
Narra terus melaju dengan kecepatan tinggi. Dia meluapkan emosinya dengan menginjak gas.
Dia harus melupakan kejadian tadi. Bagaimana bisa kepercayaannya kepada kekasihnya kini hancur berkeping-keping hanya karena pertemuan kembali dengan mantan kisah masa lalu.
Mobil yang dikemudikan Andra berhasil menyusul Narra.
Narra melihat kearah sebelah kirinya. Tampak Andra membuka kaca dan berteriak meminta Narra untuk berhenti.
"aku tidak mau ! ka Nda jahat !" teriak Narra setelah menurunkan kaca sebelah kirinya.
"dengarkan aku dulu sayang, kita bicara" balas Andra.
Narra hanya menggeleng. Dia semakin melaju.
"kita harus membuat dia terpojok bro" usul Alex.
"bagaimana caranya ?" sahut Andra, dia tidak bisa berpikir.
Alex berpikir keras. Tiba tiba dia terfikir sesuatu.
"aku tau, kamu hadang dia" usul Alex.
"tapi, dia akan menabrak kita. Aku tidak mau membahayakan kalian" terang Andra.
"dia tidak akan menabrak kita. Percaya sama aku" Alex meyakinkan.
Andra akhirnya mengangguk. Dia menambah kecepatan menyusul Narra lalu begitu ada kesempatan, dia membelokan mobilnya menghadang laju Narra.
Narra yang sedang melaju merem mendadak. Untung saja dia memakai sabuk pengamannya sehingga tidak maju menghantam kemudi.
Andra dan Alex turun dari mobil.
Narra hanya terdiam ketika Andra mengetuk kaca mobil.
"keluar sayang" pinta Andra.
Alex membuka pintu mobil, Narra akhirnya turun kemudian Alex mengambil alih mobil yang dikemudikan Narra. Alex melaju meninggalkan mereka berdua di tempat itu.
"kamu kenapa seperti tadi ? berbahaya sayang" tegur Andra.
Narra hanya terdiam. Dia tidak mau bicara pada Andra.
Andra menangkup wajah Narra.
"maafkan aku, aku mengaku salah tapi bukan karena aku masih ada rasa pada Jeniffer tapi kilatan trauma masa lalu itu kembali terlintas dalam benakku. Aku shock sayang" ungkap Andra.
Narra melihat mata Andra. Dia tidak menemukan kebohongan tapi hatinya terlanjur sakit.
"maafkan aku sayang, aku mohon" pinta Andra.
"aku sakit hati, ka Nda tidak menganggap aku ada disana" akhirnya Narra membuka suaranya.
"maafkan aku" hanya itu yang bisa Andra bilang.
"sebaiknya kita memikirkan ulang tentang rencana pernikahan kita" ucap Narra yang sontak membuat Andra membulatkan matanya.
"jangan begitu sayang, aku ingin kita segera menikah" ucap Andra.
"supaya secepatnya ka Nda mengurungku, tidak membiarkan aku melakukan apa yang aku mau" sergah Narra.
"apa maksudmu, aku mendukung apapun yang kamu mau asalkan kamu tidak melupakan kewajibanmu sebagai istri dan masih dalam batas kewajaran aturan suami"
"sebaiknya kita perjelas tentang aturan itu karena aku tidak mau seperti Jeniffer yang memilih pergi karena tidak sanggup dengan sikap possesif, protektif dan arogan ka Nda" jelas Narra.
"jadi wanita itu bilang itu semua padamu ? sayang, aku belajar dari kesalahanku di masa lalu. Aku tidak akan melakukannya padamu karena aku sangat takut kamu meninggalkan aku. Kamu tau itu kan ?! kenapa kamu masih meragukannya" balas Andra.
Narra terdiam.
"kita pulang, kita bicarakan ini lagi nanti" ujar Andra seraya menarik tangan Narra menuju mobil yang tadi dia kendarai.
Andra membukakan pintu untuk Narra lalu masuk kedalam mobil duduk di kursi kemudi.
"aku mencintaimu, hanya kamu" ucap Andra padanya sebelum melaju.
Narra duduk bersandar pada kursinya. Dia lelah untuk menanggapi Andra.
*
Rea langsung berlari memeluk Narra saat turun begitu mobil yang dikemudikan Andra sampai.
"Na, kamu jangan begitu lagi. Bahaya untuk kamu dan bahaya untuk Erga juga" ucap Rea.
