kita. Aku sangat mencintaimu" ucap Andra.
"aku tau, aku juga sangat cinta ka Nda" balas Narra seraya merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"sayang, kamu mau aku pesankan cemilan atau minuman ?" tanya Andra.
Senyum Narra merekah. Dia mengangguk setuju.
"kamu tunggu aku selesai kerja, trus kita pulang dan siap-siap makan malam romantis" Andra mengusap pipi Narra.
"terima kasih ka Nda, ada cemilan dan minuman aman" Narra tersenyum.
*
Sambil menunggu Andra memeriksa pasiennya, Narra berdiam diri dalam ruangan Andra menikmati cemilan dan minumannya seraya menggulir sosial medianya.
Narra mendapat pesan dari Imel.
[Na, Faya menemui kamu ?] tanya Imel lewat pesannya.
[iya, dia meminta maaf] balas Narra.
[iya, dia juga menemuiku untuk minta maaf] balas Imel.
__ADS_1
[aku hanya berharap Faya tetap menyadari batasannya karena aku tidak mau ka Nda sampai salah paham]
[aku mengerti, kamu dimana ?]
[aku di RS, menemani ka Nda kerja. Kamu masih di toko ?]
[iya, aku masih mengemas barang. Banyak orderan hari ini] balas Imel.
[ok, semangat Mel 💪🏻]
[terima kasih Na 😊]
Narra menghela nafas, akhirnya Faya bisa berdamai dengan semuanya. Semoga saja persahabatan mereka akan baik-baik saja. Dia hanya ingin semua berjalan seperti biasanya. Persahabatan mereka, percintaan dan rumah tangganya.
*
Narra dan Andra makan malam romantis di restorant favorit Andra. Bukan hanya tempat yang Andra persiapkan melainkan gaun, sepatu serta aksesoris yang Narra kenakan pun di persiapkan.
Penampilan Narra dan Andra begitu serasi. Andra juga sesekali menyuapi Narra, begitu juga sebaliknya.
"hai Na, kak Andra" sapa seseorang.
Andra dan Narra menoleh kearah suara.
Faya berdiri dekat meja mereka dengan memamerkan senyumnya.
"oh hai Fay" balas Narra.
"kalian disini juga" sahut Faya.
"kamu sedang apa disini ?" tanya Andra. Dia mencoba bersikap biasa saja.
"duduk Fay, ada yang mau aku bicarakan" kata Andra.
Faya menarik kursi antara Andra dan Narra.
"aku berharap tidak ada masalah lagi antara kita" kata Andra.
"selama ini memang tidak ada masalah, hanya saja kak Andra yang terlalu berlebihan menyingkapi hubungan persahabatanku dengan Narra" sahut Faya.
Narra memandang Faya tajam. Seharusnya Faya tidak bicara seperti itu.
"Fay !" tegur Narra.
Andra memandang Narra, dia menggelengkan kepalanya.
"aku tidak merasa berlebihan karena aku masih bersikap biasa pada Friends yang lain. Hanya sama kamu saja aku berlaku begitu karena apa ? Karena kamu memiliki perasaan pada istriku" Andra berbicara tenang.
"tapi itu hanya perasaanku saja karena Narra tidak membalasnya" sahut Faya.
"karena itu seharusnya kamu bisa bersikap seperti sahabat pada istriku. Ada batasan yang harus pahami" sahut Andra tegas.
"aku mengerti tapi asal kamu tau, kami bersama sejak kecil dan kami sangat terbiasa dalam bersikap sangat dekat" tekan Faya.
"Fay, aku rasa suamiku tau tentang hal itu. Dan sebaiknya pembicaraan ini diakhiri" sergah Narra.
"tapi Na, suamimu harus mengerti sedekat apa kita dengan dan tanpa perasaanku" balas Faya.
"Fay, daripada kamu terus mengoceh memperjelas tentang itu. Lebih baik sekarang kamu diam" sahut Narra.
"aku cape dengan semua ini Fay, cape !!!" bentak Narra.
__ADS_1
Dia beranjak berdiri meninggalkan suaminya dan Faya. Andra bergegas berdiri menyusul istrinya.
Faya terdiam. Dia merutuki kesalahannya, baru saja berdamai dengan Narra sekarang dia kembali membuat masalah.
"aku tidak bisa begini terus" Faya bersandar di kursi.
*
Sementara itu...
Andra memeluk istrinya dan mengusap punggung istrinya itu. Dia mencoba menenangkan istrinya yang tampak emosi. Dengan segera Andra membawa Narra menuju mobilnya lalu dia meminta Narra untuk menunggu sebentar karena dia belum menyelesaikan pembayaran.
"sayang, kita pulang ya" ajak Andra setelah masuk kembali kedalam mobil.
Narra mengangguk.
Jendela Narra di ketuk, tampak Faya di luar mencoba untuk meminta Narra membuka jendelanya. Andra memandang istrinya. Dia meminta persetujuan istrinya itu.
Narra menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau bicara lagi dengan Faya. Dia hanya ingin segera pergi dari sini.
"kita pulang sayang, aku muak dengan dia" pinta Narra dengan suara isakan.
"iya sayang, kamu tenang ya" ucap Andra. Dia tidak tega melihat kondisi istrinya seperti itu.
Ingin rasanya tadi dia meluapkan emosinya pada Faya tapi dia menahannya karena mereka berada di tempat umum dan juga itu artinya akan menambah masalah baru baginya.
Dia segera menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi dari sana.
*
Tinggallah Faya memandang kepergian mobil Andra. Dia benar-benar merasa kalau kali ini Narra tidak akan memaafkannya. Dia merasa frustasi sekarang dengan apa yang telah dia lakukan.
Dengan segera Andra menuju motornya, dia melaju mengikuti mobil Andra. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah mendapat maaf kembali dari Narra.
"kamu bodoh Fay, bodoh !!" rutuk Faya.
Dia melaju kencang mengikuti mobil Andra yang sudah mulai hilang dari pandangannya.
Faya melaju kencang tanpa menyadari kalau sebuah mobil pick up hendak menyeberang ketika Faya melewati perempatan.
Kedua kendaraan itu bertemu di tengah dengan posisi Faya yang tidak bisa mengendalikan kendaraannya. Faya mencoba menghindar tapi kejadian itu begitu cepat.
"aaaaaaaaa" teriak Faya. Dia terjatuh dari motornya dan terguling hingga membentur trotoar.
Semua orang mendekati Faya dan mencoba menolongnya.
Faya merintih kesakitan, darah mengalir di pelipis matanya. Dia mencoba meraih ponsel disakunya. Dia melakukan panggilan video grup Friends.
"Fay, kamu kenapa ?" tanya Sheva.
"Fay, kamu dimana ?" sahut Erga lagi.
Faya tidak sanggup lagi berkata, tangannya gemetar dan ponselnya pun terlepas.
Untungnya, warga yang hendak menolongnya mengambil ponsel itu dan memberi tahu tentang kejadian yang menimpa Faya. Mereka akan membawa Faya kerumah sakit terdekat.
"kami akan segera kesana" Sheva menutup panggilannya.
Panggilan grup itu berakhir. Sepertinya mereka semua bergegas menuju rumah sakit terdekat dengan lokasi kecelakaan Faya.
***
__ADS_1