FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 78


__ADS_3

Semua mata yang berada di meja itu tertuju pada Faya. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada Faya. Kenapa Faya bisa bersikap sangat menyebalkan seperti itu.


Selama ini dia selalu akur dengan Narra, sekarang dia membuat Narra marah dan kesal.


"ay, bisa tinggalkan kami sebentar" pinta Rea pada Indra.


"iya, aku duduk di bar" kata Indra. Dia mengerti kalau para sahabat itu ingin membicarakan masalah sikap Faya tadi.


Setelah Indra pindah duduk di bar, para sahabat itu duduk kembali.


"kamu ada masalah apa Fay ?" tanya Rea.


"aku tidak punya masalah apa-apa kalian saja yang sensitif" sahut Faya.


"kita semua sangat mengenal lama Fay, kenapa sih kamu mencari masalah dengan Narra ?" balas Sheva.


"apa kamu blum bisa melepaskan Narra ?" tanya Erga.


"sudah pasti blum Ga" balas Desta.


"aku tidak mengerti Fay, kita semua disini punya masalah yang sama tapi apa kami ada saling mencari masalah ? Tidak ! Kami mencoba menerima" jelas Sheva.


"hmmm mungkin hanya kalian... Apa Imel bisa menerima ?!" balas Faya memandang sinis pada Imel.


Imel membalas tatapan Faya.


"jangan bawa aku, setidaknya aku diam tidak bersikap menyebalkan sepertimu" sahut Imel sengit.


"liat kan.. Bukan hanya aku yang belum bisa menerima" sahut Faya.


Semua menggelengkan kepala.


"Faya, setidaknya kami berdamai tidak membuat masalah seperti kamu" sahut Rea.


"sekarang kamu pikir, setelah yang kamu lakukan apa kamu berharap Narra akan bersikap biasanya sama kamu ? Tidak Faya, dia akan semakin menjauh" balas Desta.


"jangan-jangan kamu sengaja mengundang kami kesini agar kamu bisa melampiaskan ketidaksukaanmu pada kak Andra ?" tanya Sheva.


Faya terdiam.


Imel beranjak berdiri.


"Re, aku nebeng pulang ya. Tidak ada gunanya kita disini. Kita hanya dimanfaatkan untuk memenuhi ego kasih tak sampai sahabat kita ini" katanya.


"oke, aku juga tidak mengerti. Katanya ingin semua baik-baik saja tapi nyatanya menjadi musuh terselubung" balas Rea.


"tunggu Mel, boleh aku antar kamu pulang ?" tanya Sheva.


Imel dan Rea saling pandang. Rea menggerakan alisnya menunggu jawaban Imel.


"boleh ya Mel" bujuk Sheva.


"berikan kesempatan Mel, untuk semuanya baik-baik saja" sahut Erga.


Imel memandang Erga. Dia masih berharap bisa lebih dari sekedar sahabat tapi rupanya Erga masih menolak untuk merubah semua itu. Perasaan Erga masih dalam pada Rea, walapun Erga sudah berusaha melepaskan.


"baiklah, aku pulang dengan Sheva" sahut Imel dengan pandangan belum lepas dari Erga.


Erga hanya tersenyum menanggapinya.


"aku duluan" pamit Desta.


"tunggu Ta, kita sama-sama keluarnya" sergah Erga.

__ADS_1


Desta mengangguk.


"maaf Fay, kami pulang. Imel benar, sudah tidak ada gunanya kami disini karena kata-kata kami tidak penting" katanya seraya menepuk pundak Faya.


Erga beranjak, dia melakukan hal yang sama. Menepuk pundak Faya.


"kami pulang Fay, ayo Mel" pamit Sheva seraya mengajak Imel.


Tinggallah Rea berdua dengan Faya. Mereka saling bertatapan.


"kamu sudah keterlaluan Fay, dengan sikapmu yang seperti tadi. Kamu bukan hanya kehilangan Narra tapi juga kami" kata Rea seraya beranjak meninggalkan Faya.


Dia menemui Indra di bar.


"kita pulang ay" ajak Rea.


"acaranya blum selesai" sahut Indra.


"tidak perlu, Faya bisa sendiri" balas Rea.


Indra mangut. Dia meraih jemari Rea lalu mereka beranjak keluar cafe.


*


Sementara itu...


Dalam perjalanan, Narra hanya terdiam. Andra yang berada di balik kemudi sesekali melirik istrinya.


"sayang, sudahlah. Tenangkan dirimu, aku tidak mau kamu kepikiran" kata Andra seraya menggenggam jemari istrinya dengan tangan kirinya.


