
Narra terus menengok kebelakang, mobil Andra tepat berada di belakang taksinya.
"pak supir, bisa minta tolong untuk lebih cepat. Usahakan jauh dari mobil di belakang" pinta Narra.
"baik nona, sebaiknya nona pegangan" kata supir taksi.
Mobil taksi itu melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha meninggalkan mobil Andra yang terus mengikuti di belakang.
"pak, nanti di depan belok kiri ya. Saya turun di situ" kata Narra lagi.
"baik nona" ucap supir taksi.
Taksi yang ditumpangi Narra pun berhenti di kompleks perumahan Rania.
Setelah membayar, dia segera berlari agar Andra tidak menemukannya.
"nona Narra, silahkan masuk" ujar satpam rumah membukakan pintu pagar.
"kak Rania ada pak ?" tanya Narra.
"ada nona, tapi sepertinya mereka mau bersiap pergi" jawab pak satpam.
Narra mengangguk.
Narra lalu melangkah masuk kedalam rumah, dia melihat Rishi yang sementara bersiap dengan pelayan.
"tante Narraaaaa" teriak Rishi seraya berlari memeluk Narra.
"halo sayangnya tante" ucap Narra seraya mencium pipi gembul Rishi.
"Narra, kamu tidak bilang kalo mau kesini" sergah Rania.
"maaf kak, boleh aku bicara dengan kakak ?" Narra memandang kakaknya.
Rania mengangguk. Dia mengajak adiknya ke taman belakang.
"ada apa ?" tanya Rania.
Narra lalu menceritakan semua pada kakaknya.
Rania mengusap kepala adiknya, "kamu tenangkan diri dulu, setelah itu kita bicara lagi" ucapnya.
"halo Na, kamu ikut kita jalan-jalan yuk" ajak Adryan.
"maaf kak, apa boleh aku numpang istirahat disini ? kalian pergi saja, aku tidak apa sendirian" sahut Narra.
Adryan ingin bicara lagi tapi Rania mencegahnya, "ya sudah, kamu istirahat saja. Kamu tidak sendirian, ada bibik dan pak satpam di depan" ucapnya.
Narra mengangguk.
"kalo kamu butuh apa-apa, bilang sama bibik" ucap Rania lagi.
"iya kak, aku langsung ke kamar ya kak" pamit Narra pada Rania dan Adryan.
Sepeninggal Narra, Adryan memandang Rania seakan meminta penjelasan.
"biasa, masalah cinta. Dia ada masalah dengan Andra. Sebaiknya kita biarkan dia tenang dulu" jelas Rania.
"hmmm sebenarnya ada apa lagi diantara mereka" gumam Adryan.
"sudahlah sayang, kita pergi saja. Kasian Rishi sudah menunggu" ajak Rania.
Adryan mengangguk.
"bik, Narra lagi istirahat di kamarnya. Nanti bibik ingatkan dia makan ya" pesan Rania.
"baik nyonya" sahut pelayan rumah Rania.
Mereka pun pergi karena sudah terlanjur punya rencana mengajak Rishi ke taman bermain.
Sementara itu Andra menghentikan mobilnya di depan kompleks perumahan Rania. Walaupun dia kehilangan jejak tapi dia tahu taksi Narra menuju rumah Rania.
Mobil Adryan melintasi mobil Andra.
Andra jadi ragu apa Narra ada di rumah Rania, sementara tadi sekilas dia melihat Adryan, Rania dan Rishi berada di dalam mobil.
Andra pun mencoba menghubungi Narra tetapi tetap saja panggilannya tidak mendapat jawaban.
"sayang, jawab telfonnya, kita bicarakan ini" ujar Andra.
Nada pesan masuk.
__ADS_1
Dari Narra.
Aku butuh waktu untuk berpikir tentang hubungan kita. Maaf, sebaiknya biarkan aku sendiri dulu.
Andra menggeleng kuat. Dia tidak bisa menerima keputusan Narra.
Dia kemudian mengetik, membalas pesan Narra.
Kita bicara ya sayang, aku minta maaf.. aku mohon jangan acuhkan aku. Aku tidak bisa.
Pesan terkirim tapi tidak ada balasan dari Narra.
Andra mencoba tenang, dia kembali pulang kerumah.
*
Bunda Serena melihat Andra pulang kerumah dengan tampang lusuh.
"ada apa An ?" tanya bunda Serena.
Belum sempat Andra menjawab, Alex muncul bersama ayah Hadinata dan Indra.
Andra langsung menyerang Alex, dia mencengkram kerah baju asistennya itu.
"semua gara-gara kamu" bentak Andra.
"Andra ! ada apa ini ? kenapa kamu bersikap begitu pada Alex ?" tanya ayah Hadinata.
"ayah tanyakan sama dia, dia diam-diam sering mengirim chat pada Narra. Bahkan mereka bertemu tanpa sepengetahuanku" terang Andra.
Alex yang tadinya kaget dengan tindakan Andra kini mengerti apa yang terjadi.
"aku bisa jelaskan bro. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan" balas Alex.
