FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 49.1


__ADS_3

"saya minta maaf karena tadi menyela ikut menjawab pertanyaan nona Arini" ucap Alex tertunduk.


"ada apa bro ?" tanya Andra.


Alex pun menceritakan laporan dari anak buahnya yang bertugas mengawasi Arini.


"jadi Arini sama seperti Ardhan, berencana merusak acaraku ?" tanya Andra.


Alex mengangguk, "tapi sepertinya mereka tidak jadi menjalankan rencananya karena tuan Andra masuk rumah sakit. Mereka berpikir pertunangan kalian di batalkan karena masalah ini" jelasnya.


"bagus, biarkan mereka berpikir begitu. Kita teruskan bersiap-siap" sahut ayah Hadinata Wijaya.


Semuanya mengangguk. Mereka segera bersiap karena acara pertunangan tinggal sejam lagi.


*


Arini memandang punggung Arsen yang menjauh. Dia tidak punya alasan lagi untuk menahan pria itu karena sekarang hati Arsen telah patah karenanya.


Arini yang biasanya angkuh, kini terisak tersedu. Ada rasa kehilangan begitu Arsen memutuskan pergi dari kehidupannya.


Terdengar nada panggilan dari ponsel Arini.


Kak Ardhan. Begitu nama yang tertera di layar.


"kamu dimana ?" tanya Ardhan.


"aku di rumah sakit jenguk kak Andra" jawab Arini.


"ternyata dia betul masuk rumah sakit. Bagus, kamu gerak cepat juga langsung menemui dia di rumah sakit" kata Ardhan senang.


"tapi kak, sepertinya mereka akan bersiap pergi" sergah Arini.


"kemana ?" tanya Ardhan.


"aku tidak tau, mereka menyembunyikannya dariku. Tapi aku curiga mereka akan kerumah Narra" jelas Arini.


"kamu terus awasi disana, kita tidak boleh lengah. Acara pertunangan itu harus batal" kata Ardhan.


"baik kak" Arini menjawab patuh.


Arini memutuskan panggilan Ardhan. Dia memilih menunggu pergerakan keluarga Hadinata Wijaya di dalam mobilnya. Dengan bergegas dia menuju pelataran parkir.


*


Sementara di rumah Narra...


Semua tengah bersiap-siap menyambut Andra dan keluarganya.


Narra sudah selesai dihias oleh MUA yang diutus oleh Andra.


Kekasihnya itu ingin Narra tampil cantik dan teristimewa di acara mereka.


"waaaahhh cantik sekali" komen Imel.


"jadi pangling" komen Rea lagi.


"terima kasih ya, aku tau kalian pasti sibuk tapi meluangkan waktu untuk menemaniku" komen Narra.


"pokoknya aku bilang sama manajerku, kosongkan jadwalku hari ini" sergah Rea.


"aku juga minta libur fullday sama papa" sahut Imel.


Rania masuk kedalam kamar, dia tersenyum memandang adiknya.


"bagaimana meja riasnya ?" tanya Rania.


"ini indah kak, dari siapa ?" tanya Narra.


"dari Desta, tadi orang suruhannya yang bawa kesini" jawab Rania.


"hmmm Desta, sekalinya bikin kejutan ya bikin kita wow" komen Imel.


Narra mengusap meja rias itu, dia hanya tersenyum. Desta ternyata ingat dengan mimpinya waktu kecil kalau ingin mempunyai meja rias dengan desain seperti milik putri di animasi disney.


"Desta masih ingat mimpi putri disneyku" gumam Narra.


Rea menepuk pundaknya, "hey, kamu boleh terharu tapi jangan meneteskan air mata. Nanti dandananmu berantakan" tegurnya.


"iya, maaf Re" ucap Narra.


"kakak tinggal ya, kalian temani Narra disini sampai nanti diminta keluar" pesan Rania.


"iya kak" koor Imel dan Rea.


Rania pun beranjak keluar dari kamar Narra.


*


Ardhan bergegas menuju rumah Narra. Dia mendapat kabar dari orang suruhannya kalau acara pertunangan Narra dan Andra akan tetap berlangsung.


"tidak bisa ! aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Narra milikku" kata Ardhan tetap fokus menyetir dengan kecepatan tinggi. Dia takut terlambat.


Sementara Arini terus mengikuti mobil milik keluarga Andra sembari menelfon kakaknya.

__ADS_1


"kak Ardhan kemana ? jawab telfonnya kak !" gerutu Arini.


*


Arsen tiba dirumah yang tadi tempat dia mengantarkan meja rias pesanan Desta. Dia pun mendekati Desta.


"maaf, aku lama" katanya.


"tidak apa, acaranya juga belum dimulai" jawab Desta.


Arsen mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat acara. Tiba-tiba dia menangkap potret pasangan yang tengah berbahagia di dekat dinding yang dihias dengan indah.


Itu seperti cowok yang di rumah sakit. Batinnya.


"kamu liat apa ?" tanya Desta.