"Faya menyebalkan sayang, dia tidak menghargaimu sebagai suamiku" balas Narra dengan emosi yang meluap.


"oke, kita bahas nanti ya" Andra mengusap punggung tangan Narra.


*


"kenapa Faya bersikap seperti itu ?" tanya Indra dalam perjalanan.


"ya apalagi, dia belum bisa menerima kenyatan kalo Narra sudah bersuami. Dia sengaja mengundang kami kesana untuk membuat kak Andra bermasalah dengan Narra. Untung saja Narra tadi bersikap tegas. Kamu bisa bayangkan kalo tadi kak Andra melihat Faya bersebelahan dengan Narra sedekat itu ?" jelas Rea.


"kak Andra akan sangat emosi" balas Indra.


Rea mengangguk.


"trus kenapa kamu tampak kesal ? Apa kamu cemburu pada Narra karena Faya ?" tanya Indra, pandangannya fokus kedepan.


"ay, kamu tidak percaya sama aku ?" tanya Rea.


Indra menghentikan kendaraannya.


"aku mencoba percaya sama kamu tapi aku hanya manusia biasa yang merasa takut kehilangan" ucap Indra.


Rea meraih jemari Indra.


"aku memang punya perasaan pada Faya tapi aku lebih takut kehilangan kamu. Aku mencintaimu In" ucapnya.


"aku ingin kamu menjaga jarak dengan Faya sampai aku bisa sepenuhnya baik-baik saja" sahut Indra.


Rea mengangguk.


"kamu jangan meragukan aku ya" ucapnya.


Indra mengusap puncak kepala Rea.

__ADS_1


"aku akan berusaha" katanya.


"terima kasih ay, aku akan menjaga kepercayaanmu" balas Rea.


"kita jalan lagi ya" ujar Indra.


Rea mengangguk.


Indra lalu kembali menyalakan mesin kendaraannya. Mereka kembali terdiam tetapi dengan jemari yang masih bertautan. Indra mengemudikan mobilnya dengan tangan kanannya.


*


"Mel, kamu baik-baik saja ?" tanya Sheva dengan pandangan fokus mengemudi.


"iya, aku baik" jawab Imel.


"maafkan aku" ucap Sheva.


"kenapa kamu minta maaf ?" tanya Imel tidak mengerti.


"karena aku masih belum bisa menerima kalo kamu tidak suka sama aku" kata Sheva.


"maafkan aku juga Shev karena hal itu" sahut Imel.


"hmmmm aku juga sekalian mau pamit sama kamu" kata Sheva.


"pamit ? Memangnya kamu mau kemana ?" tanya Imel.


"aku mau ke negara P untuk mengambil sekolah chef" katanya.


"kenapa mendadak Shev ?" tanya Imel lagi.


"kalian kan tau kalo aku sangat ingin menjadi chef tapi orang tuaku ingin aku jadi pebisnis. Sekarang setelah aku sudah menjalankan bisnis perhotelan seperti yang mereka mau, aku ingin melakukan hal yang aku mau toh juga masih ada hubungannya dengan bisnis yang aku jalani" jelas Sheva.


"kenapa kamu baru bilang sekarang ?" sahut Imel lagi.


"aku masih memikirkannya dan tadi sebenarnya aku ingin bilang pada kalian semua" kata Sheva.


"kamu ingin menghindariku ?" tanya Imel.


Sheva terdiam. Sebenarnya itu salah satu alasannya.


"kamu diam, berarti jawabannya iya" balas Imel.


Mereka terdiam.


"Shev, harus seperti ini ya ?" tanya Imel setelah mereka lama terdiam.


"biarkan waktu yang akan menghapus perasaan ini" ujar Sheva.


Mereka kembali terdiam.


"aku minta maaf Shev, seandainya aku bisa tapi aku tidak bisa. Aku masih mengharapkannya" ucap Imel.


Sheva meraih jemari Imel dengan tangan kirinya.


"ikuti saja alurnya, kalo dia memang ditakdirkan untukmu. Dia akan bersamamu" ucap Sheva tapi pandanganya fokus kedepan. Dia tidak bisa menatap Imel. Selain karena fokus mengemudi tapi dia tidak bisa karena Imel adalah kelemahannya.


Seandainya Imel menerima dia, dia akan selalu menjaga cintanya utuh hanya untuk Imel seorang. Wanita yang dari dulu menghiasi relung hatinya.


"maafkan aku Shev" ucap Imel seraya melepaskan genggaman tangan Sheva lalu memalingkan wajahnya kesebelah kiri.


Butiran air mata kini menetes melewati pipinya.

__ADS_1


***


__ADS_2