"iya Na, aku tidak mau dikuliti kak Rayyan trus di gantung semalaman di pohon mangganya Desta. Banyak semutnya Na" Erga seperti ketakutan.
"maafkan aku Ga, aku janji tidak akan melakukan ini sendirian lagi. Kita bersama dalam mobil" ucap Narra seraya mengedipkan matanya. Dia sengaja bercanda.
"Narraaaa... kamu ingin aku mati" Erga menatap malas seraya mengusap kasar rambut Narra.
Rea hanya tertawa.
__ADS_1
Andra berusaha menahan gejolaknya, dia harus terbiasa dengan keakraban Narra dan sahabat-sahabatnya. Mereka sudah pernah membahasnya dan berujung perdebatan. Andra hanya berharap kalau Narra akan mencoba menjaga sikapnya terhadap Friends setelah mereka menikah nanti.
"sebaiknya kita pulang, sudah sore" ajak Andra.
"kak Alex, sebaiknya ikut mobilku saja daripada ikut dalam masalah yang belum selesai" ajak Indra.
"ok, aku yang mengemudi" Alex meminta kunci mobil.
Indra memberikan kunci mobilnya pada Alex. Lalu mereka bertiga pamit.
Tinggal Andra, Narra dan Erga sebagai pemilik tempat yang berada disana.
"kami pulang dulu Ga, maaf merepotkanmu" ucap Andra.
"iya kak, tidak apa. Tolong jaga emosi Narra kak, dia menakutkan kalo marah" ujar Erga.
Sontak Narra meninju pundak Erga pelan.
"jangan marah-marah" Erga mengingatkan.
"iyaaaa" sahut Narra panjang seraya mengikuti Andra masuk kedalam mobil.
*
Mobil Andra berhenti di depan rumah Narra.
"aku pamit ke rumah sakit ya sayang" kata Andra.
Narra hanya mengangguk. Dia hendak membuka pintu mobil tapi Andra mencegahnya.
"kamu masih marah ?" tanya Andra.
"tidak usah di bahas" sahut Narra.
"sayang, aku sudah menjelaskan semua. Tolong jangan buat aku kacau begini" kata Andra.
"anggap saja aku tidak ada" balas Narra.
Andra hanya geleng kepala. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan kekasihnya.
"aku kerja dulu, kamu istirahat ya" katanya seraya mencium kening Narra.
Lagi-lagi Narra hanya mengangguk lalu tiba-tiba dia memperhatikan kepalan tangan Andra yang berdarah.
"hmmm pasti ka Nda melukai diri lagi" katanya.
"aku yang salah sayang, aku minta maaf. Luka ini tidak seberapa dengan yang kamu rasakan" ucap Andra.
"aku juga tidak suka kamu seperti tadi. Aku sangat khawatir. Aku takut" ucap Andra.
Narra terdiam.
"sesampainya di rumah sakit tolong obati luka ka Nda, aku tidak mau kenapa-napa" ucap Narra seraya turun dari mobil.
*
Dalam ruangan Andra di rumah sakit.
Suara benda pecah nyaring terdengar. Andra baru saja membanting pajangan yang tertata rapi dekat meja kerjanya.
Kekesalannya karena Narra masih marah padanya dan juga karena sikap Erga terhadap Narra tadi. Dia tidak suka melihat pria lain berlaku mesra pada kekasihnya. Hanya dia yang boleh melakukannya.
Andra teringat bagaimana kemarin mereka mesra berdua merayakan hari jadi mereka.
"kamu masih meragukanku sayang" ucap Andra lirih.
Andra meraih ponselnya, dia menghubungi Alex.
"iya bro" suara Alex.
"bro aku ingin kamu mengatur pertemuan dengan Jeniffer. Aku ingin memberi peringatan padanya karena sudah ikut dalam rencana Ardhan" ujar Andra.
"segera bro" balas Alex.
Andra mematikan panggilannya.
"aku tidak akan membiarkan siapa pun mengacaukan kita sayang. Walaupun dia seorang wanita" geram Andra.
Andra masuk kedalam kamar mandi, dia membersihkan diri lalu memulai pekerjaannya. Setelah pekerjaannya selesai, dia akan kembali menemui Narra.
Dia harus memastikan lagi kalau Narra sudah memaafkannya dan tetap meneruskan rencana pernikahan mereka yang sudah Andra atur terlaksana secepatnya.
*
Sementara itu...
Ardhan duduk dengan menaikan kedua kakinya diatas meja ruang tamu apartementnya. Dia tersenyum puas mengingat bagaimana Narra lari dengan raut kecewa.
