FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 77


__ADS_3

Andra dan Narra sampai di apartement di kota mereka. Setelah semua urusannya selesai, Andra memutuskan untuk segera pulang. Bukannya dia tidak mau berlama-lama untuk bulan madu dengan istrinya tapi dia tahu ada suatu pekerjaan yang istrinya lakukan sebelum menjadi istri yang sepenuhnya mengurus suami.


Narra memandang sekeliling. Akhirnya, dia akan tinggal berdua di apartement yang dari awal selalu Andra bilang apartement 'kita'.


"kenapa ?" tanya Andra menghampiri istrinya setelah meletakan koper mereka di dalam kamar.


"tidak apa ka Nda" jawab Narra.


"sayang, kamu selalu saja belum terbiasa panggil aku sayang. Selalu saja masih ka Nda" tegur Andra seraya merangkul pinggang Narra.


"maaf, nanti lama-lama terbiasa sayang" ucap Narra seraya mendongkak menatap mata suaminya.


"hmm baiklah" ujar Andra seraya mendekatkan hidung mereka.


Narra melepaskan pelukannya lalu beranjak duduk di ruang tamu. Andra mendekat.


"kita istirahat yuk ?" ajak Andra.


Narra melirik jam dinding. Sudah hampir sore, mana mungkin dia istirahat. Sebagai istri, dia seharusnya menyiapkan makan malam untuk suaminya.


"aku mau menyiapkan makanan untuk makan malam" kata Narra. Dia perlahan beranjak.


Andra menahan tangan istrinya.


"tidak usah, kita makan di luar. Aku ingin kamu istirahat karena pasti capek, kita melewati perjalanan jauh" terang Andra.


"mmm baiklah sayang. Kalo begitu aku mandi dulu" kata Narra.


"nanti saja, kita mandi bersama" sergah Andra.


Narra memicingkan mata, "hmmm ka Nda mencurigakan" katanya.


Andra memamerkan senyumnya. Dia lalu menggendong Narra ala bridal.


"kita ke kamar sayang" kata Andra.


Narra hanya menggelengkan kepalanya. Dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini tapi dia tidak mampu menolak keinginan suaminya karena itu merupakan ibadah untuknya.


*


Narra selesai berdandan. Andra yang keluar dari kamar ganti memandangnya tanpa berkedip.


"kenapa ka Nda melihatku seperti itu ?" tanya Narra.


"istriku sangat cantik" puji Andra lalu mencium kening Narra.


"terima kasih sayang, suamiku juga selalu tampan mempesona" balas Narra seraya menangkup wajah Andra.


Pandangan mereka bertemu, kemudian wajah mereka semakin mendekat dan bibir mereka pun bertautan.


Narra mendorong dada Andra pelan.


"kenapa sayang ?" tanya Andra.


"aku lapar" ucap Narra dengan mengerucutkan mulutnya.


Andra tersenyum. Dia menyadari kalau dia selalu hilang kendali semenjak mereka sah untuk melakukannya. Dia juga tidak mau istrinya kelaparan lantaran melayaninya.


"maafkan aku" ucap Andra seraya mengusap sekitar bibir Narra, menghapus lipstik istrinya yang berantakan.


Narra kembali memandang tampilannya di cermin. Dia menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia harus kembali memoles lipstik pada bibirnya.


Dia lalu memandang suaminya, tampak noda lipstiknya menempel di sekitar bibir Andra.


Narra meraih tisu lalu membersihkan bibir Andra.


"terima kasih sayang" ucap Andra.


"aku merapikan dandananku dulu sayang setelah itu aku keluar" kata Narra.


"aku akan disini menunggumu" ujar Andra seraya duduk di tepi tempat tidur.


Nada pesan berbunyi dari ponsel Narra yang tergeletak di atas tempat tidur. Andra yang berada dekat ponsel Narra melirik sekilas.


Grup Wa Friends. Bacanya dalam hati.


"siapa sayang ?" tanya Narra, dia tahu Andra membaca pemberitahuan yang tertera di layar ponselnya.


"grup chat Friends sayang" jawab Andra.


Narra hanya mengangguk. Dia bergegas merapikan dandanannya.


"selesai, kita pergi ka Nda" kata Narra seraya mengambil tas selempang kecilnya.

__ADS_1


Andra beranjak, dia mengulurkan ponsel Narra.


"apa tidak sebaiknya kamu liat dulu pesannya ?" tanyanya.


