
Narra duduk diam menunggu Arjuna selesai membuka rapat intern tentang proyek iklan Ardhan. Dia mendapat panggilan menghadiri rapat lewat pesan aplikasi dari Arjuna.
"Na, saya minta maaf karena keinginanku dan demi perusahaan kamu mendapat masalah. Saya sangat menyesal" ucap Arjuna.
"bukan salah pak Juna, saya yang salah dalam hal ini" sahut Narra.
"sebelum ini kami sudah saling bicara dan kami sepakat menyerahkan keputusan proyek ARRA Property padamu" sahut Arjuna.
Narra menghela nafas. Dia melihat sekelilingnya.
"saya tidak bisa membuat keputusan tentang proyek ARRA Property karena dengan berat hati saya memutuskan untuk berhenti dari J Advertising" ucapnya.
Semua menggelengkan kepala tanda kecewa dengan apa yang mereka dengar dari Narra.
"Na, jangan berhenti dari sini" kata Raga, manajer produksi.
"iya Na, kita tim solid" sahut Grey, fotografer.
"Na...." Frey, manajer creative hanya bisa menghela nafas, tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
"maaf teman-teman semua" kata Narra seraya memandang rekan-rekan kerjanya satu persatu.
"Na, saya tidak bisa menerima keputusanmu ini. Saya pribadi berharap kamu berubah pikiran. Kamu masih bertahan disini" sahut Arjuna.
Narra memandang semuanya. Hanya asisten Erick yang belum bicara, dia hanya memandang Narra.
Narra tersenyum, "terima kasih pak Juna" sahutnya.
Rapat selesai dengan keputusan bahwa mereka akan memberi Narra waktu selama seminggu untuk berpikir. Sebenarnya Narra tidak membutuhkan itu karena keputusannya masih bulat untuk berhenti. Dia tidak ingin merugikan siapa pun.
Setelah berpamitan pada semuanya, Narra menunggu jemputan Andra di lobby.
"Na, masih disini ?" tanya Erick datang menghampirinya.
"iya pak Erick, saya tunggu dijemput tunangan saya" jawab Narra.
Erick duduk di sofa dekat Narra.
"boleh kita bicara sebentar ?" tanyanya.
"silahkan" jawab Narra.
"jangan keluar dari perusahaan, setidaknya selesaikan dulu tanggung jawabmu di proyek Ardhan. Keputusanmu untuk melanjutkan proyek atau mengakhirinya. Selanjutnya terserah kamu tapi aku berharap kamu masih bersama kami" kata Erick.
"terima kasih banyak tapi aku sudah tidak mau berurusan dengan Ardhan. Dia sudah sangat keterlaluan" kata Narra.
"kalo begitu putuskan untuk mengakhiri proyek ini tapi jangan berhenti dari sini" sergah Erick.
"itu berarti Arjuna akan kehilangan nominal yang sangat besar" balas Narra.
"dan selama ini kita belum pernah memutuskan kontrak secara sepihak. Itu akan merusak citra perusahaan" lanjut Narra.
Erick terdiam, apa yang dikatakan Narra benar.
"maaf, aku terlambat" Andra menghampiri mereka.
"tidak apa ka Nda. Maaf pak Erick, saya permisi" pamit Narra.
Erick hanya mengangguk, "terima kasih sudah memberiku waktu bicara" katanya.
"sama-sama pak Erick, terima kasih banyak atas semua bimbingannya" kata Narra.
*
Di dalam mobil, Narra lebih banyak diam. Berat untuk melepaskan pekerjaannya tapi dia tidak punya pilihan. Dia tidak boleh mengorbankan orang lain.
"sayang, apa semuanya baik-baik saja ?" tanya Andra melirik Narra sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
"iya ka Nda, aku baik-baik saja" jawab Narra.
"Erick bicara apa ?" tanya Andra.
"hanya pembicaraan agar aku tidak berhenti dari perusahaan" jawab Narra.
Andra mangut.
"tapi kenapa kamu dari tadi diam saja ?" tanya Andra lagi.
"aku hanya lelah ka Nda, maaf.." ucap Narra.