"itu pasangan yang akan bertunangan ?" tunjuk Arsen pada potret yang dilihatnya.


"iya, Ranarra Sasmita dan Andra Hadinata Wijaya. Yang wanita sahabatku dan yang pria seorang dokter spesialis bedah terbaik rumah sakit A Medika" jelas Desta.


Arsen mangut. Nama Ranarra Sasmita, nama yang disebut Arini dalam rencananya. Apa itu orang yang sama ? terlebih, Ranarra itu akan bertunangan dengan orang yang Arini cintai.


Arsen mulai berpikir, Arini memanfaatkannya. Dia ingin menculik Narra agar tidak jadi bertunangan dengan Andra sehingga dia bisa merebut dokter itu dari Narra.


Kamu tega Arini, kamu tahu aku sangat mencintaimu tapi kamu memanfaatkan itu untuk menipuku. Untuk membutakan mataku tentang kebenaran yang sebenarnya kamu sembunyikan. Ucap Arsen dalam hati.


"Arsen, kamu kenapa ?" tanya Desta.


"aku baik-baik saja. Boleh aku keluar sebentar, aku ingin merokok" pamit Arsen.


"iya" Desta mengizinkan.


Arsen beranjak keluar, dia memilih agak menjauh dari rumah Narra. Dia ingin mengawasi sekitarnya, dia ingin memastikan Arini tidak datang mengacaukan acara.


*


Rombongan keluarga Andra sudah datang. Keluarga Narra menyambut dengan baik.


Arini turun dari mobil. Baru saja menutup pintu, tangannya sudah dipegang kuat oleh seseorang.


"Arsen ?!" Arini kaget.


"jangan membuat kekacauan disini Arini, aku tidak akan membiarkannya" kata Arsen.


"Arsen lepas ! aku harus masuk kesana" Arini berusaha meronta tapi tenaganya tidak sebanding dengan Arsen.


"kamu tetap disini" tegas Arsen.


"atau aku teriak" ancam Arini.


Arini terdiam. Arsen benar, kalau dia ketahuan berada disini tidak ada yang akan membelanya. Mereka semua akan mengusirnya.


Arini pasrah, dia berharap kakaknya segera datang dan menghentikan pertunangan Narra dan Andra.


*


Ardhan memarkir mobilnya tidak jauh dari rumah Narra. Dia melihat jelas tempat itu dijaga dengan ketat. Sepertinya Andra sudah mempersiapkan semuanya.


"aku harus kesana, Narra tidak boleh bertunangan dengan Andra" gumam Ardhan.


"maaf pak Ardhan, silahkan pergi dari sini" usir pria berbadan tegap menghampiri Ardhan.


"siapa kalian, kalian tidak punya hak mengusirku" kata Ardhan.


"anda tidak diizinkan berada disini sampai acaranya selesai" kata pria itu.


Rayyan menghampiri Ardhan.


"biarkan saja dia menyaksikan dari sini, mungkin itu akan membuat dia sadar kalo adikku bukan miliknya" kata Rayyan lalu pergi meninggalkan Ardhan.


"Ray, Narra itu milikku !" kata Ardhan mencoba mendekati Rayyan tapi pria berbadan tegap menghalanginya.


"jaga dia, jangan sampai dia mengacaukan acara adikku" pesan Rayyan seraya berlalu.


Pria berbadan tegap itu membungkuk hormat pada Rayyan lalu berdiri tegak di dekat Ardhan untuk menjaga gerak gerik Ardhan.


*


Acara pertunangan berjalan lancar. Mereka juga sudah melakukan konferensi pers untuk membahas video yang beredar tetapi tidak ada yang mengungkit tentang surat perjanjian itu, biarkan itu menjadi rahasia mereka. Tidak untuk konsumsi publik.


Setelah sesi foto bersama, mereka semua menikmati hidangan yang disajikan.


"maaf, kami terlambat"


Semua menoleh kearah suara.


Ayah Sasmita menatap tajam kearah tamunya. Dia sangat mengenal kedua orang yang datang itu.


"kalian ada disini ?!" kata ayah Sasmita seraya menunjuk.


"pak Sasmita ?!" lelaki yang ditunjuk ayah Sasmita tidak kalah gugupnya, seperti pencuri yang sudah tertangkap.


Sialan Raihan Kusuma, dia menjebak kami. Pikir lelaki itu.

__ADS_1


"kak Hera, bang Armand kenapa kalian bisa ada disini ?" tanya ayah Hadinata Wijaya.


"kamu tega Hadinata, aku masih tantenya Andra ya tentu saja kami akan datang di acara keponakan kami" jelas Heranata Wijaya mencoba bersikap tenang dan angkuh padahal dalam hatinya tidak karuan karena dia tahu kalau lelaki yang dari tadi menunjuk mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Selama ini mereka bersembunyi dari pria itu.


"pak Hadinata kenal mereka ?" tanya ayah Sasmita memandang calon besannya.