Narra mengangguk. Dia meraih ponselnya lalu membuka aplikasi hijau.


[faya : friends, aku tampil di cafe biasa. Kalian datang ya]


Narra memandang pesan grupnya. Belum ada yang memberi komentar. Dia juga tidak ingin memulai duluan.


"kita pergi sayang" ajak Narra.


Andra sebenarnya ingin tahu isi pesan grup Narra tapi karena Narra tidak memberi tahu, dia akan menunggu sampai istrinya itu memberi tahunya sendiri. Dia percaya pada istrinya.


*


Setelah makan malam di restorant mewah, Andra mengajak Narra jalan-jalan di mall. Hal yang jarang mereka lakukan sewaktu pacaran karena Andra yang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan terus terang, Andra merasa bersalah dengan hal itu.


Andra mengajak Narra masuk kedalam toko pakaian. Dia ingin membeli piyama couple tapi hal tersebut masih dia sembunyikan dari istrinya.


"kamu pilihlah yang mana kamu suka" kata Andra.


"aku sedang tidak ingin beli baju sayang" ujar Narra sedikit berbisik pada suaminya. Dia tidak ingin karyawan toko mendengarnya.


"tapi aku ingin membelikanmu sayang" balas Andra.


"ka Nda saja yang pilihkan, aku akan mencobanya" ujar Narra.


Andra tersenyum dengan penuh kemenangan, dia tidak harus membeli diam-diam pakaian yang dia inginkan karena istrinya akan menuruti pilihannya.


Andra lalu menuju area pakaian tidur. Disana lengkap beberapa jenis pakaian tidur untuk wanita. Kalau untuk pria modelnya semua sama, jenis piyama.


"aku ingin kita memakai ini" Andra mengambil beberapa piyama couple lalu memperlihatkannya pada Narra.


Narra tersenyum. Dia menghela nafas lega.


Tadinya dia berpikir kalau suaminya akan aneh-aneh dengan memilihkan pakaian tidur yang kurang bahan dan transparan untuknya seperti pilihan kedua ibu mereka saat malam pertama di hotel.


"kenapa ?" tanya Andra.


"tidak apa, aku suka motifnya. Terserah ka Nda saja" sahut Narra.


"kita coba dulu" kata Andra.


"tidak usah ka Nda, karena piyamanya all size. Aku rasa akan pas" jelas Narra.


Setelah acara belanja selesai, Andra menggenggam tangan Narra menuju kedai es cream. Mereka makan es cream sekotak berdua.


Nada pesan pada ponsel Narra kembali berbunyi. Kali ini saling bersahutan, berarti terjadi percakapan dalam grup.


Mungkin pesan grup Friends. Pikir Narra dalam hati.


Dia mengambil ponselnya lalu membaca pesannya.


[sheva : aku otw sekarang, yang lain bagaimana ?]


[erga : aku menyusul]


[desta : aku masih ada siaran, tapi nanti aku menyusul kalian]


[rea : aku masih di lokasi syuting, nanti aku akan menyusul dengan indra]


[desta : imel dan narra bagaimana ?]


[imel : aku masih temani mama dan papa makan malam dengan teman lama mereka. Nanti aku minta diantarkan kesana]


Narra memandang Andra.


"sayang, friends akan ketemuan di cafe tempat Faya tampil. Hmmm mereka menanyakanku" ujar Narra hati-hati.


Andra mengusap punggung tangan Narra.


"kita akan kesana sayang, aku tidak apa-apa" jawab Andra.


Narra tersenyum. Dia membalas pesan grup chatnya.


[narra : aku akan kesana dengan suamiku]


Andra melirik pesan Narra dengan senyum senang karena Narra tidak menyebut namanya melainkan menyebut suami.


"habiskan es creamnya lalu kita kesana" kata Andra setelah Narra memasukan kembali ponselnya kedalam tas.


Narra mengangguk. Dia kemudian kembali menyuapi Andra. Beberapa pasang mata melihat keromantisan mereka tapi Andra dan Narra tidak memperdulikannya karena hal itu spontan saja mereka lakukan bukan hal yang dibuat-buat agar terlihat seperti pasangan harmonis.

__ADS_1


*


Mereka memasuki cafe, tampak Faya dan bandnya tampil di atas panggung.


Narra mengedarkan pandangan mencari tempat para sahabatnya duduk.


Desta melambaikan tangannya. Narra tersenyum lalu mendekati mereka.


"maaf ya, kami terlambat" kata Narra.