Andra mengusap pipi Narra dengan tangan kirinya. Narra kemudian menyandarkan kepala di pundak Andra.
"istirahatlah, nanti aku bangunkan kalo sudah sampai" kata Andra seraya menepuk puncak kepala Narra.
"tidak apa, aku mau begini. Boleh ya" pinta Narra.
Andra tersenyum, "tentu saja boleh sayang, ini semuanya milikmu" katanya.
Narra tersenyum, "terima kasih ka Nda sayang" ucapnya.
Andra tersenyum. Dia sangat bahagia karena dia sudah mengikat Narra. Selangkah lagi mereka menuju pernikahan.
Andra sudah tidak sabar untuk mengurus segala persiapannya bersama Narra.
Setelah ayah Sasmita pulih, mereka akan segera mengurus persiapan pernikahan mereka yang ditetapkan dua bulan lagi.
*
Narra dan Andra tiba di depan ruang ICU. Semuanya terdiam. Ada tangis yang tertahan. Hati Narra mulai gelisah, ada apa sebenarnya.
Apa keadaan ayah baik-baik saja ? pikirnya.
"masuk dan lihatlah ayahmu" kata ayah Hadinata.
Narra memandang kearah ibu dan kedua kakaknya. Mereka semua mengangguk.
Dengan bergegas Narra masuk sendirian kedalam setelah ayah Hadinata menahan langkah Andra.
"biarkan dia masuk sendiri" kata ayah Hadinata pada putranya.
Andra mengangguk. Dia berdiri disebelah ayahnya.
*
Narra melihat wajah pucat ayahnya yang terbaring di tempat tidur, mereka saling tersenyum.
__ADS_1
"bagaimana keadaan ayah ?" tanya Narra didekat ayahnya.
"ayah baik-baik saja Na" kata ayah Sasmita dengan suara lemah.
"ayah jangan terlalu banyak pikiran, banyak istirahat biar cepat pulih" kata Narra.
Ayah Sasmita hanya tersenyum.
"Na, apa kamu bahagia ?" tanyanya.
"iya, Narra bahagia" jawab Narra.
"ayah bahagia kalo kamu bahagia tapi ayah tidak tenang membiarkan kamu masuk keluarga itu" kata ayah Sasmita.
"kenapa yah ?" tanya Narra tidak mengerti.
"selama ada Heranata Wijaya dan Armand Jaidi dalam keluarga itu" kata ayah Sasmita.
"Andra dan keluarganya akan menjagaku dari mereka yah" kata Narra.
Ayah Sasmita memandang putri bungsunya.
Narra lalu menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan Heranata Wijaya di kediaman Hadinata Wijaya.
"ayah tidak ingin kamu disakiti lagi Na" ucap ayah Sasmita.
"tidak akan yah, ayah tenang saja" Narra mengusap punggung tangan ayahnya.
Ayah Sasmita menghela nafas.
"ayah sudah menyiapkan tiket ke negara J untuk kamu. Ayah mau kamu menenangkan diri disana" katanya.
"kenapa ayah ? aku baik-baik saja" tolak Narra.
"ayah yang tidak tenang, ayah akan mengawasi mereka. Setelah semua terkendali, kamu boleh kembali" kata ayah Sasmita.
Narra menggeleng kuat.
"tapi itu berarti aku akan menyakiti ka Nda, kami baru saja bertunangan yah" jawabnya.
"kalo ayah tau dia keponakan kedua penipu itu, ayah tidak akan membiarkan kalian bertunangan" sesal ayah Sasmita.
Perkataan ayah Sasmita bagaikan petir yang mengelegar di telinga Narra.
Bagaimana bisa ayahnya bicara seperti itu, padahal selama ini beliau sangat mendukung hubungannya dengan Andra.
Terlihat ayahnya kecewa. Padahal tadi Narra sudah menjelaskan dan membuat ayahnya mengerti tapi kenapa seperti ini lagi.
"ayah, Narra mohon" ucap Narra.
"ikuti kata ayah Na, ayah hanya ingin yang terbaik untukmu" sergah ayah Sasmita.