"iya, mereka kakak dan ipar saya" jawab ayah Hadinata Wijaya.


Ayah Sasmita mundur beberapa langkah sembari memegang dadanya.


"ayah, ayah kenapa ?" ibu Flanella mendekat pada suaminya.


"mereka yang sudah menghancurkan semuanya bu. Mereka yang sudah menipuku" teriak ayah Sasmita lirih.


Semua mata memandang kearah mereka.


Narra yang berada disebelah Andra kini mendekat kepada kedua kakaknya dan Adryan yang menghampiri ayah Sasmita dan ibu Flanella.


"mereka yang sudah membuat kalian kesusahan dan kita hanya punya rumah ini" isak ayah Sasmita.


"pak Sasmita.. tenang pak, ingat riwayat jantung anda" ayah Hadinata mendekat.


"jantung ?!" koor Narra, Rayyan dan Rania.


Mereka selama ini tidak tahu kalau ayah mereka punya masalah pada jantungnya.


"anda bagian dari mereka dokter !" kata ayah Sasmita.


Ayah Hadinata menggeleng, "mereka memang keluarga saya tapi saya tidak tahu tentang apa yang sudah mereka perbuat kepada keluarga bapak" jelasnya.


"mereka jahat" suara ayah Sasmita melemah dan kemudian tidak sadarkan diri.


Dengan sigap Rayyan, Adryan dan Andra menopang ayah Sasmita.


Sementara ayah Hadinata memeriksa nadi ayah Sasmita.


"segera bawa kerumah sakit kita" katanya pada Andra.


Dengan segera mereka mengangkat tubuh ayah Sasmita menuju mobil.


"Diandra, kamu telfon rumah sakit untuk menyiapkan ruang khusus" perintah ayah Hadinata.


"baik ayah" dengan segera Diandra menelfon.


"Smith, bawa Vinand pulang. Kami semua akan kerumah sakit" kata ayah Hadinata pada menantunya.


"baik ayah" sahut Smith patuh.


"kalian berdua harus menjelaskan padaku tentang ini. Alex, bilang anak buahmu untuk membawa mereka" perintah ayah Hadinata lalu bergegas pergi menyusul yang lain menuju rumah sakit.


"baik tuan" Alex lalu melambaikan tangan kearah anak buahnya yang berjaga.


Mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan, dengan sigap mereka memegang tangan Heranata Wijaya dan suaminya.


"sebaiknya nyonya Hera dan tuan Armand ikut kami" kata Alex.


Heranata Wijaya dan Armand Jaidi terpaksa ikut anak buah Alex. Mereka meronta ingin melepaskan diri tapi sia-sia.


Mereka sudah tahu apa kesalahan mereka. Seharusnya mereka tidak mengikuti kata Raihan Kusuma untuk datang kesini, ternyata kejahatan masa lalu mereka terbuka sekarang. Bertahun-tahun mereka bisa menutupinya dengan rapi dengan cara terus menghindari pak Sasmita dan melenyapkan bukti.


Sementara Ardhan yang masih berada disitu terkejut ketika mereka membawa ayah Sasmita masuk kedalam mobil.


Dengan bergegas Ardhan masuk kedalam mobilnya dan mengikuti mereka.


Begitu juga Arini, Arsen memasukan dia dengan paksa kedalam mobil lalu Arsen duduk di kursi kemudi. Mereka melaju mengikuti iringan mobil yang membawa ayah Narra.


*


Narra duduk gelisah di dalam mobil Andra. Hatinya tidak tenang. Dia masih shock dengan apa yang terjadi.


Dia kaget ternyata orang yang selama ini bekerja sama dengan orang tua Ardhan untuk menghancurkan keluarga mereka adalah tante dan omnya Andra.


Tapi terlepas dari itu ada hal yang lebih mengganggu pikirannya. Ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung. Narra menggeleng kuat.


"ka Nda, apa ka Nda tau kalo ayah punya penyakit jantung ?" tanya Narra.


"aku tidak tau, ayahku tidak pernah membicarakan tentang pasiennya. Aku juga tidak pernah bertemu ayah Sasmita di rumah sakit" jelas Andra tanpa menoleh. Dia fokus mengemudi.


"aku tidak mau ayah kenapa-napa" ucap Narra.


Andra menggenggam jemari kanan Narra.


"tenang sayang, ayah pasti baik-baik saja" katanya.


Narra bersandar di kursinya. Andra benar, dia harus tenang.


"terima kasih ka Nda sayang" ucapnya.


Andra memandang Narra sekilas. Sebenarnya dia ingin menanyakan tentang hubungan om Armand dan tante Heranata dengan keluarga Narra tapi dia tidak ingin mengacaukan suasana yang sudah terlalu rumit.


Kesehatan ayah Sasmita lebih penting sekarang.


Pandangan Andra menatap jauh pada mobil keluarga Narra yang dikemudikan Rayyan di depannya.

__ADS_1


Semuanya akan baik-baik saja. Ucap Andra dalam hati.


***


__ADS_2