"semoga saja kalian segera berakhir" teriak Ardhan senang.
__ADS_1
Ardhan meraih bingkai foto di meja sebelahnya. Potretnya berdua Narra saat keduanya masih menjadi sepasang kekasih.
"aku sangat merindukan saat berdua denganmu sayang" ucap Ardhan.
Ponsel Ardhan berdering, dari Mike asistennya.
"iya ada apa ?" tanyanya menjawab telfon.
"aku ingin mengingatkan boss, besok kita ada meeting dengan tuan Richard. Beliau sekarang sedang tidak sibuk karena ingin meluangkan waktu menjaga istrinya yang baru saja operasi"
"baiklah, atur pertemuan dengan beliau. Proyek itu bernilai besar, aku ingin kita mendapatkannya" ujar Ardhan.
"baik boss" Mike mematikan panggilannya.
Ardhan tersenyum. Dia akan terus berusaha mengumpulkan pundi-pundi untuk kehidupan mewahnya bersama Narra. Dia mengira dengan dia lebih kaya raya daripada Andra, Narra akan kembali padanya.
*
Narra duduk di teras bersama Faya. Dia menemani Faya membuat sketsa villa yang rencananya akan di bangun di sebuah pulau pribadi.
Kata Faya, ini proyek besar sehingga banyak para pengusaha property berusaha untuk mendapatkannya.
Faya yakin perusahaannya bisa bersaing dengan perusahaan besar untuk mendapatkan proyek itu.
"aku yakin, kamu bisa" ujar Narra memberi semangat.
Faya kemudian menyimpan gambar di file lalu mematikan laptopnya.
Dia memandang sahabatnya itu.
"kenapa kamu balapan lagi ?" katanya.
Narra langsung meletakan telunjuknya di depan bibir seraya melihat kanan kiri. Dia takut kedua orang tuanya dan Rayyan tahu tentang hal itu.
"pasti Rea yang kasih tau" terka Narra.
Karena dia tahu, Erga tidak mungkin memberitahu Friends karena takut akan hukuman dari para sahabatnya itu.
Faya mengangguk.
"aku lagi kesal" ucap Narra.
Faya mengusap kepala Narra.
"tidak boleh begitu, semua sangat sayang sama kamu. Jangan membahayakan diri kamu" nasehat Faya.
Narra memicingkan matanya.
"hmmm apa kabar kamu yang sampai sekarang belum pulang kerumah" sergahnya.
Faya terdiam. Hubungannya dengan mama dan papa adopsinya sudah membaik seiring dia menerima kenyataan tapi entah kenapa dia masih belum mau pulang kerumahnya.
"Sheva masih mau ditemani" katanya.
"hmmmm alasan" Narra mencibir.
Mobil sedan mewah milik Andra berhenti di depan rumah. Faya merapikan berkas kerjaannya.
Setelah menyapa Andra, Faya masuk kedalam. Katanya dia mau mengajak Rayyan tanding PS.
Narra tahu, itu hanya alasan Faya saja karena tidak ingin membuat Andra cemburu.
"duduk ka Nda" Narra mempersilahkan.
Andra duduk disofa dekat tiang, biasanya dia duduk di kursi kayu depan jendela. Dia duduk bersebelahan dengan Narra.
"kamu sudah makan ?" tanya Andra.
"iya, ka Nda ?" Narra balas tanya.
Andra menggeleng.
"aku mau makan bersama kamu" katanya.
"baiklah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu" Narra kemudian masuk kedalam.
Setelah berganti pakaian dan dandan sedikit minimalis, Narra pamit pada Rayyan yang sedang main PS bersama Faya. Kedua orang tua Narra sudah masuk kamar untuk beristirahat.
Begitu mendapat izin dari Rayyan, Narra menemui Andra di teras.
"aku pamit sama Rayyan dulu" Andra beranjak.
Narra mengangguk.
Setelah Andra keluar dari rumah, dia meraih jemari Narra. Mereka berpegangan tangan menuju mobil.
Narra membiarkan saja karena sebenarnya kesalnya sudah mulai hilang. Dia sadar, Andra sudah meminta maaf padanya dan pria itu sangat mencintainya begitu juga dengannya.
Dia mencoba memperbaiki hubungannya dengan Andra. dia juga menyadari perkataannya kemarin sudah kasar dan dia nanti akan meminta maaf pada Andra untuk itu.
__ADS_1
***