"Andra lepaskan Alex ! Andra !" bentak ayah Hadinata.
Andra melepaskan cengkramannya. Dia menunduk.
"kamu jelaskan semua pada kami" ujar ayah Hadinata pada Alex.
Bunda Serena mengajak mereka semua untuk duduk.
Alex menganggap Narra sebagai adik, tidak lebih.
Ayah Hadinata menggelengkan kepalanya. Bunda Serena menatap Andra.
"jangan bilang karena kecemburuan kakak, kakak melakukan hal bodoh yang membuat Narra kecewa" komen Indra.
"Narra marah dan pergi dari sini naik taksi. Sampai sekarang dia tidak mau menjawab panggilanku bahkan dia mengabaikan pesanku" ucap Andra.
Indra menggelengkan kepalanya.
"seharusnya kamu tidak bersikap berlebihan pada Narra" ucap bunda Serena.
"boleh aku yang bicara pada Narra ? semoga saja dia mau mendengarkanku" komen Alex.
Andra hanya memandang Alex.
"kamu tidak punya pilihan lain selain membiarkan Alex membantumu. Ini semua terjadi karena kesalahanmu" sahut ayah Hadinata.
"iya yah, Andra minta maaf" Andra tertunduk.
"sebaiknya kamu berpikir yang tenang, ayah tidak mau kejadian ini mempengaruhi Narra tentang pernikahan kalian" sahut ayah Hadinata.
"itu yang Andra takutkan yah" ucap Andra lirih.
"aku akan menemui Rea, semoga saja dia bisa membantu" Indra pun beranjak lalu pamit kepada ayah dan bundanya.
Alex pun ikut beranjak dan pamit.
Andra berdiri, dia mengulurkan tangan kepada Alex.
"aku minta maaf bro" ucap Andra.
Alex menjabat tangan Andra.
"aku baik-baik saja, aku mengerti dengan sikapmu" katanya.
"terima kasih" balas Andra.
"semua akan baik-baik saja" Alex menepuk pundak Andra.
__ADS_1
Dia pun pamit pada ayah Hadinata dan bunda Serena lalu beranjak pergi.
*
Narra masih melihat pesan Andra di layar ponselnya.
Dia tidak ingin membalas pesan itu karena tidak ingin membahas apapun sekarang.
"semoga ka Nda mengerti, aku cinta sama ka Nda tapi aku tidak suka dengan sikap ka Nda yang terlalu berlebihan" ucap Narra.
Pintu kamar Narra diketuk. Narra beranjak membuka pintu.
"iya bik" ucap Narra.
"makanan sudah siap non, sebaiknya nona makan dulu" kata bibik.
"terima kasih banyak bik" Narra pun keluar mengikuti pelayan rumah Rania.
*
Alex mencoba menghubungi Narra. Dia berharap dia bisa membantu Andra berdamai dengan Narra.
"iya kak Alex" suara Narra.
"Na, kamu dimana ?" tanya Alex.
"aku ada di rumah ka Rania. Ada apa kak Alex menelfonku ?"
"Na, aku mau ketemu. Kita perlu bicara"
Narra berpikir sejenak.
"baiklah, tapi kakak jangan beritahu ka Nda" pesan Narra.
"iya, shareloc Na. Aku kesana sekarang"
"iya" Narra menutup telfonnya setelah itu dia mengirim share lokasinya pada Alex.
Alex pun menuju lokasi yang Narra kirimkan.
*
"terima kasih bik, aku mau tunggu temanku di teras" ucap Narra pada pelayan rumah Rania yang membereskan meja makan.
"iya non"
Narra beranjak menuju teras.
Tak lama mobil Alex berhenti di depan gerbang rumah Rania.
Narra meminta satpam untuk membukakan pintu pagar.
"hai Na" sapa Alex.
"silakan duduk kak Alex" Narra mempersilahkan.
"terima kasih" ucap Alex.
Narra memandang Alex, dia menunggu Alex menyampaikan maksudnya.
"Andra terlihat kacau sekali. Dia mengakui kesalahannya. Aku mohon kamu beri dia kesempatan Na"
Narra terdiam beberapa saat.
"aku minta maaf kak Alex, biarkan aku berpikir dulu. Aku merasa sakit dengan semua ini" ucap Narra.
"aku mengerti, tapi kamu harus tahu Andra melakukan itu karena dia sangat mencintai kamu. Dia tidak ingin kehilangan kamu"
"ka Nda tidak percaya sama aku, dia terus saja curiga, cemburu dan emosi yang berlebihan" ucap Narra.
"dia sudah menyadari kesalahannya, dia merasa sangat bersalah sama kamu" sahut Alex.
"setelah itu ka Nda akan mengulanginya lagi" sergah Narra.
"Andra tidak mau kehilangan lagi, kamu sudah tau masa lalu Andra ?" tanya Alex.
"aku tahu, aku mohon kasih aku waktu untuk berpikir" ucap Narra.
"baiklah" ucap Alex akhirnya.
***
__ADS_1