Narra hanya terdiam.
*
Langkah Narra gontai keluar dari ruang ICU. Semua mata tertuju padanya. Dia bisa melihat sorot mata berharap dari keluarga Andra. Sepertinya mereka sudah tahu keinginan ayahnya sebelum dia dan Andra datang.
Andra hanya melihat dengan tatapan datar. Dia merasa ada yang disembunyikan darinya.
Dia dapat melihat kegundahan putri bungsunya itu.
Narra menutup matanya, air matanya menetes di pipinya.
Andra mendekat, dia menghapus air mata Narra dengan jemarinya.
Narra hanya bisa memandang Andra seraya menggelengkan kepalanya lalu dia memeluk Andra.
Andra memeluk erat seraya mengusap kepala Narra.
Setelah beberapa lama, Narra melepaskan pelukannya.
"aku akan pergi, ayahku yang memintanya" katanya.
Andra memandangnya, "kemana sayang ?" tanyanya.
"ayahku sudah mengaturnya, maaf ka Nda" ucap Narra seraya berlari meninggalkan semuanya.
"Na !" panggil Rayyan mengejar adiknya.
Andra terdiam. Dia ingin mengejar tapi dia masih ingin mencari jawabannya. Dia sudah merasa dari tadi ada yang disembunyikan darinya.
"ada apa ini ?" tanya Andra pada kedua orang tuanya.
"An, kamu tenang ya" bunda Serena menghampiri putranya.
"bunda, bilang padaku ada apa ?" Andra semakin tidak tenang.
"pak Sasmita memutuskan pertunanganmu dengan Narra" kata ayah Hadinata akhirnya.
Andra terpaku. Ini bagai mimpi buruk untuknya. Bagaimana bisa semua ini terjadi hanya dalam hitungan hari.
"karena tante Hera dan om Armand ?" tanya Andra.
Ayah Hadinata dan bunda Serena mengangguk.
"aku akan bicara pada ayah Sasmita, beliau tidak bisa menyamakan kita dengan mereka. Kita tidak tau apa-apa" Andra berjalan cepat hendak masuk kedalam ruang ICU.
"jangan An, kondisinya blum stabil. Kamu bisa buat beliau drop. Tenang dulu" cegah ayah Hadinata.
"bagaimana bisa Andra tenang yah, Andra mencintai Narra. Andra tidak mau kehilangan Narra. Tidak !!" Andra frustasi.
Dia berbalik dan memukul tembok dengan tinjunya berkali-kali.
Semua histeris, termasuk ibu Flanella, Rania dan Adryan yang belum tahu bagaimana sifat Andra kalau marah.
"An, tenang. Ini berbahaya, jarimu bisa patah" cegah bunda Serena.
"jangan pisahkan Andra dari Narra.. jangan !!" Andra terus memukuli tembok.
Adryan segera menghentikan gerakan tangan Andra dibantu ayah Hadinata.
"jangan begitu An, kita bicarakan ini pelan-pelan" kata Adryan.
Andra berontak lalu berlari meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
"ayah, bunda tidak mau Andra seperti dulu lagi. Tidak... " isak bunda Serena.
Ayah Hadinata memeluk istrinya.
Diandra mendekati bundanya lalu ikut memeluk bundanya. Dia sangat tahu bagaimana hancurnya bunda melihat kondisi Andra waktu itu.
"kita tidak akan membiarkan itu terjadi bun" ucap Diandra.
*
Narra menaiki tangga darurat menuju atap rumah sakit.
Dia berhenti di ujung atap dan melihat kebawah. Kepalanya terasa berputar. Dia kemudian mundur.
Narra punya phobia terhadap ketinggian. Kalau berada di ketinggian, dia akan merasa pusing dan kepalanya terasa sakit.
Sewaktu tahu balkon lantai dua adalah tempat favorit Andra, Narra menahan diri untuk tidak memberitahu pada Andra tentang phobianya. Dia mengantisipasinya dengan tidak melihat kebawah. Pandangannya lurus kedepan dan sekitarnya agar phobianya tidak kambuh.