"tidak apa Na, santai saja. Rea dan Indra juga baru datang, mereka lagi ke toilet. Rea kebelet, Indra menemani" terang Erga.


Narra mangut. Dia memandang kearah panggung. Tampak Faya memandang kearah mereka.


Andra merapatkan duduknya pada Narra.


"aku keluar sebentar untuk menerima telfon. Disini terlalu bising" bisiknya.


Narra mengangguk.


"temani istriku, aku keluar sebentar" kata Andra pada para sahabat Narra.


Imel, Erga, Desta dan Sheva mengangguk. Bahkan Sheva dan Desta memgacungkan jempolnya.


"aman !" kata mereka pada Andra.


Tak lama Andra keluar, Rea dan Indra datang. Mereka menanyakan Andra.


Narra menjawab seperti apa yang di katakan Andra tadi.


Faya datang menghampiri sahabatnya. Dia menyalami semuanya seperti biasanya.


Masih ada sedikit rasa canggung ketika Faya bersalaman dengan Narra dan Rea. Tapi Narra dan Rea menanggapinya dengan biasa saja.


Faya duduk disebelah Narra.


"Fay, itu tempatnya kak Andra. Kamu duduk disebelah sini saja" tegur Desta menunjuk tempat kosong antara dia dan Imel.


"kak Andra juga belum datang, aku akan disini sementara" balas Faya.


"tapi sebaiknya kamu pindah duluan sebelum kak Andra datang Fay" balas Sheva. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan Faya.


"iya Fay, Sheva dan Desta benar" sahut Erga.


"kita biasanya juga begini, kenapa sekarang masalah ya" balas Faya.


Imel menarik nafas panjang, dia geram dengan sikap Faya.


"Fay, kenapa sih ? Kamu sepertinya sengaja mencari gara-gara" kata Imel.


"maksud kamu apa Mel ? aku bersikap seperti biasanya. Kita kan sahabat jadi tidak masalah dong aku mau duduk bersebelahan dengan kalian" balas Faya.


"tapi masalahnya, itu tadi tempat duduk kak Andra. Suami Narra. Seharusnya kamu pindah dong" balas Imel.


"iya, kak Andra belum datang. Kalo dia sudah datang, aku akan pindah. Tenang saja" sahut Faya.


"kamu kenapa sih Fay ? Apa belum bisa menerima kenyataan ?" sergah Rea.


Dia tidak bisa menahan dirinya. Menurutnya Faya memang sengaja mencari masalah dengan Andra.


"aku tidak bermaksud apa-apa Re" sahut Faya.


"tidak apa Re, kalo dia tidak pindah.. Aku yang pindah !" kata Narra beranjak berdiri.


Semua yang berada di meja itu memandang Narra.


"jadi kamu mengumpulkan kami kesini, hanya untuk menekankan bahwa sebagai sahabat kamu bisa berdekatan dengan denganku seperti biasanya ?!" tatapan mata Narra tertuju pada Faya.


Faya terdiam.


"iya, kamu benar Fay. Kita sahabat, tidak masalah kalo kamu berdekatan denganku atau pada Imel atau Rea tapi masalahmya disini. Aku datang kesini bersama suamiku. Tadi dia duduk di tempat kamu sekarang. Tolong hargai perasaan suamiku seperti aku menghargai perasaan persahabatanmu" lanjut Narra tegas.


Andra datang menghampiri mereka. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa istrinya terlihat kesal.


"maaf semuanya, aku dan suamiku pamit duluan" Narra melangkah melewati Faya.


Tampak sahabatnya itu terdiam dan terus menatap mengikuti geraknya.


Para sahabatnya yang lain dan Indra hanya bisa diam. Mereka mengerti kenapa Narra terlihat kesal dan marah seperti itu. Faya memang sudah keterlaluan.


"ayo sayang, kita pulang. Aku capek dengan semua ini" kata Narra dengan sedikit membesarkan suaranya karena dia ingin Faya mendengarnya.


Narra memegang lengan Andra. Suaminya itu mengangguk. Dia kemudian berpamitan pada para sahabat Narra dan adiknya yang berada disitu. Pandangannya berhenti pada Faya tapi langsung dia palingkan karena yang lebih penting sekarang adalah istrinya, dia tidak ingin mood istrinya semakin buruk.

__ADS_1


Dia memegang tangan Narra yang berada di lengannya lalu melangkah keluar cafe.


***


__ADS_2