"Na, jangan kesitu. Bahaya !" cegah Rayyan.
"kenapa semuanya begini kak ?" ucap Narra berbalik memandang kakaknya.
"sabar Na, ayah hanya emosi. Kita bicarakan lagi sama ayah" kata Rayyan.
Sementara itu ...
Andra masuk kedalam ruang cctv, dia mencari keberadaan Narra. Dia yakin Narra masih disekitar rumah sakit.
"dokter, ada yang bisa saya bantu ?" tanya salah satu operator disana.
"tampilkan gambar seluruh rumah sakit" kata Andra.
"baik dokter" operator itu melakukan apa yang Andra minta.
Layar di komputer menampilkan potongan gambar dari cctv di seluruh ruangan gedung rumah sakit.
Andra melihat dengan seksama. Dia melihat Narra masuk kedalam ruang tangga darurat.
"tampilkan atap" katanya.
Operator itu kembali mengikuti arahan Andra.
Ketemu, pekik Andra dalam hati. Narra sedang berada di atas atap bersama Rayyan.
"terima kasih" ucap Andra seraya bergegas keluar dari ruangan cctv.
*
"aku baru saja meraih bahagiaku tapi aku harus melepasnya karena permintaan ayah" isak Narra.
Rayyan ingin mendekat tapi Narra mencegahnya.
"jangan mendekat kak atau aku akan melihat kebawah" ancam Narra.
"jangan lakukan itu ! kamu bisa kena serangan vertigo" kata Rayyan.
Narra terduduk. Dia sebenarnya lelah dengan semuanya. Kenapa dia tidak bisa bahagia selamanya.
"sayang..." Andra datang.
"jangan mendekat ka Nda, aku mau sendiri" kata Narra.
Andra menggeleng, "tidak bisa, aku akan menemanimu" katanya.
"usahakan jangan sampai dia melihat kebawah An, dia bisa Vertigo" kata Rayyan.
"maksudmu Ray ?" tanya Andra.
"Narra phobia ketinggian, dia tidak bisa melihat kebawah dari ketinggian. Dia akan merasa dunianya berputar dan kepalanya sakit" jelas Rayyan.
"Narra punya banyak hal yang harus aku waspadai" gumam Andra.
Rayyan mengangguk.
"tapi waktu di balkon rumahku, dia tidak mengatakan apa-apa" kata Andra.
Rayyan mengangkat bahu.
Narra perlahan berbalik dan memandang kebawah dari pagar pembatas. Spontan Rayyan dan Andra berlari mendekat dan menarik Narra.
Narra pingsan dalam pelukan Rayyan.
"bawa keruang praktek Indra" kata Andra pada Rayyan yang menggendong Narra.
*
Seorang suster menghampiri Indra.
Setelah prakteknya selesai, Indra menemui keluarganya di depan ruang ICU dimana ayah Narra dirawat.
Dia baru tahu tentang yang terjadi pada pertunangan kakaknya dan Narra.
Sama dengan bundanya, Indra tidak ingin kakaknya seperti dulu lagi.
"maaf dokter Indra, ada pasien lagi" kata suster itu.
"pasien ? ooo ok, apa keluhannya ?" tanya Indra.
Indra tidak membatasi pasiennya, kapan saja dia bisa membantu maka dia akan membantu menolong pasien yang akan berobat.
"pasien mengalami vertigo dok, pasien tunangan dokter Andra" terang suster itu.
"apa ? Narra ?!" ibu Flanella terkejut.
"bagaimana bisa ?" tanya ayah Hadinata.
"maaf dok, saya juga tidak tau. Dokter Andra membawanya dengan buru-buru" jelas suster itu.
Indra segera bergegas disusul keluarganya. Sementara ibu Flanella dan Rania saling pandang.
"ibu yang tenang, ada Rayyan bersama Narra" kata Rania.
"Yan, tolong kamu liat adikmu" pinta ibu Flanella.
Adryan mengangguk, "iya ibu" katanya lalu beranjak memyusul keluarga Andra.
__ADS_1
***